LOGINStevia membantu membukakan pintu kamar Selvi.
Di ranjang tubuh Selvi sudah terbaring di sana. Bayu baru saja meletakkannya.“Bayu,” panggil Stevia langsung membuat langkah Bayu terhenti di depan pintu.“Apa dia pulang dengan menyetir sendirian? Maksudku tidak ada yang mengantarnya?” tanya Stevia karena sangat beruntung jika Selvi tiba di rumah tanpa mengalami kecelakaan ketika mengemudi saat mabuk.“Aku rasa tidak ada, dia keluar dari mobil seorang diri laMelihat suapan terakhir itu Selvi tidak menolak, ia tetap melahapnya lagi hingga kedua pipinya terlihat besar karena dipenuhi oleh makanan.“Eumm … minhum!” Selvi mencoba meraih kembali gelas air.“Ini minum pelan-pelan.” Bayu membatu Selvi mengambilkan gelas dan langsung memberikannya ke mulut gadis itu. Mulut Selvi melepaskan gelas yang sudah kosong. “Ahh … kenyang banget. Aku rasa perutku benar-benar penuh.”Dengan mengusap perutnya Selvi kembali bersandar ke sisi sandaran ranjang. Berbeda dengan Bayu yang sedang meletakkan piring dan gelas ke atas nampan kecil yang dibawa Sri tadi.“Kalau gitu malam ini kamu sebaiknya tidur lebih awal. Aku tidak akan mengganggumu lagi untuk malam ini. Sekarang aku akan keluar untuk mengantarkan ini ke dapur, kalau begitu selamat malam, Selvi!” Sebelum keluar Bayu sempat mengusap pucuk kepala Selvi dengan lembut. Setelah itu barulah ia keluar.Dengan hati-hati Bayu yang akhirnya men
Bab 198 “Aku hnggh … tidak tahan. Bayu, ayo masukkan saja!” Selvi sampai akhirnya ia terus mengeluarkan cairannya. Rasa lengket dan basah dirasakan Bayu. “Ini aku rasa sudah mulai melebar, sekarang saatnya aku mulai memasukinya!” Selvi merasakan kedua jari Bayu yang sudah dicabutnya dan digantikan oleh batang berukuran pergelangan tangannya sedang menggesek, karena licin berlendir gesekannya semakin intens. “Bayu, aku baru saja keluar akkh … di bagian sana masih terasa sensitif!” Kedua tangan Selvi berpegangan pada pundak Bayu. Penampilan Selvi yang terlihat berantakan karena dirinya membuat Bayu semakin bergairah. Ia juga sudah tidak bisa menahannya lagi. “Kamu baru saja merasakan nikmat lalu bagaimana denganku?” Bayu akhirnya mulai mengarahkan benda pusakanya untuk masuk. Jleb! “Aahh … akhh! Hnggh … aahh dalam banget!” Selvi merasakan batang Bayu mulai menghujan
“Jadi kamu mau tidur langsung?” Selvi bergeleng pelan. “Nggak kok, aku masih mau belajar dulu. Kan Tante yang nyuruh aku rajin belajar.”“Ah iya, benar juga. Jadi pergilah naik sekarang aku tidak akan menghentikanmu di sini lama-lama.” Stevia menarik kursi di meja makan lalu mendudukkan dirinya.Sementara Selvi mulai menaiki tangga, sedangkan Sek mulai menata makan malam yang disukai Stevia bahkan lengkap dengan rujak mangga yang sering dimakannya.Sri perlahan mundur ke belakang setelah menyajikan makanan di meja. “Silahkan dinikmati Nom!” ucapnya.“Ya, makasih Mbak,” sahut Sri.Suara di ruang makan sangat hening hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling berdentingan. Rasa yang pas dengan selera Stevia membuatnya makan lebih banyak. Porsinya bertambah lebih banyak dari biasanya dan begitu juga dengan nafsu makannya.Sementara Bayu yang baru saja keluar lewat pintu belakang tadinya hendak menemui Ari
“Ah, benar juga bagaimana bisa aku lupa itu!” Pegangan Bayu semakin kuat pada stir mobil. Hal yang selama berhari-hari ini selalu dipikirkannya bagaimana bisa ia lupa.“Jadi aku harap nanti kita bersama-sama ke rumah sakit. Tapi seandainya ini benar-benar anakmu apa kamu tidak masalah?” Mobil berhenti di depan rumah tanpa disadari Stevia mereka telah sampai. Bayu belum sempat menjawab dia sudah keluar dari mobil untuk membukakan pintu.Di sekeliling sepi hanya ada Bayu dan Stevia yang berada di depan rumah. Tubuh Bayu masih berdiri di tempat saat Stevia berbalik hampir melanjutkan langkah.Bayu mulai bersuara, “Aku tidak mempermasalahkannya. Justru aku akan sangat merasa senang atas kelahirannya sebagai anakku. Hanya saja …”Wajah Bayu menunduk dengan tangan yang mengepal di kedua sisi. “Seperti yang kamu ketahui kalau hubungan kita sangat tidak menguntungkan bagimu. Ditambah lagi kamu akan segera menikahi pria lain, aku hanya
Pandangan Bayu langsung kembali ke pintu masuk persidangan, dengan langkah cepat ia segera berdiri di samping pintu masu lalu melihat ke arah jam.Tidak lama pintu dibuka dan persidangan akhirnya selesai. Stevia dan Clara berjalan keluar sedangkan Bayu langsung menghampiri keduanya.“Bayu, kamu bikin kaget aja!” Clara memukul pelan bahu Bayu.“Ah, maaf! Aku cuma mau jalan bareng. Kamu kan tahu tiga Minggu lalu Nona Stevia sudah pernah ditikam oleh seseorang jadi sebagai pengawalnya aku harus ekstra hati-hati menjaganya.” Bayu langsung bergeser ke samping Stevia, ia berjalan sambil mengikuti kelambatan langkah kaki mereka. “Bayu benar, dia harus ekstra menjagaku setidaknya untuk saat ini,” bela Stevia ikut menambahkan.Apa yang dikatakan Stevia dan Bayu itu benar jadi Clara pun mengangguk. “Hmm … ya, aku juga berpikiran sama. Dia emang harus lindungin Kak Stevia. Kejadian waktu itu juga benar-benar tidak terduga banget
“Kamu yakin nona dia mau yang itu?” tanya Arif kembali memastikan. “Justru itu nona mau yang masih belum matang. Ngomong-ngomong apa aku harus memanjat ke atas?” Bayu mulai menyentuh pohong mendongak ke atas. “Tidak, sini biar aku saja yang panjat. Sekarang kamu tunggu aku di bawah.” Arif mulai memanjat pohon mangga. Bayu masih mendongak ke atas menunggu Arif memetik buahnya. Tidak lama Arif akhir menjatuhkannya ke bawah. Sedangkan Bayu yang menunggu tadi segera menangkap buah yang sengaja dijatuhkan. Kemudian memasukkan buah mangga yang masih muda itu ke dalam keranjang buah. Dari atas pohon Arif bisa melihat keranjang kecil tempat buah mangga. “Mangganya masih mau berapa buah lagi?” tanya Arif dengan suara nyaring. “Sudah segini aja kayaknya sudah cukup. Nanti kalau sudah habis tinggal datang ke sini ambil lagi,” seru Bayu dari bawah. “Jadi kamu udah bisa turun sekarang!” “Aku







