Share

Bab 6

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-02-14 12:26:41

Terasa sangat jelas, urat dari tangan kokoh milik Bayu yang dipegang erat oleh Rara. Jemarinya terasa penuh saat menarik tangan itu.

Kaki Bayu melangkah mengikuti arah Rara memasuki gang. Kali ini mereka berada di dalam gang sempit yang mana di depan sana masih terdengar langkah kaki dari keramaian.

Seketika dada Bayu terasa sesak oleh degupan yang tak terkendali. Ia tak pernah membayangkan momen ini benar-benar tiba, dirinya berdiri berdua dengan seorang wanita cantik di gang sempit yang remang. Tempat sunyi itu sering menjadi pilihan bagi mereka yang ingin melepas hasrat tanpa perlu menyewa kamar murah atau bersembunyi terlalu jauh dari keramaian.

Degh … degh …!

Detak jantungnya masih memukul keras, nyaris terdengar di antara nafas yang saling bersentuhan. Gang itu terlalu sempit sehingga tubuh mereka berdempetan, hanya berjarak sehelai kain. Aroma parfum Rara bercampur udara sore yang hangat, membuat kepala Bayu terasa ringan.

Rara kembali menatapnya, samar-samar tersenyum ia memiliki ide untuk mempermainkan Bayu.

Tetapi di ruang sesempit itu, bukan hanya jarak yang menghilang tapi juga kendali diri Bayu.

Senyum tipis nyaris licik terlukis di bibir Rara saat ia mendongak pelan. Tatapannya menantang. Tangannya bergerak perlahan, menyusuri perut Bayu, naik sedikit demi sedikit hingga berhenti di bahu kekarnya. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah panas.

Napas Rara mengembus hangat di sisi wajah Bayu ketika ia menunduk. Wajah mereka begitu dekat, hanya terpaut seujung detik untuk benar-benar bersentuhan.

“Apa kamu gugup?” bisik Rara lirih, suaranya lembut tapi menggoda, seperti sengaja menekan titik paling lemah dalam diri Bayu.

Bayu mengepalkan tangan. Urat di lehernya menegang, nafasnya memburu tak beraturan. Bisikan itu terasa menggelitik, menyusup ke telinga lalu turun ke dada, membangkitkan sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di gang sempit itu, Rara tak hanya menguji keberaniannya ia sedang memainkan api dan Bayu bisa merasakan dirinya mulai terbakar.

Dengan wajah memerah Bayu menatap Rara. Ada dorongan ingin menyentuh wanita itu, tapi ia menahan diri karena mungkin saja Rara akan menolaknya langsung.

Rara sebenarnya hanya ingin bermain-main. Ia tak pernah berniat melangkah lebih jauh. Kepolosan Bayu, ekspresi gugupnya, dan nafasnya yang tak teratur justru membuatnya ingin menggoda lebih lama hanya sekadar mengerjai, menikmati bagaimana pria itu kehilangan kendali hanya karena sentuhan dan bisikan.

“Hei … kenapa kau terdiam?” godanya lagi, tapi kalimatnya terpotong.

Rara tiba-tiba menoleh ke arah mulut gang.

Suara langkah berat terdengar tergesa, mendekat. Bukan satu orang lebih dari satu. Derap sepatu hak menghantam aspal lembab, memantul di dinding sempit gang, menciptakan gema yang membuat jantung ikut berdegup tegang.

Dari depan gang, terdengar suara panik yang dikenalnya.

“Aku melihat Rara nggak jauh dari sini, kok, Mam!” Itu suara Viona.

Bayu ikut menegang, bagaimana jika mereka juga melihat Bayu yang sedang bersama Rara?

Nafas Rara mendesah pelan bukan karena godaan lagi, tapi karena situasi berubah menjadi genting. Sejak awal ia memang sengaja bersembunyi dari mereka. Dari Mami Riska dan dari Viona yang tak pernah berhenti mengawasinya. Ada kemungkinan alasan mencari Rara untuk segera pergi melayani pria yang sudah membayar untuk menghabiskan malam.

Langkah-langkah itu semakin dekat.

Gang yang tadi terasa panas kini berubah menjadi ruang sempit penuh tekanan.

Bayu dan Rara berdiri terlalu dekat. Jika mereka maju, mereka terlihat. Jika mundur, tak ada ruang untuk bersembunyi.

Dan suara Mami Riska kini terdengar jelas, tegas dan curiga.

“Cari sampai ketemu.”

Udara mendadak terasa lebih berat. Rara bahkan sempat menahan nafas.

Otak Rara berpikir lebih cepat, sesekali melihat ke arah dua wanita yang mencarinya. Lalu melirik Bayu yang bertubuh kekar, berotot cukup untuk menutupi dirinya.

“Menunduk!” perintah Rara tajam, jemarinya langsung mencengkeram belakang leher Bayu dan menariknya turun.

Bayu refleks menuruti. Ia sedikit membungkuk, nafasnya masih berat. “Seperti ini?” bisiknya gugup.

Gang itu terlalu sempit. Tubuh mereka nyaris menyatu saat Rara memaksa Bayu merapat ke dinding yang lembab. Ia ikut merunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, menciptakan bayangan yang menyamarkan keduanya dari arah mulut gang.

Langkah kaki semakin dekat.

Bayu bisa mendengar detak jantungnya sendiri atau mungkin detak jantung Rara. Ia tak tahu. Yang jelas, jika Mami Riska melihatnya berdiri bersama Rara … habislah sudah. Pria miskin yang tak punya apa-apa sepertinya tak pantas berada sedekat ini dengan gadis seperti Rara.

Suara Viona kembali terdengar, lebih dekat.

“Dia ngilang ke mana sih?!”

Mendengar itu Rara menahan nafas. Tangannya masih mencengkram tengkuk Bayu, jarinya sedikit gemetar meski wajahnya tetap berusaha tenang.

Cup!

Tanpa aba-aba Rara memulai lebih dulu, dengan berani awalnya hanya berniat mengecup bibir Bayu. Akan tetapi sensasinya berubah perlahan menjadi semakin liar.

Kedua tangan Bayu mengangkat tubuh Rara, mulut mereka masih menyatu seolah enggan untuk lepas. Sementara Bayu tidak bisa menahan diri, entah mengapa ia merasa panas di seluruh tubuhnya. Nafas Rara mulai terengah-engah tapi Bayu enggan melepas.

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam dirinya. Rasa haus yang begitu dalam, ketertarikannya semakin kuat menginginkan tubuh Rara kini sudah tak tertahankan.

Kapan lagi dirinya akan bercumbu dengan wanita paling cantik di sana? pikirnya.

Tidak ingin melewatkan kesempatan, Bayu yang sudah lama penasaran dengan aktivitas menyalurkan hasrat yang sering dilihatnya. Tentu sangat ingin mencoba hal itu.

Hari mulai petang, cahaya dalam gang semakin remang hampir gelap. Viona berdiri tepat di depan gang tempat mereka berada.

Di sana ia melihat dua orang sedang akan menyalurkan hasrat. Namun, Penglihatannya tidak jelas. Sehingga hanya bisa mengira-ngira saja, mungkin salah satu dari pelacur lain sedang melayani pria murahan di sana.

Yang tidak diketahuinya adalah kalau Rara yang dicarinya, ternyata wanita yang berada di sana.

“Hngh!” desahan itu lepas dari mulut Rara. Sentuhan Bayu membuatnya merasa nikmat.

Viona yang hendak berbalik pergi, kini kembali menoleh ke gang itu.

“Rara! Itu kamu!”

Bayu yang tahu kalau Viona akan mendekat, ia segera menurunkan Rara hingga membuatnya bingung.

“Hei, apa kau mau dia tau ini aku!” bisik Rara dengan nafas tersengal.

“Shuut!” desis Bayu. “Aku sudah mengikuti keinginanmu sejak tadi, sekarang giliranku!”

Entah mengapa nada suara Bayu terdengar berbeda, lebih berat dari sebelumnya. Ekspresi polos dan gugup Bayu kini tidak ada lagi. Dia terlihat berbeda lebih mendominasi seolah sedang mengendalikan situasi. Membuat Rara tidak bisa menolak.

“Sekarang menghadap tembok dengan posisi menungging!” bisik Bayu. “Atau kau mau Viona melihatmu sedang bersama pria hina sepertiku?”

Yang dikatakan Bayu ada benarnya, jika sampai Viona tahu. Maka Mami Riska bisa marah besar karena dia melayani pria rendahan seperti Bayu.

Rara menggigit bibir bawahnya, ia hanya bisa melakukan apa yang Bayu suruh karena itu mungkin solusinya agar Viona tidak masuk lebih dekat.

Plak!

Tangan Bayu memukul bokong Rara. Hingga membuatnya terperanjat kaget. Namun, saat mendempetkan bagian depan Bayu. Rara merasakan sesuatu yang tebal di balik kain terasa menegang seolah ingin menancap ke dalam dirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 338

    Melihat itu Bayu juga ikut karena mumpung ada di bawah sekalian saja makan di kantin. “Aku juga mau sarapan, ah!” Mereka sama-sama mengambil makanan secara prasmanan. Jadi bisa pilih sendiri mau makan lauk yang mana. Makanan yang tersaji di atas meja semuanya masih panas karena baru matang, uap panasnya mengepul tipis di usaha tepat di setiap atas makanannya. Sedangkan Bayu ambil yang lauk daging tumis dan seporsi nasi, lalu ada buah pisang. Tidak lupa air mineral diambilnya juga membuat di kedua tangannya penuh pegangan.“Ayo kita duduk di sini saja lebih dekat!” Joni yang tidak mau lama-lama pilih tempat duduk.“Ya aku rasa sebaiknya kita duduk dekat sini. Aku udah laper banget.” Melihat Teo dan Joni, Bayu pun ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua. Mereka mulai makan sarat masing-masing sambil mengunyah.“Tadi kamu makan sayur sawi nggak?” tanya Teo saat menepikan sayur sawi di piringnya.Melihat sayur itu Bayu lan

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 337

    Makanan yang dipesan Bayu tadi koni sudah diletakkan di atas meja dengan sangat rapi. Setelah itu barulah pelayan hotel keluar dari kamar mereka.Klek!Di saat yang sama Rara pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja belum mengelap karena membiarkan sisah air.“Sini cepat duduk di sini kita mau makan. Sebaiknya kamu cepat ke sini b_-_–;¡¡iar nanti aku bantu keringkan rambutmu.” Bayu menggeser kursi di depannya agar Rara bisa langsung duduk.Drek!Suara tarikan kursi yang baru saja digeser Bayu, kemudian Rara akhirnya mendudukinya kursi tersebut Mereka mulai menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela.“Gimana, makanannya?” Bayu bertanya setelah dirinya selesai makan.Rara mengangguk. “Enak, banget rasanya. Aku sampai kenyang sekali setelah makan.” “Karena makannya sudah selesai sini aku akan batu kamu mengeringkan rambutmu.” Bayu segera mengambil handuk kecil lalu berdiri di belakang Rara yang masih duduk di kursinya.Den

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 336

    “Aku baiklah kalau begitu sesi pijatnya sudah selesai. Sekarang kamu bisa beristirahat dan tidur di sini karena waktu cek out dari hotel seharusnya besok siang. Aku sudah memesan layanan makan untukmu.”Bayu turun dari ranjangnya dan kembali berpakaian rapi. Rara yang melihat itu langsung duduk ia tahu Bayu hendak pergi dari sana.Karena sebelum pergi sudah Bayu sudah bilang pada Teo kalau ia akan pulang saat sore atau malam. Sekarang sudah malam jadi ia berniat untuk pulang ke asrama.Tangan Bayu memeriksa saku celananya merogoh ponsel yang disimpannya. Dengan cepat ia menyalakan layar ponsel dan ternyata ada beberapa pesan dari Teo kalau hari ini ia juga sedang keluar dan tidak pulang. “Eh, apa dia pergi berkencan juga?” Bayu bergumam kecil lalu kembali memasukkan ponselnya.Namun, saat Bayu hendak melangkah dari sisi ranjang Rara dengan cepat meraih tangannya.“Apa kamu mau pergi? Kenapa tidak menginap saja di sini bersamaku?

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 335

    Karena akibat rangsangan yang terlalu nikmat membuat sebagian otot di kaki Rara jadi lemas. Kakinya terlihat gemetar saat kenikmatan setiap tusukan yang menusuknya menembus lubang yang semakin mengetat. “Berhenti? Bukannya kamu yang tidak mau melepaskan milikku? Lihat, kamu bahkan mengeratkan cengkraman bagian dalammu lagi!” Bayu menekan bagian perut dan klitoris Rara hingga menambah sensitif terhadap rangsangan. Namun, ia juga sudah berada di ambang batas. Plok, plok! Pinggulnya memompa lebih keras sampai akhirnya Bayu akan mengeluarkan cairan lalu dengan cepat ia hendak mencabutnya agar keluar di luar. Namun, Rara dengan cepat menahannya. “Tidak, Bayu tolong keluarkan di dalam saja!” pintanya sambil menaikkan pinggulnya lagi. Pantulan wajah Rara yang sedang bergairah bercampur malu. Namun, ia tetap menginginkan Bayu mengeluarkannya di dalam. Bayu pun mengambilnya keinginannya karena nanti ia bisa memberikannya obat kontrasepsi. Splurrt! “Ahhnghh … ahh!” Rara merasakan Cai

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Ban 334

    Jawaban Rara membuat Bayu tenang. “Sekarang apa kita bisa lanjut?” tanya Bayu.Kedua kaki Rara kembali dilebarkannya menghadap Bayu, sambil membuka kembali lubang miliknya ia berharap Bayu lanjut memasuki dirinya lagi.Namun, Bayu tidak mendekat sebaliknya ia segera turun dari ranjang. Hal itu membuat Rara kembali terduduk di ranjang.“Mau kemana?” tanya Rara dengan wajah bingung.“Ayo ke sini aku ingin kita melakukannya di sini. Cepat!” Bayu menunjuk ke jendela besar.Cahaya sunset sore dengan beberapa bangunan gedung tinggi tapi masih ada celah untuk sunset terlihat dari kamar hotel tempat mereka berada. Pemandangan itu terlihat indah dan Rara juga penasaran dengan rasa bercinta sambil melihat pemandangan sunset. Jadi ia pun segera turun dari ranjangnya dan berjalan dengan tubuh polos tanpa sehelai benang yang menutupi.“Terus apa yang harus aku lakukan?” Sensasi ini pertama kalinya bagi Rara dan ini sangat mendebarkan sekali jadi ia akan mengikuti permainan Bayu.“Menunduk sampai

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 333

    Bahkan Rara sampai melepaskan jepitan antara kedua kakinya dengan melebarkan kaki lalu membuka bibir bawahnya dan memperlihatkan lubang erotis miliknya yang sudah sangat basah.“Kamu sudah tidak bisa tahan ya!” Bayu memegang erat kedua kaki Rara lalu menaikkan satu-satu ke sisi dua pundaknya. Hingga area depan dan pinggang Rara terangkat di saat yang sama pulang batang Bayu pun akhirnya …Jleb!Menusuk lubang yang terus meneteskan air. Berada di dalam Rara terasa hangat dan licin saat dinding bagian dalam menjepit miliknya, itu membuat Bayu keenakan bahkan batangnya sampai membesar di dalam sana.Bola mata Rara membulat saat merasakan sensasi penuh dan panas menghujam dalam perutnya. Plok, plok, plok!“Ahh hnghhh … aah!”Setiap Bayu menghentakkan pinggulnya membuat Rara terperanjat karena nikmat yang dirasakannya. “Hnggg haah … ahh, akhh!”Guncangan dari hentakan batang Bayu membuat tubuh Rara gemetar, sampai-sampai ia menarik sprei kasur dan berpegangan di sana.Payudara Rara ikut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status