LOGINTerasa sangat jelas, urat dari tangan kokoh milik Bayu yang dipegang erat oleh Rara. Jemarinya terasa penuh saat menarik tangan itu.
Kaki Bayu melangkah mengikuti arah Rara memasuki gang. Kali ini mereka berada di dalam gang sempit yang mana di depan sana masih terdengar langkah kaki dari keramaian. Seketika dada Bayu terasa sesak oleh degupan yang tak terkendali. Ia tak pernah membayangkan momen ini benar-benar tiba, dirinya berdiri berdua dengan seorang wanita cantik di gang sempit yang remang. Tempat sunyi itu sering menjadi pilihan bagi mereka yang ingin melepas hasrat tanpa perlu menyewa kamar murah atau bersembunyi terlalu jauh dari keramaian. Degh … degh …! Detak jantungnya masih memukul keras, nyaris terdengar di antara nafas yang saling bersentuhan. Gang itu terlalu sempit sehingga tubuh mereka berdempetan, hanya berjarak sehelai kain. Aroma parfum Rara bercampur udara sore yang hangat, membuat kepala Bayu terasa ringan. Rara kembali menatapnya, samar-samar tersenyum ia memiliki ide untuk mempermainkan Bayu. Tetapi di ruang sesempit itu, bukan hanya jarak yang menghilang tapi juga kendali diri Bayu. Senyum tipis nyaris licik terlukis di bibir Rara saat ia mendongak pelan. Tatapannya menantang. Tangannya bergerak perlahan, menyusuri perut Bayu, naik sedikit demi sedikit hingga berhenti di bahu kekarnya. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah panas. Napas Rara mengembus hangat di sisi wajah Bayu ketika ia menunduk. Wajah mereka begitu dekat, hanya terpaut seujung detik untuk benar-benar bersentuhan. “Apa kamu gugup?” bisik Rara lirih, suaranya lembut tapi menggoda, seperti sengaja menekan titik paling lemah dalam diri Bayu. Bayu mengepalkan tangan. Urat di lehernya menegang, nafasnya memburu tak beraturan. Bisikan itu terasa menggelitik, menyusup ke telinga lalu turun ke dada, membangkitkan sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di gang sempit itu, Rara tak hanya menguji keberaniannya ia sedang memainkan api dan Bayu bisa merasakan dirinya mulai terbakar. Dengan wajah memerah Bayu menatap Rara. Ada dorongan ingin menyentuh wanita itu, tapi ia menahan diri karena mungkin saja Rara akan menolaknya langsung. Rara sebenarnya hanya ingin bermain-main. Ia tak pernah berniat melangkah lebih jauh. Kepolosan Bayu, ekspresi gugupnya, dan nafasnya yang tak teratur justru membuatnya ingin menggoda lebih lama hanya sekadar mengerjai, menikmati bagaimana pria itu kehilangan kendali hanya karena sentuhan dan bisikan. “Hei … kenapa kau terdiam?” godanya lagi, tapi kalimatnya terpotong. Rara tiba-tiba menoleh ke arah mulut gang. Suara langkah berat terdengar tergesa, mendekat. Bukan satu orang lebih dari satu. Derap sepatu hak menghantam aspal lembab, memantul di dinding sempit gang, menciptakan gema yang membuat jantung ikut berdegup tegang. Dari depan gang, terdengar suara panik yang dikenalnya. “Aku melihat Rara nggak jauh dari sini, kok, Mam!” Itu suara Viona. Bayu ikut menegang, bagaimana jika mereka juga melihat Bayu yang sedang bersama Rara? Nafas Rara mendesah pelan bukan karena godaan lagi, tapi karena situasi berubah menjadi genting. Sejak awal ia memang sengaja bersembunyi dari mereka. Dari Mami Riska dan dari Viona yang tak pernah berhenti mengawasinya. Ada kemungkinan alasan mencari Rara untuk segera pergi melayani pria yang sudah membayar untuk menghabiskan malam. Langkah-langkah itu semakin dekat. Gang yang tadi terasa panas kini berubah menjadi ruang sempit penuh tekanan. Bayu dan Rara berdiri terlalu dekat. Jika mereka maju, mereka terlihat. Jika mundur, tak ada ruang untuk bersembunyi. Dan suara Mami Riska kini terdengar jelas, tegas dan curiga. “Cari sampai ketemu.” Udara mendadak terasa lebih berat. Rara bahkan sempat menahan nafas. Otak Rara berpikir lebih cepat, sesekali melihat ke arah dua wanita yang mencarinya. Lalu melirik Bayu yang bertubuh kekar, berotot cukup untuk menutupi dirinya. “Menunduk!” perintah Rara tajam, jemarinya langsung mencengkeram belakang leher Bayu dan menariknya turun. Bayu refleks menuruti. Ia sedikit membungkuk, nafasnya masih berat. “Seperti ini?” bisiknya gugup. Gang itu terlalu sempit. Tubuh mereka nyaris menyatu saat Rara memaksa Bayu merapat ke dinding yang lembab. Ia ikut merunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, menciptakan bayangan yang menyamarkan keduanya dari arah mulut gang. Langkah kaki semakin dekat. Bayu bisa mendengar detak jantungnya sendiri atau mungkin detak jantung Rara. Ia tak tahu. Yang jelas, jika Mami Riska melihatnya berdiri bersama Rara … habislah sudah. Pria miskin yang tak punya apa-apa sepertinya tak pantas berada sedekat ini dengan gadis seperti Rara. Suara Viona kembali terdengar, lebih dekat. “Dia ngilang ke mana sih?!” Mendengar itu Rara menahan nafas. Tangannya masih mencengkram tengkuk Bayu, jarinya sedikit gemetar meski wajahnya tetap berusaha tenang. Cup! Tanpa aba-aba Rara memulai lebih dulu, dengan berani awalnya hanya berniat mengecup bibir Bayu. Akan tetapi sensasinya berubah perlahan menjadi semakin liar. Kedua tangan Bayu mengangkat tubuh Rara, mulut mereka masih menyatu seolah enggan untuk lepas. Sementara Bayu tidak bisa menahan diri, entah mengapa ia merasa panas di seluruh tubuhnya. Nafas Rara mulai terengah-engah tapi Bayu enggan melepas. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam dirinya. Rasa haus yang begitu dalam, ketertarikannya semakin kuat menginginkan tubuh Rara kini sudah tak tertahankan. Kapan lagi dirinya akan bercumbu dengan wanita paling cantik di sana? pikirnya. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Bayu yang sudah lama penasaran dengan aktivitas menyalurkan hasrat yang sering dilihatnya. Tentu sangat ingin mencoba hal itu. Hari mulai petang, cahaya dalam gang semakin remang hampir gelap. Viona berdiri tepat di depan gang tempat mereka berada. Di sana ia melihat dua orang sedang akan menyalurkan hasrat. Namun, Penglihatannya tidak jelas. Sehingga hanya bisa mengira-ngira saja, mungkin salah satu dari pelacur lain sedang melayani pria murahan di sana. Yang tidak diketahuinya adalah kalau Rara yang dicarinya, ternyata wanita yang berada di sana. “Hngh!” desahan itu lepas dari mulut Rara. Sentuhan Bayu membuatnya merasa nikmat. Viona yang hendak berbalik pergi, kini kembali menoleh ke gang itu. “Rara! Itu kamu!” Bayu yang tahu kalau Viona akan mendekat, ia segera menurunkan Rara hingga membuatnya bingung. “Hei, apa kau mau dia tau ini aku!” bisik Rara dengan nafas tersengal. “Shuut!” desis Bayu. “Aku sudah mengikuti keinginanmu sejak tadi, sekarang giliranku!” Entah mengapa nada suara Bayu terdengar berbeda, lebih berat dari sebelumnya. Ekspresi polos dan gugup Bayu kini tidak ada lagi. Dia terlihat berbeda lebih mendominasi seolah sedang mengendalikan situasi. Membuat Rara tidak bisa menolak. “Sekarang menghadap tembok dengan posisi menungging!” bisik Bayu. “Atau kau mau Viona melihatmu sedang bersama pria hina sepertiku?” Yang dikatakan Bayu ada benarnya, jika sampai Viona tahu. Maka Mami Riska bisa marah besar karena dia melayani pria rendahan seperti Bayu. Rara menggigit bibir bawahnya, ia hanya bisa melakukan apa yang Bayu suruh karena itu mungkin solusinya agar Viona tidak masuk lebih dekat. Plak! Tangan Bayu memukul bokong Rara. Hingga membuatnya terperanjat kaget. Namun, saat mendempetkan bagian depan Bayu. Rara merasakan sesuatu yang tebal di balik kain terasa menegang seolah ingin menancap ke dalam dirinya.Bayu yang kebingungan dengan kondisinya saat ini karena pertarungannya ternyata sudah berakhir. Sedangkan dirinya merasa tidak ingat saat pertarungan barusan tahu-tahu ternyata sudah berakhir dan semua penonton sedang bersorak atas kemenangannya.Jantung Bayu berdegup kencang dengan suara dengungan masih terdengar di telinga meski tidak sekeras tadi. Bayu memegang dadanya karena jantung terasa seakan mau meledak.Di hadapan orang lain Bayu tidak terlihat begitu senang meski baru saja memenangkan pertarungan. Namun, wajahnya malah terlihat sangat kebingungan. “Ikut saja dulu denganku, ayo!” Basri yang melihat itu segera membawa Bayu meninggalkan arena. Tanpa menjawab Bayu tetap mengikuti Basri dari belakangnya. Mereka masuk ke ruangan tadi yang tepat di depan loker tempat baju Bayu berada. “Apa kau baru saja sadar dengan apa yang kamu lakukan?” tanya Basri.Mata Basri menatap Bayu dengan serius sembari memegang kedua pundaknya.
Hanya dengan satu gerakan tangan aba-aba dari wasit pertarungan di atas arena dimulai saat itu juga. Bayu beberapa saat lalu sempat menoleh ke arah Basri karena ia mengenali suara teriakannya barusan.Namun, karena pertarungan sudah dimulai maka Bayu kini fokus menatap lawannya. Kali ini pria yang menjadi lawannya adalah Arham salah satu petarung handal. Usianya sepantaran dengan Bayu mungkin hanya beda sedikit.Arham menatap tajam Bayu sambil meju dan mereka saling ancang-ancang akan menyerang satu sama lain. Saat kepalan tangan Arham mulai diarahkan pada Bayu dengan kekuatan penuh semangat dan cepat.Sebaliknya Bayu yang sadar akan serangan yang baru saja diarahkan padanya. Gerakan Arham begitu cepat jika dilihat oleh orang lain tapi berbeda dengan Bayu melihat gerakan itu jadi lambat. Gerakan santai Bayu hanya bergeser pelan sudah bisa menghindari pukulan.Merasakan pukulannya yang baru saja melesat hanya mengenai udara kosong. Membuat Arham se
Matanya terus menangkap pergerakan dan menyimak seperti biasa yang ia lakukan selama ini. Setiap kali sebelum bertarung Bayu selalu mempelajari beberapa trik di atas arena yang sedang berlangsung. “Bentar lagi aku dengar kamu yang naik ke sana.” Basri menoleh pada Arjuna. Mendengar itu Arjuna langsung mengangguk. “Benar aku akan bertarung habis ini. Sekarang kamu nggak lihat aku sedang mempersiapkan diri?” “Ya … lihat kok, dari tadi kamu diam di sampingku,” singgung Basri sambil menatap malas. “Hehehe … ini juga lagi bersiap kok.” Arjuna sambil tertawa lalu menoleh ke samping. “Bayu kamu giliran kamu kapan?” “Aku nggak tahu, ini cuma lagi nunggu dipanggil ajalah. Males tanya,” jawab Bayu. Basri langsung mengusulkan, “Kalau begitu biar aku yang tanyakan dulu ke tempat boss Soma.” “Tapi Bang—” “Nggak apa lagian aku ada urusan juga di sana,” potong Basri.
“Apa kamu masih takut?” tanya Bayu saat melihat wajah Rara. “Ya … aku hanya takut jika anak buahnya datang ke sini. Dan …” “Sudah tenang saja, tidak perlu takut. Aku tidak akan membiarkan mereka dengan mudah mendekatimu.” Sekali lagi Bayu menenangkannya. Dengan wajah tertunduk sambil menutupi sisi lain dari pipinya. Rara mengikuti Bayu masuk ke dalam. Bayu berbicara dengan seorang pria yang bekerja sebagai staff di depannya. Tidak lama kemudian kunci kamar tadi diberikan kepala mereka. Setelah berjalan sebentar di lorong akhirnya sampai di depan pintu kamar yang dituju. Sesuai dengan nomor kamar dan ketika kunci dimasukkan pintu langsung terbuka tanpa menunggu lama. “Ayo masuk! Untuk sementara kamu hanya perlu menungguku di sini sebentar. Karena nanti malam aku pasti akan datang lagi.” Bayu melangkah masuk lebih dulu. Mendengar itu Rara hanya mengangguk lalu mengikuti Bayu denga
Namun, sayangnya karena harus melarikan diri bersama seorang anak kecil membuat ibunya tidak bisa pergi lebih cepat hingga akhirnya ditangkap oleh anak buah mami Riska.Hukumannya sangatlah berat setelah mereka menemukan Sari (ibu Bayu). Kala itu mereka mengurung Sari di dalam sebuah gudang dan Sari diperkosa dan digilir oleh pria-pria bejat dan anak buah mami Riska dan para pelanggan yang membayar murah.Sejak itu Bayu jarang melihat ibunya selama berbulan-bulan hingga akhirnya Sari kembali pulang. Mami Riska membebaskannya setelah Sari menjadi gila dan ternyata dia juga sudah terkena penyakit kelamin.Itu sangat mengguncang hidup Bayu setelah ia perlahan jadi dewasa dan mengingat apa yang terjadi. Bukan berarti Bayu tidak marah atau menyimpan dendam terhadap Mami Riska. Namun, belum cukup saatnya untuk membalaskan itu ia hanya menunggu waktu dan memperkuat diri.Kembali mengingat itu membuat kedua tangan Bayu mengepal di kedua sisi. “
Melihat suapan terakhir itu Selvi tidak menolak, ia tetap melahapnya lagi hingga kedua pipinya terlihat besar karena dipenuhi oleh makanan.“Eumm … minhum!” Selvi mencoba meraih kembali gelas air.“Ini minum pelan-pelan.” Bayu membatu Selvi mengambilkan gelas dan langsung memberikannya ke mulut gadis itu. Mulut Selvi melepaskan gelas yang sudah kosong. “Ahh … kenyang banget. Aku rasa perutku benar-benar penuh.”Dengan mengusap perutnya Selvi kembali bersandar ke sisi sandaran ranjang. Berbeda dengan Bayu yang sedang meletakkan piring dan gelas ke atas nampan kecil yang dibawa Sri tadi.“Kalau gitu malam ini kamu sebaiknya tidur lebih awal. Aku tidak akan mengganggumu lagi untuk malam ini. Sekarang aku akan keluar untuk mengantarkan ini ke dapur, kalau begitu selamat malam, Selvi!” Sebelum keluar Bayu sempat mengusap pucuk kepala Selvi dengan lembut. Setelah itu barulah ia keluar.Dengan hati-hati Bayu yang akhirnya men







