Share

Bab 4

Author: Fes
Dua suara, melintasi ruang dan waktu, tumpang-tindih pada saat ini, menghantam dada Yulia dengan telak.

Akhirnya dia harus mengakui, dalam hati Hendra, dia dari awal sampai akhir hanyalah pemeran pengganti. Bahkan momen jatuh hati pria itu pun dijiplak satu per satu berdasarkan Reni.

Dadanya terasa sangat sesak, tapi dia tidak tahu harus meluapkannya ke mana.

Ponselnya bergetar, ada pesan suara dari ibunya.

"Yulia, nanti malam pulang makan, ya? Pulang dan minta maaf baik-baik sama Ayah. Sifatnya memang agak emosional, tapi itu karena dia panik dan peduli sama kamu."

Mendengar nada bicara ibunya yang selalu menyiratkan rasa takut dan berusaha menyenangkan orang, dada Yulia makin terasa sesak. Teringat pada wanita yang seumur hidup tidak pernah benar-benar menegakkan kepala di hadapan ayahnya, dia akhirnya menghela napas.

"Oke."

Dia bisa tidak peduli pada amukan Arif, tapi dia tidak bisa tidak peduli pada ibunya yang sudah berusaha sekuat tenaga memberinya kehangatan.

Yulia membawa bingkisan lalu membuka pintu rumah, seketika terdengar bentakan marah dari Arif, "Siapa yang suruh kamu pulang!"

Ibu Yulia, Sania membawa masakan yang baru matang dari dapur, lalu tersenyum canggung. "Pas banget udah pulang, ayo cuci tangan terus makan."

Kalimat itu malah mengalihkan amarah Arif, tangannya terangkat dan menepis masakan di tangan Sania hingga tumpah.

"Kamu yang selalu memanjakan dia! Harusnya dari dulu kalian berdua nggak usah dijemput pulang, biar nggak bikin malu di luar!"

Yulia melihat ibunya ketumpahan kuah sayur, tetapi cuma berani menunduk dan berdiri kebingungan di tempat. Saking marahnya, napas Yulia sampai terengah-engah. Dia melangkah maju dan pasang badan di depan ibunya.

Ibunya tergesa-gesa memegang tangannya, menggelengkan kepala sambil memohon.

"Ngapain kamu tahan dia! Biarkan dia bicara!" Urat di dahi Arif bertonjolan. "Dia udah bikin masalah sampai kayak gini, dia masih merasa benar?"

Yulia menatap lurus wajah ayahnya yang kusut karena murka. "Seberapa pun kami bikin malu, nggak ada apa-apanya dibanding kamu."

"Biarin istri sah sama anak kandung belasan tahun nggak diurus, malah bersenang-senang sama selingkuhan di Kota Tirta. Begitu tua dan dibuang orang, baru ingat di rumah masih ada istri tua yang nunggu sekian lama, baru sok berbelas kasih menjemput kami pulang!"

"Muka Keluarga Andria udah kamu robek dan dibuang sendiri pas kamu menelantarkan anak istri!"

"Anak durhaka!" Arif gemetaran saking marahnya, dia mengangkat tangan dan bersiap menampar wajah Yulia.

Angin dari tebasan tangan itu menerpa, tapi dia sama sekali tidak menghindar.

"Ayah." Suara berat yang tidak asing terdengar di ambang pintu.

Yulia tertegun.

Hendra entah sejak kapan sudah berdiri di area pintu masuk. Sorot matanya bening dan tenang, tapi ekspresinya dingin. Setelah merangkul Yulia ke sampingnya, raut wajah pria itu baru kelihatan agak membaik.

"Pernikahan ditunda itu salahku. Jadi hari ini aku udah janjian sama Yulia buat pulang dan minta maaf sama Ayah dan Ibu. Cuma tadi aku memutar jalan buat ambil hadiah yang disiapkan buat Ayah dan Ibu, makanya Yulia pulang duluan."

Dia berhenti sejenak, pandangannya menyapu kekacauan di lantai. "Sepertinya Ayah sama Yulia ada salah paham?"

Panggilan ayah membuat senyum Arif perlahan mengembang. "Kita 'kan keluarga, salah paham apa coba, ayo cepat masuk."

"Baguslah kalau gitu. Ini sedikit kenang-kenangan dariku." Hendra mengangguk, asisten di belakangnya maju dan menyerahkan sebuah dokumen.

Arif membuka dokumen itu dan matanya langsung berbinar. Itu adalah sebidang tanah di timur kota yang sudah lama dia incar, tapi terpaksa dilepas karena kekurangan dana. Keluarga Sucipto memang benar-benar kaya raya.

Yulia menunduk. Pria itu menolongnya lagi. Seolah setiap kali dia berada dalam posisi sulit, pria itu selalu muncul di sampingnya dan bisa menyelesaikan masalahnya cuma dengan melambaikan tangan.

Di kepalanya mendadak teringat jawaban pria itu tentang momen pertama kali jatuh hati.

Hendra bilang adegan jatuh hati mereka berdua berbeda, padahal sebenarnya sama.

Hari itu saat diancam, dia pikir dirinya pasti akan habis. Walaupun sudah mengirim pesan minta tolong ke Gerry sejak awal, dia tidak tahu kapan mereka akan sampai.

Tepat saat mata pisau kembali menempel di wajahnya, seseorang menerobos masuk dan menyelamatkannya.

Saat dibawa keluar dari ruangan, dia melihat punggung pria itu.

Pikirannya ditarik kembali oleh sebuah tarikan di pinggangnya. Hendra berbisik di telinganya, "Makan dulu."

Makan malam kali ini berjalan sangat lancar karena kedatangan Hendra. Ayah Yulia puas, sementara ibunya merasa berterima kasih.

Cuma Yulia yang merasa makanan itu rasanya hambar seperti mengunyah lilin.

Sehabis makan, mereka berdua berjalan keluar dari vila. Yulia menghentikan langkahnya.

Yulia berbalik, memanfaatkan cahaya lampu jalan untuk menatap pria itu dari atas sampai bawah.

Ini adalah Hendra yang sudah dia kenal selama tiga tahun, pria yang dulu dia kira bisa diajak menghabiskan sisa hidup bersama.

Dia tersenyum sangat tipis, lalu mundur satu langkah.

"Pak Hendra, makasih udah bantu aku keluar dari masalah hari ini. Tapi, soal yang di meja makan tadi, tentang menjadwalkan ulang pernikahan, lupakan aja."

Hendra mengerutkan alisnya tipis, tampak tidak mengerti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status