LOGINSaat itu, ibu tiri mengira aku sudah gila dan sama sekali tak mau membantuku melampiaskannya.Namun, karena tak tahan dengan bujukan dan desakanku yang terus-menerus, akhirnya dia menarikku ke kamar mandi, menunggingkan pinggulnya, mengangkat gaun tidurku, lalu memintaku untuk melakukannya dengan cepat.“Tenang saja, bu. Aku nggak akan lama….”Dengan tak sabar, hanya beberapa kali merabanya, aku berhasil membuat ibu tiri basah. Lalu dengan cepat menyusupkan benda milikku ke dalamnya.Meski berusaha menahannya, begitu terisi penuh oleh benda milikku, ibu tiri tetap tak sanggup menahan desahannya.Lama-kelamaan, gerakan kami menjadi semakin liar.Mungkin karena pada akhirnya kami terlalu larut dalam gairah, suara yang terdengar pun menjadi semakin keras.Sampai-sampai kami sama sekali tak menyadari sejak kapan ayah sudah berada di depan pintu kamar mandi.Ibu tirilah yang menyadarinya.Saat sedang mendesah pelan sambil menunggingkan pinggulnya, dia mendongak dan menatap ke arah cermin.“
Di bawah sensasi antara tegang dan takut, bagian intim ibu terasa luar biasa rapat.Sementara aku malah menjadi sangat liar.Di depan ayah yang tertidur lelap, aku menarik ibu tiri dan dengan paksa mencoba berbagai macam posisi yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.Meski dilanda ketakutan, di bawah desakanku, ibu tiri hanya bisa pasrah dan patuh padaku.“Calvin….”Mungkin karena terlalu tegang, di tengah desahannya, ibu tiri sampai meneteskan air mata.Meski ada rasa kasihan di hatiku, sensasi menegangkan yang kurasakan jauh lebih dominan.Aku sangat menikmati kondisi ibu tiri yang begitu menggoda dalam situasi seperti ini. Aku benar-benar menikmati tubuhnya yang dewasa dan semakin ingin menguasainya secara utuh!Malam ini, kami melakukannya sangat lama. Sampai aku benar-benar kehabisan tenaga, entah sudah berapa kali ibu tiri dibuat gemetaran.Dia terbaring di samping ayah dengan kedua kaki terbuka lebar, menatapku dengan wajah merona.“Calvin… nyalimu besar sekali….”“Hanya nyal
Tindakanku yang berani ini berhasil membuat ibu tiri terkejut setengah mati.Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorongku menjauh.Namun, dia tak tahu bahwa selama beberapa hari melarangku mendekatinya, aku merindukannya sampai hampir gila!“Jangan… Calvin….”Ibu tiri terus berontak, tapi tubuhnya yang lembut sama sekali tak sanggup menahan kekuatanku.Aku menindihnya dengan kuat di atas sofa. Tanpa menunggu responnya, aku langsung mencium bibirnya yang manis dan lembut.“Hm… Calvin… hm….”Awalnya, ibu tiri menolak ciumanku dengan kuat. Namun, begitu menyadari bahwa perlawanannya sia-sia, dia seolah pasrah dan menyerah berontak.“Ibu, wangi sekali….”Aku menciumnya dari sudut bibir, hingga turun ke tulang selangkanya.Tanganku yang tadinya menahan bahunya, kini perlahan merambat ke pinggangnya.Ibu tiri memakai gaun panjang hari ini.Saat aku perlahan menurunkan gaunnya, dia baru tersadar sepenuhnya. Dia memegang tanganku, lalu menggigit bibirnya, dia menatapku dengan tatapan m
Ayah kalau sudah mabuk, paling suka mengamuk.Dia memang selalu begitu, sudah jadi kebiasaan lama.Hanya saja kali ini, pukulannya sangat keras dan makiannya pun sangat kasar.“Jangan kira aku nggak tahu! Selama aku nggak ada, kamu pasti sering menggoda pria lain, ‘kan?!”Begitu masuk pintu, sambil bersendawa, ayah mendaratkan beberapa tamparan di wajah ibu tiri.Tamparan itu terus mendarat di wajah ibu tiri, sampai-sampai ibu tiri tak punya tenaga lagi untuk menghindar.“Aku nggak ada!”Ibu tiri menangis sambil memegangi wajahnya.Karena kasihan, aku pun pasang badan dan menghalangi di depannya.Sejak kecil, aku tak punya ibu dan dibesarkan sendiri oleh ayah. Lagipula, aku ini putra satu-satunya, jadi seberapa mabukpun, dia tak akan tega memukulku dengan keras.“Ayah, jangan dipukul lagi. Ibu… sangat baik padaku. Dia nggak pernah menggoda pria lain waktu ayah nggak ada!”Aku mencoba membela ibu tiri.Sementara ibu tiri hanya bisa menangis.Ayah berdiri di depanku, menatapku dengan tat
Wanita seperti ibu tiri membuatku benar-benar merasakan nikmatnya menjadi seorang pria.Malam itu, ibu tiri melayaniku hingga diriku merasa sangat puas.Aku bahkan tak pernah membayangkan kalau diriku bisa menikmati setiap lekuk tubuh ibu tiri secara leluasa.Sensasi luar biasa itu sungguh membuatku mabuk kepayang.Bahkan satu menit sebelum turun dari kereta, aku masih menarik ibu tiri ke dalam kamar mandi untuk melampiaskan gairah sepuasnya.“Ah… Calvin… ibu sudah nggak sanggup….”Di dalam bilik kamar mandi yang sempit, ibu tiri berusaha sekuat tenaga mengimbangi hentakanku. Bokongnya yang semula putih mulus, kini tampak kemerahan akibat benturan.Dada indahnya yang berisi ikut berguncang mengikuti dorongan tubuhku.Sementara itu, cermin di dinding yang biasa dipakai untuk berdandan membuatku bisa menikmati raut wajahnya yang dipenuhi rona gairah.“Puas nggak?! Hm? Kamu pasti suka aku memuaskanmu, ‘kan?!”Benda milikku yang besar bergerak bebas tanpa henti di dalam tubuh ibu tiri.Hin
“Ahh… Calvin… aku sudah nggak kuat….”Mungkin karena terlalu bersemangat dan juga pertama kali melakukan hal seperti ini bersama ibu tiri, aku bertahan jauh lebih lama dari biasanya kali ini.Perlahan-lahan, ibu tiri sudah mulai kewalahan. Sementara diriku merasa sangat bangga.“Kenapa, bu? Kamu nggak suka?Sambil terus menyerang ibu tiri dengan penuh nafsu, aku membungkuk dan meraih salah satu buah dadanya, lalu meremasnya dengan kasar.“Suka….”Ibu tiri menggigit bibirnya, agak malu.Namun, aku tak membiarkannya begitu saja.“Kamu suka apa?”“Suka Calvin… oh… dalam sekali….”Melihat ibu tiri mulai tak berdaya dan goyah di bawah seranganku, seketika kesombonganku mencapai puncaknya.“Siapa yang lebih hebat? Aku atau ayah?”Begitu ditanya seperti itu olehku, tiba-tiba ibu tiri malah terdiam.Mungkin karena aku menyebutkan ayah, jadi dia agak gugup.Namun, dia tak mengatakan apapun.Yang meresponku malah kontraksi cepat di bagian intimnya.Kencang sekali!Lubang vagina ibu tiri mencengk







