Share

BAB 148: TIGA HARI

Author: Stoner 27
last update publish date: 2026-09-18 22:10:03

Hari kedua dari larangan itu terasa lebih panjang daripada hari pertama.

Yue Chen berdiri di halaman sekte, tempat matahari pagi jatuh miring di antara atap-atap yang masih menyimpan bekas retak dari pertempuran beberapa hari lalu. Perban di bahu kirinya sudah agak longgar, tapi ia belum berani melepasnya. Setiap kali ia menggerakkan lengan terlalu jauh ke atas, rasa perih menjalar dari bekas jahitan baru, menumpuk di atas bekas luka lama yang sudah lebih dulu memutih.

Ia

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 170: PURNAMA

    Satu bulan telah berlalu sejak malam di puncak gunung itu, sejak Zhao Kuang jatuh berlutut dengan tubuh kosong tanpa qi. Malam ini, bulan kembali penuh, bulat sempurna, menggantung rendah di atas Sekte Bulan Sabit seperti cermin raksasa yang menuangkan cahaya putih ke setiap genting, setiap batu, setiap wajah yang menengadah menatapnya.Di halaman latihan, Yue Chen berdiri sendirian. Tidak ada murid lain di sekitarnya, tidak ada murid yang perlu ia lindungi, tidak ada lawan yang perlu ia hadapi. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi dadanya perlahan, tanpa dipaksa. Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang. Kalimat itu masih terngiang di kepalanya, bahkan setelah bertahun-tahun.Ia mulai bergerak. Tujuh Langit Awan, lalu berpindah ke Penjepit Giok, dua jari terentang, cahaya giok tipis berkedip di ujungnya, memantulkan sinar bulan hingga tampak seperti embun yang menyala. Tidak ada tekanan dalam gerakannya malam it

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 169: BATU NISAN DAN TUNAS BAMBU

    Sore itu langit di atas Sekte Bulan Sabit berwarna jingga pudar, seperti kain yang sudah terlalu lama dijemur dan warnanya mulai luntur di tepi. Yue Chen berjalan menyusuri halaman dalam sendirian, langkahnya pelan, tidak tergesa seperti biasanya. Reruntuhan bekas serangan lama masih tersisa di beberapa sudut, batu bata yang belum diganti, retakan di lantai yang belum ditambal. Tapi hari itu, matanya tertuju pada satu tempat saja: deretan makam di ujung halaman.Batu nisan yang terbelah masih berdiri di sana, separuh saja, seperti gigi yang patah. Yue Chen berhenti di depannya. Ia berjongkok, ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. Ada nama di sana, tapi hanya separuh yang tersisa. Huruf-huruf terakhir hilang bersama serpihan yang terlempar entah ke mana ketika pedang Zhao Kuang menebasnya beberapa hari lalu.Ia menelusuri garis retakan dengan jari telunjuk, pelan, seperti membaca sesuatu yang tidak lagi bisa dibaca.Langkah kaki terdeng

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 168: SETENGAH LANGKAH

    Pagi itu halaman latihan Sekte Bulan Sabit dipenuhi orang lebih banyak dari biasanya. Bukan karena diumumkan. Kabar semacam ini menyebar sendiri, dari satu murid ke murid lain, dari satu bisik ke bisik berikutnya, sampai ketika matahari baru separuh naik dari balik punggung gunung, hampir seluruh penghuni sekte sudah berdiri berjajar di tepi halaman.Murid-murid muda berdiri di barisan depan, mata mereka berbinar penasaran. Di belakang mereka, murid-murid senior berdiri dengan tangan terlipat, wajah tenang namun penuh perhatian. Lan Feiyan berdiri di dekat pilar utama, jubah birunya berkibar pelan tertiup angin pagi. Tetua Zhang berdiri tidak jauh darinya, tongkat tuanya bertumpu di tanah, matanya yang sudah dimakan usia tetap tajam mengamati setiap sudut halaman.Murid Ketiga duduk di atas batu di pinggir halaman, tangan kanannya yang penuh bekas hitam tergeletak di pangkuan, tidak bisa terangkat lebih tinggi dari bahu. Ia menonton dengan senyum tipis, s

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 167: PEDANG YANG MENEMUKAN ARAHNYA

    Halaman latihan Sekte Bulan Sabit masih basah oleh embun ketika Duan Wuya tiba, jauh sebelum matahari sepenuhnya naik dari balik punggung gunung. Tidak ada murid lain di sana. Hanya suara burung yang baru bangun dan angin pagi yang menggigit kulit lengannya yang masih terbalut perban tipis, bekas luka dari pertarungan melawan sepupunya sendiri di reruntuhan kuil tua.Ia berdiri di tengah halaman, pedang panjang tergenggam di tangan kanan. Bilahnya masih bersih, terawat, meski gagangnya sudah menunjukkan bekas telapak tangan yang menggenggamnya berkali-kali dalam pertarungan sungguhan, bukan sekadar latihan.Ia menarik napas. Perlahan. Mengingat kata-kata yang diajarkan padanya, bukan oleh Shen Wuyou secara langsung, melainkan oleh Yue Chen yang mengulanginya dari mulut gurunya sendiri.Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang.Kaki Duan Wuya bergeser, membentuk kuda-kuda yang sudah ia kenal luar kepala. Ia mulai bergerak, pedangny

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 166: JALAN YANG TIDAK DIKETAHUI

    Paviliun utama Sekte Bulan Sabit masih menyimpan bau obat dan asap dupa yang tidak pernah benar-benar hilang sejak hari-hari pertempuran. Shen Wuyou berdiri di depan lemari kayu tua, tangannya menyentuh kain jubah putih yang tergantung di sana, bersih, belum pernah dipakai. Ia melepas jubah yang membalut tubuhnya sejak malam di puncak gunung, jubah yang ujungnya robek dan nodanya sudah mengering menjadi cokelat tua di beberapa titik.Untuk pertama kalinya sejak bab 153, ia berganti pakaian.Jarinya menelusuri robekan di ujung kain lama itu sebelum melipatnya. Tidak buru-buru. Setiap lipatan dilakukan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyusun sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kain. Ia membuka laci bawah lemari, tempat biasanya kosong, dan meletakkan jubah lama itu di sana. Ia menatapnya sejenak. Noda itu tidak hilang. Ia tidak berusaha menghilangkannya. Ia menutup laci, pelan, seperti menutup peti mati yang belum saatnya dikubur.

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 165: DUA VERSI TUJUH LANGIT AWAN

    Pesan itu datang lewat seorang murid muda yang mengetuk pintu kamar Yue Chen saat matahari baru saja terbit, membawa selembar kain kecil bertuliskan satu kalimat tanpa tanda tangan: temui aku di lembah berangin barat. Yue Chen tidak bertanya siapa pengirimnya. Ia sudah tahu.Perjalanan menuju lembah itu memakan waktu separuh pagi, menyusuri jalur yang sudah lama tidak ia lewati sejak tahun-tahun awal ia berlatih sendirian di sana. Angin masih berembus dari arah barat seperti dulu, membawa aroma tanah kering bercampur wangi rerumputan liar. Batu-batu besar yang dulu menjadi saksi pertarungan pertamanya masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu tidak menyentuh mereka sedikit pun.Su Meiyin sudah menunggu di tengah lembah ketika Yue Chen tiba, berdiri tegak dengan jubah abu kebiruan yang berkibar pelan tertiup angin. Sepuluh jarinya terentang di sisi tubuhnya, namun Benang Emas tidak aktif, tidak ada kilau perak tak terlihat yang biasa menyelimuti gera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status