Home / Pendekar / Bayang Pedang Cahaya Bulan / BAB 36: Liontin Perak

Share

BAB 36: Liontin Perak

Author: Stoner 27
last update publish date: 2026-07-20 19:18:25

"Bai Muchen."

Yue Chen mematung, mengulang nama itu dalam hati.

Bai Muchen.

Nama yang tidak pernah dikenalnya, nama yang belum pernah didengarnya seumur hidup. Namun meski baru pertama kali terucap, nama itu telah membawa sesuatu yang tak wajar, sesuatu yang sulit dijelaskan namun terasa seperti, seperti apa?

Seperti harapan.

Bukan harapan yang berteriak, bukan pula harapan yang menari-nari meminta perhatian, melainkan harapan yang diam, yang t

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 150: BENANG YANG BELUM PUTUS

    Hari keempat datang membawa cahaya yang berbeda.Yue Chen berdiri di gerbang sekte, menatap jalan berbatu yang membentang di luar tembok, jalan yang selama tiga hari terakhir menjadi batas yang tidak boleh ia lewati. Bahu kirinya sudah jauh membaik, perbannya kini lebih tipis, dan meski masih ada rasa perih samar setiap kali ia menggerakkan lengan terlalu cepat, ia bisa mengangkat pedang tanpa harus menahan napas menahan sakit.Angin pagi membawa bau tanah basah dari embun semalam, bercampur aroma dupa yang menyala pelan di altar dekat gerbang. Ia menatap ke depan, ke arah pepohonan yang menghijau di kejauhan, ke arah dunia yang selama tiga hari ini hanya bisa ia lihat dari balik tembok tanpa bisa menyentuhnya.Langkah kaki mendekat dari belakang."Kau keluar?" Suara Lan Feiyan, tenang seperti biasa, meski ada nada yang menyelidik di baliknya."Ya," jawab Yue Chen, tanpa menoleh."Guru-mu melarang.""Tiga hari sudah lewat."

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 149: TIGA PERWIRA DI JALAN GUNUNG

    Hari ketiga tiba tanpa suara.Shen Wuyou berjalan sendirian menyusuri jalan gunung yang menyempit di antara dua dinding alam: tebing batu di sisi kanan yang menjulang tinggi hingga puncaknya hilang ditelan kabut pagi, dan jurang di sisi kiri yang menganga dalam, dasarnya tak terlihat dari mana pun langkah kaki berpijak. Jubah putihnya berkibar pelan mengikuti angin yang menyusup dari celah-celah bebatuan, satu-satunya warna terang di antara abu-abu batu dan hijau gelap semak yang tumbuh liar di tepian jalan.Ia sudah merasakan mereka sejak tiga puluh langkah sebelumnya.Tiga titik tekanan qi, disembunyikan dengan susah payah di balik bebatuan dan rerumpunan semak, seperti api kecil yang berusaha ditutupi kain tebal namun tetap membocorkan panasnya melalui celah-celah yang tak terhitung. Perwira menengah Sarang Elang Malam, terlatih, tapi belum cukup terlatih untuk menyembunyikan diri dari seseorang yang sudah menghitung napas lawan sebelum lawan sendiri me

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 148: TIGA HARI

    Hari kedua dari larangan itu terasa lebih panjang daripada hari pertama.Yue Chen berdiri di halaman sekte, tempat matahari pagi jatuh miring di antara atap-atap yang masih menyimpan bekas retak dari pertempuran beberapa hari lalu. Perban di bahu kirinya sudah agak longgar, tapi ia belum berani melepasnya. Setiap kali ia menggerakkan lengan terlalu jauh ke atas, rasa perih menjalar dari bekas jahitan baru, menumpuk di atas bekas luka lama yang sudah lebih dulu memutih.Ia tidak berlatih Tujuh Langit Awan penuh hari itu. Gurunya melarangnya keluar sekte selama tiga hari, dan meskipun halaman ini masih berada di dalam tembok, ada semacam kesepakatan tak terucap dalam dirinya sendiri untuk tidak memaksakan diri. Jadi ia hanya berlatih pernapasan. Berdiri dengan kaki sedikit terbuka, punggung lurus, dan membiarkan udara masuk perlahan melalui hidung, mengisi dadanya seperti air yang mengalir mengisi cekungan batu, bukan seperti sesuatu yang direbut paksa.Napa

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 147: WAJAH DI BALIK BESI

    Topeng itu tidak mau lepas semudah yang dibayangkan Duan Wuya.Tangannya mencengkeram tepi besi yang masih hangat oleh napas orang di baliknya. Pedangnya sendiri masih menempel di leher lawan, ujungnya menekan kulit tanpa menyayat, gemetar kecil mengikuti detak jantungnya yang belum juga tenang sejak benturan terakhir. Di sekelilingnya, reruntuhan kuil berdiri sebagai saksi bisu: pilar-pilar batu yang patah di tengah, serpihan atap yang jatuh membentuk gundukan debu putih, dan cahaya senja yang menembus celah-celah runtuhan seperti jari-jari yang menuding.Ia menarik topeng itu.Bunyi yang terdengar bukan bunyi logam yang mulus terlepas, melainkan bunyi retak, seolah besi itu sendiri enggan menyerahkan rahasianya. Topeng terbelah menjadi dua di tangan Duan Wuya, jatuh berdentang ke lantai batu, berputar sesaat sebelum akhirnya diam.Wajah yang muncul di baliknya membuat napas Duan Wuya tertahan.Bukan wajah yang pernah ia temui dalam hidup ny

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 146: PEDANG YANG MENGENAL PEDANG

    ---Sejak malam di lereng tebing barat, sejak topeng besi itu retak satu garis di bawah sentuhan jari Yue Chen, Duan Wuya tidak lagi bisa tidur dengan tenang. Setiap kali matanya terpejam, yang muncul bukan wajah lawan, sebab wajah itu tersembunyi rapat di balik besi, melainkan gerakan pedangnya. Tiga tebasan yang membentuk segitiga di udara, lalu berhenti tepat di titik yang sama tempat pedang itu dimulai.Ia mengenal pola itu. Bukan mengenal dalam arti pernah melihatnya diperagakan oleh orang lain, sebab tidak ada seorang pun di sekte ini, atau di dunia persilatan mana pun yang pernah menyaksikannya secara langsung selama tiga puluh lima tahun terakhir. Ia mengenalnya karena pola itu tertanam di dalam tubuhnya sendiri, diwariskan lewat darah, lewat garis keturunan yang tidak pernah ia pilih tapi juga tidak pernah bisa ia buang.Teknik dasar Sekte Pedang Neraka. Keluarganya.Ia duduk di tepi ranjang kayunya malam itu, pedang panjang bersandar di di

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 145: NAMA YANG DICORET

    ---Paviliun kecil di belakang sekte tidak pernah ramai. Atapnya rendah, dindingnya kayu tua yang sudah kehilangan warnanya, dan satu-satunya penerangan datang dari sepasang lentera yang digantung di kedua sudut ruangan. Murid Ketiga berdiri di ambang pintu lebih lama daripada yang seharusnya, tangan kanannya, tangan yang penuh bekas hitam menjalar dari jari hingga ke pergelangan, tersembunyi di balik lengan jubah."Guru. Aku perlu mengatakan sesuatu."Shen Wuyou duduk di atas tikar tipis, punggung menghadap jendela kecil yang menampilkan bulan yang belum genap purnama. Ia tidak menoleh segera. Ada jeda, jeda yang cukup panjang untuk membuat Murid Ketiga merasakan detak jantungnya sendiri, sebelum akhirnya kepala itu berputar perlahan."Duduklah," kata Shen Wuyou.Murid Ketiga duduk. Lantai kayu dingin menembus kain celananya. Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang tidak lagi sepenuhnya miliknya, sebelum akhirnya bicara."Zhao Kuang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status