LOGINAzalea berbalik ke kiri dan ke kanan, ia tidak bisa tidur dengan tenang, bayang-bayang dua pria itu masih terus menghantui. Ia menghela napas , duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke depan.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi…?” gumamnya lirih.Tok.. tok"Masuk," ucapnya sambil melihat siapa yang masuk ke kamarnya sepagi ini. Ia tersenyum saat melihat kakaknya masuk. "Kamu engga tidur, Aza? ""Kakak udah pulang? " tanyanya sambil mencoba menatap kakakny dengan senyuman."Udah. Kamu belum menjawab pertanyaan kakak, Aza... ""Anu.. kak.. ak.., ""Apa yang menggangu pikiran mu? Masih soal Lucas?"Azalea menggeleng, hal itu bukan menjadi prioritas nya sekarang, sekarang hal yang penting adalah cepat mencari tahu keberadaan Azura dan membawanya kembali untuk meminta pertanggungjawaban, karena gadis itu ia dalam masalah serius ini."Terus soal apa dek? " ucap kakaknya sambil mendekati Azalea, ikut duduk di pinggir tempat tidur, siap mendengarkan cerita adiknya. Azalea menggel
Pagi ini tidak seperti biasanya, Azalea terbangun dan melangkah keluar melihat sesuatu di kotak pos kecil rumahnya. "Kalau kau ingin tahu kebenarannya, datanglah ke tempat ini. "Tangan Azalea masih gemetar memegang amplop yang entah siapa pengirimnya. Apakah ini dari Azura? Aku harus mencari tahu kebenarannya. Tanpa berlama-lama, ia langsung bersiap-siap, berpamitan dengan ayahnya, bilang kalau ada urusan di luar padahal ia mau memulai mencari tahu dimana keberadaan Azura.Ia tidak mau membuat ayahnya berubah pikiran jika mengetahui hal itu, walaupun kemarin ayahnya sudah sepakat mengizinkannya. ***Perjalanan itu tidaklah mudah, karena harus melewati gang-gang sempit yang jarang dilewati orang. Ia menghela nafas berkali-kali, tidak bisa dipungkiri ia takut, agak sedikit menyesali keberanian nya yang udah sejauh ini, tapi ia harus tetap bertahan demi mengetahui kebenarannya dan mengetahui siapa dalang dari semua ini. "Ini tempatnya.... "Azalea menelan ludah beberapa kali, kelia
“Ibu sudah putuskan mulai hari ini Seraphina akan tinggal di sini.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut ibunya, membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terdiam, baik pelayan, penjaga, bahkan Dante yang berdiri tidak jauh dari Lucas.“Untuk apa?”suara Lucas memecah keheningan yang sudah memenuhi seisi ruangan.“Kurang dari seminggu lagi kalian akan bertunangan, ini untuk membantu kalian supaya cepat dekat. Ibu tidak ingin ada keraguan di antara kalian berdua.”Seraphina yang mendengar hal itu langsung tersenyum, tidak menyangka hari yang dia nantikan akan tiba. Tadinya dia sudah tidak terlalu peduli dengan perjodohan itu, yang dia lebih pentingkan adalah cara menyingkirkan Azalea.Dengan begini, maka dua goals nya tercapai, menyingkirkan Azalea dan mendapatkan Lucas, bos mafia terkaya di wilayah ini. Ia tidak sabar menguasai semua harta Lucas yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.“Aku harap tidak akan merepotkan siapapun,”ucapnya dengan nada kemenangan.Dante memperhat
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa ini sudah seminggu ia tidak mendengar kabar atau penjelasan dari Lucas, ia berusaha untuk tegar, tapi ternyata tidak segampang itu. Sangat sulit untuk dirinya bangkit dari keterpurukan ini, tapi setidaknya ia masih terus berusaha. "Aku harus melanjutkan hidupku lagi, tidak boleh seperti ini, " ucapnya sambil menghela nafas. Ia beranjak dari tempat tidurnya, hari ini galeri tidak buka, hari libur, tapi ia ingin mencari udara segar. Berjalan mungkin bisa membantu. "Yah, " ucapnya saat menemukan ayahnya sedang memasak sarapan. "Pagi sayang, sebentar lagi sarapan akan jadi, bent... " ucap ayahnya belum selesai tapi dia langsung memotong nya, "yah, aku mau pergi keluar sebentar. " "Sayang... tapi ini.. " "Yah sebentar, tidak akan lama, aku butuh udara segar." Ia bisa melihat ayahnya menghela nafas, mematikan kompor nya sejenak lalu mendekat ke arahnya, mencium keningnya, "ok, nak hati-hati dan jangan terlalu lama, pulang kita m
Pagi ini datang tidak seperti biasanya, bayangan itu masih terus menghantui saat bibir mereka bertemu, sesak sekali rasanya, ia tidak dapat menghilangkan bayangan itu dari kepalanya sejak semalam bahkan ia pun hanya tidur dua jam hanya karena memikirkan adegan itu.“Kau jahat, Lucas,” isaknya masih sambil menitikkan air mata.Sekuat tenaga ia coba meredam amarah yang bergemuruh dalam dadanya, tapi ternyata tidak semudah itu. Ia pikir selama ini Lucas hanya menginginkan dirinya bukan Seraphina, tapi yang ia temukan semalam bertentangan dengan apa yang selama ini ia pikirkan.“Sudah nak, hentikan tangismu itu sayang. Dari awal dia menginjakkan kaki nya di sini, ayah sudah tidak percaya dengan lelaki itu, ayah tahu dia brengsek, tidak seharusnya kamu menangisi bos brengsek itu.”Azalea terkaget saat menemukan ayahnya sudah di hadapan dirinya, reflek ia langsung memeluk ayahnya,bukannya berhenti, tangisnya malah makin pecah.“Sudah sayang, anak ayah biasanya kuat, masih banyak lelaki yang
"Aku harus menjelaskan semuanya," ucap Lucas. Sekarang ia sudah sampai di depan rumah Azalea, sudah siap dengan segala konsekuensinya. Saat pintunya sudah siap untuk mengetuk, seseorang menghampiri nya. "Bos, lapor, " ucap Dante, membuat Lucas mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah Azalea. "Apalagi sekarang Dante?" "Bos, bukan bermaksud apa-apa bos, tapi saya rasa jika bos terus seperti ini maka semua musuh akan habis menyerang keluarga Maxime." Lucas menatap Dante dengan tajam, "Maksud mu seperti ini seperti apa? Kau sudah berani mengkritik ku? " ucapnya dengan nada tinggi, tangan nya merogoh saku celana yang ada di belakang, mengeluarkan pistol dan menodongkan pada bodyguard nya sendiri. "Saya tidak takut mati bos, saya hanya memberi ide yang terbaik buat keluarga ini, kalau bos memang ingin keluarga bos sendiri hancur, bos boleh tembak saya. " Lucas menghela nafas panjang, yang diucapkan Dante benar, belakangan ini ia lebih memilih orang lain, bukan kelua







