LOGIN
Cahaya sore menembus tirai kamar rumah sakit, menimpa wajah pucat seorang wanita separuh baya yang terbaring lemah di ranjang sakit.
Bunyi mesin monitor detak jantung terdengar pelan, berirama lambat dan seolah memberi tanda jika waktu terus berkurang. Aira duduk di sisi ranjang. Dia memegang tangan wanita itu dengan erat. Kulit tangan itu dingin dan terasa semakin ringan dari hari ke hari. “Ibu harus sembuh, ya… Aira masih butuh Ibu,” bisik Aira pelan. Air matanya jatuh ke punggung tangan itu. Sang ibu tersenyum lemah, “Ibu kuat kok. Kamu jangan nangis terus ya.” Perasaan Aira benar-benar hancur saat melihat senyum tak berdaya itu. Tiba-tiba, suara pintu terbuka pelan. Ayah Aira berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. Dia menggenggam selembar kertas hasil diagnosa. Sang ayah tidak mengatakan apapun. Tapi dia hanya menatap Aira, berkedip dan kemudian berbalik untuk keluar lagi. Dari sorot matanya, Aira tahu jika ayahnya sedang membawa kabar tidak baik. Jadi ketika ayahnya berbalik, dia langsung gelisah. Lalu Aira menoleh pada Ibunya kembali. Dia menepuk lembut tangan ibunya dan berkata dengan aga ragu, “Ibu, Aira keluar bentar ya, mau beli air,” Sang ibu hanya mengangguk pelan. Aira kemudian berjalan keluar. Begitu pintu tertutup, suasana di koridor rumah sakit seolah menjadi dingin, sunyi, menekan. Dia melihat ayahnya duduk di bangku panjang dengan menunduk menatap lantai. Perlahan Aira berjalan mendekat, “Ayah…” Ayahnya mengulurkan kertas dengan tangan gemetaran. “Dokter bilang… jantung ibumu harus segera di operasi. Kalau tidak…” Ayah Aira tidak sanggup melanjutkan perkataan dokter tadi. Aira menerima kertas itu dengan tangan yang tak kalah gemetaran. Dia menatap kertas itu. Angka di bagian bawah membuat seluruh sendinya lemas “Empat ratus juta?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar. Ayahnya hanya menunduk. “Ayah sudah coba mencari ke mana-mana. Gadaikan motor, meminjam ke teman… tapi uang sebanyak itu, mana mungkin bisa kita mendapatkannya.” Suasana menjadi sangat hening. Yang terdengar hanya suara langkah para perawat yang lewat dan detak jam di ujung koridor. Aira memeluk kertas itu. Dia menangis tanpa suara. Dia benar-benar ingin berteriak. Kenapa harus terjadi pada kami! Sayangnya dia hanya bisa menahannya. Hingga membuat dadanya sangat sesak. Dunia tiba-tiba gelap bagi Aira. Dan waktu seolah berhenti. Apa yang harus mereka lakukan? Memikirkan kehilangan ibunya, dia benar-benar tidak sanggup. Tidak tidak. Dia harus mencari jalan keluar. Dia mengusap air matanya. Lalu meraih tangan sang ayah. “Ayah, jangan khawatir. Aku akan berusaha.” Sang ayah tidak mengiyakan, justru malah terisak-isak. “Aira, bagaimana caranya?” “Ayah, aku akan berusaha. Jaga ibu, ya.” Aira melepaskan tangannya. Menyentuh pipi keriput sang Ayah, lalu mengusap air matanya. ** Langit di luar rumah sakit mulai berubah warna jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu. Aira berdiri lama di depan jendela lorong, memandangi titik-titik hujan yang jatuh di kaca. Setiap tetes hujan yang turun terasa seperti pengingat jika waktu tidak bisa menunggu siapapun — termasuk ibunya. Suara langkah kaki para perawat yang sibuk mondar-mandir, roda brankar berderit dan aroma desinfektan menusuk hidung. Tapi Aira tidak mendengar apapun. Hanya perasaan takut yang menjalar ditubuhnya. Takut kehilangan. Takut gagal. Takut tak bisa berbuat apa-apa. “Aku harus cari cara… apapun itu.” Dia berbicara dengan dirinya sendiri. “Tidak boleh terlambat.” Aira berjalan pelan ke taman rumah sakit yang sepi. Disana, beberapa keluarga pasien duduk menunggu dengan tatapan kosong. Aira duduk di bangku besi dingin, menggenggam ponselnya erat-erat. Layarnya retak di sudut, tapi tetap menyala, memantulkan bayangan wajahnya yang basah. Tangannya gemetar saat ia membuka daftar kontak — nama demi nama muncul di layar: teman sekolah, tetangga, kenalan kerja paruh waktu. Semua sudah ia hubungi. Semuanya menolak dengan alasan yang sama: “Maaf, Rai, aku juga lagi susah.” Hujan semakin deras. Aira mendongak, menatap langit yang kini gelap. Lalu entah dari mana datangnya, selembar brosur terbang menempel di kakinya. Dia memungutnya pelan. Sebuah iklan elegan, kertas tebal dengan tulisan emas: "Leonard Alvero Group — lowongan asisten pribadi. Untuk kandidat terpilih, gaji awal: 100 juta rupiah per bulan." Aira menatap tulisan itu lama sekali, antara percaya dan tidak. Hatinya berdebar aneh — antara harapan dan firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan. “Seratus juta…” gumamnya pelan. “Kalau aku bisa diterima, aku bisa kumpulkan uang itu dalam empat bulan…” Dia kembali menatap brosur itu. Nama perusahaan itu terdengar asing, namun aura kemewahan dari brosur itu membuat bulu kuduknya merinding. Hujan berhenti. Langit sore menjingga kembali. Aira menatap brosur itu sekali lagi sebelum akhirnya dengan yakin menyimpannya di dalam tas kecilnya. Langit malam menutupi kota dengan warna kelabu yang bikin suasana makin muram. Lampu-lampu gedung menyala terang, mirip dengan bintang yang berpendar di antara sisa kabut hujan. Aira berdiri di depan gedung tinggi bertuliskan “Leonard Alvero Group.” Huruf emasnya memantulkan lampu jalan, seolah kalau tempat itu bukan buat orang seperti dia. Aira menggenggam brosur lowongan yang sudah basah setengah. Jantungnya deg-degan nggak karuan. “Semoga masih bisa diterima, tolong ya, Tuhan,” bisiknya pelan. Itu satu-satunya harapan yang dia punya. Begitu Aira melangkah masuk, pintu kaca otomatis terbuka. Lobi di dalam kelihatan super mewah, marmer kinclong, aroma parfum mahal, dan semuanya terasa terlalu megah untuk seseorang seperti Aira. Bau parfum itu bahkan seperti menampar, ngingetin betapa jauh hidupnya dibanding orang-orang di dalam gedung ini. Resepsionis muda yang duduk di balik meja menatap Aira dari ujung kaki sampai kepala. Sepatu yang udah hampir jebol, rok lusuh, rambut basah, tatapan wanita itu seperti neraca yang lagi ngukur harga diri seseorang. “Permisi… saya Aira. Saya lihat brosur lowongan ini. Saya mau melamar jadi asisten pribadi,” ucap Aira pelan, sambil menyodorkan kertas yang hampir lecek. Wanita itu tersenyum tipis, senyum dingin yang jelas-jelas nggak ramah. “Oh, lowongannya sudah tutup.” Nada suaranya datar, tapi rasanya seperti pintu harapan digebrak tepat di depan muka Aira. Aira menelan ludah. “Tapi tolong, Mbak… saya bener-bener butuh pekerjaan ini. Ibu saya lagi di rumah sakit. Saya janji bakal kerja sebaik mungkin, saya—” Wanita itu langsung angkat tangan, memotong kalimat Aira dengan sikap angkuhnya. “Maaf, tapi kami hanya menerima kandidat yang layak. Anda bisa lihat diri Anda? Menurut Anda, Anda cocok kerja di sini? Ini Leonard Group, bukan tempat amal.” Kata-kata itu benar-benar menusuk. Pipinya panas karena malu, matanya mulai berkaca-kaca. Tapi Aira tahu dia nggak bisa nyerah. Ini satu-satunya cara buat bantu ibunya. Dia menarik napas, lalu memberanikan diri bicara lagi. “Tolong… kalau saya bisa diterima, saya mohon gaji bulan pertama bisa dinaikkan jadi empat ratus juta. Dihitung hutang juga nggak apa-apa. Ibu saya harus dioperasi minggu ini. Saya tahu itu nggak wajar, tapi saya benar-benar butuh uang itu. Saya janji bakal bayar dengan kerja saya.” Ruangan langsung hening. Hening banget, sampai rasanya waktu berhenti. Resepsionis itu mengerutkan kening, kayak nggak percaya ada orang seputus asa itu. Dan akhirnya dia mencibir. “Empat ratus juta? Kamu pikir ini tempat apa? Permintaanmu itu gila!” Dia berdiri, menatap Aira dari atas ke bawah dengan pandangan yang merendahkan. “Kalau nggak mau makin mempermalukan diri sendiri, tolong keluar. Atau saya panggil keamanan.” Air mata Aira langsung jatuh. Dia buka mulut untuk bicara, tapi suaranya patah. “Saya cuma… mau nyelamatin orang tua saya…” katanya pelan. Resepsionis itu mendengus, lalu menekan tombol di meja. Dua satpam datang. “Tolong antar gadis ini keluar,” katanya tanpa perasaan sedikit pun. Aira memandang lobi mewah itu untuk terakhir kalinya sebelum berjalan pergi. Dia berusaha mengingat setiap detailnya, entah kenapa, mungkin karena itu satu-satunya impian yang sempat dia pegang. Begitu keluar, hujan turun lagi. Seolah dunia ikut menangisi nasibnya. Tubuhnya menggigil. Entah karena dingin, atau karena hatinya benar-benar remuk. Di depan gedung, Aira berhenti. Menatap papan besar bertuliskan “Leonard Alvero Group” lama sekali. Papan itu sekarang terasa seperti tembok besar yang menghalanginya untuk menyelamatkan nyawa ibunya. “Kenapa dunia sekejam ini sama orang yang cuma mau nolong?” bisiknya lirih. Angin malam menyapu wajahnya yang basah oleh air mata dan hujan. Dan tanpa dia tahu, dari jendela tertinggi gedung itu, ada sepasang mata tajam sedang memperhatikannya. Mata dingin. Mata yang menilai.Jam dua pagi. Kabut tebal menyelimuti Desa Cemara, membuat setiap suara terdengar lebih mengerikan dan setiap bayangan tampak lebih besar dari sebenarnya. Dewi dan Pak Suroso berdiri di balik semak-semak dekat pasar desa, menyaksikan Rendra dan Bowo memasuki gudang tempat Ibu Sri bekerja. Cahaya merah muda menyala dari dalam kotak kayu tua yang mereka bawa, menerangi wajah mereka dengan warna yang tidak wajar.Di dalam gudang, Ibu Sri terikat di kursi kayu besar, matanya penuh dengan ketakutan namun wajahnya tetap tegas. “Mengapa saya, Rendra?” tanya dia dengan suara yang gemetar namun jelas. “Saya pernah membantu kamu ketika kamu masih kecil. Apa yang telah saya lakukan salah?”Rendra berdiri di depannya dengan senyum jahat. “Kamu tidak melakukan apa-apa salah, Ibu Sri,” jawabnya dengan suara yang dalam dan mengerikan. “Kamu hanya terpilih untuk menjadi bagian dari proses yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir. Darahmu akan memperkuat kekuatan Nyai Wulandari dan membuka jalan
Dewi tidak bisa tidur sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Saat subuh mulai menyingsing dengan warna jingga yang samar di ufuk timur, ia memutuskan untuk mencari jawaban langsung dari Sari. Ia tahu bahwa istri Rendra menyimpan rahasia besar—sesuatu yang mungkin bisa mengubah segala sesuatu jika mereka bisa membongkarkannya.Ia berjalan dengan hati-hati melalui jalan tanah yang masih basah akibat embun, menghindari area lokasi proyek yang sudah mulai ramai dengan pekerja sejak pagi hari. Ketika mendekati rumah Rendra, ia melihat pintu belakang dapur terbuka selebar celah, dengan sinar lampu minyak yang lemah menerangi bagian dalam ruangan. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap masuk dan bersembunyi di balik rak kayu yang penuh dengan peralatan masak bekas.Di dalam dapur, Sari sedang duduk di lantai kayu yang lusuh, tubuhnya membungkuk ke depan dengan kedua tangan menyangga pipinya. Sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya sudah dilepas, menunjukkan bekas luka
Hari berikutnya pagi sekali, Bowo muncul di rumah Wijaya dengan baju baru yang rapi dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya yang dulu penuh dengan kedekatan kini tampak kosong dan tidak dikenal, matanya menyala dengan cahaya merah tua yang sama dengan Rendra. Ia masuk tanpa mengucapkan salam, langsung mengambil ember berisi air untuk membersihkan wajah dan tangan seperti sedang menjalankan ritual tertentu.“Bowo, nak,” panggil Pak Suroso dengan suara yang pelan. Ia mencoba mendekati putranya dengan hati-hati. “Kita perlu berbicara. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Kakek Marto kan?”Bowo tidak menoleh. Ia menyiram air ke wajahnya dengan lambat, kemudian mengeringkannya dengan kain yang dibawanya sendiri. “Kakek Marto telah menyumbangkan dirinya untuk kemakmuran desa,” jawabnya dengan suara yang datar dan tanpa emosi. “Itu adalah bagian dari rencana yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir.”Dewi berdiri di belakang pintu dapur, melihat suaminya dengan mata yang penuh dengan air
Kegelapan malam belum lagi sirna ketika Pak Suroso sudah bangun dan menyiapkan diri untuk pergi menemui Pak Kadir sekali lagi. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, namun ada nyala tekad yang sangat kuat di dalam matanya. Ia tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi sebelum korban kedua muncul, dan ia harus melakukan segala yang bisa untuk menghentikan Rendra sebelum terlambat.Dewi bangun ketika mendengar suara ayahnya bergerak di luar kamar. Ia segera keluar dan melihat Pak Suroso yang sedang mengenakan jas hujan hitamnya, dengan topi rotan yang sudah dikenainya selama puluhan tahun. “Bapak akan pergi lagi ke desa tetangga?” tanya ia dengan suara yang pelan dan penuh dengan kekhawatiran.Pak Suroso mengangguk dan kemudian mendekat ke arah putrinya dengan langkah yang lambat. Ia mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. “Aku harus mencoba segala cara, nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu hal buruk ter
Suara adzan subuh yang biasanya penuh dengan kedamaian dan harapan kini terdengar sangat suram dan menyakitkan hati di Desa Cemara. Udara pagi yang biasanya segar dan menyegarkan terasa berat dan menyengat, seperti penuh dengan energi negatif yang tidak bisa dijelaskan. Awan gelap masih menutupi langit, meskipun sudah saatnya matahari mulai muncul di ufuk timur, dan suara angin yang bertiup kencang membawa dengannya aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbau busuk dan tidak sedap seperti mayat yang sudah membusuk.Dewi tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Ia berlama-lama duduk di teras rumah, menatap jalan yang ditempuh oleh suaminya dan kakaknya dengan mata yang penuh dengan air mata dan keputusasaan. Pak Suroso juga tidak bisa tidur, menghabiskan malamnya dengan membaca buku catatan neneknya berulang kali, berharap bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan—suatu cara untuk menghentikan kutukan dan menyelamatkan putran
Matahari sudah mulai menyemburkan panasnya ke atas Desa Cemara ketika Pak Suroso kembali dari kunjungannya ke Pak Kadir di desa tetangga. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, dan keringat terus mengalir di dahinya meskipun ia telah mengenakan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik. Ia memasuki rumah dengan langkah yang lambat dan goyah, segera ditemani oleh Dewi dan Bowo yang telah menunggunya dengan rasa khawatir yang luar biasa. “Bagaimana kabarnya, Bapak?” tanya Bowo dengan suara yang penuh dengan harapan. Ia membantu ayahnya duduk di kursi kayu di teras rumah dan segera menghidangkan secangkir air dingin yang segar. Pak Suroso minum air dengan lahap dan kemudian menghela napas panjang. Ia melihat kedua anaknya dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. “Pak Kadir sudah melihat buku catatan nenek kita,” ujarnya dengan suara yang pelan. “Ia mengatakan bahwa kutukan yang disebutkan di dalamnya adalah salah satu kutukan paling k







