MasukTiba-tiba pintu terbuka. Aira sedikit terkejut dan langsung menoleh.
Dia melihat Leonard Alvaro sudah berdiri di ambang pintu. Wajah tampan itu langsung menyebarkan aura dingin yang membuat Aira merinding. "Leonard Alvaro?" Tanpa sadar, dia menyebut nama pria itu dengan pelan. Aira berkedip dan memberanikan diri untuk bertanya, "Tuan, ini perjanjian apa?" Leonard Alvaro melangkah mendekatinya dan menyodorkan sebuah paper bag ke hadapannya. "Pakailah,” Suara Alvaro terdengar dingin. “Dan lihat surat di dalamnya. Semua penjelasan ada di sana." Aira menerima paperbag itu dengan tangan gemetar. Dia menatap Leonard sebentar lalu buru-buru menunduk. Sebenarnya dia ingin bertanya lagi. Tapi saat melihat tatapan dingin pria itu, Aira sangat takut. Lalu dia kembali mendengar suara dingin dari pria itu, "Aku akan kembali dalam satu jam. Pastikan kamu sudah siap." Lalu pria itu berbalik dan pergi. Setelah Leonard Alvaro pergi, Aira baru bisa bernafas dengan baik. Kemudian dia membuka paperbag itu dengan ragu-ragu. Seperti apa yang dikatakan Alvaro barusan, selembar surat dan sebuah gaun. Dengan jantung berdebar, Aira membuka surat itu dan membaca isinya. Ketika membaca kata demi kata, otak Aira seolah membeku. Seluruh tubuhnya tiba-tiba merasa ngilu. Perjanjian ini ternyata jauh lebih rumit dan mengikat daripada yang dia bayangkan. Dengan perasaan yang bingung, Aira meraih gaun yang ada di dalam paperbag. Dia membentangkannya. Alisnya berkerut. Gaun itu sangat minim, hanya sepotong kain yang nyaris tidak bisa menutupi tubuhnya. Belahan dadanya juga dibuat begitu rendah. "Apa aku harus memakai gaun seperti ini?" Tiba-tiba pipinya terasa panas. Dia menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin memakainya." Tapi dia teringat akan konsekuensi yang akan dihadapi jika dia melanggar perjanjian itu. Dengan tak berdaya, Aira terpaksa berganti dengan gaun itu. Aira berdiri di depan cermin. Bayangan di depannya itu tampak seperti orang asing. Seperti ada sebuah batu besar yang menimpa dadanya. Sangat sesak. Aira meremas dadanya. Dia tiba-tiba berubah menjadi seorang wanita murahan. Yang rela menjual harga diri demi uang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Tapi dia jelas tahu jika akan terjadi sesuatu yang tidak baik padanya. Tidak tidak. Dia melakukan ini untuk ibunya. Aira menahan air matanya dan menegakkan punggungnya. Dengan tangannya yang gemetar, dia merapikan rambutnya dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Tepat satu jam kemudian, pintu dibuka seseorang begitu saja. Jantung Aira langsung berdegup kencang. Saat dia menoleh, Leonard Alvaro sudah berdiri di ambang pintu, tatapannya sangat angkuh dan sama dinginnya dengan tatapan sebelumnya. Aira merasa seperti kelinci dihadapi seekor Harimau. Lalu dia melihat Leonard Alvaro perlahan mendekatinya. Langkahnya tidak buru-buru tapi pasti. Aira bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh pria itu. Dia menarik kakinya mundur, seirama dengan langkah kaki Alvaro. Hingga punggungnya menabrak dinding. Alvaro berhenti tepat di depannya, Wajah pria itu hanya beberapa inci dari wajahnya. Aira bisa merasakan napas hangat pria itu menerpa kulitnya. Tenggorokan Aira terasa kering, hingga dia merasa susah payah untuk menelan ludah. Sebelum dia sempat bereaksi, tiba-tiba pinggangnya ditarik oleh Leonard Alvaro. Hingga tubuh bertabrakan. Aira tersentak dan berusaha untuk melepaskan diri, tapi Leonard Alvaro segera menahannya dengan kuat. Baru saja dia ingin mencoba berbicara, jari ramping dan putih Alvaro sudah berada tepat di bibirnya. "Ini adalah perjanjian yang telah kita sepakati," bisik Leonard Alvaro tepat di telinganya, suaranya terdengar berat dan serak. “Ta-tapi, Tuan. Tolong jangan begini. Lepaskan saya.” Aira berkata dengan gugup sambil berusaha mendorong tubuh Alvaro. "Pikirkan ibumu yang sedang berjuang di rumah sakit." Kata-kata itu seperti palu yang langsung menghantam kepala Aira. Dia membeku. Tadi, saking takutnya Aira hampir lupa jika dia memang telah menandatangani surat perjanjian itu demi ibunya. Perlahan, pertahanan Aira pun mengedur. Leonard Alvaro lalu mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur. "Jangan, Tuan... jangan..." Dengan suara bergetar Aira berusaha memohon. Leonard mengulurkan jarinya dan menjepit dagunya, "Dengar baik-baik, Aira. Malam ini kamu harus menepati janjimu," ucap Leonard, suaranya terdengar semakin berat. Berada di bawah tubuh seorang pria yang baru saja dikenalnya, Aira benar-benar ketakutan. Dia panik hingga memiliki keberanian dan melupakan perjanjian mereka. “Aah, lepaskan aku! Tuan, tolong jangan begini!” Aira memekik saat Leonard menindih tubuhnya. Aira mencoba untuk meronta dan memukul-mukul tubuh Leonard, namun apa yang dilakukannya itu hanya sia-sia. Tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pria itu. Karena terus meronta, tenaganya mulai habis. Dia kelelahan dan hanya bisa menangis. Melihat pertahanannya mulai melemah, Alvaro langsung menindihnya. Kedua mata Leonard menggelap, dan deru napasnya memburu. “Aira, apa kamu sudah siap?” Ucap Leonard, seolah menikmati ketakutan yang membekukan tubuh Aira. Tatapan Leonard merendahkannya, seakan mengatakan bahwa ketidakberdayaan Aira adalah hiburan bagi dirinya. Ujung jari telunjuk pria itu mengusap bibirnya. Aira menegang, dia menelan ludah dengan susah payah. “Tolong jangan, Tuan. Ku mohon.” Dia merintih. Berharap pria ini berbelas kasihan padanya. Tapi suaranya tidak didengar oleh Alvaro. Pria itu menunduk dan melumat bibirnya. Aira kembali berusaha mendorong tubuh Leonard, tetapi Leonard mengunci tubuhnya. Leonard terus mengulum bibirnya sampai Aira hampir tersedak karena lidah Alvaro yang begitu liar. Pagutan panas, deru nafas yang memburu. Aira kelelahan. Dia mulai menyerah. “Ehm, Tuan,” suara Aira kembali hilang ditelan Leonard. Setelah berlama-lama dengan bibir Aira, mulut Leonard mulai turun kebawah. Menelusuri lekuk leher jenjangnya. Ketika merasakan sentuhan hangat di lehernya, tanpa sadar tubuh Aira menggeliat. Ada rasa geli dan aneh dalam tubuhnya. Aira kebingungan. Apa yang terjadi pada tubuhnya? Setiap gerakan Leonard yang tadi ia benci, kini terasa aneh. Setiap sentuhannya, membuatnya tubuhnya menggeliat dan menimbulkan desiran desiran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Aira menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Tangan Leonard mulai bergerilya, satu tangan pria itu melepas gaun malam yang melekat pada tubuhnya, membuat kedua bukit kembarnya terlihat dengan jelas. “Ah…” Aira terkejut dan segera menyilangkan tangannya untuk menutupi dadanya. Kedua mata Leonard semakin menggelap saat menatapnya. Lalu menyingkirkan tangannya dan mendekatkan wajahnya. Aira ingin mendorongnya, tapi tiba-tiba tubuhnya menegang saat bibir Leonard menyentuh dadanya. “Em..” suara Aira tertahan. Dia kembali menggeliat dan kali ini desiran aneh itu semakin hebat mengalir keseluruhan sarafnya. Alih alih mendorong kepala Leonard, tangan Aira justru menekan kepalanya. Gerakan tanpa sadarnya itu justru membuat Leonard semakin menggila. Tangan Leonard mulai merayap turun ke pahanya dan berhenti di pangkalnya.Dua minggu setelah menerima surat dari Pak Sudarto, Alya telah mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki untuk mencari tahu siapa orang yang sebenarnya berada di balik semua rencana jahat itu. Dia menemukan loker yang disebutkan Pak Sudarto di kantor lama perusahaan konstruksi yang telah dibubarkan, dan di dalamnya terdapat tumpukan dokumen yang membuatnya menggigil saat membacanya. Hari itu pagi, Alya mengundang Raka, Nadia, Amanda, dan keluarga dekatnya untuk berkumpul di kantor yayasan. Ruangan terasa lebih kecil dari biasanya karena ketegangan yang memenuhi udara. Semua orang melihat Alya dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan saat dia meletakkan tumpukan dokumen di atas meja besar. “Saya punya sesuatu yang harus saya tunjukkan kepada kalian semua,” ucap Alya dengan suara yang tegas namun penuh dengan kesedihan. “Ini adalah bukti yang saya temukan dari loker Pak Sudarto. Bukti yang menunjukkan bahwa ada orang lain yang memiliki peran utama dalam semua yang terjadi pada ki
Tiga minggu telah berlalu sejak Dina datang dengan dokumen dari ayahnya, dan kehidupan Alya serta orang - orang di sekitarnya terasa seperti berada di atas gunung es yang siap runtuh kapan saja. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Rizky telah merencanakan semuanya sejak awal — mulai dari membuat Nadia dekat dengan Raka hingga mencoba menghancurkan yayasan beberapa tahun kemudian. Segala sesuatu yang mereka anggap sebagai pilihan pribadi ternyata merupakan bagian dari permainan yang dirancang dengan cermat untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan. Hari itu pagi, Alya, Raka, dan Nadia berkumpul di kantor yayasan untuk membahas apa yang harus dilakukan dengan bukti baru ini. Ruangan terasa dingin meskipun udara luar sedang panas, dan suasana penuh dengan ketegangan yang bisa diraba. “Kita tidak bisa menyembunyikan ini lagi,” ucap Raka dengan suara yang tegas. “Semua orang berhak tahu bahwa mereka bukan hanya korban dari kesalahan kita, tapi juga dari permainan yang dirancang oleh Rizk
Empat bulan telah berlalu sejak acara “Bunga untuk Kebenaran” yang sukses mengungkapkan kecurangan Rizky. Kasusnya sedang dalam proses pengadilan, dan banyak bukti yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa dia telah terlibat dalam berbagai praktik korupsi dan kecurangan selama bertahun - tahun. Yayasan “Bunga untuk Semua” akhirnya bisa melanjutkan pembangunan gedung baru, dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat yang semakin besar.Hari itu adalah hari peresmian gedung baru yayasan yang terletak di kawasan baru di pinggiran Kota A. Gedung tiga lantai dengan desain modern namun hangat ini dilengkapi dengan ruang pelatihan, ruang bermain anak - anak, perpustakaan kecil, dan juga kebun bunga yang akan digunakan untuk menanam bibit - bibit bunga yang akan diberikan kepada masyarakat.Ratusan orang datang untuk menghadiri acara peresmian, termasuk pejabat pemerintah, pengusaha yang memiliki integritas, serta banyak anak - anak dan keluarga yang telah mendapatkan manfaat dari program y
Hanya seminggu lagi sebelum acara “Bunga untuk Kebenaran” digelar, dan suasana di kantor yayasan semakin tegang namun penuh dengan semangat. Ribuan orang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri acara tersebut setelah berita tentang kecurangan Rizky mulai menyebar luas melalui media sosial dan liputan media massa yang semakin banyak. Namun dengan semakin dekatnya acara, ancaman dari pihak Rizky juga semakin nyata. Hari itu pagi, Alya datang ke toko “Hati yang Baru” untuk mengambil bunga - bunga yang akan digunakan sebagai dekorasi acara. Namun dia terkejut ketika melihat pintu toko yang patah dan barang - barang di dalamnya berantakan. Beberapa pajangan bunga hancur berkeping - keping, dan catatan kasar tertulis di dinding dengan semprotan warna hitam: “HENTIKAN SEMUA APA YANG KAMU LAKUKAN, ATAU AKAN ADA KERUSAKAN LEBIH BESAR.” Sari yang sudah ada di toko menangis sambil membersihkan puing - puing. “Bu Alya... saya tidak tahu siapa yang melakukan ini. Saya datang hanya beberapa meni
Empat hari telah berlalu sejak pertemuan dengan Rizky, dan situasi semakin memburuk. Kontraktor telah menghentikan semua pekerjaan pada gedung baru yayasan, dan beberapa sponsor mulai menarik dukungan mereka dengan alasan tidak ingin terlibat dalam masalah yang tidak jelas. Alya menghabiskan hampir setiap jamnya di kantor yayasan bersama Raka dan Nadia, mencoba mencari solusi untuk masalah yang semakin kompleks.Hari itu pagi, Alya sedang memeriksa dokumen keuangan yayasan ketika Sari masuk dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan. “Bu Alya! Ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda. Dia bilang dia punya informasi penting tentang kontraktor yang bekerja sama dengan kita.”Alya mengangkat alisnya dengan penasaran. “Siapa dia? Dan apa yang dia bisa beritahu kita?”“Saya tidak tahu pasti, Bu. Dia hanya bilang namanya Budi dan pernah bekerja sebagai supervisor di proyek kontraktor itu,” jawab Sari. “Dia bilang dia tidak bisa tinggal diam melihat uang orang banyak disia-siakan kare
SEASON 2*****Sepuluh tahun telah berlalu sejak yayasan “Bunga untuk Semua” didirikan. Kota A telah mengalami banyak perubahan — bangunan - bangunan tinggi menjulang ke langit, jalan - jalan baru dibangun, dan kehidupan kota semakin ramai. Namun toko bunga “Hati yang Baru” tetap berdiri kokoh di lokasinya yang asli, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang Alya dalam membangun kehidupan yang penuh makna.Hari itu pagi sekali, Alya sudah berada di toko untuk mempersiapkan pesanan besar untuk acara peresmian gedung baru yayasan. Arif sedang berada di luar kota untuk mengikuti konferensi dokter hewan, jadi Alya bekerja sendirian bersama beberapa karyawannya. Suara mesin pendingin yang berdenyut dan aroma bunga segar memenuhi ruangan toko yang kini telah direnovasi menjadi lebih luas dan nyaman.“Bu Alya, ada pesan dari kantor yayasan!” teriak Sari yang kini telah menjadi manajer utama toko. “Mereka bilang ada masalah dengan bahan bangunan yang akan digunakan untuk gedung baru. Ada kem







