Mag-log inTangan Leonard mulai merayap turun ke pahanya dan berhenti di pangkalnya.
Aira merinding, bukan karena dingin, tapi karena sentuhan itu seperti petir yang melesat ke dalam tubuhnya. Dia masih menggigit bibirnya sampai terasa sakit, coba menahan suara yang ingin terlepas. Tubuhnya bingung setengahnya ingin melarikan diri, setengahnya lagi merespon sentuhan pria itu dengan cara yang tak pernah ia bayangkan. Leonard mengangkat wajahnya sejenak, matanya terbakar api gelap yang Aira tidak mengerti. Dia melihat raut wajah gadis itu, air mata yang menetes di pipi kemerahan, bibir yang tergigit, dan tubuh yang menggeliat tanpa sadar. Suara napasnya semakin dalam, seolah dia sedang menahan sesuatu yang sangat kuat. "Kamu merasa apa, Aira?" bisiknya dengan suara yang berat, napasnya menyentuh telinganya. Aira tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kaku, dan semua kata yang ingin dia ucapkan terjebak di tenggorokan. Dia hanya bisa menggelengkan kepala perlahan, meskipun tubuhnya berkata hal yang berbeda. Tangan Leonard yang ada di pangkal pahanya mulai bergerak perlahan, memeluk bagian itu dengan lembut tapi pasti. Aira terkejut dan tubuhnya melompat sedikit, tapi Leonard langsung menekan bahunya agar tetap terbaring. Lalu, jari-jari pria itu mulai melintasi permukaan kulitnya yang lembut, bergerak perlahan ke arah yang lebih dalam. "Ah..." Suara itu terlepas tanpa sengaja, lemah dan tertekan. Aira segera menutupi mulutnya dengan tangan, malu dan takut. Leonard mengeluarkan senyum yang sepi. "Jangan tutup mulutmu," katanya, lalu menurunkan tangan Aira dari wajahnya. "Biarkan aku dengar." Tanpa lagi menunggu, dia mendekatkan wajahnya lagi, bibirnya bertemu dengan bibir Aira yang masih tergigit. Kali ini, ciuman itu tidak lagi kasar. Tapi penuh hasrat yang tertekan, seolah Leonard sendiri sedang berjuang melawan apa yang ada di dalam hatinya. Tangannya yang ada di pangkal pahanya bergerak lebih jauh, menyentuh bagian yang paling sensitif, dan Aira melepaskan suara yang lebih nyaring, tercampur rasa takut dan hal yang baru dia rasakan. Leonard melanjutkan langkahnya dengan perlahan tapi pasti, menghilangkan semua penghalang di antara mereka. Saat tubuhnya akhirnya bersatu dengan Aira, kedua orang itu seolah melayang jauh dari rumah sakit, jauh dari perjanjian, jauh dari semua beban yang mereka bawa. Aira masih menangis, tapi air matanya sekarang bukan hanya karena takut, ada rasa yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya merasa tidak sendirian meskipun situasinya begitu menyakitkan. Malam itu terlewati seperti kilat dan sepanjang masa sekaligus. Setiap sentuhan, setiap desiran, setiap denyutan jantung yang berpadu sampai akhirnya, kedua orang itu lelah dan terlelap dalam pelukan, tubuhnya masih saling bersentuhan. ❛ ❛ Sinar matahari pagi yang lembut menerobos celah tirai, menyinari wajah Aira yang masih tertutup mata. Dia merenggangkan tubuhnya perlahan, merasa kelelahan yang menyebar ke setiap sel. Lalu, dia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang tubuhnya tidak mengenakan helai baju pun. Dia terkejut, langsung menurunkan pandangannya ke bawah dan melihat selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. "Leonard?" suaranya lemah, hampir tidak terdengar. Dia melihat ke samping tempat tidur sebelahnya kosong. Dimana dia? Kecemasan mulai membanjiri dirinya. Apa yang terjadi sekarang? Apakah dia sudah pergi dan lupa semua janji tentang ibunya? Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Aira menoleh dan melihat Leonard berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih yang sedikit terbuka di lehernya. Di tangannya, dia membawa nampan berisi sarapan roti panggang, telur mata sapi, dan segelas jus jeruk yang masih berbusa. Hatinya berdebar lebih kencang. Tanpa berpikir panjang, Aira menarik selimut tebal ke atas, menutupi seluruh tubuhnya sampai ke leher. Dia merasa malu, sangat malu, mengingat kejadian tadi malam bersama dengan Leonard. Leonard melihat itu dan tersenyum miring seolah mengejek tapi juga ada nada yang lain di dalamnya. Dia melangkah masuk ke kamar, menempatkan nampan di meja samping tempat tidur. Lalu, dia berbalik dan duduk di tepi kasur, tepat di depan Aira yang masih membungkuk di bawah selimut. "Apa yang sedang kamu tutupi, Aira?" katanya dengan suara yang lebih lembut dari malam itu, tapi masih ada nada kekuasaan yang tidak bisa diabaikan. "Aku telah menikmatinya semalam dan melihatnya sepenuhnya. Makanlah, biarkan itu terlihat." Dia menunjuk ke nampan sarapan. "Dan makanlah yang telah aku bawa untukmu. Kamu pasti lapar." "Berapa banyak yang kamu butuhkan untuk operasi ibumu?" tanya Leonard tiba-tiba, membuat Aira tersedak. Dia segera mengambil jus jeruk dan meminumnya secukupnya. "Empat ratus juta, Tuan," jawabnya dengan suara lemah. Leonard mengangguk. "Nanti sore, aku akan kirim uangnya ke rumah sakit. Kamu tidak perlu khawatir lagi." Air mata tiba-tiba membanjiri mata Aira. Semua ini, malam itu, rasa malu, kebingungan, semuanya berharga jika ibunya bisa selamat. Dia menutupi wajah dengan satu tangan, menangis dengan senang dan sedih sekaligus. "Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan," ucapnya, terisak-isak. Leonard merenggangkan bahunya, tapi tangannya secara tidak sengaja menyentuh telapak tangan Aira yang ada di kasur. "Jangan terima kasih terlalu cepat," katanya. "Perjanjian kita belum selesai." Aira berhenti menangis, mata memandangnya dengan khawatir. "Apa lagi Tuan inginkan?" Leonard berdiri tegak di depan kasur. Dia melihat Aira yang masih terbaring di bawah selimut, wajahnya masih memerah dan berkaca-kaca. "Kamu akan tinggal di sini selama seminggu ke depan," katanya. "Setelah itu, kamu bisa pulang ke rumahmu dan melawat ibumu. Tapi ingat, aku bisa mencari kamu kapan saja aku mau." Aira terkejut. "Tapi... aku mau pulang sekarang, Tuan. Aku ingin melihat ibuku secepatnya." "Belum bisa," jawab Leonard tegas. "Kamu masih milikku selama seminggu. Setelah itu, uang itu benar-benar milikmu." Dia berbalik menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh ke belakang. "Dan kamu jangan coba lari. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada ibumu yang sedang masa pemulihan." Kata-katanya seperti es yang menusuk hati Aira. Dia membeku, rasa senangnya tadi hilang begitu saja. Dia tahu, dia tidak punya pilihan lain selain mematuhi. Leonard keluar dari kamar, meninggalkan Aira sendirian di atas kasur. Dia melihat ke arah nampan sarapan yang masih penuh, lalu ke jendela yang terbuka sedikit. Sinar matahari pagi masih terasa hangat, tapi hatinya merasa dingin. Seminggu lagi. Dia harus bertahan selama seminggu dengan pria ini. Dan apa yang akan terjadi setelah itu?Jam dua pagi. Kabut tebal menyelimuti Desa Cemara, membuat setiap suara terdengar lebih mengerikan dan setiap bayangan tampak lebih besar dari sebenarnya. Dewi dan Pak Suroso berdiri di balik semak-semak dekat pasar desa, menyaksikan Rendra dan Bowo memasuki gudang tempat Ibu Sri bekerja. Cahaya merah muda menyala dari dalam kotak kayu tua yang mereka bawa, menerangi wajah mereka dengan warna yang tidak wajar.Di dalam gudang, Ibu Sri terikat di kursi kayu besar, matanya penuh dengan ketakutan namun wajahnya tetap tegas. “Mengapa saya, Rendra?” tanya dia dengan suara yang gemetar namun jelas. “Saya pernah membantu kamu ketika kamu masih kecil. Apa yang telah saya lakukan salah?”Rendra berdiri di depannya dengan senyum jahat. “Kamu tidak melakukan apa-apa salah, Ibu Sri,” jawabnya dengan suara yang dalam dan mengerikan. “Kamu hanya terpilih untuk menjadi bagian dari proses yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir. Darahmu akan memperkuat kekuatan Nyai Wulandari dan membuka jalan
Dewi tidak bisa tidur sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Saat subuh mulai menyingsing dengan warna jingga yang samar di ufuk timur, ia memutuskan untuk mencari jawaban langsung dari Sari. Ia tahu bahwa istri Rendra menyimpan rahasia besar—sesuatu yang mungkin bisa mengubah segala sesuatu jika mereka bisa membongkarkannya.Ia berjalan dengan hati-hati melalui jalan tanah yang masih basah akibat embun, menghindari area lokasi proyek yang sudah mulai ramai dengan pekerja sejak pagi hari. Ketika mendekati rumah Rendra, ia melihat pintu belakang dapur terbuka selebar celah, dengan sinar lampu minyak yang lemah menerangi bagian dalam ruangan. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap masuk dan bersembunyi di balik rak kayu yang penuh dengan peralatan masak bekas.Di dalam dapur, Sari sedang duduk di lantai kayu yang lusuh, tubuhnya membungkuk ke depan dengan kedua tangan menyangga pipinya. Sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya sudah dilepas, menunjukkan bekas luka
Hari berikutnya pagi sekali, Bowo muncul di rumah Wijaya dengan baju baru yang rapi dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya yang dulu penuh dengan kedekatan kini tampak kosong dan tidak dikenal, matanya menyala dengan cahaya merah tua yang sama dengan Rendra. Ia masuk tanpa mengucapkan salam, langsung mengambil ember berisi air untuk membersihkan wajah dan tangan seperti sedang menjalankan ritual tertentu.“Bowo, nak,” panggil Pak Suroso dengan suara yang pelan. Ia mencoba mendekati putranya dengan hati-hati. “Kita perlu berbicara. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Kakek Marto kan?”Bowo tidak menoleh. Ia menyiram air ke wajahnya dengan lambat, kemudian mengeringkannya dengan kain yang dibawanya sendiri. “Kakek Marto telah menyumbangkan dirinya untuk kemakmuran desa,” jawabnya dengan suara yang datar dan tanpa emosi. “Itu adalah bagian dari rencana yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir.”Dewi berdiri di belakang pintu dapur, melihat suaminya dengan mata yang penuh dengan air
Kegelapan malam belum lagi sirna ketika Pak Suroso sudah bangun dan menyiapkan diri untuk pergi menemui Pak Kadir sekali lagi. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, namun ada nyala tekad yang sangat kuat di dalam matanya. Ia tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi sebelum korban kedua muncul, dan ia harus melakukan segala yang bisa untuk menghentikan Rendra sebelum terlambat.Dewi bangun ketika mendengar suara ayahnya bergerak di luar kamar. Ia segera keluar dan melihat Pak Suroso yang sedang mengenakan jas hujan hitamnya, dengan topi rotan yang sudah dikenainya selama puluhan tahun. “Bapak akan pergi lagi ke desa tetangga?” tanya ia dengan suara yang pelan dan penuh dengan kekhawatiran.Pak Suroso mengangguk dan kemudian mendekat ke arah putrinya dengan langkah yang lambat. Ia mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. “Aku harus mencoba segala cara, nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu hal buruk ter
Suara adzan subuh yang biasanya penuh dengan kedamaian dan harapan kini terdengar sangat suram dan menyakitkan hati di Desa Cemara. Udara pagi yang biasanya segar dan menyegarkan terasa berat dan menyengat, seperti penuh dengan energi negatif yang tidak bisa dijelaskan. Awan gelap masih menutupi langit, meskipun sudah saatnya matahari mulai muncul di ufuk timur, dan suara angin yang bertiup kencang membawa dengannya aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbau busuk dan tidak sedap seperti mayat yang sudah membusuk.Dewi tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Ia berlama-lama duduk di teras rumah, menatap jalan yang ditempuh oleh suaminya dan kakaknya dengan mata yang penuh dengan air mata dan keputusasaan. Pak Suroso juga tidak bisa tidur, menghabiskan malamnya dengan membaca buku catatan neneknya berulang kali, berharap bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan—suatu cara untuk menghentikan kutukan dan menyelamatkan putran
Matahari sudah mulai menyemburkan panasnya ke atas Desa Cemara ketika Pak Suroso kembali dari kunjungannya ke Pak Kadir di desa tetangga. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, dan keringat terus mengalir di dahinya meskipun ia telah mengenakan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik. Ia memasuki rumah dengan langkah yang lambat dan goyah, segera ditemani oleh Dewi dan Bowo yang telah menunggunya dengan rasa khawatir yang luar biasa. “Bagaimana kabarnya, Bapak?” tanya Bowo dengan suara yang penuh dengan harapan. Ia membantu ayahnya duduk di kursi kayu di teras rumah dan segera menghidangkan secangkir air dingin yang segar. Pak Suroso minum air dengan lahap dan kemudian menghela napas panjang. Ia melihat kedua anaknya dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. “Pak Kadir sudah melihat buku catatan nenek kita,” ujarnya dengan suara yang pelan. “Ia mengatakan bahwa kutukan yang disebutkan di dalamnya adalah salah satu kutukan paling k







