Home / Romansa / Begin Again With You / 5. Malaikat Tak Bersayap

Share

5. Malaikat Tak Bersayap

last update Last Updated: 2025-08-14 11:13:47

Hanna langsung menegang kala tiba-tiba Veranda memeluknya kala mereka berada di dalam ruang kerja wanita itu. Hanna masih bingung dengan apa yang Veranda lakukan padanya saat ini. Saat Hanna akan membuka mulutnya untuk menanyakan kenapa Veranda melakukan hal ini kepadanya namun Veranda sudah berbicara lebih dulu.

"Terimakasih karena kamu masih mau mempertahankan janin kamu sampai saat ini. Mulai sekarang kamu tidak akan sendiri lagi. Saya akan mendampingi kamu sampai kamu bisa mandiri dan menata hidup kamu kembali bersama anak kamu nanti."

Kata-kata Veranda benar-benar membuat Hanna speechless siang hari ini. Hanna masih heran bagaimana bisa Veranda seakan bisa membedah isi hati dan kepalanya dengan mudah. Lagipula ia hanya menyebutkan namanya adalah Hanna, itu pun hanya sekilas saat mereka berada di dalam lift.

Kini saat Veranda mengurai pelukannya, Hanna langsung dituntun untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Sebelum mendudukkan dirinya di sana, Hanna bisa melihat jika di belakang sofa yang akan ia duduki terdapat meja panjang dari kayu jati dan banyak terdapat foto-foto bersama wanita hamil dan beberapa penghargaan dari beberapa organisasi pemberdayaan wanita atas dedikasi dan perhatian yang diberikan Veranda kepada sesama kaumnya.

Veranda yang menyadari arti tatapan Hanna pada foto-foto di belakangnya itu hanya bisa tersenyum. 

"Sepertinya saya tidak perlu menerangkan diri saya terlalu banyak kepada kamu."

"I... itu," ucap Hanna sambil menunjuk foto di belakangnya sambil mulai duduk.

"Ya, kamu benar. Saya mendedikasikan hidup saya untuk mendampingi para wanita yang sedang membutuhkan dukungan."

"Dukungan?"

"Iya, dukungan. Ketika kalian memutuskan mempertahankan anugerah yang telah Tuhan berikan dan memutuskan mengambil resiko disisihkan dari keluarga bahkan orang-orang disekitar kalian, maka saya akan berusaha memberikan dukungan 'kekuatan' tanpa memandang latar belakang kalian sama sekali."

"Apa yang mendasari ibu melakukan hal ini?"

"Karena saya tahu bagaimana beratnya menjadi orangtua tunggal. Saya tidak pernah menikah dengan ayah biologis anak saya karena dia meninggal dalam sebuah kecelakaan sebelum kami menikah."

"Anak ibu usia berapa?"

"Dua puluh tahun dan sekarang dia sedang kuliah di luar negri. Sengaja sejak dia memasuki bangku SMP saya menyekolahkan dia di luar negri agar dia tidak pernah mendengar cibiran orang-orang tentang latar belakang dan masa lalu saya. Bagi saya setiap anak terlahir suci dan dia tidak memiliki dosa. Mereka tidak berhak dikucilkan hanya kerena kesalahan orangtuanya. Selain itu orang yang pernah membuat kesalahan tetap berhak memperbaiki dirinya. Karena sejatinya guru yang paling baik adalah pengalaman."

Hanna tersenyum mendengar cerita singkat dari Veranda ini. Kini tekadnya semakin bulat untuk menjadi orangtua tunggal bagi calon anaknya. Jika Veranda saja bisa melalui semua itu, dirinya pasti juga bisa. Ia akan membuktikan bahwa orangtua tunggal pun tetap bisa mendidik anak dengan baik bahkan memberikan kehidupan yang layak. Hanna bertekad bahwa ia akan memberikan fasilitas hidup untuk calon anaknya minimal dengan standar yang sama seperti apa yang orangtanya berikan kepadanya selama ini. Meskipun untuk membuktikan hal itu dirinya harus bekerja dengan cerdas dan keras.

"Kamu bisa tinggal di rumah aman sampai melahirkan. Jika kamu ingin memiliki tabungan dan ketrampilan maka kami akan memberikan pelatihan. Kami juga memiliki beberapa usaha untuk memberdayakan para ibu tunggal agar tetap berpenghasilan setelah keluar dari rumah aman."

"Maaf sebelumnya, tapi saya berniat untuk melanjutkan pendidikan saya sambil bekerja dan mengasuh anak saya setelah dia lahir nanti. Saya sudah mengecewakan kedua orangtua saya yang mengirim saya jauh-jauh ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Seharusnya saya pulang membawa gelar, tapi yang ada justru membawa aib untuk mereka. Mereka mau saya menggugurkannya atau jika saya mempertahankannya, maka setelah melahirkan anak ini harus diserahkan ke panti asuhan. Secepatnya saya akan mengurus pergantian nama saya agar orang tidak akan tahu latar belakang saya."

"Kamu tidak perlu seekstrem itu, Hanna."

"Itu perlu, Bu karena saya tidak mau harga saham Aledra Group akan terpengaruh dengan berita ini. Apalagi nama Papa dan Mama di dunia bisnis ini bisa tercoreng karena tidak bisa mendidik anak dengan baik. Saya takut kejadian ini akan digunakan sebagai senjata orang-orang itu untuk menjatuhkan orangtua saya."

Veranda tersenyum setelah behasil mengingat jika Aledra Group adalah sebuah group yang memiliki beberapa bidang bisnis seperti bisnis di bidang penjualan kendaraan pabrikan Jepang, konstruksi hingga pabrik berbagai jenis makanan yang beberapa sudah diekspror ke luar negri.

 "Jadi kamu anaknya Arman?" tanya Veranda pelan untuk memastikan semua ini. Jika benar, maka ia harus menyembunyikan Hanna tidak hanya di rumah aman namun harus jauh dari kota ini agar gosip itu tidak beredar. Lebih dari itu adalah keselamatan serta kenyamanan Hanna dan penghuni rumah aman yang harus dirinya pertimbangkan. Ia tidak mau jika Hanna tinggal di sana dan suruhan Arman akan datang untuk mengacau di sana.

Hanna membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Veranda ini. Sepertinya Veranda tahu lebih banyak dari apa yang ia perkirakan selama ini.

"Ibu Veranda kenal sama Papa saya?"

"Hmm... kami sekedar kenal karena beberapa kali bertemu di acara ulang tahun perusahaan rekan bisnis dan acara amal tapi jika menjadi rekan bisnis secara langsung, kami belum pernah."

Hanna menghela napas dan Veranda tahu jika Hanna merasa lega karena dirinya dan orangtuanya belum pernah bekerjasama dalam bisnis.

"Saya merasa lega, Bu mendngar hal itu. Kalo begitu apakah saya bisa tinggal di rumah aman milik ibu? Karena saya rasa jika tinggal di hotel terus menerus uang tabungan saya bisa menipis. Rencananya uang itu akan saya gunakan untuk biaya persalinan hingga biaya pendidikan saya nanti setelah melahirkan."

Beberapa saat Veranda mulai berpikir hingga akhirnya kini ia mau tidak mau harus mencari solusi terlebih dahulu.

"Han, agar uang kamu tidak habis, kamu tinggal dulu di rumah saya sambil saya mencari tempat di mana kamu bisa tinggal dengan aman dan nyaman."

"Saya berharap tempat itu bukan di Jakarta."

"Saya akan mengusahakannya."

"Kalo begitu saya pulang ke hotel dulu."

"Baik kalo begitu. Jangan lupa kirimkan alamat hotel kamu ke handphone saya. Sepulang kerja saya akan menjemput kamu."

Hanna menganggukkan kepalanya dan kini ia segera pamit kepada Veranda. Ia harus berkemas-kemas dan tentunya makan siang karena sesuai saran dari dokter Edo, ia harus lebih banyak makan agar ia tidak mengalami darah rendah selama masa kehamilan ini.

Kini Hanna segera pamit kepada Veranda. Veranda memilih mengantarnya sampai ke depan pintu ruang kerjanya. Sambil berjalan menuju ke arah lift, Hanna mulai memikirkan langkah apa yang bisa ia ambil. Di usianya yang sudah 19 tahun tidak ada salahnya ia mencoba membuat akun sekuritas atas nama dirinya atau membeli beberapa kupon SUN agar uangnya lebih aman dan tidak habis tidak jelas untuk berfoya-foya. Ia harus mengingatkan kepada dirinya sendiri jika kini ia bukanlah Hanna Kartika Aledra yang kapanpun ia menginginkan sesuatu maka itu akan langsung terwujud dalam waktu singkat.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Begin Again With You   165. Honeymoon

    Sudah tujuh hari ini Hanna dan Adit berada di Swiss. Selama mereka berada di sini, beberapa kota sudah mereka kunjungi mulai dari Zurich hingga Luzern. Selama itu pula Hanna harus ikhlas jika jam tidurnya cukup kurang karena Adit sudah menggempurnya tiada henti setiap hari. Apalagi sekarang dirinya tidak perlu takut jika Adit akan meninggalkannya disaat ia hamil seperti dulu. Mereka sudah resmi menikah secara agama dan negara. Itu juga yang membuat Adit lebih berani mengumbar foto dirinya di akun media sosialnya. Ya, percuma saja menyembunyikan pernikahan mereka dari publik karena acara ngunduh mantu yang diselenggarakan oleh Lisa terlalu besar dan mewah hingga membuat banyak vendor yang menandai akunnya dan akun milik Adit dalam unggahan mereka. "Feeling-ku sebentar lagi kamu hamil, Han," ucap Adit kala mereka baru saja sampai di The Chapel Bridge yang merupakan sebuah

  • Begin Again With You   164. Diskusi Anak dan Orangtua

    Adit berdiri sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Di hadapannya berdiri para suami halu istrinya yang Hanna bawa pulang daripada ditinggalkan saja di ballroom. Sungguh, bukankah ini benar-benar konyol? Apalagi alasan Hanna membawa pulang semua ini karena suami-suami halunya adalah kado dari anak mereka.Hanna yang melihat kelakuan Adit ini hanya bisa menghela napas panjang. Sejak pulang tadi siang dari hotel setelah menginap semalaman di sana, Adit terus seperti itu. Seakan pria-pria di dalam stand figure itu mau kepadanya. Tentu saja tidak mungkin hal itu terjadi. Tahu jika dirinya hidup saja tidak. "Enggak usah lihatin mereka begitu. Kamu kalo cemburu ke mereka itu rugi sendiri. Dia tahu aku hidup aja enggak, Dit.""Aku eng

  • Begin Again With You   163. Resepsi Pernikahan

    Hanna tidak tahu jika ternyata memakai konsep riasan tradisional membuatnya harus duduk lama sambil pasrah dengan apa yang MUA ini lakukan pada wajahnya dan tentunya penata rias rambut sedang menata rambutnya. Helaan napas panjang yang ia lakukan adalah salah satu cara yang bisa Hanna lakukan kali ini karena sudah dua jam ia duduk tapi tetap belum selesai perias ini menyulap wajahnya."Cantik banget, Kak. Kaya boneka begini wajahnya."Hanna hanya tersenyum mendengar perkataan sang MUA. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar pujian seperti ini. Dirinya yang jarang sekali berdandan tentu saja akan 'manglingi' setiap kali wajahnya divermak oleh para MUA. Apalagi MUA yang sedang berdiri di hadapannya kali ini adalah salah satu MUA tersohor di negara ini yang jasanya sering dipakai oleh selebriti hingga pejabat di negara

  • Begin Again With You   162. Hari Pertama Jadi Suami Istri

    Berbeda dengan banyak pasangan lain yang menghabiskan hari pertama mereka sebagai suami istri di hotel atau tempat yang indah, kali ini Hanna lebih memilih menghabiskan waktunya di rumahnya bersama Adit. Ya, setelah semua orang pulang ke rumah mereka masing-masing kini hanya tersisa mereka berdua saja di rumah ini. Raga pun memilih ikut dengan Dana dengan pulang ke rumah laki-laki itu. Berbeda dengan banyaknya pengantin yang langsung bisa unboxing di hari pertama pernikahan mereka, kali ini Adit harus gigit jari karena tadi pagi sebelum ijab qobul dilangsungkan, Hanna mendapatkan tamu bulanannya. Tentu saja Adit kecewa dengan hal ini namun Hanna justru tertawa dengan penuh kemenangan. Ya, setidaknya seminggu kedepan, Adit harus bisa menahan gairahnya. Karena bagaimanapun juga di keyakinan yang mereka anut dan secara medis pun bersetubuh dengan pasangan saat si istri seda

  • Begin Again With You   161. Sah

    Hanna duduk di dalam kamarnya malam hari ini kala acara lamaran sedang berlangsung di ruang keluarga rumahnya. Ya, kali ini ia lebih memilih acara ini untuk diselenggarakan di rumahnya daripada rumah orangtuanya yang sejak Mamanya meninggal dunia, rumah itu kosong dan hanya dihuni oleh para asisten rumah tangga. Dari layar yang disediakan di dalam kamarnya, Hanna bisa melihat Adit beserta rombongan keluarga dan teman-temannya sudah ada di sana. Hanya dirinya yang tidak boleh muncul di sana sebelum besok pagi acara ijab qobul berlangsung."Akhirnya lo bakalan nikah juga, Han," ucap Pradnya yang kali ini duduk di pinggiran ranjang tempat tidur Hanna.Hanna tersenyum mendengar perkataan Pradnya. Rasanya ia seperti menjilat ludahnya sendiri. Karena dulu ia paling lantang mengatakan jika ia tidak akan menikah demi bisa fokus membe

  • Begin Again With You   160. Liburan Tanpa Pasangan

    Siang ini Adit baru saja selesai melakukan diving dan snorkeling di Raja Ampat bersama ketiga temannya. Meskipun menyenangkan tetapi tetap saja ia merasa ada yang kurang karena tidak ada Hanna dan Raga yang menemaninya. Semakin ke sini ia semakin sadar bahwa hidupnya tanpa kehadiran Hanna dan Raga seperti tidak memiliki nyawa. Sepertinya hanya dirinya saja yang merasakan semua ini karena Elang dan Gavriel yang sudah menikah lebih dulu daripada dirinya terlihat baik-baik saja tanpa kehadiran istri mereka."Lo kenapa sedih sih, Dit? Acara liburan kita ini tetap enggak akan membuat lo jadi kaum recehan," ucap Elang sambil melepas fins yang ia gunakan untuk snorkeling.Bukannya menjawab, Adit justru menatap Elang dengan tatapan penuh keheranan. Kenapa bisa Elang pergi dari Caramel dan Lean semudah ini t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status