LOGIN
Sejak hubungan kami diresmikan, Ian malah semakin lengket.Setiap hari ia menarikku pergi memastikan gaun pengantin, atau menyeretku menyiapkan berbagai urusan pernikahan.Hari itu, setelah selesai memesan hotel bersama Ian, kami tak sengaja berpapasan dengan Arvin dan putranya.Cincin safir di tangan Arvin berkilauan di bawah cahaya lampu.Ada perasaan rumit yang mengalir di matanya. Dengan suara serak ia berkata, “Ellen … aku … aku sudah menemukan kembali cincinnya.”“Wanita itu sudah kuusir. Semua barang milik Clara di rumah juga sudah kubersihkan.”“Setelah kamu pergi, aku baru sadar … kamulah cinta sejatiku. Selama ini aku terlalu muak dengan perjodohan keluarga hingga menganggapmu dan Keluarga Winata sebagai beban.”“Sekarang aku mengaku salah. Maafkan aku … maukah kamu pulang bersama kami?”Dion juga mengangkat wajah kecilnya dan meminta maaf kepadaku.“Mama, dulu aku tidak mengerti apa-apa dan tertipu oleh kakak-kakak jahat itu.”“Hanya Mama yang paling baik padaku di dunia ini
Setelah keluar dari kantor polisi, Ian kembali menjadi dirinya yang lengket seperti biasa. “Istriku, mantan suamimu tadi memukulku dengan sangat keras. Cepat lihat, apa aku masih tampan?”Aku mendekat ingin memeriksa lukanya dengan serius, tetapi ia tiba-tiba menunduk dan mencium ringan bibirku.Aku terkejut.“Ian! Waktu itu kamu bilang pernikahan kita hanya berpura-pura untuk mengambil akta nikah supaya ibumu tenang!”Wajah Ian memerah. Ia menoleh ke sana-kemari, butuh waktu lama sebelum akhirnya berani menatapku. “Aku ... aku hanya ingin segera memastikannya.”“Kakak terlalu hebat. Aku takut suatu hari Arvin tiba-tiba sadar dan datang merebutmu lagi.”“Aku sudah bilang ke ibuku bahwa diriku menukar pernikahan demi kebebasan.”“Kalau sekarang Kakak tidak mau … aku bukan hanya kehilangan istri, tetapi juga kehilangan kebebasan. Kasihan sekali, kan?”Ia mengedipkan mata besarnya sambil terus menarik ujung bajuku dengan manja.Aku kesal sekaligus ingin tertawa, lalu mengacak rambut kerit
Setelah mendengar perkataanku, Dion langsung menangis terisak sambil mengulurkan tangan ke arahku, seolah ingin membangkitkan rasa iba.Arvin mendecak kesal. Satu tatapan tajam darinya langsung membuat tangisan Dion terhenti.Ia berbalik menatapku dengan serius, berusaha mencari sedikit tanda bahwa aku hanya sedang merajuk.Setelah sekian lama, wajahnya yang semula penuh keyakinan akhirnya terlihat sedikit panik.Dia menanyaiku dengan nada garang yang dibuat-buat, “Kamu pikir aku akan melepaskanmu?”“Ellen, kamu dibesarkan oleh Keluarga Winata. Mati pun kamu harus menjadi arwah Keluarga Winata!”Ia menarik tanganku dan menyeretku keluar dengan langkah besar.Namun baru beberapa langkah, kami sudah dihadang para pengawal Ian.“Direktur Arvin, kalau kamu berani merampas istriku, aku akan melaporkanmu atas penculikan!”“Kamu kira aku tidak mampu melindungi istriku sendiri?”Aku benar-benar linglung.Situasi seperti ini bahkan tak pernah muncul dalam mimpiku.Kukira setelah aku pergi, Arvi
Suara yang familiar itu membuatku langsung berkeringat dingin.Itu Arvin.Ternyata aku memang tidak salah lihat.Itu benar-benar dirinya dan Dion.Tatapan Arvin yang biasanya dingin kini dipenuhi amarah. Ia membentakku, “Ellen, kamu mau lari ke mana lagi?!”“Kamu pergi begitu saja lebih dari setengah tahun. Pernahkah kamu memikirkanku dan anak kita?”“Kamu itu Nyonya Winata. Tidak bisakah kamu punya sedikit saja sikap dari Keluarga Winata?”Arvin menjadi semakin emosional. Pergelangan tangan yang dicengkeramnya terasa nyeri.Aku hendak mundur untuk melepaskan diri, tetapi tiba-tiba Dion memeluk erat kakiku dengan wajah penuh harap.“Orang yang di foto itu kamu, ya? Mama, kalau dulu kamu secantik itu, mana mungkin aku menyuruh Bibi Sally menjadi ibuku?”“Sekarang kamu ikut aku dan Papa pulang, kami akan memaafkanmu. Kalau tidak .…”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ian yang mendengar keributan itu datang dan menariknya menjauh.Ia melirik bekas merah di lenganku, mengepalkan tin
Pikiranku terasa kosong saat melihat kertas tebal merah yang baru saja kuterima di tanganku.Tadi, setelah mengatakan kalimat itu, Ian langsung menunduk lesu dan memohon padaku, “Ibuku bilang bahwa aku harus menikah sekarang jika ingin mewujudkan mimpi menjadi fotografer.”“Tetapi selain kamu, tidak ada satu pun wanita di sekitarku.”“Sayangnya Kakak tidak bisa langsung bercerai dan aku belum menemukan orang yang bisa membantuku … sekarang aku harus bagaimana?”Ian melemparkan tatapan sendu padaku.Melihat sikapnya, aku tanpa sadar mengatakan bahwa diriku dan Arvin sebenarnya tidak pernah mendaftarkan pernikahan.Mungkin karena kami sudah saling mengenal dan hidup berdampingan selama lima belas tahun. Arvin sudah lama melupakan bahwa selain anak kami, Dion, tidak ada satu pun bukti pernikahan resmi di antara kami.Begitu Ian mengetahui bahwa aku dan Arvin tidak pernah mendaftarkan pernikahan, dia langsung membawaku ke Kantor Catatan Sipil.Dulu aku selalu berpikir, suatu hari nanti fo
Selama kembali ke Kota Asgard, hari-hariku jauh lebih nyaman dari yang kubayangkan.Tidak ada gangguan media atau urusan perusahaan yang rumit. Juga tak ada satu pun orang dari Keluarga Winata yang meneleponku.Aku dan Keluarga Winata akhirnya menjadi asing.Fokus media kini beralih ke Sally. Aku, Nyonya Winata yang tak kunjung pulang, justru perlahan menghilang dari sorotan mereka.Melihat foto-foto mesra mereka berdua yang terus muncul di berita, tanpa sadar aku tersenyum sinis.Akhirnya aku menyadari satu hal, Arvin tidaklah mencintai Clara sedalam yang selama ini ia perlihatkan.Di foto-foto itu, Arvin membiarkan gadis itu menerjang ke dalam pelukannya di depan umum, merangkul bahunya di tengah keramaian pesta, bahkan dengan sukarela menyerahkan Dion yang sedang merajuk ke pelukan Sally.Pada foto terakhir, Arvin bahkan menunduk dan menyeka saus di sudut bibir gadis itu dengan lembut.Jika cinta seseorang itu tulus, bagaimana mungkin ia bisa begitu mudah berpindah hanya karena waja







