Masuk“Semalam Tian nginep di rumah gue.”
Ucapan itu membuat Elina menoleh cepat, matanya terbelalak, lipstik yang harusnya memoles bibirnya mencoreng di pipi kanannya dengan ketara. Bibirnya terbuka lebar seolah dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Detik berikutnya wanita itu mendekat, menatap sekeliling kantor yang mulai ramai. Apalagi dia datang ke kantor terlambat tiga puluh menit dari biasanya.
“Apa? Abi nginep rumah lo?” Jesslyn mengangguk, menyakinkan apa yang baru saja dia ucapkan. “Pantes di leher lo ada cupang, gede banget lagi. Habis ngapain lo sama dia?” Jesslyn melongo merebut cermin yang ada ditangan Elina dan melihat lehernya, seketika itu juga dia mengumpat. “Habis berapa ronde lo sama dia, Jes.” Kekehnya sambil menggoda Jesslyn.
“Heh gue nggak ngelakuin seperti apa yang lo pikirin ya. Ini tuh—sialan kenapa gue nggak sadar sih.” Jesslyn mengumpat, dia menatap Christian yang entah kenapa malah lebih memilih masuk ke kantor Sabian. Harusnya dia pergi ke kantornya sendiri kenapa harus ke kantor tetangga sih. “Tadi pagi—”
Jesslyn tak meneruskan ucapannya, dia mengingat hal apa yang terjadi barusan dengan Christian. Dimana pria itu tiba-tiba saja menyerangnya. Menciumnya dengan brutal, mendudukkan Jesslyn diatas meja makan ambil melahap habis bibir Jesslyn. Bahkan baju yang awalnya dia pakai sampai lusuh karena ulah Christian. Dia harus mengganti bajunya kembali, merias kembali wajahnya sebelum dia pergi ke kantor. Kayak apapun dia tidak mau pergi ke kantor dengan keadaan yang buruk. Dan bodohnya Jesslyn tidak menyadari hal dimana pria itu meninggalkan jejak di lehernya. Dia terlalu terlena dengan permainan Christian sehingga tak sadarkan diri. Bahkan Jesslyn masih ingat ketika beberapa desahan lolos dari bibirnya ketika Christian menyentuh beberapa tempat sensitif milik Jesslyn.
Mengingat hal itu membuat kedua pipi Jesslyn memerah. Dia malu, salah tingkah dan juga …
“Ngaku gak lo atau gue aduin ke mbak Rhea kalau lo sama Tian habis–”
“Heh sialan!!” Jesslyn menarik bibir Elina untuk diam. “Gue sama dia nggak melakukan apapun. Dia cuma dudukin gue di atas meja, dia berdiri di depan gue, diantara kaki gue dan kita cuma ciuman. Hanya itu. Gue nolak, tapi gue gak bisa, puas lo!!!”
Elina tertawa terbahak bahkan dia bisa membayangkan apa yang terhadap barusan. “Lo sangat menikmati permainan Abi kan, Jes makanya sampai lo gak sadar di leher lo ada cupang banyak banget.”
Tidak hanya leher. Mungkin Elina akan kaget ketika Jesslyn membuka bajunya. Dimana banyak kali cupang Christian disana sebagai tanpa jika Jesslyn adalah miliknya. Sedangkan yang terjadi Jesslyn hanya bertanya tentang tato ulang baru di leher pria itu. Bos sih, tapi kenapa sikapnya brengsek sekali!! Bahkan datang ke kantor kadang hanya pake kemeja saja celana panjang, kalau tidak pakai baju tanpa lengan, topi dan sedikit berandalan.
“Hampir mirip sama Noah sih kalau menurut gue. Penampilan mereka itu yang sopan cuma Archazel sama Sabian doang. Dua manusia lucknut yang ada disekitar kita itu nggak termasuk.”
Jesslyn hampir pusing, dia hanya berdoa kepada Tuhan jika setelah ini tidak akan terjadi hal lain yang lebih dari ini. Dan Jesslyn berharap jika ini adalah hal terakhir yang terjadi antara Jesslyn dan juga Christian.
Dan ya, harapan tinggal harapan Christian yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecil. Selama ada Christian dan dia masih hidup hal apapun yang dia ingin pada Jesslyn akan terjadi. Apapun itu. Termasuk memiliki Jesslyn sekalipun itu juga hal yang sangat diinginkan Christian.
***
Christian pulang ke apartemen dengan keadaan lelah. Disana dia menatap Hanna yang langsung menghampirinya dengan khawatir. Wanita itu menghadang jalan Christian yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang empu.
“Kamu kemana aja kenapa baru pulang? Selama aku coba hubungi kamu tapi nggak bisa. Aku coba hubungi Noah, Sabian, Archazel juga mereka nggak tau kamu ada dimana, Tian.”
Pria itu hanya melengos melewati Hanna begitu saja. Tapi baru juga beberapa langkah Christian menghentikan langkahnya menatap Hanna dengan penuh kebencian.
“Setelah ini nggak perlu lagi lo tunggu gue pulang atau enggak. Lagian apa yang lo mau juga udah ada kan? Lo berhasil jauhin gue sama orang yang gue cinta, lo ngerampas semua kebahagian gue Hanna. Gue benci sama lo!!”
Christian pergi. Membuat Hanna langsung meneteskan air matanya. Kenapa? Kenapa Hanna tidak boleh merasakan bahagia? Dia sudah berusaha untuk membuat pria itu jatuh cinta dengannya selama ini. Tinggal bersama di luar negeri, hidup bersama bahkan apapun dilakukan bersama pun juga Hanna lakukan dengan Christian. Dia yang menemani pria itu ketika terpuruk, menahan rindu dan menyakiti dirinya. Tapi apakah ini balasan untuk Hanna?
Dia hanya ingin Christian meliriknya sebagai seorang wanita. Bukan sebagai musuh atau apapun itu. Dia hanya meminta pada ibu Christian untuk merestui hubungan mereka tidak lebih dari itu. Lalu kenapa Hanna salah?
Mungkin saat ini pria itu belum mencintainya bukan berarti kedepannya di akan terus bersikap dingin dengan Hanna kan? Bahkan Hanna masih yakin seratus persen jika Christian sejujurnya juga menyimpan rasa yang sama hanya saja gengsi untuk mengatakannya.
Tidak masalah, Hanna akan menunggu hal itu. Hanna akan dengan sabar menghadapi sikap Christian yang berubah-ubah pada dirinya.
Tersenyum kecil menyusul Christian, Hanna berharap jika setelah ini pria itu akan bersikap baik padanya. Tapi yang terjadi Christian hanya numpang mandi dan ganti baju saja setelah itu pergi dari apartemennya lagi. Hanna menghentikannya, menarik tangan pria itu dengan lembut dan memeluknya.
“Lepasin gue!!” Ujar Christian mendorong tubuh Hanna untuk menjauh. “Gue cuma bilang satu hal sama lo jangan berharap lebih banyak dari apa yang lo pikirin sekarang. Karena apa yang gue mau itu nggak ada di elo.” ujarnya kembali, menunjuk wanita itu, lalu pergi.
Christian kembali ke rumah Jesslyn yang tertutup. Pria itu langsung masuk saja dan menatap Jesslyn tengah bersama seorang pria. Christian mengerutkan keningnya, bukannya apa. Penampilan Jesslyn saat ini benar-benar mengundang amarah Christian. Mungkin pria itu bisa berbuat aneh-aneh jika Christian tidak datang ke rumah ini sekarang.
“Lo— ngapain kesini?” kata Jesslyn bingung. Begitu juga dengan pria yang saat ini duduk di sofa single yang juga bingung menatap kedatangan Christian.
Tanpa mengatakan apapun pria itu langsung menggendong Jesslyn dengan paksa dan memasukkan ke dalam kamar dan mengunci diri.
“Sumpah ya lo kenapa sih.” Jesslyn bingung sambil merapikan penampilannya yang kusut. “Aneh tau nggak, temen gue di sini Tian.”
“Gue nggak peduli sama temen lo itu. Yang gue peduliin penampilan lo yang kek begini, apa maksudnya?”
Jesslyn mendengkus. “Setiap hari gue begini. Lo tau itu. Di kantor pun juga gue juga begini kalau lo lupa Christian Abinaya Miller.”
Christian nampak frustasi, sampai mengusap wajahnya yang terlihat lelah. “Ganti baju lo atau gue perkosa lo saat ini juga.”
****
Christian duduk diam di ruang kerjanya yang luas, cahaya dari jendela hanya menyinari sebagian wajahnya. Di meja, layar tablet masih menampilkan berita pembatalan pertunangan dengan keluarga Hwang. Gambar dirinya dan Hanna terpampang jelas — formal, kaku, dan dingin seperti kisah yang seharusnya sudah berakhir.Pintu terbuka tanpa ketukan. Elina dan Rhea masuk hampir bersamaan, membawa kegelisahan di wajah masing-masing. Tak ada sapaan, tak ada basa-basi.“Lo beneran ngumumin pembatalan itu sendiri?” Elina meletakkan tasnya di sofa, suaranya menahan emosi. “Tanpa kasih tahu siapapun?”Christian hanya menatap layar di depannya. “Harus ada yang ngelakuin sesuatu. Gue capek liat semuanya pura-pura normal.”Elina ingin membalas, tapi Rhea sudah duduk lebih dulu. Wajahnya canggung, tapi ada sesuatu di matanya — seperti orang yang menyimpan rahasia yang terlalu lama.“Christian,” ucapnya pelan. “Gue harus ngomong sesuatu sebelum semuanya makin jauh.”Pria itu menatapnya singkat, tanpa ekspr
Pagi itu terlalu tenang untuk sesuatu yang sebentar lagi akan pecah. Cahaya matahari menembus jendela besar mansion keluarga Tian, memantul di lantai marmer yang mengkilap, menciptakan pantulan yang indah — tapi dingin. Di tengah ruang tamu megah itu, Yoora duduk di kursi utama, dengan wajah tegang dan tangan menggenggam secangkir teh yang sudah lama tak disentuh.Di depannya, keluarga Hanna — ayah, ibu, dan Hanna sendiri — tampak berusaha menjaga wibawa, meski ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau. Hanna mengenakan dress pastel rapi, tapi matanya sembab.Lalu terdengar langkah tegas dari arah tangga.Christian Tian muncul dengan jas abu muda, rambut sedikit acak, tapi ekspresinya begitu tenang hingga terasa berbahaya. Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu sebelum membuka suara.“Terima kasih sudah datang pagi-pagi,” ucapnya datar. “Aku ingin bicara langsung bia
“Lo serius El?” Rhea nampak ragu dengan cerita itu, tapi dari cara bicara Elina dan raut wajah yang serius membuat Rhea mempertimbangkan cerita itu.“Demi Tuhan Mbak Rhea. Gue rela jomblo seumur hidup kalau gue bohong sama Lo.” Rhea mengangguk kecil. “Masa iya sejahat itu dia, El?” “Heh Mbak Rhea Lo yang setelah ini bakalan jadi sepupuan sama dia, masa iya nggak tau sikapnya macam mana?”Masalahnya selama ini Hanna menunjukkan diri yang cukup baik. Hanna juga mengenal Rhea meskipun tidak sedekat Elina dan juga Jesslyn. Mereka hanya bertemu jika Hanna main ke kantor Sabian, atau mungkin dalam acara keluarga Miller yang mengharuskan Hanna datang. Dan selama ini yang dia tunjukkan sikap baik, manis dan perhatiannya pada keluarga Miller. Tidak ada yang aneh, bahkan jika di bilang curiga jika dia orang jahat tidak akan terlintas dipikiran Rhea dan yang lain. Wanita itu cukup baik, topengnya cukup baik sehingga Rhea ragu dengan apa yang dibicarakan oleh Elina barusan. Tidak mungkin rasany
Suasana kantor tampak biasa — rapat, tumpukan berkas, aroma kopi pagi. Tapi di ruang HRD, Jesslyn menatap surat di tangannya dengan alis berkerut.Kertas putih dengan kop resmi, tanda tangan dewan direksi, dan tulisan jelas:Penempatan sementara ke cabang Sabian Asia (Singapore Division)Sebagai bentuk pengembangan profesional dan tanggung jawab baru.“Singapore?” gumam Jesslyn pelan. “Gue bahkan nggak pernah apply untuk overseas post…”Elina yang duduk di meja seberang ikut menatap kertas itu, wajahnya kaget. “Gila, itu posisi tinggi, tapi… tiba-tiba banget, Jess. Lo yakin bukan ada yang salah sistem?”Jesslyn tidak menjawab. Di dadanya ada sesuatu yang tidak tenang, meski di permukaan ia berusaha tersenyum. “Ya mungkin keberuntungan aja kali…” katanya lemah. Tapi ada untungnya juga dia harus pergi ke Singapore, setidaknya dia bisa menenangkan diri apalagi adegan semalHari itu langit mendung. Jesslyn turun ke basement dengan langkah cepat, membawa berkas penting untuk rapat sore. I
“Apa yang kamu lihat kemarin belum cukup untuk membuatmu sadar, Nona Jesslyn?”Langkah kaki Jesslyn terhenti langsung, tanpa menoleh pun dia tahu siapa yang berbicara padanya siang ini. Noah? Yang melihat hal itu hanya mengintip dari kejauhan dan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.Dengan telat dan keberanian yang mendalam. Wanita itu membalik badannya dan tersenyum kecil. “Jadi anda sudah tau Nyonya Yoora?”“Ya … aku tahu segala hal, Jesslyn.” Katanya dengan elegant.Jesslyn tertawa kecil. “Segitunya ya Anda ingin saya hancur?”Dengan perkataan itu Yoora tidak suka. Dia melemparkan tatapan tajam dan menusuk untuk Jesslyn. Seolah tatapan itu sebuah peringatan kalau Jesslyn tidak akan memiliki celah untuk kembali pada Christian. Wanita itu hanya ingin yang terbaik untuk Christian, tidak ada
Udara malam itu berat. Langit Ibukota gelap tapi tak hujan, hanya kelam dan pengap seperti menyimpan sesuatu yang ingin meledak. Jesslyn memandangi pesan singkat dari Christian di layar ponselnya — hanya satu baris.“Datang ke apartemen dulu, aku perlu bicara.” ucap Jesslyn membuka pesan masuk dari Christian.“Kenapa Jess?” Tanya Rhea yang melihat wajah Jesslyn berubah total.“Gue harus pergi, nanti gue balik lagi.” Tidak ada emoji, tidak ada nada lembut seperti biasanya. Datar, dingin. Tapi justru itu yang membuat dada Jesslyn bergetar hebat. Ia tak tahu kenapa, tapi langkah kakinya terasa berat menuju lift rumah Rhea. Seakan setiap detik mendekatkan dirinya pada sesuatu yang tidak siap dihadapi.Begitu pintu apartemen itu terbuka, aroma ruangan langsung memukul memorinya. Dulu, tempat ini menjadi rumah Christian bersama Hanna — sebelum semuanya berantakan, sebelum Christian memilih tinggal bersamanya. Jesslyn menatap dinding yang masih menyimpan bingkai foto lama yang belum dicopot







