LOGINPagi itu, matahari menyelinap lewat kaca tinggi jendela kamar Alessia, tapi sinarnya tidak membawa hangat. Hanya cahaya dingin yang membuat ruangan tampak lebih kosong dari biasanya. Alessia duduk di tepi ranjang yang kemarin tak pernah ia sentuh. Tangannya bermain dengan cincin di jari manisnya, cincin yang terasa lebih berat dari seharusnyaa
Malam tadi, kata-kata Drazhan masih terngiang jelas. “Tidak ada jalan keluar.” Dan kini satu pertanyaan lain terus menghantuinya, mengapa aku? Ia memikirkan Seraphine. Wajahnya, sikapnya, keanggunannya. Wanita itu jelas lebih layak berada di sisi seorang pria seperti Drazhan. Seraphine tahu dunia mereka, tahu bagaimana bermain dengan citra, tahu cara menaklukkan ruang penuh mata-mata. Lalu, mengapa ia yang hanya seorang gadis biasa, dipaksa masuk ke lingkaran maut ini? Pintu kamar berderit. Drazhan masuk tanpa mengetuk, jas hitamnya masih sama dengan malam tadi, seolah ia tidak pernah benar-benar tidur. Alessia menatapnya, dada miliknya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu ini mungkin gila, tapi ia tidak bisa lagi menahan diri. “Kenapa aku?” suaranya pelan, hampir patah. Drazhan berhenti, menatapnya sebentar, lalu berjalan mendekat. “Kenapa apa?” “Kenapa aku yang kamu pilih menjadi istri? Bukan Seraphine?” Kalimat itu meluncur, diikuti denyut jantung yang semakin cepat. Hening. Hanya terdengar detik jam yang berdetak di dinding. Drazhan menatapnya lama, sorot matanya gelap seperti malam tanpa bintang. Lalu ia duduk di kursi di seberang ranjang, menautkan jemari tangannya. “Apa kamu sungguh ingin tahu jawabannya?” tanyanya datar. Alessia mengangguk, meski hatinya sudah memohon agar ia tidak mendengar hal-hal buruk. Drazhan menghela napas, lalu berkata dengan nada dingin, “Karena Seraphine terlalu berharga untuk dijadikan pion. Sedangkan kamu…” ia menatap Alessia dari ujung rambut sampai ujung kaki, “…kamu tidak berarti apa-apa. Kamu bisa dipakai, kamu bisa dibentuk, dan jika perlu, kamu bisa dikorbankan.” Sejenak dunia Alessia berhenti. Dadanya semakin sesak, matanya panas. Ia merasa seperti ditampar keras, tubuhnya berguncang meski ia masih duduk di tempat yang sama. “Jadi… aku hanya pengganti murah untuk menutup kebutuhanmu?” suaranya pecah, hampir berbisik. Drazhan tidak bergeming. “Kamu adalah jawaban paling sederhana untuk masalah yang rumit. Keluargamu butuh uang, keluargaku butuh simbol. Pernikahan ini menyelesaikan keduanya.” Air mata Alessia jatuh tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menutupinya dengan tangan, tapi suaranya tetap bergetar. “Dan apa artinya aku di matamu? Bahkan setelah semua ini?” Drazhan berdiri, langkahnya pelan, lalu berhenti tepat di hadapannya. Tangannya terulur, bukan untuk menghapus air mata, tapi untuk mengangkat dagunya kasar agar ia menatapnya. “Artinya kamu adalah milikku. Bukan Seraphine, bukan siapa pun. Milikku." Kalimat itu begitu dingin, menusuk lebih dalam dari belati. Alessia menatap balik, matanya penuh luka. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar, Drazhan tidak melihatnya sebagai manusia, apalagi sebagai pasangan. Ia hanya melihatnya sebagai bagian dari permainan kekuasaan. Ketika Drazhan meninggalkannya dan menutup pintu dengan suara berat, Alessia memeluk dirinya sendiri, menahan tangis. Belenggu yang menjeratnya bukan hanya soal cinta yang dipaksa, melainkan luka yang dipelihara. ♣♣♣ Alessia masih terduduk di tepi ranjang setelah kepergian Drazhan. Sunyi menggema di dalam kamar yang terlalu luas, membuatnya merasa semakin kecil. Dadanya masih terasa sesak, seolah kata-kata pria itu menempel seperti duri yang tak bisa dicabut. "Kamu tidak berarti apa-apa, kamu bisa dipakai, dibentuk, bahkan dikorbankan." Kalimat itu berputar tanpa henti di kepalanya. Alessia ingin marah, ingin berteriak, tapi tak ada tenaga. Yang tersisa hanya tangis yang kini telah membasahi kedua pipinya, hingga tubuhnya terasa lelah dan pikirannya nyaris kosong. Alessia ingin tidur dan berharap tak akan pernah bangun, namun bel berbunyi lirih, tanda bahwa sarapan sudah disiapkan di ruang utama. Seorang pelayan mengetuk pintu, suara sopannya menembus celah. “Nyonya Alessia, Tuan menunggu di meja makan.” Alessia mengusap cepat air matanya, mencoba berdiri meski lututnya gemetar. Ia tahu, menolak datang hanya akan membuat keadaannya semakin buruk. Meski dengan langkah berat, ia mengikuti pelayan menuju aula besar. Ruang makan itu luas, lampu gantung kristal berkilauan, meja panjang dipenuhi hidangan mewah. Beberapa tamu keluarga duduk di kursi-kursi elegan, berbincang sopan dengan suara rendah. Namun mata Alessia hanya terpaku pada satu sudut, Drazhan. Suaminya yang tidak benar-benar miliknya. Drazhan duduk di kursi utama, jasnya rapi meski wajahnya terlihat lelah. Sampingnya, tentu saja ada Seraphine yang selalu terlihat anggun. Kali ini dia menggunakan gaun merah gelap yang menempel sempurna di tubuhnya. Rambutnya digelung elegan, bibirnya tersenyum tipis penuh percaya diri. Sangat cantik, wajar jika Drazhan tergila-gila padanya. Alessia berhenti sejenak di ambang pintu. Sakit seperti mencengkram dadanya dengan keras tapi ia harus bersikap tenang. Drazhan menoleh pada Seraphine dengan tatapan yang tidak pernah Alessia dapatkan. Tatapan yang hangat sekaligus penuh kuasa. Mereka berbincang, suara mereka lirih namun jelas saling akrab. Seraphine menyentuh lengannya sebentar, sentuhan kecil, tapi penuh kepemilikan dan yang lebih menyakitkan, Drazhan membiarkannya. Tidak ada teguran. Tidak ada jarak. Justru dia membalas dengan senyum samar, senyum yang bagi Alessia seperti tamparan paling keras. Pelayan mengumumkan kehadiran Alessia. Semua kepala menoleh. Alessia berjalan maju, mencoba menjaga wibawa meski hatinya remuk. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan di sisi lain meja, cukup jauh dari Drazhan, seolah memang sengaja dijauhkan. Selama sarapan berlangsung, suara tawa kecil Seraphine mengisi ruangan. Beberapa kali jemarinya menyentuh lengan atau pundak Drazhan, dan tidak sekali pun pria itu menolak. Alessia menunduk, jari-jarinya mencengkram kain gaunnya di bawah meja. Makanan di piringnya dingin tak tersentuh. Semua terasa pahit. "Kenapa aku? Kenapa bukan dia? Kenapa harus aku yang kamu korbankan?" jerit batinnya, namun bibirnya tetap terkunci. ♣♣♣ Selesai makan, beberapa tamu beranjak. Alessia mencoba bangkit juga, tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu. Di ujung lorong, di balik pilar marmer, Seraphine berdiri terlalu dekat dengan Drazhan. Mereka berbicara pelan, tapi gestur mereka berkata lebih banyak dari kata-kata. Seraphine menyentuh wajahnya, jari-jarinya lembut menyusuri rahang Drazhan, lalu berbisik sesuatu di telinganya. Drazhan tidak menghindar. Ia justru membalas dengan tangan yang menahan pinggang Seraphine agar tetap dekat. Alessia membeku. Tubuhnya terasa mati rasa, sementara dadanya dipenuhi ribuan pecahan kaca. Ia mundur perlahan, langkahnya goyah, lalu berlari kecil menyusuri lorong tanpa arah. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ia kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan keras, lalu jatuh terduduk di belakangnya. Tangisnya pecah. Bahunya bergetar hebat, wajahnya terkubur di kedua tangannya. “Aku ini apa baginya? Boneka? Simbol? Bayangan?” bisiknya lirih di sela tangis. Ia memukul lantai dengan kepalan lemah, mencoba melampiaskan sakit yang membakar dadanya. Tapi semakin ia melawan, semakin dalam rasa hancur itu menusuk. Belum ada satu minggu pernikahan yang ia jalani tapi rasanya sudah sangat semenyakitkan ini. Alessia tidak tahu, apakah ia benar-benar sanggup menyelesaikannya sampai akhir atau ia akan menyerah dan mengakhiri hidupnya sendiri.Kediaman Alexei masih berbau asap dan besi. Api sudah dipadamkan, mayat-mayat telah diseret ke lorong servis, dan darah di lantai marmer ditutup sementara dengan karpet gelap. Dunia hitam tidak mengenal pemakaman. Ia hanya mengenal pembersihan.Alexei berdiri di ruang kendali bawah tanah, jaketnya terbuka, pistol masih tergantung di tangannya meski magasin sudah kosong. Layar-layar di hadapannya menampilkan potongan kamera yang mati satu per satu, mulai terowongan runtuh, jalur lama hilang, jejak yang sengaja dihapus.Ia tidak marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi orang bodoh. Ia hanya diam, terlalu diam, dan itu membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.“Putar ulang segmen timur,” katanya akhirnya.Operator menelan ludah, jarinya bergerak cepat. Gambar buram muncul kemudian kabut asap, siluet orang-orang Korolev yang bergerak cepat, lalu satu sosok yang tidak salah lagi.Mikhail. Dia berdiri di persimpangan terowongan, bahunya menghalangi jalur, tubuhnya menjadi dinding hidu
Terowongan tua itu menelan mereka seperti kerongkongan binatang purba, sempit, lembap, dan berbau besi tua bercampur darah yang belum kering. Lampu darurat berkelip malas, memantulkan bayangan patah-patah pada dinding batu. Katerina bergerak di tengah barisan, langkahnya cepat tapi terukur. Satu tangan menggenggam pistol, tangan lain menahan nyeri di rusuknya. Setiap tarikan napas mengingatkannya pada harga yang baru saja dibayar untuk kebebasan.“Cepat,” bisik salah satu pria di depan. “Gerbang sekunder lima puluh meter.”Mereka hampir berhasil. Alexei tidak bisa mengejar karena reruntuhan menutup jalur utama. Anak buah Korolev yang tersisa bergerak dalam formasi rapat, menutup tubuh Katerina dengan disiplin yang lahir dari tahun-tahun hidup dalam pengkhianatan. Mereka tidak berbicara. Dunia hitam selalu mengutamakan diam dan bertahan.Katerina menelan ludah. Kepalanya berdenyut. Wajah-wajah mati menumpuk di benaknya, ayahnya, pamannya, nama-nama yang kini hanya tinggal ukiran di ba
Di sisi kota yang lain, hampir pada detik yang sama ketika darah Ivan Korolev mengering di lantai beton milik Drazhan, kediaman Alexei berubah menjadi medan perang.Tidak ada ledakan besar. Mereka langsung menyerang tanpa aba-aba. Serangan itu senyap, presisi, dan kejam.Lampu halaman padam satu per satu, bukan karena listrik mati, melainkan karena leher para penjaga dipatahkan dalam gelap. Gerbang besi terbuka tanpa suara, kode lama yang seharusnya sudah mati ikut hidup kembali. Orang-orang Korolev bergerak seperti bayangan, tidak berteriak, tidak panik. Mereka datang untuk satu tujuan, menebus kegagalan dengan darah Alexei dan menyelamatkan Katerina.Alexei terbangun bukan oleh suara tembakan, melainkan oleh insting. Ia sudah berdiri saat peluru pertama menghantam kaca jendela kamar kerjanya. Tubuhnya bergerak cepat, mengambil pistol dari laci rahasia, lalu menyelinap ke balik dinding baja.“Kontak,” ucapnya datar ke alat komunikasi di telinganya. “Jumlah besar. Mereka tahu denah ru
Dinding batu di penjara bawah tanah sebelah timur terbelah seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Api menyembur, asap hitam menjilat langit fajar, dan suara alarm manual akhirnya meraung, bukan karena sistem, melainkan karena darah pertama telah tumpah.Drazhan sudah bergerak sebelum gema ledakan mereda. Ia menarik Alessia ke balik dinding baja, menekan bahunya ke sudut aman yang hanya diketahui tiga orang di dunia ini. “Tetap di sini. Apa pun yang kamu dengar, jangan keluar,” perintahnya dingin dan mutlak.“Apa yang terjadi?” tanya Alessia, matanya tajam meski jantungnya berdegup keras.“Kesalahan lama,” jawab Drazhan singkat. “Anak buah Korolev bangkit lagi.” Ia berbalik, meraih senapan otomatis dari rak tersembunyi. Wajahnya kini sepenuhnya berubah, tidak ada sisa pria yang semalam berjanji perlindungan dengan bisikan. Yang berdiri saat ini adalah Raja Mafia Balkan, pemilik tanah, darah, dan ketakutan.Rafael muncul dari koridor dengan wajah berlumur darah orang lain. “Mer
Malam menutup kediaman itu rapat-rapat, seperti sekutu setia yang menjaga rahasia di kamar bernuansa hitam milik Drazhan, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi sesuatu yang jarang ia izinkan hadir, yaitu sebuah kelembutan.Drazhan bergerak dengan kehati-hatian yang nyaris asing baginya. Tangan yang biasanya memberi perintah eksekusi kini menelusuri bahu Alessia seakan dia benda rapuh yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras. Tatapannya tidak lagi tajam seperti pisau, melainkan pekat seperti malam yang memilih untuk memeluk, bukan menelan.“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya rendah. Itu bukan janji yang diucapkan sembarang dari mulut pria sepertinya, kalimat itu adalah sumpah paling mahal.Alessia meraih wajah Drazhan, memaksanya menatap. Ada keberanian di sana, juga kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. Drazhan merasakan sesuatu runtuh di dadanya, bukan kelemahan, melainkan tembok yang selama ini ia banggakan. Ia memang sudah kalah, ia mencintai Alessia terlalu dalam. Me
Alessia menyusuri lorong dengan langkah ragu namun tekad yang perlahan mengeras. Setiap pijakan terasa lebih sunyi dari sebelumnya, seolah rumah itu menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terucap. Ia tahu ke mana harus pergi, meski bagian dirinya masih menyangkal alasan kenapa.Kamar pribadi Drazhan berdiri di ujung lorong, lebih gelap dari pintu-pintu lain. Ia mendorongnya perlahan pintu kamar itu. Suasana langsung berbeda. Ruangan itu seperti bayangan dari pemiliknya. Dominasi warna hitam dan abu gelap memenuhi setiap sudut, dinding, perabot, dan tirai tebal yang menutup jendela besar. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciumannya. Bau campuran cerutu mahal, alkohol tua, dan sesuatu yang lebih dalam, bau kekuasaan yang tak bisa ditiru memenuhi ruangan itu. Lampu temaram menggantung rendah, memantulkan kilau redup pada botol-botol kristal di rak dan senjata yang tersusun rapi, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pernyataan.Drazhan berdiri membelakangi pintu, satu tang







