Início / Romansa / Belenggu Hasrat Dendam Membara / BAB 1. LIMA TAHUN YANG TERBUANG

Compartilhar

Belenggu Hasrat Dendam Membara
Belenggu Hasrat Dendam Membara
Autor: Michaella Kim

BAB 1. LIMA TAHUN YANG TERBUANG

last update Última atualização: 2025-12-13 08:24:56

“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Dan kau masih di sini, Ethan. Masih hidup.”

Ethan Deighton menarik kerah jaketnya lebih tinggi. Langkahnya mengarah ke sebuah rumah milik seseorang yang dulu membuat setiap malamnya berarti. Iris Valeska. Nama yang selalu menjadi pelarian dalam kepalanya ketika suara jeruji besi bergesek di malam hari. Wanita yang dulu menatap mata Ethan dengan penuh keyakinan, lalu memintanya untuk diam dan mengaku bersalah agar reputasinya tidak hancur.

Ethan menuruti. Karena cinta, katanya waktu itu.

Dan cinta itulah yang kini menuntunnya menembus dinginnya kota New York, ke rumah megah dengan pagar besi tinggi di ujung jalan.

Lampu-lampu di sana berkilau, memantul di salju seperti permata. Ada tenda putih besar berdiri di halaman, dengan musik jazz mengalun lembut dan suara tamu bercampur tawa serta denting gelas.

Hati Ethan berdegub cepat. Ia menatap pesta itu lama, lalu tersenyum kecil. “Dia tahu aku bebas hari ini,” pikirnya. “Dia pasti menyiapkan ini.”

Namun langkahnya melambat ketika mendengar suara seorang wanita dari arah pagar, penuh semangat.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama untuk Tuan Marcus Cross dan Nyonya Iris Cross!”

Suara tawa menyusul, lalu tepuk tangan.

Ethan berhenti. Senyumnya padam seketika.

Kata-kata itu seperti batu yang menghantam dada.

Marcus Cross.

Nama itu.

Nama yang ia benci setengah mati.

Nama yang telah menghancurkan keluarganya, membuat ayahnya kehilangan segalanya dan akhirnya bunuh diri.

Dan sekarang, nama itu disandingkan dengan Iris.

Ethan menggenggam pagar besi itu erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Dunia di depannya terasa berputar. Ia ingin meyakinkan diri bahwa ia salah dengar, tapi matanya menangkap sosok wanita bergaun putih gading berdiri di atas panggung.

Iris.

Cantik seperti dulu, tapi kini dengan tangan melingkar di lengan Marcus Cross.

Marcus mengenakan setelan hitam sempurna, senyumnya tenang, memeluk Iris seolah dunia ini miliknya.

Dan mungkin memang begitu.

Ethan melangkah ke depan, membuka gerbang tanpa peduli penjaga yang terkejut melihatnya.

“Hey! Kau tak boleh masuk!”

Terlambat.

Ethan sudah menapaki halaman pesta itu. Musik terhenti perlahan saat kemunculannya, obrolan berganti bisik-bisik. Semua mata menoleh padanya. Sosok lelaki kurus berjaket lusuh, wajahnya belum sempat dicukur rapi, matanya tajam tapi lelah.

Marcus tersenyum samar, seolah sudah menunggu ini. “Lihat siapa yang baru keluar dari kandang.” Suaranya tenang tapi penuh racun.

Para tamu tertawa kecil, beberapa menutup mulutnya pura-pura sopan, tapi matanya berbinar ingin tahu.

Ethan berdiri di tengah mereka, tak peduli tatapan itu. Matanya hanya tertuju pada satu sosok, Iris.

“Iris,” Ethan memanggil pelan, hampir berbisik. “Apa ini? Kau dan dia?”

Marcus turun dari panggung,  mendekat, langkahnya ringan tapi sombong. “Kau datang tanpa undangan, Ethan. Seharusnya kau tahu cara membaca situasi. Ini pesta kelas atas, bukan reuni napi.”

Beberapa tamu menahan tawa. Satu di antaranya berbisik, cukup keras untuk terdengar, “Lihatlah pakaiannya, seperti gelandangan. Bagaimana mungkin dia berani bicara pada Nyonya Cross?”

Ethan mengepalkan tangannya, tapi matanya tetap pada iris. “Katakan padaku ini tidak nyata, Iris.”

Iris menghindari tatapan itu. “Ethan, tolong, jangan buat keributan di sini.” Suaranya bergetar.

“Keributan?” Ethan tertawa pendek, getir. “Lima tahun aku di penjara untukmu. Lima tahun aku tutup mulut agar nama keluargamu bersih. Dan sekarang aku kembali, hanya untuk melihatmu menjadi istri dia? Sungguh, Iris?”

Marcus tersenyum puas, memutar cincin di jarinya. “Hey, jangan seperti itu. Dia hanya membuat pilihan tepat. Kau tahu, perempuan cerdas tak akan menunggu laki-laki bodoh yang sia-sia.”

“Ya, benar!”

Tawa lagi-lagi terdengar. Kali ini lebih lepas, lebih tajam.

Seorang wanita muda bersuara manja menyahut, “Astaga, jadi ini benar? Pria ini yang dulunya masuk penjara gara-gara manipulasi saham itu? Kupikir dia sudah mati di dalam sana.”

Marcus menoleh pada tamunya dengan senyum ramah palsu. “Tidak, sayang. Sayangnya, dia masih hidup.”

Ethan menatap Marcus tajam. “Itu bukan kesalahanku!”

Marcus mendekatinya, begitu dekat hingga napasnya beradu dengan napas Ethan. Kemudian berbisik, “Ethan, tidak ada yang akan membela seorang napi. Dunia mencatat kau bersalah. Dan aku? Aku hanya pewaris yang beruntung mengambil alih reruntuhan keluargamu.”

Ethan tersenyum dingin. “Beruntung? Kau menyebut ‘merusak nama ayahku dan membuatnya bunuh diri’ sebagai keberuntungan?” ujarnya.

Marcus menarik dirinya, menunjukkan ekspresi pura-pura kecewa dengan perkataan Ethan. “Ayahmu lemah. Bisnismu rapuh. Lalu kuambil alih agar gedung itu tetap ada. Kenapa itu jadi salahku?” Ia berkata dengan lantang.

“Ya Tuhan, dia benar-benar tak tahu malu datang ke pesta Tuan Cross.”

“Berani sekali dia muncul setelah menghancurkan nama keluarganya sendiri.”

Ethan tak peduli pada mereka. Ia kembali menatap Iris. “Dan kau. Kau diam saja mendengar semua ini, Iris?”

Iris menelan ludah, matanya berair tapi tetap menunduk.

“Jawab, Iris!” Ethan tertawa, getir. “Kenapa kau seperti ini? Apakah membuatmu bahagia tidur di kasurnya?”

Wajah Iris memucat. Marcus mengangkat tangan, menahan amarahnya tapi masih menjaga nada elegan. “Kau sudah cukup membuat malu dirimu sendiri.”

“Ethan, kau seharusnya tetap di tempatmu. Dunia luar sudah berubah. Iris milikku sekarang.”

Seorang tamu pria menepuk pundak Marcus. “Tuan Cross, biar aku urus orang ini. Tak pantas dia ada di sini.” Kemudian menjulurkan tangannya ke arah Ethan.

Ethan menepis tangan itu kasar. “Coba sentuh aku, dan kau akan kehilangan gigi depanmu.”

Hening seketika. Pengawal marcus mulai bergerak, tapi Marcus menahan. Ia ingin menonton.

Marcus menatap Iris dengan nada pura-pura manis. “Sayang, kenapa tak jelaskan pada mantanmu ini, bahwa semua sudah berakhir?”

Iris menggigit bibirnya, suaranya pelan tapi cukup membuat dada Ethan hancur. “Ethan. Aku mohon, pergilah. Aku bukan Iris yang dulu lagi.”

Satu kalimat itu menamparnya lebih keras dari semua hinaan yang dilemparkan padanya malam itu.

Ethan menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak di dadanya. “Baiklah,” katanya datar. “Kalau begitu, aku akan pergi.”

Marcus tersenyum puas, mengangkat gelasnya. “Bagus. Dunia tak menunggu orang gagal.”

Ethan berbalik, berjalan pergi di antara tamu-tamu yang menyingkir seperti menghindari penyakit. Tidak ada teriakan. Tidak ada permohonan agar Iris kembali padanya.

Ia berhenti di ambang pintu tenda, menoleh sekali lagi. Pandangannya tajam seperti bilah pisau. “Kau sudah ambil segalanya dariku, Marcus. Tapi ingat, waktu tak selamanya di pihakmu. Suatu hari nanti, aku akan menagih setiap detik yang kau curi.”

Marcus menjawab dengan senyum meremehkan. “Kau harus punya dunia dulu sebelum bisa menantangku, Ethan. Dan dunia ini, milikku.”

Tawa tamu-tamu kembali pecah, menggema sampai Ethan melangkah keluar dari cahaya lampu pesta, menembus hujan yang semakin deras. Tak ada yang mengejarnya. Tak ada yang peduli.

Hanya suara musik yang kembali dimainkan, seolah tak ada tragedi kecil barusan.

Dan Iris tetap diam, bahkan tidak berani menatap matanya. Itu yang paling menyakitkan.

Hujan sudah jadi badai ketika Ethan menyusuri jalan sempit di dekat Central Park. Pikirannya kosong tapi dadanya sesak. Hanya rasa dingin dan lelah yang tersisa.

Beberapa blok kemudian, Ethan berhenti di bawah papan iklan raksasa. Di atasnya, tulisan besar menyala terang.

Cross Holdings Group.

Marcus Cross seperti menatapnya dari foto iklan itu, mengenakan setelan mahal, dengan slogan besar di bawahnya.

“Kepercayaan Adalah Segalanya.”

Ethan menatap papan itu lama, ia basah kuyup, lalu tiba-tiba tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip desisan sakit hati.

“Kepercayaan, ya?” gumamnya. “Kau bahkan mencuri itu dariku.”

Ia mengangkat wajahnya, menatap lampu-lampu kota New York yang berpendar di tengah hujan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu di sana. Arah.

Ia menyelipkan surat kebebasan lusuh itu ke saku jaketnya, lalu berkata pelan tapi tegas, “Lima tahun terlalu lama untuk tidur. Sekarang giliranku bermain.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 100 CAHAYA DI ATAS TEBING

    Langit Amalfi sore itu biru pucat, seperti kanvas yang pudar oleh cahaya. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan bougainvillea liar dari sepanjang pagar Via delle Rocce. Tanpa deru mesin atau ancaman detak jam, hanya tawa anak-anak yang terdengar di udara.“Alex! Jangan lari ke situ, itu pasir basah!”“Ini seru, Mama!”“Kalau kau jatuh—” ucapan Elena terhenti karena seruan putrinya.“Ava juga basah!”Ava tertawa dengan rok berpasir dan rambut acak-acakan. Di dekatnya, Alex terpeleset saat berlari mengitari pot bunga, namun justru tertawa seolah jatuh adalah bagian dari permainan.Lucas bersedekap di teras, tersenyum pasrah. "Mereka seperti badai kecil.""Badai yang kita ciptakan sendiri," balas Elena sambil membawa handuk.Lucas menatapnya, gaun sederhana, rambut terikat asal, tanpa sisa identitas ganda masa lalu. Kini hanya ada seorang ibu dengan binar hangat dan kelelahan yang indah.“Kau kelihatan bahagia.”“Mungkin kau lupa, aku tidak lagi bangun dengan rasa takut.”L

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 99 WARISAN TANPA NAMA

    Pagi hari di musim semi yang cerah, Lucas bersandar di ambang pintu ruang kerja, menggendong Ava yang sedang mengunyah mainan karet, dan Alex yang merangkak di lantai, mengejar bola kecil.“Lucas, apa kamu yakin jumlah dana ini tidak terlalu besar?” tanya Elena.Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya melayang di atas trackpad laptop. Layar menampilkan grafik donasi yang terhubung ke beberapa yayasan pendidikan dan panti asuhan di berbagai negara.Lucas tersenyum tipis. “Dulu kita menggerakkan uang untuk menjatuhkan sistem. Sekarang kita menggerakkannya untuk menyelamatkan sistem.”Elena menoleh. “Itu bukan jawaban.”Lucas melangkah mendekat. “Tidak ada yang namanya terlalu besar kalau tujuannya supaya tidak ada anak yang tidur kelaparan.”Elena terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku lupa kita sekarang bisa melakukan sesuatu tanpa harus sembunyi.”Lucas menatap ruang kerja itu. Dulu ruangan ini penuh layar gelap, peta satelit, dan kabel-kabel enkripsi. Seka

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 98 SATU TAHUN KEBEBASAN

    Satu tahun bergulir, membawa tawa serta bahagia dalam prosesnya. Tak ada satu hari pun di mana Lucas dan Elena sempat mengeluh. Perkembangan pesat dari kedua buah hati mereka telah mengusir rasa penat yang sulit singgah lama.Pagi itu, Lucas sedang berperan menjadi tukang kayu. Sementara istrinya, setia menjadi juri untuk menilai hasil karyanya.“Lucas, jangan bilang kau salah pasang lagi.”Elena berdiri di ambang pintu taman, tangan kirinya memegang loyang kue vanila, dan tangan kanannya menunjuk ke arah suaminya yang sedang berjongkok di tengah rumput, dikelilingi oleh potongan kayu, baut kecil, dan sebuah kursi kuda-kudaan setengah jadi.Hari ini, mereka mengadakan perayaan satu tahun usia Alex dan Ava.Lucas menoleh padanya dengan wajah serius. “Aku tidak salah pasang. Aku hanya merakit dengan pendekatan alternatif,” ia mengelak.Elena menaikan alisnya. “Pendekatan alternatif itu maksudnya kepalanya terbalik?”Lucas pun menatap mainan itu, lalu menatap Elena dengan tampang polosny

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 97 LANGKAH-LANGKAH KECIL DI AMALFI

    Waktu berlalu dengan cepat di Via delle Rocce. Kini, si kembar yang diberi nama Alex dan Ava sudah mulai belajar merangkak dan mengeksplorasi setiap sudut rumah yang telah dilapisi karpet tebal oleh sang ayah, Lucas.Di ruang tamu, Elena mengedarkan pandangannya yang tertuju pada seluruh lantai. Melihat semua hasil karya suaminya itu, ia menghela napas pasrah.“Lucas, kalau kau memasang satu karpet lagi, rumah ini akan berubah menjadi lapangan senam bayi,” katanya setengah menggoda. Di hadapannya, Alex sedang merangkak dengan kecepatan mencurigakan, sementara Ava mencoba menirunya tapi malah terguling pelan ke samping, lalu tertawa sendiri. Begitu menggemaskan, membuat hari-hari Elena terasa hangat.Lucas sedang berlutut di lantai, masih saja sibuk menempelkan satu karpet tambahan di dekat rak buku. “Kau terlambat, sayang. Lantai ini keras, kalau mereka jatuh—”“Mereka jatuh dari ketinggian sepuluh sentimeter, Ayah,” potong Elena gemas.Lucas menoleh sambil memasang wajah serius. “Se

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 96 RITME BARU DI VIA DELLE ROCCE

    Dua hari pasca kelahiran dari dua cahaya kehidupan bagi Lucas dan Elena, Via delle Rocce kini sepenuh berbeda.Dua bayi mungil itu mengubah ritme yang dijalani oleh kedua orang tuanya menjadi lebih ramai dan penuh warna. Kadang tawa, kadang harus berbisik, bukan karena waspada, melainkan suara bising sedikit saja bisa menyebabkan tangisan kencang.Kesibukan keduanya pun melebihi saat berada dalam misi masa lalu, bahkan Lucas harus bekerja dengan sentuhan ekstra lembut sekaligus cekatan dalam waktu yang bersamaan. Hanya karena takut sentuhan tangan besarnya itu dapat menyakiti kulit bayi-bayinya yang masih sangat rentan.“Lucas, yang ini sudah sendawa belum?” tanya Elena.Suaranya terdengar dari arah sofa, pelan tapi mengandung nada waspada khas ibu baru. Ia belum pulih sepenuhnya, namun bersikeras ingin mengurus anak-anaknya. Tetap saja, aturan ketat dari Lucas tidak boleh dilanggar.Di lengan Elena, bayi perempuan mereka terlelap damai, wajahnya merah muda, lebih mirip Lucas versi ga

  • Belenggu Hasrat Dendam Membara   BAB 95 KELAHIRAN CAHAYA BARU

    Lucas mengemudikan mobilnya dengan penuh perhitungan, fokusnya seperti sedang dikejar oleh prajurit bayaran.“Lucas, jangan mengebut, tapi jangan pelan juga.”Suara Elena terdengar terputus-putus, bercampur antara tawa gugup dan napas yang sudah tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman, sementara satu tangan lain menggenggam lengan Lucas seolah itu satu-satunya jangkar di dunia.Lucas melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan berkelok yang turun dari Amalfi menuju Napoli. Lampu-lampu kota masih tampak jauh dari mereka, tapi laut gelap di sebelah kanan seperti bayangan yang terus mengikuti mereka.“Aku akan membawa kita secepat mungkin tanpa membuatmu pingsan,” katanya, suaranya tenang tapi rahangnya mengeras. “Tarik napasmu, kau harus tenang. Ikuti aku.”Elena mengangguk, meski wajahnya pucat. “Aku benci bagian ini, Lucas.”“Kau tidak sendirian di bagian mana pun,” jawab Lucas cepat. “Dengarkan napasku.”Ia menarik napas dalam-dalam, sengaja membuatnya terdengar. Elen

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status