MasukDerasnya hujan malam itu tak menyurutkan niat Ethan untuk melangkah. Melewati beberapa restoran, bar dengan kaca jendela besar yang memantulkan penampilan kacaunya.
Jaket lusuh yang menempel di tubuhnya sudah tak sanggup lagi menahan air. Kini sekujur tubuhnya basah, tapi air dingin itu sama sekali tak membuatnya terusik. Setiap langkah kakinya di atas trotoar itu seperti membawa tekad yang kuat. Hatinya sudah mengeras, dan Ethan merasa waktu lima tahun itu harus dibayar setimpal.
Meskipun bayangan dari pesta itu masih menari di kepalanya. Juga tawa tamu-tamu yang sombong, serta tatapan jijik mereka. Dan Iris, dengan mata yang dulu ia hafal setiap kedipnya, kini bahkan tak mau menatap balik.
Ia berjalan terus, dengan isi kepala yang sibuk menolak kekalahan. Lima tahun lalu, ia keluar dari mobil sportnya dengan setelan Armi. Kini ia bahkan tak punya sepatu tanpa bolong. Ironi ini terasa begitu sempurna malam itu.
Akhirnya, Ethan menemukan sebuah motel murah, yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu ke depan, berada di antara gedung-gedung tua dan lorong gelap yang berbau alkohol basi. Lampu neon bertuliskan nama motel itu berkedip lemah, sama seperti dirinya, tak berdaya.
Ethan menatap papan itu, lalu mendesah. “Rumah baru, huh?”
Ia masuk, memberi isyarat singkat pada seorang penjaga tua yang tampak terkantuk-kantuk. Lelaki tua itu hanya mengangguk, tidak bertanya apa pun. Mungkin juga percuma bertanya, cukup berikan uangnya dan Ethan akan mendapatkan tempat untuk bermalam tanpa kehujanan.
Ethan tiba di kamar nomor 12.
Dindingnya lembab, jendelanya retak, setidaknya suara tetesan air dari kamar mandi mungkin bisa jadi lagu pengantar tidur. Ethan menyalakan lampu kecil di meja, kemudian duduk di ranjang yang berdecit, dan menatap ke luar jendela.
New York tampak kejam malam itu. Tapi memang begitulah kota itu sejak awal atau ia hanya lupa karena dulu selalu melihatnya dari penthouse.
Tangannya gemetar saat membuka sebuah tas kecil. Di dalamnya, ada sebuah kotak logam berwarna perak. Kotak itu sudah berkarat di pinggirannya, tapi ia tahu bahwa benda itu adalah satu-satunya warisan nyata dari ayahnya. Barang yang sempat dititipkan oleh orang kepercayaan ayahnya saat ia mendekam di penjara, dan kini ikut bebas bersamanya.
Ia mulai membuka kuncinya pelan. Di dalam, hanya ada tiga buah benda.
Sebuah flashdisk hitam, kartu nama bank asing, dan secarik kertas yang menguning dengan tulisan tangan ayahnya yang tegas.
“Hubungi dia. Deighton tidak pernah benar-benar kalah.”
Cukup lama Ethan menatap tulisan itu. Ia baca berulang-ulang. Tinta yang sudah pudar, tapi maknanya tetap hidup. “Ayah selalu tahu, ya,” gumamnya pelan. “Ayah tahu aku akan sampai pada titik ini.”
Ia mengeluarkan laptop tua dari dalam tas ransel. Barang yang sempat ia beli beberapa saat lalu dengan sisa uang hasil kerja serabutan di penjara. Layarnya retak di sudut, baterainya nyaris mati, tapi masih cukup untuk dinyalakan dan ia harus menggunakannya secepat mungkin. Sebelum benda itu mati total.
Dengan penuh hati-hati, ia colokkan flashdisk itu ke port. Layar berkedip, lalu muncul folder berisi puluhan file terenkripsi. Ethan menatapnya penuh curiga, lalu membuka salah satu.
Butuh waktu beberapa menit untuk sistem membukanya, mungkin karena laptop itu sudah cukup tua. Ketika data akhirnya muncul, matanya melebar.
Deretan daftar panjang saham perusahaan asing tertera.
Nama “E. Deighton” tertulis di banyak dokumen kepemilikan.
Perusahaan-perusahaan kecil yang dulu pernah mereka dirikan bersama, jauh sebelum Marcus Cross muncul dan merusak segalanya.
“Jadi, tidak semuanya benar-benar hilang?” gumamnya pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Pintar sekali, Ayah.”
Setelah terdiam cukup lama dan meyakini sesuatu, ia memutar kursi lapuknya, menatap langit malam di balik kaca jendela yang basah.
Tiba-tiba bayangan masa lalu melintas. Saat Iris tertawa di taman atap rumahnya, rambutnya yang panjang bergelombang meliuk-liuk diterpa angin. Hal yang paling Ethan sukai, dulu.
Saat itu Iris pernah berkata, “Aku tahu orang baik seperti apa kamu, Ethan.” Dengan tatapan mata yang selalu penuh keyakinan. “Bahkan jika dunia sekalipun menyalahkanmu, aku tetap memilihmu.”
Ethan menutup matanya. Suara itu menghantam jantungnya seperti pukulan kuat. Kini, kata-kata itu justru seperti ejekan. Ia pernah percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Nyatanya, cinta justru menenggelamkannya ke dasar jurang paling dalam.
Ia membuka mata lagi, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. “Kau sudah cukup bodoh, Ethan,” katanya lirih. “Sekarang berhenti berharap.”
Ethan menatap sebuah telepon motel usang di atas meja. Kemudian bergerak ke arahnya dan segera menekan beberapa angka. Telepon tersambung beberapa detik kemudian dan suara serak terdengar.
“Halo?”
Etham diam, ragu.
Suara berat pria di seberang sana berkata, “Tuan Deighton?”
Ethan menegang. “Siapa ini?”
“Nama saya tidak penting. Jika Anda menghubungi nomor ini, itu artinya Anda telah membaca surat ayah Anda. Saya telah menunggu selama lima tahun. Saya punya sesuatu untuk Anda. Jangan khawatir, saya akan menemukan Anda.”
Sebelum Ethan sempat menjawab, sambungan sudah terputus. Hanya suara hujan di luar yang tersisa.
Ia masih menatap telepon itu, baru meletakannya pelan. Jantungnya masih berdetak kuat.
“Ayah, benar-benar masih punya orang di luar sana.”
“Ayah, ayah benar. Deighton tidak kalah.”
Dalam hening, ia menyalakan sebatang rokok, yang pertama setelah bertahun-tahun. Asapnya melingkar di udara sempit kamar, bercampur dengan bau lembab di ruangan.
“Marcus Cross,” ucapnya pelan, seolah berbicara langsung pada bayangan musuhnya. “Kau pikir aku akan mati di penjara. Tapi aku masih di sini.”
Ia mengambil kartu nama bank asing dari kotak logam dan membaliknya. Di belakangnya tertulis sebuah alamat, dan kode akses bank yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Begitu, ya, Ayah,” ujarnya sambil menghembuskan asap. “Terima kasih, karena tinggalkan aku sesuatu untuk memulai kembali.”
Ia kembali ke meja, menatap daftar perusahaan di layar. Ada satu yang menarik perhatiannya.
Sebuah nama perusahaan Ltd, dengan kepemilikan saham mayoritas masih atas nama “E. Deighton.”
Senyumnya mengembang pelan.
“Bukan uang, tapi pintu,” bisiknya. “Dan aku tahu ke mana pintu ini akan kubuka.”
Sesekali pikirannya kembali ke pesta tadi.
Marcus yang menghinanya. Iris yang diam dan menunduk. Dan para tamu yang menatapnya seperti serangga yang harus diinjak mati.
Ia memejamkan mata sejenak. Lima tahun di penjara mengajarinya dua hal. Menahan amarah dan mengenali waktu yang tepat untuk menyerang. Saat membuka mata kembali, ia berdiri, menatap keluar jendela ke arah gedung-gedung yang menjulang seperti raksasa. Lampu-lampu kota memantul di matanya yang dingin tapi hidup.
“Lima tahun mereka hidup tenang,” ujarnya pelan, nyaris berbisik. “Tapi mulai malam ini, hutang itu mulai ditagih.”
Langit Amalfi sore itu biru pucat, seperti kanvas yang pudar oleh cahaya. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan bougainvillea liar dari sepanjang pagar Via delle Rocce. Tanpa deru mesin atau ancaman detak jam, hanya tawa anak-anak yang terdengar di udara.“Alex! Jangan lari ke situ, itu pasir basah!”“Ini seru, Mama!”“Kalau kau jatuh—” ucapan Elena terhenti karena seruan putrinya.“Ava juga basah!”Ava tertawa dengan rok berpasir dan rambut acak-acakan. Di dekatnya, Alex terpeleset saat berlari mengitari pot bunga, namun justru tertawa seolah jatuh adalah bagian dari permainan.Lucas bersedekap di teras, tersenyum pasrah. "Mereka seperti badai kecil.""Badai yang kita ciptakan sendiri," balas Elena sambil membawa handuk.Lucas menatapnya, gaun sederhana, rambut terikat asal, tanpa sisa identitas ganda masa lalu. Kini hanya ada seorang ibu dengan binar hangat dan kelelahan yang indah.“Kau kelihatan bahagia.”“Mungkin kau lupa, aku tidak lagi bangun dengan rasa takut.”L
Pagi hari di musim semi yang cerah, Lucas bersandar di ambang pintu ruang kerja, menggendong Ava yang sedang mengunyah mainan karet, dan Alex yang merangkak di lantai, mengejar bola kecil.“Lucas, apa kamu yakin jumlah dana ini tidak terlalu besar?” tanya Elena.Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya melayang di atas trackpad laptop. Layar menampilkan grafik donasi yang terhubung ke beberapa yayasan pendidikan dan panti asuhan di berbagai negara.Lucas tersenyum tipis. “Dulu kita menggerakkan uang untuk menjatuhkan sistem. Sekarang kita menggerakkannya untuk menyelamatkan sistem.”Elena menoleh. “Itu bukan jawaban.”Lucas melangkah mendekat. “Tidak ada yang namanya terlalu besar kalau tujuannya supaya tidak ada anak yang tidur kelaparan.”Elena terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku lupa kita sekarang bisa melakukan sesuatu tanpa harus sembunyi.”Lucas menatap ruang kerja itu. Dulu ruangan ini penuh layar gelap, peta satelit, dan kabel-kabel enkripsi. Seka
Satu tahun bergulir, membawa tawa serta bahagia dalam prosesnya. Tak ada satu hari pun di mana Lucas dan Elena sempat mengeluh. Perkembangan pesat dari kedua buah hati mereka telah mengusir rasa penat yang sulit singgah lama.Pagi itu, Lucas sedang berperan menjadi tukang kayu. Sementara istrinya, setia menjadi juri untuk menilai hasil karyanya.“Lucas, jangan bilang kau salah pasang lagi.”Elena berdiri di ambang pintu taman, tangan kirinya memegang loyang kue vanila, dan tangan kanannya menunjuk ke arah suaminya yang sedang berjongkok di tengah rumput, dikelilingi oleh potongan kayu, baut kecil, dan sebuah kursi kuda-kudaan setengah jadi.Hari ini, mereka mengadakan perayaan satu tahun usia Alex dan Ava.Lucas menoleh padanya dengan wajah serius. “Aku tidak salah pasang. Aku hanya merakit dengan pendekatan alternatif,” ia mengelak.Elena menaikan alisnya. “Pendekatan alternatif itu maksudnya kepalanya terbalik?”Lucas pun menatap mainan itu, lalu menatap Elena dengan tampang polosny
Waktu berlalu dengan cepat di Via delle Rocce. Kini, si kembar yang diberi nama Alex dan Ava sudah mulai belajar merangkak dan mengeksplorasi setiap sudut rumah yang telah dilapisi karpet tebal oleh sang ayah, Lucas.Di ruang tamu, Elena mengedarkan pandangannya yang tertuju pada seluruh lantai. Melihat semua hasil karya suaminya itu, ia menghela napas pasrah.“Lucas, kalau kau memasang satu karpet lagi, rumah ini akan berubah menjadi lapangan senam bayi,” katanya setengah menggoda. Di hadapannya, Alex sedang merangkak dengan kecepatan mencurigakan, sementara Ava mencoba menirunya tapi malah terguling pelan ke samping, lalu tertawa sendiri. Begitu menggemaskan, membuat hari-hari Elena terasa hangat.Lucas sedang berlutut di lantai, masih saja sibuk menempelkan satu karpet tambahan di dekat rak buku. “Kau terlambat, sayang. Lantai ini keras, kalau mereka jatuh—”“Mereka jatuh dari ketinggian sepuluh sentimeter, Ayah,” potong Elena gemas.Lucas menoleh sambil memasang wajah serius. “Se
Dua hari pasca kelahiran dari dua cahaya kehidupan bagi Lucas dan Elena, Via delle Rocce kini sepenuh berbeda.Dua bayi mungil itu mengubah ritme yang dijalani oleh kedua orang tuanya menjadi lebih ramai dan penuh warna. Kadang tawa, kadang harus berbisik, bukan karena waspada, melainkan suara bising sedikit saja bisa menyebabkan tangisan kencang.Kesibukan keduanya pun melebihi saat berada dalam misi masa lalu, bahkan Lucas harus bekerja dengan sentuhan ekstra lembut sekaligus cekatan dalam waktu yang bersamaan. Hanya karena takut sentuhan tangan besarnya itu dapat menyakiti kulit bayi-bayinya yang masih sangat rentan.“Lucas, yang ini sudah sendawa belum?” tanya Elena.Suaranya terdengar dari arah sofa, pelan tapi mengandung nada waspada khas ibu baru. Ia belum pulih sepenuhnya, namun bersikeras ingin mengurus anak-anaknya. Tetap saja, aturan ketat dari Lucas tidak boleh dilanggar.Di lengan Elena, bayi perempuan mereka terlelap damai, wajahnya merah muda, lebih mirip Lucas versi ga
Lucas mengemudikan mobilnya dengan penuh perhitungan, fokusnya seperti sedang dikejar oleh prajurit bayaran.“Lucas, jangan mengebut, tapi jangan pelan juga.”Suara Elena terdengar terputus-putus, bercampur antara tawa gugup dan napas yang sudah tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman, sementara satu tangan lain menggenggam lengan Lucas seolah itu satu-satunya jangkar di dunia.Lucas melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan berkelok yang turun dari Amalfi menuju Napoli. Lampu-lampu kota masih tampak jauh dari mereka, tapi laut gelap di sebelah kanan seperti bayangan yang terus mengikuti mereka.“Aku akan membawa kita secepat mungkin tanpa membuatmu pingsan,” katanya, suaranya tenang tapi rahangnya mengeras. “Tarik napasmu, kau harus tenang. Ikuti aku.”Elena mengangguk, meski wajahnya pucat. “Aku benci bagian ini, Lucas.”“Kau tidak sendirian di bagian mana pun,” jawab Lucas cepat. “Dengarkan napasku.”Ia menarik napas dalam-dalam, sengaja membuatnya terdengar. Elen







