Chapter: BAB 68 CETAK BIRU MASA DEPANAkhir pekan ini menjadi jeda bagi Ethan dan Celeste. Pengalaman menghadapi Marcus dan Calem telah mendewasakan strategi mereka, namun kini alarm bahaya baru dari sosok asing mulai membayangi ketenangan itu.Di beranda Celeste duduk termangu dengan sweater krem dan rambut yang masih setengah acak. Sepiring roti panggang dan buah di depannya hanya disentuh setengah sekilas, tatapannya kosong, tersesat dalam kecemasan yang tertunda.Ethan menghampiri, membawa dua cangkir kopi. Ia hanya mengenakan kaos polos dan celana rumah, tampak jauh dari sosok pria yang dulu selalu siap dengan perlengkapan taktis di pinggangnya. Perlahan, ia meletakkan satu cangkir di depan Celeste.“Kau tidak makan,” katanya ringan.Celeste menoleh, tersenyum kecil. “Aku menikmati pemandangannya dulu,” ujarnya.Ethan duduk di seberangnya. “Laut tidak akan kabur,” tegurnya.“Justru itu,” jawab Celeste pelan.
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: BAB 67 JEJAK DIGITAL YANG TERSISAPagi di kota pesisir selalu hidup oleh pekik camar yang bersahutan, deru mesin kapal nelayan, dan langkah-langkah manusia yang memulai kembali hidup mereka.Pekerjaan Ethan dan Celeste pun dimulai. Kantor kecil Deighton & Miles kini berdiri di sudut jalan yang tenang. Sebuah bangunan putih gading berlantai dua dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pelabuhan.Tidak ada papan nama yang mencolok, hanya plakat logam sederhana di samping pintu bertuliskan, “Deighton & Miles — Security & Risk Advisory”.Di dalam ruang rapat, aroma kopi segar berpadu dengan wangi kayu baru. Meski belum sepenuhnya rampung, ruangan itu sudah terasa hidup.Ethan berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Beberapa berkas terbuka di tangannya. Di hadapannya duduk tiga orang pria, para mantan anggota militer dengan rekam jejak bersih, tatapan tajam, dan sikap tenang.Ethan berkata dengan lugas, “Di
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: BAB 66 DUA GELAS DAN CAHAYA BULANMalam turun perlahan di rumah pesisir itu, seolah enggan mengganggu ketenangan yang baru saja mereka raih. Lampu-lampu kota di kejauhan berpendar lembut, memantul di permukaan laut yang tenang. Angin laut berhembus membawa sisa hangat matahari sore, menyusup ke balkon lantai dua tempat Ethan dan Celeste duduk berdampingan.Setelah hiruk pikuk pesta pembukaan yayasan berakhir, kini keduanya mendapatkan kembali ketenangan bersama.Tidak ada musik yang terdengar, dan tidak ada tamu yang tersisa.Hanya dua gelas kaca di atas meja kayu kecil, suara jangkrik yang bersahutan, dan bulan separuh yang menggantung rendah di langit.Ethan datang dari dalam sambil membawa sebotol anggur, lalu menuangkannya ke masing-masing gelas bergantian.Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan keemasan di dalamnya, lalu tersenyum kecil, senyum yang dulu jarang sekali muncul di wajahnya.“Aku masih belum terbiasa,” katanya pelan.Kemudian member
Last Updated: 2026-01-28
Chapter: BAB 65 BUNGA LAVENDER UNTUK MAGGIELangit pagi itu biru cerah, seolah alam akhirnya berdamai setelah badai panjang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan wangi kayu basah dari bangunan baru di ujung bukit.Di depannya, sebuah plakat kayu sederhana berdiri tanpa kemewahan. Namun, sangat besar artinya.“Maggie’s House Shelter & Hope Center”Anak-anak berlarian kecil, sebagian menggenggam tangan para pengasuh, sebagian lain menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Tidak ada kamera berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya tawa kecil, balon kertas, dan pita biru yang siap dipotong.Celeste berdiri di sisi panggung kecil, menarik napas dalam-dalam.“Kau baik-baik saja?” bisik Ethan di sampingnya.Celeste menoleh. Hari itu ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, rambutnya disanggul longgar.“Aku gugup,” akunya jujur. Kedua tangannya saling menggenggam erat.Ethan tersenyum tulus, kemudian
Last Updated: 2026-01-28
Chapter: BAB 64 SISA ABU DAN AWAL YANG BARUSiang hari setelah penangkapan Calem Ward datang dengan sunyi yang aneh. Namun bukan sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang akhirnya terasa aman. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pohon-pohon pinus di sana, tapi garis polisi yang beberapa saat lalu membentang membelah hutan kini sudah dilepas satu per satu. Jejak kaki, sisa kabel sensor, dan bekas ledakan kecil perlahan dibersihkan oleh tim Orion bersama pihak berwenang lokal.Dalam waktu singkat, semuanya kembali bersih tanpa ada sisa untuk menjadi bukti bahwa pernah terjadi pertarungan sengit antara Ethan dan Calem.Di teras rumah pesisir itu, Ethan tengah berdiri dengan secangkir kopi yang sudah dingin di tangannya. Ia memperhatikan laut yang tenang, ombak kecil yang memecah menghantam perlahan di bebatuan. Akhirnya setelah berhasil menumbangkan calem Ward, tubuhnya tidak berada dalam posisi siaga lagi. Ethan tidak menyesali keputusannya untuk tidak jadi membunuh, mengalahkan musuh tidak harus hanya dengan cara menc
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: BAB 63 DUEL DI AMBANG KEHANCURANLingkaran api yang berderak di sekeliling mereka memantulkan cahaya jingga ke batang-batang pinus yang menjulang seperti saksi bisu. Udara berbau hangus dan resin terbakar, bercampur dengan kabut tipis yang belum sepenuhnya terangkat oleh matahari pagi.Di tengah arena itu, hanya ada dua orang pria, dua sisa masa lalu yang menolak mati.Calem Ward berdiri terengah, dengan dada yang bergerak naik turun cepat. Matanya merah, bukan karena asap, melainkan karena amarah yang sudah lama membusuk. Di tangannya, pisau taktis berkilat tergenggam erat, bilahnya berkilau karena menangkap pantulan cahaya api yang berkobar di sekelilingnya.Ethan melangkah maju dari balik asap tersebut, dengan gerakan tenang, tidak tergesa, dan jelas tidak ragu sama sekali.Calem langsung mendapati keberadaannya dan segera mendesis. “Kau tahu,” ujar Calem dengan tawa pendek yang patah. “Aku telah membayangkan momen ini berkali-kali. Tapi tidak pernah terpikir kau akan begitu tenang. Benarkah kau tenang, Deighton?
Last Updated: 2026-01-27

Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku
“Aku menceraikanmu!”
Tiga kata yang menghancurkan dunia Sophia dalam sekejap.
Dituduh berselingkuh setelah tertangkap basah tidur dengan pria asing, Sophia kehilangan segalanya—suaminya, kehidupannya, dan harga dirinya. Padahal, dia tak mengingat apa pun tentang malam itu. Hanya kepingan ingatan, rasa pahit di mulut, dan firasat bahwa dia dijebak.
Lucas, pria yang dulu begitu mencintainya, berubah menjadi sosok penuh kebencian. Tak percaya pada setiap air mata dan kata maaf yang Sophia ucapkan. Tanpa menyelidiki lebih jauh, pria itu dengan tega meninggalkan Sophia yang dulu dianggap segalanya.
Bertahun-tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali—tapi kali ini, Lucas dikejutkan oleh kenyataan bahwa Sophia tidak sendiri. Ada dua anak kecil dengan mata yang sangat familiar. Mata yang begitu mirip dengan miliknya...
Kini, kebenaran perlahan terungkap. Namun, apakah cinta yang sudah hancur bisa disatukan kembali? Dan … apakah maaf masih punya tempat, ketika luka lama kembali terbuka?
***
My Instagram: michaella_kim28
Read
Chapter: Bab 23. Enyahlah dari Pikiranku!Keheningan membentang dari dalam mobil. Lucas melajukan mobil dengan kecepatan penuh—dengan aura wajah tampak menunjukkan kemarahan. Tangannya kini mencengkeram kuat stir mobil. Pria tampan itu dikuasai kemarahan di kala melihat adegan intim Sophia dengan Jacob.Shit! Lucas memukul setir mobil, seraya meloloskan umpatan dalam hatinya. Dia tak mengira akan bertemu dengan Sophia bersama dengan Jacob. Apa yang dia lihat tadi, membuat mood dalam dirinya sangat kacau.“Lucas, kenapa kau mengajakku pergi? Kau kan sudah berjanji padaku akan menemaniku di restoran baru yang tadi,” kata Anna kesal pada Lucas.Lucas masih diam. Matanya menerawang lurus ke depan. Pikirannya terus terngiang pada sosok Sophia yang bersandar pada dada Jacob—dalam keadaan seakan membutuhkan Jacob. Reka adegan itu bagaikan kaset kusut yang tak berhenti terputar di benaknya.“Lucas?” desakan Anna memecah lamunannya.Lucas mengedip pelan, menyadari bahwa pertanyaan Anna dia abaikan. “Kau bisa makan siang di tempat lain
Last Updated: 2025-12-17
Chapter: Bab 22. Adegan Intim yang Menyesakkan Hati LucasSophia bangun pagi tidak dengan wajah yang segar. Wanita cantik itu kesal, kenapa tadi malam harus memimpikan Lucas. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, kenapa dia harus kembali memikirkan pria yang harusnya dienyahkan dari pikirannya? Sungguh, dia membenci ini semua.“Sophia, aku ingin mengajak kembar ke taman bermain. Apa hari ini kau sibuk?” Joana masuk ke dalam kamar, menghampiri Sophia.Sophia melamun, tak menyadari kedatangan Joana.“Sophia?” panggil Joana lagi, tepat di depan sahabatnya itu.Sophia langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Ya, Joana?” jawabnya cepat, di kala sudah sadar kehadiran sahabatnya itu.Joana mendesah pelan, lalu duduk di samping Sophia. “Sepertinya ada hal yang membebani pikiranmu. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?”Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa, sembari memejamkan mata lelah. “Tadi malam aku mimpi Lucas. Dan kembar datang ke kamarku saat mereka mendengarku menjerit nama Lucas.”Joana terkejut langsung meraih kedua bahu Sophia. “Wait, ka
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: Bab 21. Hanya Sebuah Mimpi“Apa sekarang kau bahagia, Sophia?”Sophia menoleh pelan ke arah sumber suara berat dari seorang pria. Tampak jelas matanya menyiratkan kehangatan yang nyaris meleleh. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tenang seolah seluruh dunia tak lagi menyakitkan.“Menurutmu?” tanya Sophia, dengan nada tenang. “Aku merasa kau bahagia, tapi kau akan lebih bahagia jika bersamaku,” jawab pria tampan itu sembari menggenggam tangan Sophia. Sophia terdiam merasakan kehangatan sentuhan yang sudah lama sekali dia rindukan. Hatinya luluh. Dia berjalan dengan pria tampan itu menyusuri taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Langit biru tanpa awan menggantung damai di atas kepala mereka. Sinar matahari menyelinap melalui daun-daun, menciptakan permainan cahaya di tanah dan di wajah Sophia. Udara membawa aroma melati dan rerumputan segar. Semuanya sempurna. Bahkan terlalu sempurna.Tangan itu—tangan hangat yang dia kenal betul—menggenggam erat jemarinya. Sang pemilik tangan adalah Lucas. Dia pria yang
Last Updated: 2025-12-13
Chapter: Bab 20. Penuh RahasiaMatahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti garis langit kota New York. Saat sinar pertama menyentuh permukaan kaca gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan mulai berdenyut dengan kehidupan. Udara terasa segar, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di sudut jalan, berpadu dengan wangi manis bunga sakura yang mekar di Central Park.Pelari, mengenakan pakaian berwarna cerah, melintasi jalur setapak, langkah mereka berirama, bergema di tengah kicauan burung yang ceria. Tampak seorang musisi jalanan mengalunkan melodi lembut dengan gitarnya, nada-nada itu melayang di udara seperti bisikan harapan. Pun dari kejauhan, siluet ikonik Patung Liberty berdiri megah, mengingatkan akan ketahanan dan kebebasan.Pagi yang indah di New York, membawa kedamaian jiwa. Sophia duduk di kursi taman bersama dengan Joana. Dia memperhatikan khusus kembar yang bermain dengan anak-anak yang baru dikenal. Ada Amy yang selalu setia menemani kembar.Ya, hari ini
Last Updated: 2025-12-12
Chapter: Bab 19. Tinggal di Apartemen Baru“Ingin minum?” tanya Jacob menawarkan wine pada Sophia, tepat di kala wanita itu sudah selesai berdansa. Meski dia tak menyukai di kala MC mengumumkan pertukaran pasangan saat dansa, tetapi dia harus menghargai acara bibinya itu.Sophia berdeham sebentar, berusaha mengatur emosi dalam dirinya. Dia harus tetap tenang, tak ingin sampai Jacob mengetahui bahwa tadi dia sempat berdebat dengan Lucas. Tidak. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun tahu tentangnya dengan Lucas.“Tidak, Jacob. Aku sedang tidak ingin minum alkohol,” tolak Sophia lembut, pada Jacob.Jacob mengangguk, menanggapi ucapan Sophia.“Hm, Jacob, apa kau keberatan mengantarku kembali ke hotel sekarang? Aku merasa sedang kurang sehat,” ujar Sophia lembut.“Kau sedang kurang sehat? Apa yang kau keluhkan?” Jacob dengan penuh perhatian, menyentuh kening Sophia. Pria tampan itu menunjukkan jelas rasa cemas yang membentang di dalam diri.Sophia tersenyum lembut. “Aku hanya sedikit pusing. Maaf, aku tidak bisa terlalu lama d
Last Updated: 2025-12-10
Chapter: Bab 18. Perlawanan Sophia Carter“Sophia? Kenapa wajahmu kesal seperti itu?” tanya Joana di kala melihat Sophia masuk ke dalam kamar. Dia yang sedang berkutat pada iPad-nya langsung meletakan iPad-nya ke atas meja, dan menatap Sophia dnegan tatapan bingung serta terselimuti rasa penasaran yang membentang.Sophia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth, Joana.”“Kau bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth?” ulang Joana memastikan, dengan raut wajah terkejut.Sophia mengangguk, menanggapi ucapan Joana.Joana terdiam sebentar. “Kau berada di lingkungan kelas atas. Kau berkenalan dengan Margareth Alford yang merupakan designer ternama. Jadi, aku tidak heran kalau kau bertemu dengan ibu Lucas.”Sophia menghela napas dalam. “Ya, menjadi fashion designer adalah impianku. Aku harus menerima segala konsekunsi termasuk kembali bertemu dengan mantan suamiku berseta keluarganya.”Joana menyentuh tangan Sophia. “Tidak banyak yang aku katakan padamu selain kau harus f
Last Updated: 2025-12-09