MasukPagi hari yang membeku, Ethan terbangun bukan dengan rasa hancur seperti dulu, tapi dengan kesadaran dan tujuan baru.
Meskipun hanya bisa terpejam kurang dari satu jam saja, Ethan harus bergegas, seseorang di luar sana telah menunggu dirinya atas permintaan ayahnya. Rasa sakit semalam telah menempa semangatnya untuk tak lagi berdiam diri.
Ia mandi dengan air dingin yang bahkan motel itu tidak bisa panaskan, tapi baginya situasi ini bukan hal baru. Ketika masih di penjara, ia bahkan sering dibiarkan berdiri di lapangan sementara salju turun.
Sambil menggigil, Ethan bergegas memakai pakaian yang bahkan masih setengah basah.
Ia menyempatkan sejenak untuk mengecek laptopnya, kemudian mendengus. “Untung kau masih menyala, kalau tidak, setelah ini kau akan berakhir di tong sampah,” ujarnya sedikit geli, seperti sedang berbicara dengan teman. Setidaknya, benda itu yang saat ini membantunya menemukan harga dirinya.
Setelah yakin tak ada barang yang tertinggal, ia lalu keluar menuju kota.
Ethan masih berjalan kaki, meskipun ada cukup uang untuk naik angkutan umum. Pagi itu, ia sedang bersemangat dengan tujuannya. Pria semalam yang berbicara dengannya, satu-satunya kunci untuk membuka pintu masa depannya, setelah semua keterpurukan.
Namun, Ethan berhenti sejenak. “Tapi bagaimana dan di mana aku bisa bertemu dengan orang itu? Sial, nomor ponselnya juga sudah mati. Tak mungkin dia main-main denganku, kan?”
Meskipun ada sedikit keraguan pada pria semalam, tetapi Ethan percaya pada ayahnya.
“Lagipula dia bilang akan menemukanku, kalau begitu kita lihat saja,” gumamnya, lalu melanjutkan perjalanan.
Sialnya, tiap kali melihat pasangan kekasih yang secara kebetulan berpapasan dengannya, wajah Iris kembali muncul di dalam isi kepalanya. Menandakan besarnya rasa sakit yang ia rasakan, seperti kumpulan bom yang kapan saja bisa meledak dan mungkin akan menghancurkan setiap keping otaknya, jika tidak cepat dijinakkan.
Ethan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Pergilah Iris!” teriaknya dalam hati, seolah berteriak pada bayangan Iris di dalam kepalanya.
Ethan mencoba untuk kembali fokus.
Saat ini, tujuannya adalah memeriksa perusahaan yang masih mencantumkan namanya sebagai pemilik resmi. Seperti yang sudah ia lihat di dalam data drive semalam, Ethan tidak kalah. Ia memang belum punya uang, belum juga punya kekuatan, tapi setidaknya ia punya satu hal yang tak dimiliki oleh Marcus, yakni akses hukum yang belum terhapus.
Setelah berjalan kaki sejauh beberapa blok dari motelnya, Ethan memutuskan untuk berhenti setelah menemukan sebuah tempat santai yang agak sepi. Namun, tempat itu cocok untuknya.
Di sebuah kedai kopi kecil dekat kawasan bisnis Manhattan, Ethan duduk di sudut ruangan sambil mempelajari dokumen digital dari flashdisk. Segelas Americano murah yang panas, cukup untuk menghangatkan lambungnya. Ethan memilih tidak sarapan, itu karena di dalam saku jaketnya hanya tersisa dua lembar uang sepuluh dolar yang lembab. Dan ia harus berhemat.
Ethan mulai sibuk di depan layar laptop tua itu, sementara asap kopi yang tersisa setengah terus mengepul di udara. Kedua mata tajamnya fokus pada layar, di sekitarnya ada beberapa pria berjaket lusuh, tetapi kering dan hangat, duduk masing-masing di kursi mereka. Sama seperti dirinya, menikmati segelas kopi panas murah untuk memulai hari ini.
Satu hal yang berbeda dari Ethan adalah hanya dirinya saja yang datang untuk membuka laptop. Membuat beberapa pria cukup heran melihatnya.
Bahkan ada juga yang sempat bercanda dengan mengatakan, “Hei, anak muda. Sepertinya kau salah tempat sarapan, restoran di ujung jalan lebih cocok untuk orang kantoran.”
“Orang kantoran mana ada yang berpakaian seperti pengemis. Hahaha!” seru seseorang lain, menyindir.
Namun, bibir Ethan terkatup rapat tapi lirikan singkat darinya seolah berkata, “Urus saja urusan kalian sendiri.”
Suara tawa di sekitarnya sama sekali tak dipedulikan. Bagi Ethan, penghinaan sudah makanan sehari-hari baginya.
Ketika masih berada di penjara, dia sudah cukup puas bertarung fisik dengan para pembully.
Belum lagi ketika dirinya kerap dijadikan target nafsu dari gerombolan pria penyuka sesama jenis, tentu saja Ethan tak ingin hanya tinggal diam. Hingga semua pertarungan itu memberikan banyak kekuatan pada fisiknya.
Beberapa menit berlalu, ketika Ethan baru saja menandai perusahaan pertama yang akan ia kunjungi, Deighton & Miles Trading Ltd., seorang pria berjas hitam mendekat, berdiri tanpa memesan minuman. Pria itu tidak memperkenalkan diri, hanya meletakkan kartu identitas elegan di meja. Di kartunya tertulis, “Graham Alder–Chief Legal Advisor, Deighton Group.”
Beberapa pria yang melihat itu kembali berbisik-bisik. “Apa lagi sekarang? Datang orang kaya berpakaian mahal ke kedai kita?”
“Apakah aku tidak salah lihat? Hari ini sebenarnya hari apa?”
“Apakah mereka sedang bermain film?”
Kemunculan Ethan dengan sebuah laptop saja sudah cukup mengusik para pekerja buruh bangunan di dalam kedai itu. Sekarang, muncul lagi satu orang pria dengan setelan Armi.
Saat seseorang dari mereka menengok keluar pintu, ia langsung berteriak, “Astaga, lihat mobil panjang itu!”
Suara berisik penuh kekaguman pun tak terhindar. Namun, sama sekali tak membuat Ethan dan pria bersamanya merasa terusik.
Ethan mendongak, menatap Graham tajam dengan wajah yang sama sekali tak ramah. Ia selalu curiga pada siapapun manusia yang ditemuinya.
Tanpa basa-basi, Graham berkata pelan agar hanya Ethan saja yang dapat mendengar, “Tuan Ethan Deighton, saya menerima perintah dari ayah Anda lima tahun lalu. Beliau berkata, saat Anda bebas, saya harus menjadi orang pertama yang menemui Anda.”
Ethan masih menatapnya, menyadari bahwa pria itu ternyata adalah pria yang semalam berbicara di telepon dengannya. Ia kenal dari suaranya.
“Kau benar-benar menemukanku,” ujar Ethan dengan nada datar. Jujur saja, ia masih tidak percaya, apakah pria itu mengenalnya? Sejauh yang Ethan ingat, wajah itu belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Tentu saja, Tuan. Kekuatan keluarga Deighton bukanlah hal yang bisa dibayangkan oleh orang biasa,” jawab pria itu dengan penuh wibawa, sedikit melirik ke arah kerumunan pria yang terus memuji limusin miliknya.
Kemudian, ia melanjutkan, “Dan saya datang membawa sesuatu, hak penuh Anda yang belum dicabut. Termasuk satu perusahaan yang Tuan Marcus Cross tidak pernah tahu keberadaannya.”
“Bajingan itu,” gumam Ethan. Matanya memerah, rahangnya mengeras, kepalan tangannya mengerat. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menahan gelombang emosi yang naik, hanya dengan mendengar nama Marcus.
Dengan hati-hati Graham meletakkan sebuah amplop besar di hadapan Ethan. Kemudian berkata, “Ini bukan hanya perusahaan yang tersisa, Tuan. Ini adalah senjata yang ayah Anda siapkan untuk menghancurkan Cross Group. Sayangnya, ayah Anda belum sempat membalas kala itu. Sekarang, saya menunggu perintah pertama Anda.”
Ethan membukanya tanpa ragu, segera membaca dengan teliti dan wajahnya langsung berubah.
Langit Amalfi sore itu biru pucat, seperti kanvas yang pudar oleh cahaya. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan bougainvillea liar dari sepanjang pagar Via delle Rocce. Tanpa deru mesin atau ancaman detak jam, hanya tawa anak-anak yang terdengar di udara.“Alex! Jangan lari ke situ, itu pasir basah!”“Ini seru, Mama!”“Kalau kau jatuh—” ucapan Elena terhenti karena seruan putrinya.“Ava juga basah!”Ava tertawa dengan rok berpasir dan rambut acak-acakan. Di dekatnya, Alex terpeleset saat berlari mengitari pot bunga, namun justru tertawa seolah jatuh adalah bagian dari permainan.Lucas bersedekap di teras, tersenyum pasrah. "Mereka seperti badai kecil.""Badai yang kita ciptakan sendiri," balas Elena sambil membawa handuk.Lucas menatapnya, gaun sederhana, rambut terikat asal, tanpa sisa identitas ganda masa lalu. Kini hanya ada seorang ibu dengan binar hangat dan kelelahan yang indah.“Kau kelihatan bahagia.”“Mungkin kau lupa, aku tidak lagi bangun dengan rasa takut.”L
Pagi hari di musim semi yang cerah, Lucas bersandar di ambang pintu ruang kerja, menggendong Ava yang sedang mengunyah mainan karet, dan Alex yang merangkak di lantai, mengejar bola kecil.“Lucas, apa kamu yakin jumlah dana ini tidak terlalu besar?” tanya Elena.Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya melayang di atas trackpad laptop. Layar menampilkan grafik donasi yang terhubung ke beberapa yayasan pendidikan dan panti asuhan di berbagai negara.Lucas tersenyum tipis. “Dulu kita menggerakkan uang untuk menjatuhkan sistem. Sekarang kita menggerakkannya untuk menyelamatkan sistem.”Elena menoleh. “Itu bukan jawaban.”Lucas melangkah mendekat. “Tidak ada yang namanya terlalu besar kalau tujuannya supaya tidak ada anak yang tidur kelaparan.”Elena terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku lupa kita sekarang bisa melakukan sesuatu tanpa harus sembunyi.”Lucas menatap ruang kerja itu. Dulu ruangan ini penuh layar gelap, peta satelit, dan kabel-kabel enkripsi. Seka
Satu tahun bergulir, membawa tawa serta bahagia dalam prosesnya. Tak ada satu hari pun di mana Lucas dan Elena sempat mengeluh. Perkembangan pesat dari kedua buah hati mereka telah mengusir rasa penat yang sulit singgah lama.Pagi itu, Lucas sedang berperan menjadi tukang kayu. Sementara istrinya, setia menjadi juri untuk menilai hasil karyanya.“Lucas, jangan bilang kau salah pasang lagi.”Elena berdiri di ambang pintu taman, tangan kirinya memegang loyang kue vanila, dan tangan kanannya menunjuk ke arah suaminya yang sedang berjongkok di tengah rumput, dikelilingi oleh potongan kayu, baut kecil, dan sebuah kursi kuda-kudaan setengah jadi.Hari ini, mereka mengadakan perayaan satu tahun usia Alex dan Ava.Lucas menoleh padanya dengan wajah serius. “Aku tidak salah pasang. Aku hanya merakit dengan pendekatan alternatif,” ia mengelak.Elena menaikan alisnya. “Pendekatan alternatif itu maksudnya kepalanya terbalik?”Lucas pun menatap mainan itu, lalu menatap Elena dengan tampang polosny
Waktu berlalu dengan cepat di Via delle Rocce. Kini, si kembar yang diberi nama Alex dan Ava sudah mulai belajar merangkak dan mengeksplorasi setiap sudut rumah yang telah dilapisi karpet tebal oleh sang ayah, Lucas.Di ruang tamu, Elena mengedarkan pandangannya yang tertuju pada seluruh lantai. Melihat semua hasil karya suaminya itu, ia menghela napas pasrah.“Lucas, kalau kau memasang satu karpet lagi, rumah ini akan berubah menjadi lapangan senam bayi,” katanya setengah menggoda. Di hadapannya, Alex sedang merangkak dengan kecepatan mencurigakan, sementara Ava mencoba menirunya tapi malah terguling pelan ke samping, lalu tertawa sendiri. Begitu menggemaskan, membuat hari-hari Elena terasa hangat.Lucas sedang berlutut di lantai, masih saja sibuk menempelkan satu karpet tambahan di dekat rak buku. “Kau terlambat, sayang. Lantai ini keras, kalau mereka jatuh—”“Mereka jatuh dari ketinggian sepuluh sentimeter, Ayah,” potong Elena gemas.Lucas menoleh sambil memasang wajah serius. “Se
Dua hari pasca kelahiran dari dua cahaya kehidupan bagi Lucas dan Elena, Via delle Rocce kini sepenuh berbeda.Dua bayi mungil itu mengubah ritme yang dijalani oleh kedua orang tuanya menjadi lebih ramai dan penuh warna. Kadang tawa, kadang harus berbisik, bukan karena waspada, melainkan suara bising sedikit saja bisa menyebabkan tangisan kencang.Kesibukan keduanya pun melebihi saat berada dalam misi masa lalu, bahkan Lucas harus bekerja dengan sentuhan ekstra lembut sekaligus cekatan dalam waktu yang bersamaan. Hanya karena takut sentuhan tangan besarnya itu dapat menyakiti kulit bayi-bayinya yang masih sangat rentan.“Lucas, yang ini sudah sendawa belum?” tanya Elena.Suaranya terdengar dari arah sofa, pelan tapi mengandung nada waspada khas ibu baru. Ia belum pulih sepenuhnya, namun bersikeras ingin mengurus anak-anaknya. Tetap saja, aturan ketat dari Lucas tidak boleh dilanggar.Di lengan Elena, bayi perempuan mereka terlelap damai, wajahnya merah muda, lebih mirip Lucas versi ga
Lucas mengemudikan mobilnya dengan penuh perhitungan, fokusnya seperti sedang dikejar oleh prajurit bayaran.“Lucas, jangan mengebut, tapi jangan pelan juga.”Suara Elena terdengar terputus-putus, bercampur antara tawa gugup dan napas yang sudah tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman, sementara satu tangan lain menggenggam lengan Lucas seolah itu satu-satunya jangkar di dunia.Lucas melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan berkelok yang turun dari Amalfi menuju Napoli. Lampu-lampu kota masih tampak jauh dari mereka, tapi laut gelap di sebelah kanan seperti bayangan yang terus mengikuti mereka.“Aku akan membawa kita secepat mungkin tanpa membuatmu pingsan,” katanya, suaranya tenang tapi rahangnya mengeras. “Tarik napasmu, kau harus tenang. Ikuti aku.”Elena mengangguk, meski wajahnya pucat. “Aku benci bagian ini, Lucas.”“Kau tidak sendirian di bagian mana pun,” jawab Lucas cepat. “Dengarkan napasku.”Ia menarik napas dalam-dalam, sengaja membuatnya terdengar. Elen







