Beranda / Romansa / Benih Cinta Dalam Ruang Direktur / Bab 9: Cemburu yang membakar Senja

Share

Bab 9: Cemburu yang membakar Senja

Penulis: Lavenhaze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-11 08:56:41

Langit Petang yang berwarna oranye itu kini berubah menjadi warna ungu dibubuhi sedikit warna gelap, ada sedikit bintang yang bertabur di langit. Aneya memperhatikan pemandangan itu dengan seksama, tampaknya ada sedikit hal indah sebagai penutup hari yang buruk untuknya.

Aneya berada di area parkir. Kendaraan yang tersisa hanya mobil milik Ravin dan beberapa kendaraan lain milik petugas keamanan yang tetap tinggal untuk berjaga semalaman penuh.

“Apakah jemputanmu sudah di perjalanan?” tanya Ravin.

“Iya, Pak. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” sahut Aneya.

Ravin tidak beranjak jauh sama sekali dari Aneya. Pria itu bersandar pada pintu mobil, sembari Aneya berdiri dengan sedikit segan di sampingnya.

“Apakah tidak masalah jika saya menemani anda disini seraya menunggu jemputan anda tiba?” tanya Ravin canggung.

“Tidak apa-apa, Pak. Justru saya sangat menghargai itu,” balas Aneya tersenyum.

“Bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk waktu yang sebentar saja, tidak jauh dari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 9: Cemburu yang membakar Senja

    Langit Petang yang berwarna oranye itu kini berubah menjadi warna ungu dibubuhi sedikit warna gelap, ada sedikit bintang yang bertabur di langit. Aneya memperhatikan pemandangan itu dengan seksama, tampaknya ada sedikit hal indah sebagai penutup hari yang buruk untuknya. Aneya berada di area parkir. Kendaraan yang tersisa hanya mobil milik Ravin dan beberapa kendaraan lain milik petugas keamanan yang tetap tinggal untuk berjaga semalaman penuh. “Apakah jemputanmu sudah di perjalanan?” tanya Ravin. “Iya, Pak. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” sahut Aneya. Ravin tidak beranjak jauh sama sekali dari Aneya. Pria itu bersandar pada pintu mobil, sembari Aneya berdiri dengan sedikit segan di sampingnya. “Apakah tidak masalah jika saya menemani anda disini seraya menunggu jemputan anda tiba?” tanya Ravin canggung. “Tidak apa-apa, Pak. Justru saya sangat menghargai itu,” balas Aneya tersenyum. “Bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk waktu yang sebentar saja, tidak jauh dari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 8: Di Persimpangan Pulang

    “Oh iya, baik, silahkan,” ujar Ravin. Aneya berlalu dari meja kerjanya, meninggalkan Ravin yang masih berada di tempat. Wanita itu mengambil sedikit ruang yang agak berjarak dari Ravin. “Halo, kau dari mana saja?” tanya Aneya dengan nada yang sedikit berbisik. Aneya sudah menunggu akan momen ini seharian penuh. Ia sedikit tersenyum dan merasa tenang sesaat mendengar suara Arya dari balik benda pipih itu. Ravin menangkap ekspresi Aneya yang tersenyum penuh harap. Pria itu merasa tenang melihat senyum yang sederhana itu daripada melihat raut wajah kerucut yang terpahat di wajah Aneya. “Hey, maaf, aku tadi tidak ada waktu untuk memeriksa ponsel ketika aku sudah bangun,” jawab Arya santai dari seberang sana, “aku bahkan lupa menaruh ponselku dimana setelah aku kembali tertidur,” Aneya tercekat sesaat. Jawaban yang diberikan Arya sangat tidak bisa dicerna oleh pikirannya, seperti ia mencoba menentang hal itu. “Kau serius? Tidak ada waktu atau memang sengaja mengabaikanku hari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7: Sisa Waktu yang Tersandera

    Perhatian Aneya pada pekerjaannya akhirnya kalah pada sebuah pertanyaan yang diberikan oleh Ravin. Deru napasnya yang keluar begitu berat seolah mengeluarkan sedikit rasa tertekan yang ada pada dalam dirinya. “Apakah hal itu terlalu penting untuk …” ujar Aneya terpotong, tampaknya ia hampir meluapkan emosinya kepada Ravin. “Pacarmu?” sela Ravin tenang. Aneya sempat terhentak sesaat. Namun, ia memastikan agar tidak ada perubahan yang terjadi dari gerakan tubuh serta ekspresi wajahnya. Aneya kembali melandaskan tangannya pada berkas, mengambil salah satu dan memeriksanya, sementara tangan yang lain bermain di atas papan ketik. “Tanpa mengurangi rasa hormat. Saya mohon kepada anda untuk tinggalkan saya dan jangan mengganggu untuk beberapa jam kedepan, Pak,” pinta Aneya datar “anda ingin semua ini agar cepat selesai ‘kan?” “Iya benar, maaf sudah menyita waktu anda terlalu banyak,” ujar Ravin. Ravin memundurkan badannya, lagi-lagi ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6: Ketika Jeda Itu Mengundang

    Aneya kembali berkutat dengan pekerjaannya bersama berkas-berkas yang menggunung. Ia menghela napasnya, hari pertama yang cukup berat dan menantang, ia beberapa kali meloloskan keluh kesahnya. “Rasanya kepalaku mau pecah,” ujar Aneya seraya berdecak ringan. Fokus matanya masih terpaut pada monitor komputer di hadapannya. Bahkan monitor komputer yang ia pakai memiliki layar yang lebih jernih daripada monitor layar laptopnya. “Apakah seperti ini juga nasib para sekretaris sepertiku di luar sana?” tanya Aneya pada dirinya sendiri. “Orang-orang yang menjadi sekretaris di perusahaan besar benar-benar orang yang sangat kuat. Baru setengah hari tapi berbagai macam gerutu sudah keluar dari mulutku,” lanjut Aneya. Ia sudah mencoba meredam pikirannya yang sempat mengkhawatirkan Arya beberapa saat yang lalu. Kembali Aneya memeriksa ponselnya, ia memantapkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Arya. Ia tidak bisa menahan pikiran obsesifnya yang mengganggu disela-sela bekerja.

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 5

    Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya. Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun, keberadaan pria itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Aneya masih dapat mendengar bisikan suaranya sendiri yang sempat lolos tanpa ia sadari. Sebuah gumaman lirih, nyaris seperti nada yang baru saja diputar lalu terhenti mendadak. Kesadaran akan hal itu membuat rasa malu menjalar cepat, terlebih ketika balasan Ravin datang dengan nada santai yang terasa menyentil. “Saya tidak bicara apapun sama sekali,” sanggah Aneya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Oh, kalau begitu mungkin pendengaran saya yang bermasalah,” timpal Ravin.Senyum tipis terbit di wajah pria itu. Singkat dan cepat, cukup untuk membuat Aneya kehilangan kata-kata. Aneya men

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “Sejam kedepan aku sudah harus berada di tempat kerjaku,” gumam Aneya. Aneya masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia benar-benar diterima bekerja. Ia benar-benar memulai sesuatu yang baru, hal yang selalu ia impikan sedari dulu. Aneya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tangannya meraih setelan yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Aneya mengamati pantulannya yang berada di cermin. Tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sederhana. “Sempurna!” celetuk Aneya seraya tersenyum lebar. Senyum itu bertahan bahkan ketika ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik di hari pertama bekerja. Aneya sarapan seadanya deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status