Share

Bab 20

Author: Lavenhaze
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-01 13:20:13

“Lepaskan,” perintah suara itu lagi.

“Kau tidak punya hak menyuruhku. Akan ku buat jalang simpananmu ini menderita!” gertak Arya.

Kalimat itu jatuh seperti benda tumpul yang menghantam telinga Aneya. Nafasnya tercekat.

Sebelum sempat memahami sepenuhnya makna kata-kata itu, tarikan di rambutnya semakin kuat, memaksa kepalanya sedikit terangkat. Kulit kepalanya terasa perih, matanya berkunang.

Aneya mendengar suara bogeman yang cukup kuat. Cengkeraman tangan Arya di rambutnya terlepas tiba-tiba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 198

    Ravin menghela napas, perlahan Aneya melepaskan pelukannya. Ia sempat mengangkat wajah, memperhatikan pergerakan yang dilakukan pria tersebut, tetapi Ravin justru beralih ke sisi mobil dan membukakan pintu untuknya. Aneya terdiam sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke kursi penumpang. “Ayo, pulang. Kita berdua sudah terlalu lelah untuk hari ini,” ujar Ravin dengan nada yang lembut. “Dia benar, aku saja yang terlalu berlebihan … sepertinya,” batin Aneya sembari menyeret kakinya pelan. Pintu mobil tertutup dengan bunyi dentuman pelan. Aneya tetap diam di kursi penumpang, pandangannya terpaku pada halaman luas di balik kaca depan. Jemarinya terkulai di pangkuan, tak bergerak meski beberapa detik berlalu. Tak lama kemudian, pintu di sisi pengemudi terbuka dan tertutup kembali. Ravin memutar kunci kontak, disusul deru mesin yang memenuhi kabin. Namun, Aneya masih belum mengalihkan pandangannya. Sepanjang perjalanan, Aneya hanya menatap jalanan dari balik kaca jendela. Tak sepatah

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 197

    “Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 196

    “Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 195

    Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 194

    “Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 121

    “Sayangnya tidak, aku serius atas apa yang kukatakan. Jika dia tidak bisa berkomitmen, maka biarkan aku menjadi lelaki pertama yang membuktikan padamu akan hal tersebut,” jawab Ravin dengan tegas dan terdengar serius. Aneya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Nada pria itu bergema tidak main-mai

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 110

    Aneya terdiam beberapa detik di tempat. Jemarinya langsung bergerak di atas layar ponsel, sibuk membalas pesan dari Ravin tanpa benar-benar memedulikan sekitar. Fokusnya tertahan penuh pada percakapan itu, sementara Arya dibiarkan berdiri beberapa langkah darinya, seolah Aneya sengaja menciptakan j

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 107

    “Aku sangat perlu dan akan mendiskusikan hal itu bersama Arya,” jawab Aneya dengan jujur. “Kalian akan bertemu besok?” tanya Ibu Aneya dengan penasaran. “Iya, kebetulan kami sudah membuat jadwal temu dari hari-hari sebelumnya,” jawab Aneya tanpa mengalihkan perhatian dari benda di hadapannya.

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 105

    Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status