Share

Bab 20

Author: Lavenhaze
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-01 13:20:13

“Lepaskan,” perintah suara itu lagi.

“Kau tidak punya hak menyuruhku. Akan ku buat jalang simpananmu ini menderita!” gertak Arya.

Kalimat itu jatuh seperti benda tumpul yang menghantam telinga Aneya. Nafasnya tercekat.

Sebelum sempat memahami sepenuhnya makna kata-kata itu, tarikan di rambutnya semakin kuat, memaksa kepalanya sedikit terangkat. Kulit kepalanya terasa perih, matanya berkunang.

Aneya mendengar suara bogeman yang cukup kuat. Cengkeraman tangan Arya di rambutnya terlepas tiba-tiba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 191

    “Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 190

    “Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 189

    “Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 188

    Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 187

    Aneya memperhatikan wajah Ravin memerah, dengan seringai yang tampak bahagia. Ravin mengangguk pelan tanda mengindahkan pertanyaan darinya. “Verifikasinya berhasil,” ucap Ravin tersipu. Tawa ringan dari Aneya ikut mengisi suasana hangat. Sesaat kemudian, ia menopang wajahnya dengan telapak tangan dan siku yang bersandar pada sofa, ia menatap Ravin dengan saksama. “Sekarang apa yang harus kuperbuat?” tanya Aneya sambil menghela napas. “Apakah kau bosan?” tanya Ravin mengunci pandangannya. “Sejujurnya … iya, aku bosan, berikan aku kesibukan, rasanya gaji yang baru kuterima tadi terasa seperti gaji buta untuk hari ini,” jawab Aneya berterus terang. “Sudah kubilang, hari ini kau tidak perlu mengerjakan apapun, bersantailah sesaat denganku,” sahut Ravin dengan nada tenang. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mengembuskan napas kasar, posisinya kini berubah menjadi bersandar pada sofa. Namun, ia tahu sorot mata pria tersebut belum beranjak dari dirinya. Ia kemudian memperhat

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 186

    Benda kecil berwarna silver itu terayun di hadapan Aneya, terjepit di antara ibu jari dan telunjuk Ravin. Tatapannya langsung jatuh pada benda tersebut. Sesaat ia hanya berkedip, sebelum ingatannya kembali pada langkahnya yang terburu-buru meninggalkan area parkiran. Tanpa sempat memedulikan pertanyaan Ravin yang belum selesai, Aneya segera mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun, baru saja ujung jarinya hampir menyentuh benda itu, Ravin lebih dulu menarik tangannya ke belakang. Hal tersebut membuat Aneya memutar badannya, kini posisinya dan Ravin begitu dekat. Bahkan lebih dekat daripada jarak yang mereka ciptakan saat di parkiran tadi. “Hei! Berikan padaku!” seru Aneya kesal. “Aku akan memberikannya padamu jika kau melakukan satu hal,” kata Ravin penuh akan maksud yang terdengar menggoda. Aneya berdecak kasar. “Jangan lagi.” Ravin melangkah mendekat, membuat Aneya spontan mundur setapak. Namun, belum sempat ia memberi jarak lebih jauh, punggungnya lebih dulu menyentuh perm

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 105

    Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 81

    “Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status