Share

Bab 35

Author: Lavenhaze
last update Last Updated: 2026-02-14 08:28:02

Beberapa kali Aneya memeriksa notifikasi ponselnya dan tidak ada satu pun pesan atau panggilan yang masuk. Layar itu tetap sunyi.

Jauh di dalam sana, ia seolah ingin mendapat sebuah pertanda, apa saja, sebagai jawaban atas kabar dari Ravin. Satu pesan singkat atau panggilan tak terjawab. Bahkan sekadar tanda ia sedang mengetik. Namun, tidak ada.

Aneya memegang tasnya dengan erat. Ia keluar dari kantor dengan langkah yang sederhana, tidak tergesa, seakan-akan hari ini sama seperti hari-hari lain
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 61

    Aneya hampir kesiangan jika tidak dibangunkan oleh suara klakson mobil milik tetangganya. Bunyi itu terdengar beberapa kali dari luar jendela kamarnya.Ia membuka mata dengan malas, lalu memutar tubuh sedikit di atas kasur. Pandangannya yang masih buram secara refleks mencari jam dinding.“Astaga,” gumam Aneya dengan mata membelalak.Ia menepuk jidatnya. Aneya hampir melompat dari tempat tidur dan nyaris jatuh ke lantai ketika ia berjalan tergesa menuju kamar mandi.“Sial, aku akan terlambat,” umpat Aneya sepanjang langkahnya.Ia bahkan tidak ingat kapan alarmnya berbunyi. Pikirannya langsung kembali ke malam sebelumnya. Percakapan di kantor dan di dalam mobil dengan suara milik Ravin yang terlalu tenang ketika membahas tentang Arya dan nama itu yang kembali mengganggu pikirannya. Aneya menggeleng cepat mengusir ingatan itu.“Sekarang bukan waktunya memikirkan hal tersebut,” batin Aneya kesal.Ia bergegas masuk ke kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya beberapa menit kemudian, mem

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 60

    Aneya menatap Ravin sederhana. Badannya yang sudah setengah condong ke depan kembali bersandar pada kursi penumpang. Ravin kemudian melepaskan cengkraman ringan yang melilit di pergelangannya sesaat.“Cepatlah, katakan jika ada yang ingin kau sampaikan,” ujar Aneya sambil menyilangkan tangan di dada.Tatapan Ravin masih tertuju padanya, ekspresi pria itu sulit dibaca. Ada helaan napas pelan sebelum Ravin kembali membuka suara.“Jika orang dari masa lalumu kembali…” ujar Ravin berhenti sejenak.Aneya mengernyitkan satu alisnya. Namun, Ravin memalingkan wajah, seolah tidak ingin menatapnya terlalu dalam.“Pastikan kau tidak mengacaukan apa yang sedang kita bangun,” lanjut Ravin sambil meremas kemudi.Aneya terdiam. Beberapa detik kemudian ia kembali menghela napas, ia memberanikan diri memegang pergelangan tangan kiri Ravin.Sorot mata pria itu sedikit terkejut melihat tindakan yang dilakukan Aneya. Namun, tidak ada teguran yang dilayangkan Ravin padanya.“Ravin, aku tidak tahu apa yang

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 59

    Aneya menelan ludahnya. Tenggorokannya serasa tercekat, untuk pertama kalinya ia mendengar suara pria itu sedikit berbeda, bukan seperti nada yang tegas pada umumnya.“Maksudku…” kata Aneya terpotong sambil menatapnya.“Tidak apa, Aneya,” sela Ravin, “kau benar akan hal itu,”Raut wajah pria itu terlihat sayu. Aneya hanya bisa bergeming sembari mengulum bibirnya ke dalam, ia kembali terjebak di posisi yang membuat dirinya kesulitan untuk mengambil tindakan selanjutnya.Pria itu kemudian mundur beberapa langkah darinya. Namun, masih dalam jarak yang aman, hanya saja rasa canggung itu kini mengisi jeda yang tercipta.“Jika memang bukan urusanku, kau tidak perlu menjelaskan,” kata Ravin dengan nada tenang.Aneya menangkap nada pria itu seperti dipaksa untuk menerima keputusan. Kepasrahan itu membuat degup jantungnya berpacu dengan cepat, ia merasa sangat bersalah.“Ravin, aku sama sekali tidak bermaksud…” ujar Aneya terpotong sambil mendekati Ravin.“Lalu apa maksudmu?” tandas Ravin kemu

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 58

    “Aku tahu itu hanya alasanmu saja,” jawab Ravin diikuti dengan gelengan kecil.“Alasanku?!” kata Aneya dengan nada sedikit naik.Netra milik Ravin menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aneya belum bisa memutuskan tautan pandangan itu begitu saja, atmosfer berubah menjadi sedikit serius di antara mereka.“Kau tidak pernah terlihat seperti seseorang yang menerima telepon salah sambung,” ujar Ravin terdengar sangat kritis.Pada akhirnya, Aneya berhasil memalingkan wajahnya. Menelan ludah pun terasa berat baginya untuk di momen yang sedang berlangsung.“Kau terlalu banyak berasumsi, Ravin,” alibi Aneya sambil menghela napas.Aneya masih tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tidak goyah.“Itu karena kau tidak menjelaskannya,” timpal Ravin tidak mau kalah.Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Helaan napas pelan pria itu menggema di telinganya.“Aku memang tidak memaksamu untuk bercerita,” kata Ravin, “tapi aku tahu kau tipikal orang seperti apa,”Aneya menggigit bagian dalam pip

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 57

    Aneya diam seribu bahasa. Ravin meninggalkannya yang masih mematung, pria itu kembali ke mejanya dengan ekspresi tampak kesal.Ia merasa sudah membuat kesalahan kecil. Bahkan Aneya tidak tahu harus memulai dari mana.“Duduk, ini tidak lama,” pinta Ravin dengan nada Rendah.Langkah kaki Aneya mengayun pelan menuju sofa. Ia membiarkan pria tersebut berkutat dengan pekerjaannya.Sementara itu, Aneya mengambil posisi duduk yang tepat. Tidak terlalu tegang dan tidak bisa juga disebut terlalu santai, ia menunggu Ravin menyelesaikan semuanya walaupun ia sudah tidak sabar ingin berlalu dari gedung ini.“Apakah menunggumu dihitung sebagai lembur?” tanya Aneya sedikit bergurau.“Anggap saja begitu,” jawab Ravin sederhana, tidak beralih dari monitor.Aneya menghela napas. Candaan yang ia lontarkan tidak berada di waktu yang tepat. Ia sendiri merasa aneh atas kalimat yang keluar dari mulutnya.Beberapa menit berlalu. Dari ekor matanya, Ravin mulai berdiri dari kursi, gerakkannya berubah menjadi s

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 56

    Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Aneya, nyaris seperti desahan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, layar monitor masih menyala di depannya. Namun, matanya tidak benar-benar membaca apa yang ditampilkan di sana.Pikirannya berjalan ke tempat lain. Ke satu nama yang baru saja kembali muncul setelah sekian lama. Arya.“Apa sebenarnya yang ia inginkan? Dan apa yang sebenarnya juga aku inginkan?” tanya Aneya pada dirinya dengan nada frustasi.Aneya menatap ponselnya yang tergeletak di bawah layar monitor. Tidak ada notifikasi baru. Layar itu tetap gelap, tetapi pikirannya masih dipenuhi percakapan singkat tadi.“Dia merindukanku? Untuk apa?” gerutu Aneya sembari memanyunkan bibirnya.Ia kemudian menghela napas panjang dan menutup dokumen. Tidak ada gunanya memaksakan diri bekerja jika pikirannya terus berputar di tempat yang sama.Tanpa sadar, pikirannya beralih ke Ravin. Tatapan pria itu begitu tenang tadinya, tetapi terlalu memperhatikan.“Iya, Ravin, aku memang menyembunyik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status