Share

Bab 79

Penulis: Lavenhaze
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 21:25:43

Di saat semua orang tengah sibuk dengan hiruk pikuknya dunia, Aneya masih terbaring di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka mata, memindai sekitar.

“Apa aku terlambat lagi hari ini?” tanya Aneya dalam hati.

Ia tidak langsung bergegas, Aneya menarik selimut yang berada di ujung tempat tidur untuk membalut dirinya. Tidak ada kesiapan untuk menjalani hari, bahkan untuk sekadar mencuci muka.

“Cuti satu hari tidak akan membuat perusahaan itu bangkrut,” gumam Aneya sambil menutup matanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 192

    “Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 191

    “Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 190

    “Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 189

    “Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 188

    Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7

    “Iya, Pak,” jawab Aneya mantap. Mereka masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara. Pintu lift menutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung, tetapi tidak sepenuhnya tidak nyaman. Aneya menatap angka lantai yang bergerak turun. Ia menyadari betapa sunyinya lift itu, hanya diisi suara de

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6

    Pesan dari kontak yang sama kembali muncul di ponsel milik Aneya. Tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Layar ponselnya yang terang itu memantulkan cahaya ke wajahnya yang sedikit lelah. Aneya membaca pesan itu pelan. Memastikan ia tidak salah menangkap ma

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 5

    Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya. Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun,

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status