LOGINKetegangan di ruangan itu terasa mencekam saat dua pasang mata saling bertatapan. Elara berdiri diam di dekat pintu, tubuhnya membeku seakan bumi tak lagi berputar. Pandangannya tak lepas dari Axel, pria yang pernah ia cintai sepenuh hati—dan mungkin masih ia cintai—dengan semua ingatan dan rasa sakit yang tersisa. Namun, kini, di hadapannya ada seorang wanita lain, seorang yang lebih cantik, kaya, dan terlihat bahagia, memeluk Axel tanpa ragu. Hati Elara remuk saat melihat wanita itu mencium bibir Axel, seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan.
Seiring waktu berjalan, hidup Elara selama dua tahun ini telah menghancurkan fisik dan mentalnya. Ia berjuang sendirian, merawat anaknya dengan penuh pengorbanan, sementara Axel tampaknya telah menjalani kehidupan yang jauh berbeda—hidup yang lebih baik, lebih sempurna, tanpa ada beban atau rasa tanggung jawab terhadapnya. Elara terjebak di antara perasaan cinta yang masih tersisa dan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Wanita itu, jelas berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dari dunia Elara yang keras dan penuh derita.
Axel tampak terguncang sesaat, tetapi ia segera menguasai diri. Dengan suara tegas, ia berkata, "Lepaskan, Ana. Kita sedang di kantor." Nada suaranya tidak bisa dibantah, meski ada kelelahan yang tersirat di matanya. Ana, bagaimanapun, tidak melepaskan pelukan. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Axel, senyum manja masih terpampang di wajahnya.
"Kok kamu gak jemput aku sih? Aku nungguin kamu biar kita bisa sama-sama ke kantor.” Sesekali Axel melirik ke arah Elara, melihat bagaimana reaksi gadis itu melihat dirinya bersama gadis lain.
“Dari bandara aku langsung ke kantor karena kantor pasti sedang sangat sibuk. Jika tidak ada hal lain, kau bisa pulang, Ana.”
“Iya deh, iya, Tuan Sok Sibuk. Aku cuma mau kasih tahu," katanya dengan suara ceria, “nanti malam ke apartemenku ya, aku sudah siapin pesta penyambutan untukmu, tunanganku." Setelah mengatakan itu, Ana mencium pipi Axel dengan gemas, seolah Axel adalah miliknya dan tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu. Tatapan Elara semakin gelap, tetapi ia mencoba menahan diri, menjaga emosinya tetap terkendali.
Setelah mencium Axel sekali lagi, Ana melangkah ke pintu. Ketika melewati Elara, wanita itu tersenyum ramah, seolah semuanya baik-baik saja.
“Kamu sekretaris barunya Axel ya? Aku titip ya? Jangan digoda, dia tunangan aku,” ujar Ana dengan nada ceria yang nyaris menyakitkan telinga Elara.
Sebelum Elara bisa menahan dirinya, kata-kata yang jujur dan penuh luka keluar dari mulutnya. "Maaf, Nona. Saya tidak mungkin melakukannya. Saya jelas tidak pantas," jawab Elara dengan suara sedikit gemetar dan hatinya terluka dalam.
Ana tampak terkejut sesaat, tetapi senyum ramahnya tidak memudar. "Aku hanya bercanda. Aku cuma mau bilang, dia sedikit galak, jadi kamu harus banyak bersabar menghadapinya." Pesan Ana dengan suara seperti berbisik tapi masih bisa Axel dengar dengan jelas.
Ana melambaikan tangannya sebelum pergi, meninggalkan Elara yang merasa semakin terperosok dalam luka dan kesepian. Axel, yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, tampak terkejut, matanya melebar. Kalimat Elara tentang memiliki anak menusuknya dalam-dalam. Axel terdiam, kecewa dan bingung.
Setelah Ana pergi, Axel memecah kesunyian dengan suara dingin yang hampir tidak berperasaan, "Duduk," katanya singkat.
Elara, yang masih terhuyung dalam perasaannya, berjalan dengan langkah kaku ke meja Axel dan duduk di kursi di hadapannya. Axel mencoba menyembunyikan perasaannya dengan mengambil map lamaran kerja Elara. Ia pura-pura membaca berkas-berkas itu, meskipun pikirannya masih berputar tentang kenyataan bahwa Elara nampak baik-baik saja tanpa dirinya.
Tatapannya melirik ke arah foto Elara yang terpampang di berkas itu. Wajah itu masih sama seperti yang ia ingat, tetapi ada ketegaran dan kelelahan yang tampak jelas. Axel merasa marah—bukan hanya kepada Elara, tapi juga kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa Elara bisa hidup dengan baik tanpa kehadirannya? Perasaan rindunya yang begitu besar bertabrakan dengan kemarahan yang ia rasakan saat ini.
Axel mengembuskan napas panjang, lalu tanpa berpikir panjang, ia bertanya dengan nada dingin, "Bagaimana kabarmu, El?"
Elara tidak langsung menjawab, matanya tajam menatap Axel. Tatapannya dingin, tidak ada sedikit pun kelembutan yang tersisa. Dengan tegas, ia berkata, "Bapak bisa menanyakan hal yang jauh lebih penting dari sekadar kabar saya."
Axel terdiam. Elara benar. Ini kantor, dan mereka harus bersikap profesional. Pertemuan yang tiba-tiba ini membuat Axel merasa terombang-ambing, tanpa persiapan mental yang memadai untuk menghadapi kenyataan bahwa Elara sudah menikah dan memiliki anak. Perasaannya bercampur aduk—rindu, marah, kecewa—semua meluap dalam dirinya.
Dalam usahanya untuk mengendalikan diri, Axel akhirnya memutuskan untuk memfokuskan diri pada pekerjaan. "Baiklah," katanya dengan suara datar. "Rapikan berkas-berkas di meja ini. Pisahkan berdasarkan jenis dan tanggalnya. Itu yang paling mendesak. Setelah selesai, beritahu saya."
Elara hanya mengangguk, menyembunyikan perasaannya yang bercampur aduk. Bahkan ia sampai lupa untuk tidak menerima posisi ini. Axel segera berdiri dan keluar dari ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ruangan itu kembali sunyi, meninggalkan Elara sendirian di dalam.
Saat Axel menutup pintu di belakangnya, ia merasa dadanya sesak. Ia sadar, pertemuan ini terlalu tiba-tiba, terlalu banyak hal yang belum terselesaikan di antara mereka. Namun, kini, dia harus menghadapi kenyataan bahwa Elara bukan lagi gadis yang ia tinggalkan dua tahun lalu. Perasaannya yang berantakan bercampur dengan tanggung jawab yang menuntut untuk segera ia selesaikan.
***
Axel kembali ke ruangannya mendekati jam pulang. Ruangan itu terlihat jauh lebih rapi daripada saat ia meninggalkannya. Berkas-berkas yang tadinya berserakan kini tertata dengan baik, bahkan barang-barang baru yang belum sempat ia sentuh juga sudah diorganisir dengan rapi. Axel tak bisa menahan kekagumannya. Elara benar-benar gadis yang sempurna, persis seperti yang ia bayangkan dulu—tekun, terampil, dan penuh perhatian. Namun, di balik kekaguman itu, ada rasa perih yang menggores hatinya.
Mata mereka kembali bertemu. Sejenak, keheningan dan kecanggungan menyelimuti ruangan. Axel ingin berbicara lebih banyak, ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Elara selama ini, tapi kata-katanya terasa tertahan. Ia akhirnya hanya berkata dengan tenang, "Sebentar lagi jam pulang. Kamu bisa bersiap-siap."
Elara mengangguk singkat. Axel, dengan sedikit canggung, bertanya, "Apa kamu butuh tumpangan?"
Namun, respon Elara membuat dadanya mencelos. "Tidak perlu. Bapak sudah ditunggu tunangan Bapak," jawabnya dengan nada dingin, penuh kepahitan yang terpendam. Axel tak tahu harus merespon bagaimana. Ia merasa jarak di antara mereka semakin lebar dan tak terjembatani. Elara kemudian keluar dari ruangan, meninggalkan Axel dengan kebisuan yang menghancurkan.
Tak puas hanya dengan kata-kata Elara, Axel memutuskan untuk mengikuti gadis itu dari kejauhan. Ada rasa ingin tahu yang tak bisa ia abaikan—bagaimana Elara pulang? Dengan siapa? Apa hidupnya bahagia sekarang?
Elara berdiri di pinggir jalan, menunggu kendaraan hampir setengah jam. Setiap bus yang lewat penuh sesak dengan penumpang yang pulang kerja, sementara taksi yang berhenti satu per satu di depannya berkali-kali ia tolak. Biayanya terlalu mahal untuk seorang ibu tunggal yang sedang berjuang. Ia lebih memilih bus meskipun tahu, pada jam sibuk seperti ini, hampir tidak mungkin mendapatkan kursi kosong. Tubuhnya mulai lelah, tapi Elara tetap menunggu dengan sabar.
Dari dalam mobil yang berhenti tidak jauh, Axel memperhatikan gerak-gerik Elara dengan khawatir. Melihat gadis itu berdiri terlalu lama, Axel akhirnya tidak tahan lagi. Ia menghentikan mobilnya lebih dekat dan membuka kaca jendela, wajahnya memperlihatkan jelas ketidaksabaran. "Masuk, Elara. Jangan membantah," ucapnya dengan nada tegas, yang tak bisa ditolak.
Elara menoleh perlahan, menatap Axel dengan ekspresi tenang meski kelelahan tergambar jelas di matanya. "Terima kasih, Pak Axel," katanya dengan suara halus, tetapi tegas. "Saya lebih baik menunggu bus."
Axel mendesah panjang, ketidaksenangan menguasai wajahnya. Sebelum ia sempat merespons, sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Elara dengan cepat naik ke dalam, tanpa menoleh lagi ke arahnya. Axel menatap bus itu menjauh, perasaan frustrasi dan kekhawatiran bergolak di dadanya, menyadari betapa jauhnya jarak antara mereka sekarang.
“Damn.”
Axel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja."Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," ucapnya dengan suara kecil, mencoba tersenyum.Axel menghela napas lega, mengacak rambut anak itu dengan lembut. “Lain kali hati-hati kalau nyebrang, ya. Gak usah buru-buru.""Iya, Om. Aku janji." Anak itu kembali tersenyum, tampak lebih tenang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke apotek dengan langkah lebih berhati-hati.Axel berdiri, kembali ke Elara dan anak-anaknya yang menunggu di taman. Elara langsung bertanya dengan nada cemas, "Anak itu nggak apa
Cairo dan Mila berdiri di depan pintu, bersiap untuk pamit. Elara memegang tangan kecil Arcella, sementara Arxel berdiri di samping Axel dengan wajah sedikit murung. “Beneran kalian mau pulang sekarang? Masih sore lho,” tanya Axel, matanya menatap Cairo dengan sedikit keraguan.“Iya, aku masih banyak urusan,” jawab Cairo sambil melirik Mila di sebelahnya. “Termasuk urusan sama cewek yang satu ini,” tambahnya dengan nada bercanda, membuat Mila mendengus kesal.“Huh, urusan apa sih? Sok sibuk banget,” Mila melontarkan komentar singkat sambil melipat tangan di dadanya.Axel tertawa kecil dan menggeleng. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut, apalagi kamu, Cairo. Aku tahu kebiasaanmu kalau nyetir,” ucapnya setengah serius, setengah bercanda.Cairo menepuk bahu Axel dengan ringan. “Tenang aja, aku gak bakal bikin masalah. Aku makasih banget, ya, udah diizinin mampir.” Ucapannya tu
Cairo nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar suara keras dari arah depan rumah. Semua orang di ruang tamu spontan menoleh. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk dengan langkah tegas, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.“Berani-beraninya kamu pulang nggak kasih kabar dulu?” Suara tajam itu milik Mila. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, matanya menatap Cairo garang.Cairo terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. “Mila? Kok kamu bisa ke sini?”“Mila, masuk dulu. Jangan marah-marah di depan pintu, gak baik,” ucap Axel mengingatkan.“Gimana aku gak marah?” Mila mendekati Cairo dengan langkah penuh emosi. “Dia itu tiba-tiba hilang berbulan-bulan, nggak ngabarin, nggak apa-apa. Sekarang pulang diam-diam tanpa bilang ke aku. Emang aku ini apa? Teman cuma di saat butuh doang?”Cairo mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Mila, aku baru mendarat tadi pagi. Belum
Elara masih menatapnya penuh curiga. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan pembicaraan tadi selesai begitu saja. Duduk di samping Elara, Axel meletakkan ponselnya di meja dan meraih tangan Elara. Namun, Elara tidak bergerak.“Dari siapa, Xel? Kok mukanya tadi serius banget?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.Axel mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Oh, tadi… tadi Cairo. Dia bilang pengen balik ke Indo. Katanya udah bosen di luar.”“Terus?”“Terus apa?” tanya Axel bingung.Elara menyipitkan mata, merasa jawaban itu terlalu sederhana. “Gitu doang?” tanyanya, jelas belum puas.Axel menahan senyumnya, mencoba untuk tetap terlihat serius. “Iya. Emang kenapa?” jawabnya polos, tapi matanya berkilat nakal.Elara mulai membuka mulut untuk protes, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Axel meledak dalam tawa. Ia terhuyung ke belakang sambil menutupi
Elara masih menatap Axel dengan rasa penasaran yang begitu kuat, meski pria itu sudah mengalihkan pembicaraan dengan mencium keningnya. Ia tahu Axel selalu punya caranya sendiri untuk menghindari pertanyaan yang terlalu mendalam, tapi kali ini, Elara tak ingin menyerah begitu saja.“Xel,” panggilnya pelan, menyandarkan dagunya di bahu suaminya. “Kamu nggak adil, tahu. Aku selalu cerita semuanya sama kamu, tapi kamu selalu nyimpan rahasia sendirian.”Axel tersenyum samar, meraih tangan Elara dan menggenggamnya erat. “Bukan rahasia, Ra. Cuma sesuatu yang belum waktunya kamu tahu.”Elara mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-kata Axel. “Belum waktunya? Memangnya ini tentang apa sih? Kamu takut aku nggak bisa terima atau apa?” tanyanya, setengah bercanda tapi juga serius.Axel memandangnya dengan tatapan lembut tapi penuh misteri. “Bukan soal kamu bisa terima atau nggak, tapi aku nggak mau kamu khawatir,
Di sudut sebuah ruangan dengan pencahayaan redup, seorang penyanyi bertopeng sedang duduk di depan kamera. Ia memainkan gitar akustik dengan nada-nada yang menenangkan, suaranya yang lembut, penuh emosi menyihir ribuan penonton yang menyaksikan live streaming-nya. Topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya, dengan desain minimalis tapi terlihat indah, menjadi ciri khas yang membuat semua orang penasaran.Suara petikan gitarnya mengalun lembut, membentuk irama yang merasuk ke hati. Ia mulai bernyanyi, suaranya seolah membawa pendengarnya ke dunia lain. Lirik-lirik yang ia ciptakan sendiri menceritakan kisah-kisah penuh perasaan, tentang cinta yang tidak terucap, tentang kerinduan, dan tentang mimpi-mimpi yang tertunda. Setiap kata terasa hidup, menggambarkan sosok yang penuh misteri dan juga memikat.Di layar, kolom komentar tak pernah berhenti bergerak. Para penonton, mayoritas gadis-gadis muda, berlomba-lomba mengungkapkan kekaguman mereka.“Suara k
Axel tiba di apartemennya dengan langkah berat, ekspresi wajahnya penuh amarah yang tertahan. Pikirannya masih dipenuhi gambaran Elara, pria asing, dan anak kecil yang bersamanya di restoran keluarga tadi. Axel merasa dadanya sesak. Senyum hangat Elara, yang dulu selalu untuknya, kini bukan milik
Sepanjang malam Axel tidak bisa tidur, pikirannya terus-menerus terpaku pada suara anak kecil yang terdengar memanggil Elara "Mama" di telepon. Ia berbaring di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit yang gelap, tetapi pikirannya melayang-layang, membayangkan berbagai kemungkinan. Siapa an
Elara merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya berputar liar. Bayangan Axel yang dicium oleh Ana terus terulang di kepalanya. Wajah bahagia gadis itu, cara ia memanggil Axel dengan mesra, dan ciuman yang tampak begitu akrab. Semuanya menghantam perasaannya, membua
Axel menatap Elara dengan keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan ketika menyadari bahwa orang yang tanpa sengaja menabrak Ana hingga kopi tumpah ke bajunya adalah Elara. Kopi panas telah merusak kemeja putih formal yang dikenakannya. Namun bukannya memarahi Elara, Axel malah terdiam. Dia men







