Mag-log inAna sudah menunggu hampir dua jam. Apartemennya yang elegan sudah disulap menjadi suasana romantis, dengan lilin-lilin cantik yang memancarkan cahaya temaram, kelopak-kelopak bunga mawar berserakan di lantai, dan meja bundar yang dihiasi dengan hidangan makan malam yang lezat. Di sebelahnya, gelas-gelas wine terisi, menunggu momen yang lebih intim. Malam ini adalah malam penting bagi Ana. Setelah dua tahun bertunangan dengan Axel, ia berharap hubungan mereka bisa beranjak ke tahap yang lebih dalam—bahwa Axel akhirnya bisa menjadi miliknya seutuhnya.
Bel pintu berbunyi, dan Ana buru-buru memastikan semua sudah sempurna sebelum membuka pintu. Ketika melihat Axel berdiri di ambang pintu, perasaan gembira menyelimutinya meskipun Axel telat hampir dua jam. Ia langsung menabrak Axel dengan semangat, memeluknya erat.
"Akhirnya kamu datang juga! Aku hampir saja menghubungi bodyguard-ku untuk menculikmu, Xel!" ucap Ana dengan nada canda yang diselimuti rasa manja.
Axel, di sisi lain, tetap berdiri tegak, dingin seperti biasanya. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu, Ana. Kamu cukup menakutkan untuk seorang gadis," jawabnya. Suaranya terdengar tajam.
Ana, yang terlalu bersemangat dengan kehadiran Axel, mengabaikan nada dingin itu. Ia menarik tangan Axel menuju meja makan yang telah ia siapkan dengan penuh cinta. "Ayo makan. Aku sudah menyiapkan hidangan yang kamu suka," ucapnya sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang dingin.
Mereka mulai makan, tetapi Axel tampak tidak begitu menikmati hidangan ataupun suasananya. Sepanjang makan malam, Ana berusaha memulai percakapan tentang hubungan mereka, tentang masa depan, dan rencana-rencana indah yang ia bayangkan. Di kepalanya, ia membayangkan mereka akan segera menikah, terutama karena ulang tahunnya yang semakin dekat. Harapannya, di hari itu, Axel akan melamarnya lagi, kali ini dengan niat serius untuk menikah.
Namun, Axel hanya merespons dengan singkat, satu atau dua patah kata. Kadang hanya anggukan kecil atau gumaman tak jelas. Pikiran Axel melayang jauh, bukan di meja makan itu, tapi memikirkan seseorang yang lain—Elara, wanita yang sebenarnya ia rindukan.
“Apa kamu menyukai hidangannya?” tanya Ana semangat.
“Lumayan.” Jawaban Axel singkat dan padat.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apa kamu lelah?” tanya Ana lagi.
“Tidak juga.”
Ana akhirnya mencapai batas kesabarannya. Dengan gerakan cepat, ia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring dengan suara yang cukup keras, menandakan kekesalannya. Matanya yang sebelumnya dipenuhi harapan kini berubah dingin, lebih dingin dari tatapan Axel.
Ia meraih gelas wine-nya dan meminumnya hingga tandas, menenggaknya seakan wine itu bisa menenangkan gejolak amarah yang mulai merayap di hatinya. Setelah itu, Ana menurunkan outernya secara perlahan, sengaja menampakkan bahu sempitnya, mencoba menggoda Axel yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi.
Axel mengangkat kepalanya dan menatap Ana datar. Tidak ada keinginan dalam sorot matanya, hanya kehampaan dan kelelahan. “Apa yang kamu lakukan, Ana?”
Melihat Axel tetap dingin, Ana merasa tertantang. Ia berdiri, meletakkan tangan di bahu Axel, perlahan merabanya hingga ke dada, lalu tanpa izin, duduk di pangkuan Axel. Ia mendekatkan wajahnya, mengalungkan tangannya di leher Axel, dan mulai mencium bibirnya.
Ciuman itu dimulai dengan pelan, lalu semakin intens. Tangannya meraih rambut Axel yang tebal dan rapi, meremasnya kuat-kuat untuk memaksanya membalas ciuman itu. Axel meringis sedikit, tapi tetap tidak membalas. Melihat Axel tidak bereaksi, Ana semakin nekat. Ia menggigit bibir Axel hingga berdarah, berharap rasa sakit itu akan memancing respons dari pria yang ia cintai.
Namun, Axel tetap saja diam. Darah mengalir dari bibirnya, tapi ia tidak memberikan reaksi apa pun selain tatapan datar yang membuat Ana semakin frustasi. Ia ingin Axel tergoda olehnya, ia ingin Axel menunjukkan bahwa ada perasaan di sana, tapi Axel tetap beku, seperti patung yang tidak bisa dijangkau.
Ana mulai kehilangan kendali. Tangan Ana bergerak untuk membuka gaunnya, berusaha menarik perhatian Axel dengan cara yang lebih berani. Namun, tepat ketika Ana hendak melepaskan gaunnya, Axel menahan tangannya dengan cepat. "Jangan seperti ini, Ana," ucap Axel, suaranya tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Ana menghentikan gerakannya, merasakan penolakan itu langsung menghujam hatinya. Matanya yang penuh gairah dan harapan berubah menjadi sorot marah dan terluka. Rasa kecewa yang selama ini terpendam mulai membuncah.
"Kenapa, Axel? Kenapa selalu seperti ini?" Ana berdiri, menarik napas berat, suaranya gemetar antara amarah dan kesedihan. "Aku sudah menunggumu selama dua tahun. Aku melakukan segalanya untukmu, tapi kamu... Kamu selalu dingin, selalu menjauh dariku."
Axel tidak menjawab. Ia hanya menatap Ana tanpa emosi. Ia tahu, tidak peduli seberapa keras Ana mencoba, hatinya tidak ada di sini. Hatinya masih terjebak dengan Elara.
Ana, yang tidak lagi bisa menahan perasaannya, akhirnya meledak. Dengan gerakan tiba-tiba, ia membanting meja di depannya, membuat gelas-gelas wine pecah berantakan di lantai. “Kamu bahkan tidak bisa mencintaiku! Kamu tidak bisa memberiku apa yang aku inginkan!" teriaknya, suaranya menggema di ruangan yang sebelumnya tenang.
Axel tetap diam, tidak ingin memperkeruh suasana, tetapi tidak bisa menutupi fakta bahwa ia memang tidak memiliki perasaan yang Ana inginkan.
“Keluarlah, Axel!" Ana menunjuk ke arah pintu dengan ekspresi dingin yang kini penuh dengan kemarahan. "Aku muak dengan ini. Kalau kamu tidak bisa mencintaiku, lebih baik kamu pergi."
Axel berdiri perlahan, mengusap darah di bibirnya yang masih berdarah akibat gigitan Ana. Ia menghela napas panjang sebelum berkata dengan suara yang dingin dan mantap, “Aku akan pergi, Ana. Tapi ingat satu hal, aku tidak pernah memberimu harapan yang tidak bisa aku tepati. Kamu yang memaksakan ini.”
Ana hanya menatap Axel dengan penuh kebencian. “Kau pengecut, Axel. Kamu tidak berani mencintai siapa pun. Bahkan dirimu sendiri."
Axel tidak merespons. Ia hanya berjalan menuju pintu, meninggalkan Ana yang kini terisak pelan di tengah ruangan yang penuh dengan pecahan gelas dan tumpahan wine. Sebelum Axel benar-benar keluar, Ana berteriak sekali lagi, “Jangan pernah kembali kalau kamu tidak bisa mencintaiku!”
Tanpa menoleh, Axel menutup pintu dan berjalan pergi. Suasana malam yang dingin seakan mencerminkan apa yang ia rasakan di dalam hatinya—kosong, dingin, dan penuh penyesalan yang tidak bisa ia ungkapkan.
Setelah Axel pergi, Ana duduk di tengah apartemennya yang kacau, hatinya diliputi kekecewaan dan amarah. Ia sudah lelah menunggu. Perasaannya pada Axel sudah melewati batas kegilaan. Dia ingin lebih dari sekadar tunangan yang dingin dan acuh—Ana ingin Axel mencintainya, sepenuhnya.
Dengan tangan gemetar, Ana meraih ponselnya dan mencari nomor yang sudah lama ia simpan untuk keadaan darurat seperti ini. Ini bukan kali pertama ia berpikir untuk menggunakan cara ini, tapi malam ini ia tahu, ia tidak bisa menunggu lebih lama. Setelah menemukan nomor itu, ia menekan panggil.
“Hallo?” suara di ujung telepon terdengar rendah dan serak.
“Aku butuh bantuanmu," ucap Ana dengan nada tegas, tak mau ragu lagi. "Aku ingin Axel mencintaiku. Aku ingin dia memperlakukanku dengan baik, seperti seharusnya seorang tunangan memperlakukan calon istrinya."
"Apakah kamu siap menerima risikonya?” suara itu bertanya, penuh arti.
Ana menggigit bibirnya, tekad sudah bulat. “Apa pun risikonya, aku tidak peduli. Aku harus memiliki Axel, bagaimanapun caranya.”
Orang di ujung sana hanya tertawa kecil, lalu berkata, "Baiklah. Ini akan segera dimulai."
Ana memutus sambungan, hatinya berdegup kencang, penuh dengan harapan dan ketakutan yang campur aduk.
Axel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja."Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," ucapnya dengan suara kecil, mencoba tersenyum.Axel menghela napas lega, mengacak rambut anak itu dengan lembut. “Lain kali hati-hati kalau nyebrang, ya. Gak usah buru-buru.""Iya, Om. Aku janji." Anak itu kembali tersenyum, tampak lebih tenang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke apotek dengan langkah lebih berhati-hati.Axel berdiri, kembali ke Elara dan anak-anaknya yang menunggu di taman. Elara langsung bertanya dengan nada cemas, "Anak itu nggak apa
Cairo dan Mila berdiri di depan pintu, bersiap untuk pamit. Elara memegang tangan kecil Arcella, sementara Arxel berdiri di samping Axel dengan wajah sedikit murung. “Beneran kalian mau pulang sekarang? Masih sore lho,” tanya Axel, matanya menatap Cairo dengan sedikit keraguan.“Iya, aku masih banyak urusan,” jawab Cairo sambil melirik Mila di sebelahnya. “Termasuk urusan sama cewek yang satu ini,” tambahnya dengan nada bercanda, membuat Mila mendengus kesal.“Huh, urusan apa sih? Sok sibuk banget,” Mila melontarkan komentar singkat sambil melipat tangan di dadanya.Axel tertawa kecil dan menggeleng. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut, apalagi kamu, Cairo. Aku tahu kebiasaanmu kalau nyetir,” ucapnya setengah serius, setengah bercanda.Cairo menepuk bahu Axel dengan ringan. “Tenang aja, aku gak bakal bikin masalah. Aku makasih banget, ya, udah diizinin mampir.” Ucapannya tu
Cairo nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar suara keras dari arah depan rumah. Semua orang di ruang tamu spontan menoleh. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk dengan langkah tegas, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.“Berani-beraninya kamu pulang nggak kasih kabar dulu?” Suara tajam itu milik Mila. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, matanya menatap Cairo garang.Cairo terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. “Mila? Kok kamu bisa ke sini?”“Mila, masuk dulu. Jangan marah-marah di depan pintu, gak baik,” ucap Axel mengingatkan.“Gimana aku gak marah?” Mila mendekati Cairo dengan langkah penuh emosi. “Dia itu tiba-tiba hilang berbulan-bulan, nggak ngabarin, nggak apa-apa. Sekarang pulang diam-diam tanpa bilang ke aku. Emang aku ini apa? Teman cuma di saat butuh doang?”Cairo mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Mila, aku baru mendarat tadi pagi. Belum
Elara masih menatapnya penuh curiga. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan pembicaraan tadi selesai begitu saja. Duduk di samping Elara, Axel meletakkan ponselnya di meja dan meraih tangan Elara. Namun, Elara tidak bergerak.“Dari siapa, Xel? Kok mukanya tadi serius banget?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.Axel mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Oh, tadi… tadi Cairo. Dia bilang pengen balik ke Indo. Katanya udah bosen di luar.”“Terus?”“Terus apa?” tanya Axel bingung.Elara menyipitkan mata, merasa jawaban itu terlalu sederhana. “Gitu doang?” tanyanya, jelas belum puas.Axel menahan senyumnya, mencoba untuk tetap terlihat serius. “Iya. Emang kenapa?” jawabnya polos, tapi matanya berkilat nakal.Elara mulai membuka mulut untuk protes, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Axel meledak dalam tawa. Ia terhuyung ke belakang sambil menutupi
Elara masih menatap Axel dengan rasa penasaran yang begitu kuat, meski pria itu sudah mengalihkan pembicaraan dengan mencium keningnya. Ia tahu Axel selalu punya caranya sendiri untuk menghindari pertanyaan yang terlalu mendalam, tapi kali ini, Elara tak ingin menyerah begitu saja.“Xel,” panggilnya pelan, menyandarkan dagunya di bahu suaminya. “Kamu nggak adil, tahu. Aku selalu cerita semuanya sama kamu, tapi kamu selalu nyimpan rahasia sendirian.”Axel tersenyum samar, meraih tangan Elara dan menggenggamnya erat. “Bukan rahasia, Ra. Cuma sesuatu yang belum waktunya kamu tahu.”Elara mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-kata Axel. “Belum waktunya? Memangnya ini tentang apa sih? Kamu takut aku nggak bisa terima atau apa?” tanyanya, setengah bercanda tapi juga serius.Axel memandangnya dengan tatapan lembut tapi penuh misteri. “Bukan soal kamu bisa terima atau nggak, tapi aku nggak mau kamu khawatir,
Di sudut sebuah ruangan dengan pencahayaan redup, seorang penyanyi bertopeng sedang duduk di depan kamera. Ia memainkan gitar akustik dengan nada-nada yang menenangkan, suaranya yang lembut, penuh emosi menyihir ribuan penonton yang menyaksikan live streaming-nya. Topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya, dengan desain minimalis tapi terlihat indah, menjadi ciri khas yang membuat semua orang penasaran.Suara petikan gitarnya mengalun lembut, membentuk irama yang merasuk ke hati. Ia mulai bernyanyi, suaranya seolah membawa pendengarnya ke dunia lain. Lirik-lirik yang ia ciptakan sendiri menceritakan kisah-kisah penuh perasaan, tentang cinta yang tidak terucap, tentang kerinduan, dan tentang mimpi-mimpi yang tertunda. Setiap kata terasa hidup, menggambarkan sosok yang penuh misteri dan juga memikat.Di layar, kolom komentar tak pernah berhenti bergerak. Para penonton, mayoritas gadis-gadis muda, berlomba-lomba mengungkapkan kekaguman mereka.“Suara k
Axel tiba di apartemennya dengan langkah berat, ekspresi wajahnya penuh amarah yang tertahan. Pikirannya masih dipenuhi gambaran Elara, pria asing, dan anak kecil yang bersamanya di restoran keluarga tadi. Axel merasa dadanya sesak. Senyum hangat Elara, yang dulu selalu untuknya, kini bukan milik
Elara merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya berputar liar. Bayangan Axel yang dicium oleh Ana terus terulang di kepalanya. Wajah bahagia gadis itu, cara ia memanggil Axel dengan mesra, dan ciuman yang tampak begitu akrab. Semuanya menghantam perasaannya, membua
Axel menatap Elara dengan keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan ketika menyadari bahwa orang yang tanpa sengaja menabrak Ana hingga kopi tumpah ke bajunya adalah Elara. Kopi panas telah merusak kemeja putih formal yang dikenakannya. Namun bukannya memarahi Elara, Axel malah terdiam. Dia men
Sepanjang malam Axel tidak bisa tidur, pikirannya terus-menerus terpaku pada suara anak kecil yang terdengar memanggil Elara "Mama" di telepon. Ia berbaring di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit yang gelap, tetapi pikirannya melayang-layang, membayangkan berbagai kemungkinan. Siapa an







