Home / Romansa / Benih Mantan Pacar / Bab 5. Pria yang Sama, Kondisi Berbeda

Share

Bab 5. Pria yang Sama, Kondisi Berbeda

Author: Michaella Kim
last update Last Updated: 2026-01-19 15:59:24

Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.

Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di pikirannya, terutama bayangan tentang gadis itu yang terus menghantui pikirannya selama dua tahun ini.

Setibanya di kantor, Axel langsung menuju ruangannya. Namun, saat ia hendak duduk, kekesalannya meledak ketika ia mengetahui belum ada sekretaris yang disiapkan untuknya. Padahal, sejak sebelum ia tiba, Axel sudah meminta secara spesifik bahwa sekretarisnya haruslah seseorang yang sangat kompeten, nyaris sempurna. Segera, ia memanggil bawahannya untuk mempertanyakan masalah ini.

"Kenapa sekretarisnya belum ada? Bukankah aku sudah bilang, aku butuh seseorang yang bisa bekerja dengan efisien? Ini bukan kantor kecil yang bisa berjalan tanpa koordinasi sempurna!" Axel mengomel dengan nada tinggi, matanya memicing ke arah karyawannya.

Salah satu manajer yang bertanggung jawab atas perekrutan, dengan gugup menjelaskan, "Maaf, Pak Axel, kami sedang mencarinya, tapi... spesifikasi sekretaris yang Bapak inginkan agak sulit dipenuhi. Kandidat yang memenuhi syarat hampir tidak ada."

Axel mendengus. "Itu urusan kalian. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Hari ini, harus ada sekretaris yang memenuhi syarat di sini. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi."

Manajer itu tampak semakin gelisah. Dia tahu Axel bukan orang yang sabar, apalagi jika sudah menyangkut pekerjaan. Dengan tergesa-gesa, ia meninggalkan ruangan Axel untuk segera mencari solusi.

---

Di tempat lain, Elara sedang berdiri di depan gedung perusahaan besar dengan wajah penuh harapan. Sudah beberapa minggu sejak ia mencari pekerjaan dan semoga kali ini dia berhasil. Ia tidak ingin selalu merepotkan Cairo terus menerus. Ia harus mandiri. Sekarang, dia siap untuk mencari pekerjaan baru.

“Semoga aku diterima bekerja di sini.”

Dengan map lamaran di tangan, ia berjalan menuju bagian pendaftaran lowongan karyawan. Elara melamar untuk posisi di bagian desain, sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Dia berharap ini bisa menjadi awal baru dalam hidupnya setelah semua yang ia alami.

Setelah menyerahkan mapnya, Elara duduk di ruang tunggu bersama calon karyawan lainnya. Dia menatap map itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan, merasa sedikit gugup. Tapi tanpa ia sadari, seseorang yang tergesa-gesa mengambil map tersebut karena tekanan dari atasannya. Pak Taka tanpa memeriksa lebih lanjut langsung membawa map Elara ke ruangannya, berharap kandidat ini bisa menyelesaikan masalah besar yang sedang dihadapinya.

Pak Taka melihat nilai akademis Elara yang sangat bagus dan mendekati kriteria yang diminta oleh Axel. Tanpa banyak berpikir, ia segera menghubungi petugas di bawah untuk memanggil Elara.

“Elara Anindita, tolong datang ke meja saya segera.” Suara lantang petugas memanggil nama Elara, membuat seluruh ruang tunggu terdiam.

Elara menoleh dengan terkejut. Dia merasa tidak percaya dirinya dipanggil lebih awal daripada calon karyawan lainnya, padahal ia datang sedikit agak siang daripada yang lainnya. Meski bingung, ia tetap bangkit dan berjalan ke arah meja petugas.

“Saya Elara, Pak.” Suara Elara pelan dan sedikit gugup.

“Kamu pergi ke ruangan Pak Taka di lantai paling atas, lurus lalu ambil lorong kanan. Itu ruangannya. Cepat. Pak Taka sudah menunggu dari tadi,” ucap petugas itu lalu memberikan kartu identitas sebagai pegawai di perusahaan itu.

“Baik, Pak.” Elara bergegas pergi ke tempat yang dimaksud petugas tersebut dan ia langsung menemukan ruangan yang ia tuju.

“Permisi, Pak.” Elara menyapa dengan sopan saat tiba di depan pintu ruangan Pak Taka.

"Ya, ya, kamu! Masuk sini, cepat!" desak Pak Taka tanpa basa-basi. Ia terdengar sangat terburu-buru, seolah waktu adalah musuh terbesarnya.

Elara kebingungan, tapi tetap mengikuti perintah. Saat berada di meja Pak Taka, ia melihat lelaki itu menerima telepon. Dari suara keras di ujung telepon, Elara bisa mendengar kemarahan seseorang yang meminta sekretaris segera.

Pak Taka menutup telepon dengan wajah pucat. "Dengar, aku tidak punya waktu untuk wawancara panjang lebar. Kamu diterima untuk posisi sekretaris. Sekarang juga kamu harus masuk ke ruangan bos."

Elara kaget. “Pak, tunggu dulu. Saya melamar untuk posisi di bagian desain, bukan sekretaris. Saya tidak berpengalaman menjadi sekretaris,” jawabnya, mencoba menjelaskan situasi.

Namun, Pak Taka tak punya waktu untuk mendengarkan protes Elara. "Sekarang bukan waktunya untuk debat. Kamu punya nilai akademis yang sempurna, itulah yang dibutuhkan bos. Ini masalah mendesak. Kalau kamu tidak mau, kita berdua akan kehilangan pekerjaan. Jadi, cepat masuk ke ruangan bos sekarang!"

Elara masih ragu. "Tapi—"

“TIDAK ADA TAPI TAPI! Masuklah, atau kita semua akan kena masalah!” potong Pak Taka dengan tegas sambil sedikit mendorong Elara masuk ke ruangan bosnya.

Elara terdiam sejenak, merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya. Namun, melihat ekspresi putus asa Pak Taka dan mendengar kemarahan di balik pintu ruangan bos, dia akhirnya mengalah. Mau tak mau, ia setuju dan mengikuti perintah Pak Taka.

Dengan langkah ragu, Elara berjalan memasuki ruangan bos, pintu besar yang ada di hadapannya terasa seperti gerbang menuju tempat yang tak dikenal.

Elara melangkah masuk ke ruangan besar dengan dinding kaca yang menawarkan pemandangan kota dari ketinggian. Ruangan itu terasa mewah, dengan sofa kulit hitam di satu sudut dan meja besar yang dipenuhi berkas-berkas di hadapan pria yang duduk di baliknya. Atasan barunya sedang sibuk memeriksa dokumen di meja. Ia tampak serius, tatapannya terkunci pada map yang berderet di hadapannya.

Elara berdiri di ambang pintu, merasa sedikit gugup. "Permisi, Pak," ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar. Namun, sang atasan tampaknya terlalu tenggelam dalam pekerjaannya untuk mendengar suaranya. Jemarinya terus membalik halaman dokumen dengan cepat, matanya tak beralih dari pekerjaannya.

Elara menghela napas, menatap sang atasanl lebih lekat. Wajah itu… meski tampak jauh lebih dewasa dan tegas sekarang, ada sesuatu yang tak asing baginya. Di mana ia pernah melihat wajah itu sebelumnya? Hatinya berdebar tak menentu saat ia mencoba mengingat-ingat.

Namun, sebelum ia bisa merangkai pikiran lebih jauh, pintu di belakangnya tiba-tiba terbuka dengan cepat. Elara menoleh kaget, dan seorang wanita cantik berwajah ceria masuk dengan penuh semangat. Wanita itu tampak imut sekaligus seksi dengan rambut tergerai rapi dan pakaian modis yang membentuk tubuhnya sempurna.

"Axel sayang!" seru wanita itu dengan kegirangan, sambil langsung menerobos masuk tanpa mempedulikan kehadiran Elara. Dengan langkah ringan, wanita itu mendekati Axel, yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Sebelum Axel sempat bereaksi, wanita itu memeluknya erat dari belakang, menggelayut manja seolah mereka sudah lama tidak bertemu.

"Aku kangen," katanya dengan suara manja, sebelum tanpa ragu-ragu, ia mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Axel cepat.

Elara terkejut dan mundur selangkah. Hatinya serasa tertusuk sesuatu yang tajam. Wanita ini mencium Axel? Axelnya? Meski Axel sama sekali tidak bereaksi. Diam saja, seolah terbiasa dengan sikap wanita itu. Elara merasakan gelombang emosi yang bercampur aduk—keterkejutan, kesedihan, dan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.

Tiba-tiba, Axel mengangkat kepalanya, melepaskan fokusnya dari map di depannya. Matanya bertemu dengan tatapan Elara yang masih berdiri di pintu. Pandangan mereka bertemu, mata Axel menatap gadis itu seolah tidak percaya dan waktu seolah berhenti sejenak.

Elara merasakan jantungnya berdebar kencang, terlalu kencang, hingga membuatnya sulit bernapas. Itu Axel—pria yang telah meninggalkannya dua tahun lalu. Axel yang dulu ia cintai dan yang seharusnya menjadi miliknya. Namun, kini di depan matanya, ada wanita lain yang memeluknya dengan manja dan baru saja mencium bibirnya.

Axel terlihat terkejut, bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi kata-kata itu tak pernah terucap. Hanya tatapan kosong yang terdiam dalam kebisuan, sementara Elara merasa dadanya semakin sesak.

Di dalam ruangan itu, tak ada suara selain detak jantung Elara yang memekik. Sesuatu telah berubah. Sesuatu yang besar, dan Elara tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah pertemuan ini.

“Sayang, kamu kok gak nungguin aku sih?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Mantan Pacar   Bab 5. Pria yang Sama, Kondisi Berbeda

    Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di

  • Benih Mantan Pacar   Bab 4. Putus Komunikasi

    Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang

  • Benih Mantan Pacar   Bab 3. Kehilangan Arah

    Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana."Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir.

  • Benih Mantan Pacar   Bab 2. Garis Dua

    Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, ta

  • Benih Mantan Pacar   Bab 1. Perpisahan yang Tak Menentu

    Bandara sore itu dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak pergi, suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah kaki memenuhi setiap sudut. Di tengah keramaian, Elara dan Axel duduk berdua di salah satu sudut yang lebih sepi, seperti terpisah dari dunia di sekitar mereka. Momen ini terasa begitu berat bagi keduanya, karena mereka tahu ini bukan perpisahan biasa. Axel, dengan tiket pesawat di tangan, siap meninggalkan kota kecil tempat mereka tumbuh untuk mengejar impiannya ke luar negeri, lebih tepatnya ke Tokyo. Namun, hatinya tersayat saat menatap wajah Elara, perempuan yang selalu ada di sisinya selama ini.Elara menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Di dalam dirinya, perasaan takut dan cemas menyatu menjadi satu. Kepergian Axel bukanlah kepergian singkat, melainkan perjalanan panjang untuk meraih cita-cita sebagai penyanyi. "Aku harus melakukan ini, El," Axel berkata dengan nada pelan namun tegas, memecah keheningan di antara mereka. "Aku nggak akan bisa hidup dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status