Home / Romansa / Benih Mantan Pacar / Bab 68. Happy Ending

Share

Bab 68. Happy Ending

Author: Michaella Kim
last update Last Updated: 2026-03-16 13:17:55

Axel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.

Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," uc

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Mantan Pacar   Bab 68. Happy Ending

    Axel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja."Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," ucapnya dengan suara kecil, mencoba tersenyum.Axel menghela napas lega, mengacak rambut anak itu dengan lembut. “Lain kali hati-hati kalau nyebrang, ya. Gak usah buru-buru.""Iya, Om. Aku janji." Anak itu kembali tersenyum, tampak lebih tenang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke apotek dengan langkah lebih berhati-hati.Axel berdiri, kembali ke Elara dan anak-anaknya yang menunggu di taman. Elara langsung bertanya dengan nada cemas, "Anak itu nggak apa

  • Benih Mantan Pacar   Bab 67. Extra Part Lima

    Cairo dan Mila berdiri di depan pintu, bersiap untuk pamit. Elara memegang tangan kecil Arcella, sementara Arxel berdiri di samping Axel dengan wajah sedikit murung. “Beneran kalian mau pulang sekarang? Masih sore lho,” tanya Axel, matanya menatap Cairo dengan sedikit keraguan.“Iya, aku masih banyak urusan,” jawab Cairo sambil melirik Mila di sebelahnya. “Termasuk urusan sama cewek yang satu ini,” tambahnya dengan nada bercanda, membuat Mila mendengus kesal.“Huh, urusan apa sih? Sok sibuk banget,” Mila melontarkan komentar singkat sambil melipat tangan di dadanya.Axel tertawa kecil dan menggeleng. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut, apalagi kamu, Cairo. Aku tahu kebiasaanmu kalau nyetir,” ucapnya setengah serius, setengah bercanda.Cairo menepuk bahu Axel dengan ringan. “Tenang aja, aku gak bakal bikin masalah. Aku makasih banget, ya, udah diizinin mampir.” Ucapannya tu

  • Benih Mantan Pacar   Bab 66. Extra Part Empat

    Cairo nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar suara keras dari arah depan rumah. Semua orang di ruang tamu spontan menoleh. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk dengan langkah tegas, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.“Berani-beraninya kamu pulang nggak kasih kabar dulu?” Suara tajam itu milik Mila. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, matanya menatap Cairo garang.Cairo terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. “Mila? Kok kamu bisa ke sini?”“Mila, masuk dulu. Jangan marah-marah di depan pintu, gak baik,” ucap Axel mengingatkan.“Gimana aku gak marah?” Mila mendekati Cairo dengan langkah penuh emosi. “Dia itu tiba-tiba hilang berbulan-bulan, nggak ngabarin, nggak apa-apa. Sekarang pulang diam-diam tanpa bilang ke aku. Emang aku ini apa? Teman cuma di saat butuh doang?”Cairo mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Mila, aku baru mendarat tadi pagi. Belum

  • Benih Mantan Pacar   Bab 65. Extra Part Tiga

    Elara masih menatapnya penuh curiga. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan pembicaraan tadi selesai begitu saja. Duduk di samping Elara, Axel meletakkan ponselnya di meja dan meraih tangan Elara. Namun, Elara tidak bergerak.“Dari siapa, Xel? Kok mukanya tadi serius banget?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.Axel mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Oh, tadi… tadi Cairo. Dia bilang pengen balik ke Indo. Katanya udah bosen di luar.”“Terus?”“Terus apa?” tanya Axel bingung.Elara menyipitkan mata, merasa jawaban itu terlalu sederhana. “Gitu doang?” tanyanya, jelas belum puas.Axel menahan senyumnya, mencoba untuk tetap terlihat serius. “Iya. Emang kenapa?” jawabnya polos, tapi matanya berkilat nakal.Elara mulai membuka mulut untuk protes, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Axel meledak dalam tawa. Ia terhuyung ke belakang sambil menutupi

  • Benih Mantan Pacar   Bab 64. Extra Part Dua

    Elara masih menatap Axel dengan rasa penasaran yang begitu kuat, meski pria itu sudah mengalihkan pembicaraan dengan mencium keningnya. Ia tahu Axel selalu punya caranya sendiri untuk menghindari pertanyaan yang terlalu mendalam, tapi kali ini, Elara tak ingin menyerah begitu saja.“Xel,” panggilnya pelan, menyandarkan dagunya di bahu suaminya. “Kamu nggak adil, tahu. Aku selalu cerita semuanya sama kamu, tapi kamu selalu nyimpan rahasia sendirian.”Axel tersenyum samar, meraih tangan Elara dan menggenggamnya erat. “Bukan rahasia, Ra. Cuma sesuatu yang belum waktunya kamu tahu.”Elara mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-kata Axel. “Belum waktunya? Memangnya ini tentang apa sih? Kamu takut aku nggak bisa terima atau apa?” tanyanya, setengah bercanda tapi juga serius.Axel memandangnya dengan tatapan lembut tapi penuh misteri. “Bukan soal kamu bisa terima atau nggak, tapi aku nggak mau kamu khawatir,

  • Benih Mantan Pacar   Bab 63. Extra Part Satu

    Di sudut sebuah ruangan dengan pencahayaan redup, seorang penyanyi bertopeng sedang duduk di depan kamera. Ia memainkan gitar akustik dengan nada-nada yang menenangkan, suaranya yang lembut, penuh emosi menyihir ribuan penonton yang menyaksikan live streaming-nya. Topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya, dengan desain minimalis tapi terlihat indah, menjadi ciri khas yang membuat semua orang penasaran.Suara petikan gitarnya mengalun lembut, membentuk irama yang merasuk ke hati. Ia mulai bernyanyi, suaranya seolah membawa pendengarnya ke dunia lain. Lirik-lirik yang ia ciptakan sendiri menceritakan kisah-kisah penuh perasaan, tentang cinta yang tidak terucap, tentang kerinduan, dan tentang mimpi-mimpi yang tertunda. Setiap kata terasa hidup, menggambarkan sosok yang penuh misteri dan juga memikat.Di layar, kolom komentar tak pernah berhenti bergerak. Para penonton, mayoritas gadis-gadis muda, berlomba-lomba mengungkapkan kekaguman mereka.“Suara k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status