Beranda / Romansa / Benih Rahasia CEO Dingin / Bab 6. Neraka Bernama Ethan Reynolds.

Share

Bab 6. Neraka Bernama Ethan Reynolds.

Penulis: SecretAK
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-24 19:22:43

Aria mengerjapkan mata berulang kali. Dia yakin bahwa barusan tidak salah dengar, tapi mulutnya otomatis berkata, “A-apa?” Bersamaan dengan jantungnya yang seketika mencelus.

“Kau bilang bisa melakukan apa pun mauku.” Ethan berkata santai tanpa setitik pun noda bersalah di wajahnya.

Aria mengepalkan tangannya, degup jantung karena takut dan terkejut itu berubah menjadi amarah yang kian menjalar hingga ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam dan sorot mata lelah yang sudah merah alami akibat begadang itu menajam seketika. Dia sadar dengan apa yang barusan didengar dari mulut CEO di depannya.

Sial! Aku memang pernah tidur dengannya, tapi cara ini jauh lebih menjijikkan dibanding menyewa gigolo.

Aria mencoba untuk tenang, meskipun hatinya menjerit. Tidak ada yang bisa mengalahkan profesionalitasnya dalam bentuk apa pun. Dia tidak ingin kehilangan posisinya di perusahaan hanya karena sakit hati.

Wanita itu berdehem pelan, melonggarkan otot-otot di wajahnya dengan tenang. “Saya anggap ucapan Tuan barusan tidak pernah ada. Jadi, Tuan, biarkan negosiasi bisa--”

“Negosiasi?” potong Ethan. Alisnya yang tebal itu hampir menyatu. “Apa aku tampak sedang bernegosiasi di sini?”

Tidak heran jika banyak kalangan pebisnis yang menyebut pria itu berhati dingin. Ethan tampak enggan memberi kelonggaran atas permintaannya yang gila itu. Dia menyandarkan punggungnya, sementara tatapan tajam itu tidak pernah lepas dari sosok wanita cantik tersebut. “Aku pikir keberhasilan proyek ini jauh lebih penting dibanding harga dirimu,” ungkapnya setengah berbisik.

Aria tidak tahu apa yang ada di pikiran Ethan saat ini. Apakah ini semacam balasan atas malam panas mereka itu? Tapi, yang terpenting adalah apakah pria itu masih mengingatnya? Jika diingat-ingat, Ethan tampak seperti orang yang baru pertama kali melihatnya. Tanpa sadar, Aria larut dalam analisisnya sendiri.

“Kau melamun?!” Nada suara Ethan seketika menggema, membuat wanita di depannya itu mengerjap kaget.

“Sa-saya minta maaf, Tuan!” Aria refleks membungkuk sambil menggigit bibir. “Sial! Kenapa aku harus berhadapan dengan iblis ini!” rutuknya berbisik hampir tak bersuara.

Ethan membuang napas kasar. “Sebagai seorang wanita karier, jelas tidak mudah mendapatkan posisimu yang sekarang, bukan?” Dia mengulurkan tangan, kembali menyibak kertas-kertas dokumen hasil kerja keras Aria dengan tatapan merendahkan. “Kupikir ambisimu tidak akan lenyap begitu saja hanya karena permintaanku tadi.”

Aria merasa dipuji dan dihina secara bersamaan. Dipuji karena Ethan tahu benar tentang ambisi dan posisinya saat ini, dan hinaan itu memang benar meskipun terdengar menyakitkan. Aria bukanlah wanita yang beruntung dengan lahir dari keluarga kaya raya. Posisinya saat ini hasil kerja keras yang mana selama prosesnya, dia tidak lepas dari penghinaan seperti tadi. Pelecehan di tempat kerja? Itu seperti hidangan wajib setiap kali dia berhadapan dengan pria-pria hidung belang berjabatan tinggi. Parasnya yang rupawan dan kemampuannya sering menjadi sorotan di mata para petinggi.

Namun, dengan kecerdasan yang Aria miliki, momen-momen seperti itu berhasil dia lewati tanpa konsekuensi yang berarti. Tentu saja, itu butuh keberanian tingkat tinggi. Mengingat itu semua, Aria diam-diam menyeringai.

Kau pikir ancaman seperti ini baru untukku? Meski kau CEO yang terkenal kejam, aku tidak akan menyerah begitu saja. Lihat saja nanti!

Aria tidak gentar. Tidak. Dia tidak mau gentar. Sesaat, untuk sesaat saja dia ingin melupakan tentang kebodohan malam panas penuh gairah itu dengan Ethan. Dia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan laknat ini.

“Baiklah.” Aria menghela napas panjang. “Saya setuju dengan permintaan Tuan.”

Hanya sekilas dan siapa pun yang ada di sana tidak menyadari perubahan raut wajah Ethan. “Deal.”

Usai keluar dari sana, Aria bergegas kembali ke kantornya. Rachel yang melihat kedatangan wanita itu seketika mengerutkan kening. “Kau baik-baik saja?”

Aria tidak menjawab. Dia melemparkan diri ke kursi putar sambil mengacak-acak rambutnya. “Sial! Sial! Sial!” Dia mengerang keras, sesekali menjerit dengan wajah frustrasi. Sementara itu, asistennya hanya bisa menatap dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir.

“Aria, ada apa? Apa meeting tadi gagal? Investor itu menolakmu?”

Aria menggeleng dramatis. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi untuk sekarang. Namun, tenggorokannya terasa kering. Aria meminta air kepada Rachel dengan menggunakan isyarat. Setelah meneguk hingga tandas, dia baru bisa berkata, “Matilah aku!”

Rachel mengerjap. “Kau… gagal?”

Aria menggeleng lagi. “Secara teknis, aku berhasil. Dia bersedia berinvestasi pada proyek tahun depan.”

Rachel semakin bingung dibuatnya. “Lalu?”

Aria membuka mulut, tetapi dia katupkan lagi. Sesaat dia bingung apakah hal ini perlu dia bicarakan sekarang? Aria ini semua hanyalah mimpi buruknya. Gigolo, proyek pembangunan, kemudian Ethan. “Aku harap semua ini hanyalah mimpi.” Dia menepuk-nepuk pipinya dengan keras berulang kali.

“Astaga, kau ini kenapa?” Rachel ikut frustrasi dibuatnya. “Jika semuanya berjalan dengan lancar, lalu apa yang kau khawatirkan? Apa yang mengganggumu?”

“Hidupku tidak akan sama lagi. Aku akan berada di neraka mulai detik ini, Rachel.” Dia tidak melebih-lebihkan. Keberaniannya tadi hanya muncul beberapa menit saja setelah Ethan terus memojokkannya. Begitu keluar dari ruangan terkutuk itu, Aria diserang rasa panik yang luar biasa.

Aria bersyukur dengan Ethan yang setuju untuk berinvestasi, tetapi ini baru persetujuan awal dan pria itu bisa saja merencanakan hal lain untuk membatalkan investasi itu. Mengingat Ethan memiliki kuasa lebih dibanding perusahaan tempatnya bekerja. Katakanlah misinya berhasil, tetapi setelah itu apa? Aria menjadi teman tidur pria itu? Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.

Baru saja Aria hendak membuka mulutnya lagi, tiba-tiba telepon kantor berdering. Rachel segera mengangkatnya. “Ah, baiklah,” ucapnya pada seseorang di seberang telepon. Setelah panggilan terputus, dia menginformasikan kepada Aria, “Tuan Frank memanggilmu di kantornya.”

Untuk ke sekian kalinya Aria menghela napas panjang. “Baiklah.” Dia baru saja hendak berdiri, tetapi Rachel menginterupsinya.

“Kau akan pergi dengan penampilanmu yang seperti ini?” Dia mengeluarkan cermin kecil dari saku jasnya, kemudian meperlihatkan pantulan wajah sang bos. “Kau seperti habis terkena angin tornado!”

Aria bergegas merapikan dirinya sebelum menghadap Frank. Pria itu pasti akan menanyakan perihal presentasi ini. Tentu saja semangat Aria menyusut, meskipun dia terhitung berhasil mendapatkan kepercayaan dari CEO itu, tetapi ada harga yang harus dia bayar dan Aria belum tahu apa yang akan terjadi padanya nanti.

Setelah mengetuk pintu ruangan Frank, dia kini berhadapan dengan pria itu. Aria duduk tenang di ruangan itu.

“Bagaimana dengan hasilnya?” Frank tidak sabar dengan kabar ini lantaran proyek pembangunan tersebut termasuk hal besar yang sangat menentukan.

“Saya berhasil mendapatkannya, Tuan.” Aria memberitahu dengan nada datar, tetapi tanpa menghilangkan kesan formalitasnya.

“Sungguh? Luar biasa, Nona Aria!” Frank tidak bisa menahan tawa bahagianya. “Keputusanku tidak pernah salah sejak awal. Kau memang sangat kompeten dalam masalah ini!” Di tengah pujian-pujian yang dilontarkan Frank, ponselnya berdering. “Ah, sebentar,” ucapnya. Bola matanya seketika melebar begitu melihat nomor yang tertera. “Puji Tuhan! Aku tidak menyangka bahwa perwakilan Tuan CEO akan menghubungi kita secepat ini!”

Seketika punggung Aria menegang. Tatapannya mendadak kosong.

“Ah, baik-baik. Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan.” Usai perbincangan di ponsel selesai, dia beralih ke Aria. “Tuan Ethan meminta jadwal lanjutan untuk bertemu denganmu, Nona Aria. Kau harus segera bersiap.”

Jantungnya seakan meluncur ke lantai dengan bebas. Bagi orang lain ini mungkin sekadar panggilan pekerjaan biasa, tetapi baginya ini adalah panggilan malaikat maut untuk menuju ke neraka. Iya, neraka bernama Ethan Reynolds.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 11. Menjadi Kekasih Ethan

    Aria menggigit bibir bawahnya. Dia merasakan tatapan laser dari wanita itu menembus tengkorak kepala. Punggungnya menegak saat Ethan berdehem. Apa yang harus aku lakukan? Aria menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka mulut, “Saya—"“Ethan, siapa wanita ini?” Lucy bertanya dengan nada tidak ramah. Jarinya menunjuk tepat saat Aria menurunkan kaki di anak tangga terakhir. Rona merah jambu di wajahnya seketika berubah merah padam. “Kau bermalam dengan wanita lain?!”“Jangan membuat keributan, Lucy.” Ethan memberi peringatan.“Kau!” Lucy mengambil langkah lebar untuk mendekat ke Aria. “Apa yang kau lakukan di sini, Jalang?’Aria menahan diri untuk tidak memukul wajah cantik nan menyebalkan itu. “Sebelumnya, bisa kah berhenti memanggilku Jalang?” Kedua sudut bibirnya membentuk simetris formalitas. “Untuk kesan pertama, Anda terlihat cukup tidak sopan.”Mata Lucy terbelalak. “Berani sekali kau! Jalang murahan.”“Mulutmu penuh kejalangan, bahkan meski kau memiliki selera fashion yang

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 10. Calon Tunangan Si Tuan

    “Tuan!” pekik Aria sambil berusaha melepaskan diri dari Ethan. “Hentikan!”Ethan bergeming, menatap nanar wanita yang masih di bawahnya. “Apa yang kau mau dariku?” Nadanya lebih terdengar seperti ancaman.Aria berhenti menggeliat, kemudian dia menjawab dengan tegas, “Kelancaran proyek itu dan Anda harus memastikan investasi itu berjalan baik.” Aria benci hal-hal yang tanggung dan tanpa kepastian. Dia menginginkan kontrak yang paten tanpa ganggu gugat dan tanpa mengorbankan posisinya di perusahaan.“Kau bawahan yang tidak tahu malu,” pungkasnya tajam.“Anda investor yang cabul.” Sayangnya, Aria hanya berani mengatakan itu dalam benak. Dia tidak boleh dengan mudahnya tersulit hanya karena provokasi dari Ethan.Ethan menyeringai. “Kalau kau ingin posisimu dan proyek itu berjalan lancar, kau harus melakukan apa yang aku mau.”“Benar.” Aria menjawab cepat. “Jadi, mari menjadi kekasih saya, Tuan.”Ethan merasa tergelitik mendengar kalimat barusan. Bahkan wajah Aria sama sekali tidak tampak g

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 9. Melewati Batas

    Aria menghela napas panjang. Tidak ada raut kegelisahan atau panik yang tampak di wajahnya, seolah-olah hal ini sudah dia perkirakan sebelumnyaa. Sementara itu, Tommy yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka sontak berbalik badan dan meninggalkan ruangan.“Baiklah,” putus Aria dengan tenang. “Bagi sebagian orang, kepuasan seks memang menjadi penentu.”“Kau ingin membicarakan seks sebelum kita melakukannya? Kau punya preferensi?”Mendengar itu membuat Aria skeptis. Kenapa dia berbicara seolah ini adalah kali pertama kami melakukannya? “Anda serius bertanya seperti itu?” Aria memastikan.Ethan menyeringai. “Kenapa? Kau tidak cukup percaya diri dengan preferensimu sendiri?”Aria menyemburkan tawanya cukup keras, merasa tergelitik dengan pertanyaan pria itu. “Maaf, Tuan. Meski terdengar agak keterlaluan, tetapi saya merasa perlu untuk memastikan bahwa sebelum ini kita pernah--” Kalimatnya terpotong akibat ponsel Ethan yang berdering.Itu panggilan dari kontak bernama “Mom”, melihat itu

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 8. Permainan Baru Dimulai

    “Kau pikir bisa membodohiku dengan trik murahan seperti ini?” Ethan mundur satu langkah, tangannya memegang bolpoin yang ternyata adalah alat perekam. Dia menekan ujung benda itu untuk mematikan fungsinya. Tatapan itu menjurus pada sosok di depannya, bibirnya menyeringai. “Wanita bodoh!”Wajah cantik Aria menegang beberapa saat. Dia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Lalu, dia memaksakan senyum dan berkata, “Saya rasa itu hanya kesalahpahaman—“ Dia tersentak saat Ethan membanting bolpoin itu dan menginjaknya hingga hancur berkeping.Tidak hanya itu, Ethan menarik lengan Aria, membuat si wanita tersentak maju. “Apa ada alat lain yang kau sembunyikan?”“Tuan, saya—““Buka bajumu!” perintah Ethan dengan sorot mata tajam.“A-apa?” Sontak saja membuat Aria mengeratkan jasnya. “Tapi, Tuan. Saya tidak menyembunyikan apa pun. Saya berani bersumpah!” Suaranya setengah bergetar karena panik.“Kau berani bermain-main denganku, ya?”Ingin rasanya Aria memukul kepala pria itu dengan heels-n

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 7. Bermain Licik

    “Tuan Ethan meminta kau untuk bersiap malam ini. Dia yang akan menentukan jam dan tempatnya.” Frank menatap penuh harap. “Aku tahu kau sudah bekerja keras, jadi lakukan yang terbaik untuk kali ini juga. Ah, dan satu lagi. Dia akan menghubungimu nanti.”“Sial!” Tak henti-hentinya Aria mengumpat sejak keluar dari ruangan Frank. Belum ada satu hari baginya untuk bernapas lega dan menyusun rencana untuk bagaimana menghadapi pria itu. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh kerumitan. Dia belum benar-benar bernapas sejak tujuh hari ini.“Kau terlihat pucat, Aria.” Itu komentar Rachel begitu Aria mendarat di kursi kerjanya. “Aku rasa kau harus beristirahat hari ini.”Aria juga menginginkannya. Dia memijat keningnya yang terasa berdenyut. ”Tapi Si Brengsek itu tidak membiarkanku,” gumamnya tanpa sadar.Rachel memiringkan kepala. “Kau bicara apa?” Dia baru teringat dengan keanehan bosnya usai meeting dengan investor terkenal itu. “Kau bilang ingin menceritakan sesuatu. Ada apa?”Aria mengangkat sat

  • Benih Rahasia CEO Dingin   Bab 6. Neraka Bernama Ethan Reynolds.

    Aria mengerjapkan mata berulang kali. Dia yakin bahwa barusan tidak salah dengar, tapi mulutnya otomatis berkata, “A-apa?” Bersamaan dengan jantungnya yang seketika mencelus.“Kau bilang bisa melakukan apa pun mauku.” Ethan berkata santai tanpa setitik pun noda bersalah di wajahnya.Aria mengepalkan tangannya, degup jantung karena takut dan terkejut itu berubah menjadi amarah yang kian menjalar hingga ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam dan sorot mata lelah yang sudah merah alami akibat begadang itu menajam seketika. Dia sadar dengan apa yang barusan didengar dari mulut CEO di depannya.Sial! Aku memang pernah tidur dengannya, tapi cara ini jauh lebih menjijikkan dibanding menyewa gigolo.Aria mencoba untuk tenang, meskipun hatinya menjerit. Tidak ada yang bisa mengalahkan profesionalitasnya dalam bentuk apa pun. Dia tidak ingin kehilangan posisinya di perusahaan hanya karena sakit hati.Wanita itu berdehem pelan, melonggarkan otot-otot di wajahnya dengan tenang. “Saya anggap ucapan Tua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status