Masuk“Tuan Ethan meminta kau untuk bersiap malam ini. Dia yang akan menentukan jam dan tempatnya.” Frank menatap penuh harap. “Aku tahu kau sudah bekerja keras, jadi lakukan yang terbaik untuk kali ini juga. Ah, dan satu lagi. Dia akan menghubungimu nanti.”
“Sial!” Tak henti-hentinya Aria mengumpat sejak keluar dari ruangan Frank. Belum ada satu hari baginya untuk bernapas lega dan menyusun rencana untuk bagaimana menghadapi pria itu. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh kerumitan. Dia belum benar-benar bernapas sejak tujuh hari ini.
“Kau terlihat pucat, Aria.” Itu komentar Rachel begitu Aria mendarat di kursi kerjanya. “Aku rasa kau harus beristirahat hari ini.”
Aria juga menginginkannya. Dia memijat keningnya yang terasa berdenyut.
”Tapi Si Brengsek itu tidak membiarkanku,” gumamnya tanpa sadar.Rachel memiringkan kepala. “Kau bicara apa?” Dia baru teringat dengan keanehan bosnya usai meeting dengan investor terkenal itu. “Kau bilang ingin menceritakan sesuatu. Ada apa?”
Aria mengangkat satu tangannya untuk menginterupsi agar Rachel diam.
”Tidak sekarang,” katanya dengan nada lemah. Dia lalu bangkit untuk berjalan menuju sofa khusus di ruangannya. “Aku ingin tidur sebentar. Bangunkan aku lima belas menit lagi.”Rachel menatap iba wanita itu. Dia tidak bisa manafikan bahwa Aria sungguh bekerja keras untuk proyek ini. “Baik. Gunakan waktumu untuk istirahat.” Setelahnya, dia tidak membiarkan satu orang pun masuk ke ruangan Aria lima belas menit berlalu.
Aria menatap langit-langit kantornya dengan tatapan lelah, tetapi isi kepalanya tidak benar-benar bebas dari sosok Ethan. Dia mengambil ponsel dan berselancar ke internet guna mencari tahu lebih banyak tentang investor sekaligus pria yang pernah tidur dengannya itu.
Darinya berkerut penuh keseriusan dalam membaca sederet informasi tentang Ethan. Pengaruh pria itu cukup besar di dunia bisnis. Pantas saja Frank sangat terobsesi dengan proyek ini. “Tapi, aku yakin Ethan bukan sosok sesempurna ini.”
Aria cukup banyak tahu bagaimana industri ini berjalan. Bahkan sekelas konglomerat pun tidak akan lepas dari kecacatan di masa lalu atau yang sedang disembunyikan. Tidak. Aria tidak sedang bermain imajinasi ala roman picisan. Dia hanya mencoba mencari sisi kelemahan Ethan agar bisa bebas tanpa melepas posisi jabatannya saat ini.
Waktu berlalu dan itu sama sekali tidak Aria gunakan untuk beristirahat. Percuma baginya, kerena medan perang kali ini antara hidup dan mati. Aria tidak mau istirahat dan lengah sedikit pun.
Pintu ruangan terbuka bersamaan dengan ponsel Aria yang berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[The Obsidian, jam 10 malam. Executive Lounge, lantai 15.]
Hanya satu baris saja sukses membuat jantung Aria mencelus. “Apa dia tidak punya kerjaan lain? Proyek itu jalan untuk tahun depan! Kenapa buru-buru sekali?” gerutunya kepada layar ponsel yang masih menyala. Dia menangkap sosok Rachel di sampingnya. “Aku harus bersiap dari sekarang.”
Wanita bertubuh ramping itu mengerjap dua kali. “Eum… apa ada meeting mendadak?”
Aria bangkit dan berjalan menuju mejanya. “Anggap saja begitu. Aku harus membeli baju baru untuk tampil menawan malam ini.”Rachel merasa aneh dibuatnya. Bagaimana tidak? Setelah tadi siang dia melihat Aria yang seperti terkana teror dadakan, kini dia melihat wanita itu kembali berenerjik--seolah-olah tidur lima belas menit sudah mengembalikan nyawa yang sebelumnya hilang.
Aria menoleh dan mendapati asistennya masih bergeming. “Apa yang kau tunggu? Kau juga harus membantuku memilih baju.”
Mereka memulai perjalanan menuju pusat perbelanjaan modern di kota itu. Aria dengan semangat memilih gaun yang pas untuknya bertemu dengan Ethan. Ini mungkin terkesan berlebihan, bahkan Rachel pun menganggap demikian. Namun. Aria mengerti dengan siapa nanti dia berhadapan. Jika ini adalah permainan yang Ethan mulai, meka Aria akan dengan senang hati memainkannya. Dia tidak suka hal yang setengah-setengah.
“Kau seperti orang yang akan pergi berperang, Aria.” Rachel tidak bisa mengabaikan tatapan intens Aria sepanjang mereka memilih pakaian. Aura wanita itu tidak seperti orang yang sedang bersenang-senang menghabiskan waktu untuk berbelanja. “Kau sedang mempersiapkan apa?”
Aria tidak menjawab. Dia tidak sabar untuk malam ini. Bagaimanapun juga, Aria ingin Ethan tahu bahwa dirinya bukanlah wanita sembarangan untuk dipermainkan.
The Obsidian. Hotel bintang lima, salah satu bahkan bisa dibilang paling terkenal di sana. Aria dengan backless dress merah berbalut jas formal yang menutupi punggung moleknya itu berjalan ke arah Executive Lounge tempat di mana Ethan menunggunya. Ini kali pertama dia masuk ke area VIP di The Obsidian, tempat di mana para pebisnis besar sering mengadakan pertemuan penting di sini.
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Karena itulah dia menyempatkan diri membeli gaun baru. Dia tidak mau terintimidasi oleh suasana apa pun, bahkan jika itu hanya sekadar pakaian. Sungguh, dia sangat memperhitungkan setiap langkahnya dengan cermat. Aria dengan dagu terangkat penuh percaya diri memasuki ruangan itu, menyapa aroma khas kopi dan parfum yang tak asing. Parfum yang sama dengan malam panas itu. Lagi, ingatan itu kembali berputar di kepalanya. Segera dia mengenyahkan distraksi omong kosong itu. Di sana, di kursi utama, Ethan tengah duduk dengan pandangan fokus ke cangkir kopinya.
“Selamat malam, Tuan.” Aria melempar senyum korporat andalannya dan Ethan sama sekali tidak bereaksi apa pun. Dia lalu mangambil bolpoin dari tasnya dan menekan bagian atas benda tersebut. Gerakannya santai dan sangat profesional saat menyematkan bolpoin itu ke saku jasnya. “Saya tidak menyangka bahwa Anda ingin membicarakan proyek untuk tahun depan--”
“Siapa bilang aku ingin membicarakan soal pekerjaan?” pungkas Ethan dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.
“Y-ya, Tuan?”
“Aku bosan membicarakan tentang pekerjaan.”
Aria mencengkeram dokumen di tangannya begitu bertemu tatap dengan mata biru pria itu.
“Aku menyuruhmu datang untuk menagih janjimu untuk tidur denganku.” Ethan beranjak dari kursi. Setiap langkahnya, dia tidak pernah melepas pandangan dari sosok Aria.
Aria membiarkan semuanya berjalan sebagaimana keinginan Ethan. Paling tidak untuk saat ini atau untuk beberapa waktu ke depan. Lalu, saat jarak mereka mulai terkikis, dia bertanya dengan senyum setenang riak danau, “Anda sungguh-sungguh untuk persyaratan itu?”
Ethan menyeringai. “Kenapa? Kau berubah pikiran bahkan sebelum 24 jam berlalu?”
“Kenapa Anda tertarik dengan wanita seperti saya?” tanya Aria, kali ini dia memainkan mimik wajah bak gadis polos yang baru lahir di dunia ini. Begitu pun dengan nada bicaranya. “Saya tidak semenarik itu dibanding dengan wanita yang pernah hadir dalam hidup Anda, bukan?”
Ethan terdiam sesaat. Namun, sorot mata itu seakan berusaha untuk menelanjangi wanita di depannya. “Kau memakai riasan yang berbeda dari sebelumnya.” Dari jarak sedekat ini, dia bisa membedakan hal itu. Tangannya terangkat dan masuk ke sela jas Aria dan berhasil menyentuh kulit mulus pinggang wanita itu.
“Anda tahu apa yang Anda lakukan, Tuan?” Suara Aria berubah semi bergetar karena takut dan bingung.
“Tentu.” Lalu, dalam sekejap bolpoin Aria berada di tangannya. Seringai di wajah Ethan melebar. “Kau sungguh pemberani.”
Itu alat perekam. Aria gagal.
Aria menggigit bibir bawahnya. Dia merasakan tatapan laser dari wanita itu menembus tengkorak kepala. Punggungnya menegak saat Ethan berdehem. Apa yang harus aku lakukan? Aria menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka mulut, “Saya—"“Ethan, siapa wanita ini?” Lucy bertanya dengan nada tidak ramah. Jarinya menunjuk tepat saat Aria menurunkan kaki di anak tangga terakhir. Rona merah jambu di wajahnya seketika berubah merah padam. “Kau bermalam dengan wanita lain?!”“Jangan membuat keributan, Lucy.” Ethan memberi peringatan.“Kau!” Lucy mengambil langkah lebar untuk mendekat ke Aria. “Apa yang kau lakukan di sini, Jalang?’Aria menahan diri untuk tidak memukul wajah cantik nan menyebalkan itu. “Sebelumnya, bisa kah berhenti memanggilku Jalang?” Kedua sudut bibirnya membentuk simetris formalitas. “Untuk kesan pertama, Anda terlihat cukup tidak sopan.”Mata Lucy terbelalak. “Berani sekali kau! Jalang murahan.”“Mulutmu penuh kejalangan, bahkan meski kau memiliki selera fashion yang
“Tuan!” pekik Aria sambil berusaha melepaskan diri dari Ethan. “Hentikan!”Ethan bergeming, menatap nanar wanita yang masih di bawahnya. “Apa yang kau mau dariku?” Nadanya lebih terdengar seperti ancaman.Aria berhenti menggeliat, kemudian dia menjawab dengan tegas, “Kelancaran proyek itu dan Anda harus memastikan investasi itu berjalan baik.” Aria benci hal-hal yang tanggung dan tanpa kepastian. Dia menginginkan kontrak yang paten tanpa ganggu gugat dan tanpa mengorbankan posisinya di perusahaan.“Kau bawahan yang tidak tahu malu,” pungkasnya tajam.“Anda investor yang cabul.” Sayangnya, Aria hanya berani mengatakan itu dalam benak. Dia tidak boleh dengan mudahnya tersulit hanya karena provokasi dari Ethan.Ethan menyeringai. “Kalau kau ingin posisimu dan proyek itu berjalan lancar, kau harus melakukan apa yang aku mau.”“Benar.” Aria menjawab cepat. “Jadi, mari menjadi kekasih saya, Tuan.”Ethan merasa tergelitik mendengar kalimat barusan. Bahkan wajah Aria sama sekali tidak tampak g
Aria menghela napas panjang. Tidak ada raut kegelisahan atau panik yang tampak di wajahnya, seolah-olah hal ini sudah dia perkirakan sebelumnyaa. Sementara itu, Tommy yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka sontak berbalik badan dan meninggalkan ruangan.“Baiklah,” putus Aria dengan tenang. “Bagi sebagian orang, kepuasan seks memang menjadi penentu.”“Kau ingin membicarakan seks sebelum kita melakukannya? Kau punya preferensi?”Mendengar itu membuat Aria skeptis. Kenapa dia berbicara seolah ini adalah kali pertama kami melakukannya? “Anda serius bertanya seperti itu?” Aria memastikan.Ethan menyeringai. “Kenapa? Kau tidak cukup percaya diri dengan preferensimu sendiri?”Aria menyemburkan tawanya cukup keras, merasa tergelitik dengan pertanyaan pria itu. “Maaf, Tuan. Meski terdengar agak keterlaluan, tetapi saya merasa perlu untuk memastikan bahwa sebelum ini kita pernah--” Kalimatnya terpotong akibat ponsel Ethan yang berdering.Itu panggilan dari kontak bernama “Mom”, melihat itu
“Kau pikir bisa membodohiku dengan trik murahan seperti ini?” Ethan mundur satu langkah, tangannya memegang bolpoin yang ternyata adalah alat perekam. Dia menekan ujung benda itu untuk mematikan fungsinya. Tatapan itu menjurus pada sosok di depannya, bibirnya menyeringai. “Wanita bodoh!”Wajah cantik Aria menegang beberapa saat. Dia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Lalu, dia memaksakan senyum dan berkata, “Saya rasa itu hanya kesalahpahaman—“ Dia tersentak saat Ethan membanting bolpoin itu dan menginjaknya hingga hancur berkeping.Tidak hanya itu, Ethan menarik lengan Aria, membuat si wanita tersentak maju. “Apa ada alat lain yang kau sembunyikan?”“Tuan, saya—““Buka bajumu!” perintah Ethan dengan sorot mata tajam.“A-apa?” Sontak saja membuat Aria mengeratkan jasnya. “Tapi, Tuan. Saya tidak menyembunyikan apa pun. Saya berani bersumpah!” Suaranya setengah bergetar karena panik.“Kau berani bermain-main denganku, ya?”Ingin rasanya Aria memukul kepala pria itu dengan heels-n
“Tuan Ethan meminta kau untuk bersiap malam ini. Dia yang akan menentukan jam dan tempatnya.” Frank menatap penuh harap. “Aku tahu kau sudah bekerja keras, jadi lakukan yang terbaik untuk kali ini juga. Ah, dan satu lagi. Dia akan menghubungimu nanti.”“Sial!” Tak henti-hentinya Aria mengumpat sejak keluar dari ruangan Frank. Belum ada satu hari baginya untuk bernapas lega dan menyusun rencana untuk bagaimana menghadapi pria itu. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh kerumitan. Dia belum benar-benar bernapas sejak tujuh hari ini.“Kau terlihat pucat, Aria.” Itu komentar Rachel begitu Aria mendarat di kursi kerjanya. “Aku rasa kau harus beristirahat hari ini.”Aria juga menginginkannya. Dia memijat keningnya yang terasa berdenyut. ”Tapi Si Brengsek itu tidak membiarkanku,” gumamnya tanpa sadar.Rachel memiringkan kepala. “Kau bicara apa?” Dia baru teringat dengan keanehan bosnya usai meeting dengan investor terkenal itu. “Kau bilang ingin menceritakan sesuatu. Ada apa?”Aria mengangkat sat
Aria mengerjapkan mata berulang kali. Dia yakin bahwa barusan tidak salah dengar, tapi mulutnya otomatis berkata, “A-apa?” Bersamaan dengan jantungnya yang seketika mencelus.“Kau bilang bisa melakukan apa pun mauku.” Ethan berkata santai tanpa setitik pun noda bersalah di wajahnya.Aria mengepalkan tangannya, degup jantung karena takut dan terkejut itu berubah menjadi amarah yang kian menjalar hingga ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam dan sorot mata lelah yang sudah merah alami akibat begadang itu menajam seketika. Dia sadar dengan apa yang barusan didengar dari mulut CEO di depannya.Sial! Aku memang pernah tidur dengannya, tapi cara ini jauh lebih menjijikkan dibanding menyewa gigolo.Aria mencoba untuk tenang, meskipun hatinya menjerit. Tidak ada yang bisa mengalahkan profesionalitasnya dalam bentuk apa pun. Dia tidak ingin kehilangan posisinya di perusahaan hanya karena sakit hati.Wanita itu berdehem pelan, melonggarkan otot-otot di wajahnya dengan tenang. “Saya anggap ucapan Tua







