LOGINCleo mengangguk pelan. “Kita jalani saja dulu, mengalir seperti air.”Devan menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Iya, aku nggak mau memaksa apa pun. Aku tunggu, selama apa pun itu.”Belum sempat suasana kembali hening, Ramon sudah berlari mendekat, napasnya sedikit terengah, pipinya memerah karena terlalu asyik bermain.“Om Tampan sebenarnya tinggal di mana?” tanyanya polos, menatap Devan dengan mata berbinar.Devan tersenyum, lalu berjongkok agar sejajar dengan tinggi Ramon.“Sementara ini Om tinggal di hotel, dekat sini.”Ramon langsung memasang wajah penasaran. “Sendirian?”“Iya,” jawab Devan jujur. Ramon menoleh ke Cleo, lalu kembali ke Devan.“Kasihan, pasti sepi”Devan melirik Cleo sekilas, lalu kembali fokus pada Ramon.“Iya, makanya hari ini Om pengen main sama Ramon, biar nggak kesepian."Ramon berpikir sejenak, lalu berkata mantap, “Kalau Om kesepian, nanti Om boleh main ke cafe Mama. Di sana rame.”Devan terkekeh kecil. “Boleh?”“Boleh dong,” jawab Ramon cepat, lalu menamba
Keesokan HarinyaSiang ini, Cleo memarkir mobilnya tepat di depan gerbang sekolah Ramon. Dia turun, berdiri sambil memperhatikan satu per satu anak kecil yang berlarian keluar dengan tas yang nyaris lebih besar dari tubuh mereka. Tak lama kemudian, sosok yang dia tunggu muncul.“Mama!” seru Ramon lantang.Wajah kecil itu langsung berseri. Senyumnya mengembang lebar, matanya berbinar begitu melihat Cleo berdiri menunggunya. Dengan langkah kecil yang tergesa, Ramon berlari menghampiri ibunya.Cleo berjongkok, membuka kedua tangannya. Ramon langsung memeluknya erat.“Hari ini Mama yang jemput,” ujar Cleo sambil mengusap rambut anaknya lembut.“Iya!”Ramon mengangguk antusias.“Ramon senang banget. Teman-teman juga bilang mamaku cantik.”Cleo terkekeh pelan. “Ah, bisa saja.”Ramon lalu menggenggam tangan Cleo, berjalan keluar gerbang sekolah dengan langkah riang. Sepanjang jalan menuju mobil, dia bercerita tentang gambar yang dibuat di kelas, tentang temannya yang meminjam pensil warna, d
Spontan, Cleo dan Devan sama-sama menarik diri. Seolah tersadar oleh kenyataan yang hampir saja mereka abaikan, Cleo melangkah mundur selangkah. Napasnya masih belum teratur, dadanya naik turun menahan sisa gelora yang tadi hampir menenggelamkannya.Devan pun terdiam, rahangnya mengeras, berusaha menata kembali perasaannya yang berantakan. Cleo memalingkan wajah sejenak, lalu menatap Devan dengan sorot mata yang lebih tenang, meski masih basah oleh emosi.“Cukup, kita nggak boleh makin jauh.”Devan menatapnya, ingin membantah, ingin menarik Cleo kembali ke dalam pelukannya. Namun dia memilih diam, memberi ruang pada keputusan Cleo.“Sebaiknya kamu pulang, dan temui Ramon besok.”Devan akhirnya mengangguk perlahan"Baik, makasih banyak, Cleo. Ini udah malam. Lebih baik kamu juga pulang secepatnya.""Iya, sebentar lagi aku pulang."Beberapa detik Devan belum melangkah, dan Cleo membiarkan. Mereka kini hanya saling menatap, menyimpan begitu banyak kata yang belum sempat terucap. Lalu Dev
Cleo terdiam cukup lama. Sunyi menelan ruangan di antara mereka. Hanya suara ombak yang samar terdengar dari kejauhan, dan detak jantung Cleo sendiri yang berdentum tak karuan.Wajah Devan di hadapannya penuh harap. Harapan yang selama ini dia kubur rapat-rapat. Detik terasa seperti menit, menit terasa seperti jam. Setiap tarikan napasnya berat.Melihat Cleo tak kunjung bicara, Devan akhirnya menunduk pelan. Senyum tipis, sekaligus pahit terbit di bibirnya.“Maaf, kalau kamu masih bingung, dan kehadiranku terlalu tiba-tiba.”Devan melangkah mundur setapak. “Aku nggak mau maksa. Ini hidup kamu, dan hidup Ramon.”Devan menatap Cleo sekali lagi, lama. Ada rindu, ada luka, tapi juga ada penerimaan.“Kalau suatu hari kamu berubah pikiran, aku akan tetap di sini. Apa pun keputusanmu.”Devan sudah berbalik, bersiap berpamitan. Namun, di saat itulah, Cleo mengangguk. Gerakannya kecil, tapi cukup untuk membuat langkah Devan terhenti seketika.Devan menoleh cepat, matanya membesar, seolah taku
“Jadi?” Devan bergumam lirih, suaranya hampir tak terdengar. Lalu, menggeleng pelan, rahangnya mengeras. Ada amarah yang perlahan naik, bukan pada Cleo, melainkan pada dunia yang begitu kejam pada perempuan yang ada di depannya, dan pada seorang laki-laki yang membiarkan istrinya menanggung beban harga diri yang seharusnya dia pikul sendiri.Devan mengingat kembali hari itu, di rumah sakit, saat Cleo melahirkan. Cara Cleo menatap bayi itu dengan campuran takut dan pasrah. Cara Cleo memilih pergi, sendirian, membawa rahasia sebesar gunung di punggungnya. Dadanya berdenyut sakit.“Pantas kamu selalu merasa bersalah. Pantas kamu menjauh. Pantas kamu memilih menghilang.”Kini, bukan kebencian yang tumbuh di hati Devan. Justru sebaliknya. Ada rasa hancur, iba, dan penyesalan yang bercampur jadi satu. Penyesalan karena tujuh tahun lalu dia tak cukup kuat menggenggam Cleo.Karena dia membiarkan perempuan yang dicintainya berjuang sendirian di tengah kebohongan dan tekanan.Mata Devan memera
Cleo akhirnya melepaskan diri dari pelukan itu. Bukan dengan kasar, melainkan perlahan. Dia mundur satu langkah, dan menunduk. Jemarinya saling mencengkeram menahan gemetar yang tak bisa disembunyikan.“Kamu nggak tahu sebenarnya, Van. Kalau kamu tahu semuanya, kamu pasti benci aku.”Devan mengernyit. Tangannya terulur, ingin kembali menarik Cleo ke pelukannya. Namun, Cleo menolak, dan untuk pertama kalinya, Devan melihat ketakutan nyata di mata Cleo. Bukan hanya sebatas keraguan."Aku benci kamu? Itu nggak mungkin Cleo, aku udah kehilangan kamu tujuh tahun. Nggak ada lagi yang bisa lebih menyakitkan dari itu.”Devan melangkah lebih dekat, kali ini menjaga jarak, memberi ruang agar Cleo tak merasa terpojok. Suaranya merendah, penuh kesabaran.“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dari dulu kamu selalu menutup diri? Kenapa kamu memilih pergi tanpa pernah jujur padaku? Kenapa kamu nggak pernah terbuka, dan selalu menyimpan rasa sakit itu sendiri, Cleo?”Cleo menghela napas panjang, dadan







