MasukSore harinya, ketika semua penghuni rumah sedang berkumpul di ruang tamu, suara berisik dari luar pintu masuk membuat mereka semua menoleh. Seorang pengantar surat datang membawa beberapa surat dan paket, dan ia menyerahkannya kepada Aysha, kepala tim kebersihan yang ada di sana. Ketika Aysha membuka salah satu paket, matanya terbelalak. Di dalamnya ada banyak foto yang ia tidak mengerti apa artinya. Ia menatap ke sekeliling, lalu menoleh ke arah Tasya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. "Tasya Nona... ini..." kata Aysha, sambil menyerahkan paket itu kepada wanita itu. Tasya membuka paket itu dan melihat isinya. Senyumnya yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah menjadi senyum yang penuh kemenangan. Ia menatap foto-foto itu dengan pandangan yang puas, lalu menatap ke arah Rani dan Dimas yang duduk berdekatan. "Sepertinya kita memiliki tamu yang ingin memberitahu semua orang tentang hubungan kita," kata Tasya dengan suara yang cukup keras agar semua orang di ruanga
Hari berikutnya, suasana di rumah tiga lantai itu terasa lebih tebal dari biasanya. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela kaca menciptakan suara berisik yang lembut, namun di balik itu semua terasa ketegangan yang tak terucapkan. Rani duduk di ruang tamu, memegang cangkir teh dengan kedua tangannya. Jari-jarinya gemetar halus, mengingat kembali pertemuan menegangkan dengan Tasya kemarin malam. Setiap kali ia mengingat pandangan penuh kebencian yang ditatapkan adiknya pada dirinya, perutnya terasa mual dan jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mengerti mengapa Tasya membencinya begitu dalam—selama ini ia hanya menganggap kakaknya sebagai orang yang baik hati yang membantunya. Tiba-tiba, bayangan seseorang muncul di ambang pintu. Rani mengangkat wajahnya, dan melihat Dimas berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang cocok dengan warna matanya, dan rambutnya yang disisir rapi masih terasa basah karena baru saja mandi. Wajahnya yang biasanya
Api di dada Tasya tidak lagi sekadar membara, melainkan telah melahap seluruh akal sehatnya. Meski waktu dan perhatiannya banyak tersita oleh Elano dan permainan bisnis yang rumit, insting seorang wanita—terutama wanita yang haus akan kekuasaan—tidak pernah buta. Ia mendengar bisikan-bisikan di kompleks, ia melihat video yang viral itu berulang kali hingga layar ponselnya hampir retak, dan yang paling menyakitkan, ia bisa melihat perubahan itu dengan mata kepalanya sendiri. Dimas yang dulu dingin, kaku, dan jarang tersenyum, kini mulai meleleh. Dan sumbernya jelas sekali: Rani. Sore itu, Tasya memutuskan pulang lebih awal. Bukan karena rindu, melainkan karena rasa curiga yang menggerogoti isi kepalanya. Ia masuk tanpa suara, melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan lambat. Sepatu stiletto itu diletakkan dengan hati-hati, seolah ia adalah predator yang sedang mengendap-ngendap mendekati sarang mangsa. Langkah kakinya yang dibalut stoking su
Sore itu langit Citra Asmarayudha tampak keemasan, memantulkan cahaya matahari terbenam ke permukaan aspal yang mengkilap. Suasana terasa tenang, namun di balik ketenangan itu, lensa kamera selalu mengawasi. Zafla, resepsionis gerbang yang tak pernah lepas dari ponselnya, sedang asyik menguji kualitas kamera barunya. Jari-jarinya lincah mengatur sudut, berniat membuat konten aesthetic tentang "Keindahan Sore di Elite Residence". Ia merekam gerbang besi, pepohonan trembesi yang rindang, hingga mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. "Hmm, kurang angle yang bagus nih..." gumamnya pelan, matanya terus mengintip lewat layar. Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah meluncur pelan dan berhenti tepat di depan pos satpam. Itu mobil Dimas. Zafla otomatis mengarahkan kameranya, berniat mengambil gambar mobilnya saja. Namun, apa yang terekam layar ponselnya membuat jari yang sedang menekan tombol record itu berhenti mendadak. Di layar kecil itu, te
"Sudah, sudah Ibu-ibu..." Rahman, satpam senior yang selama ini melihat segala kejadian dengan bijak, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat namun tenang, berusaha meredakan api yang mulai membesar. Ia menggeleng pelan, wajahnya penuh penyesalan melihat bagaimana gadis baik seperti Rani diperlakukan demikian. "Jangan gosip dong, belum tentu itu bener. Mungkin hanya salah lihat saja. Kasihan anak orang kalau digunjingkan begitu." Namun usahanya sia-sia. Zenira langsung memotong dengan ketus, ia melirik Rahman dengan pandangan meremehkan. "Ah Pak Rahman tahu apa!" serunya tak terima. "Mata saya tajam lho! Saya lihat sendiri gimana cara Pak Dimas natap dia. Itu bukan tatapan bos ke pembantu! Itu tatapan... ah sudahlah, orang tua mah pasti gak ngerti. Nanti juga terbukti sendiri kalau mereka ada apa-apa!" Rahman hanya bisa menghela napas panjang, memandangi punggung Rani yang sudah menghilang di balik pintu utama rumah Dimas. Ia tahu,
Maiza tersenyum tipis, tidak terkejut sama sekali pertanyaannya begitu telak. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Tasya dengan tatapan yang sama tajamnya."Kak Tasya memang tahu segalanya," jawabnya santai, meski nada suaranya penuh perhitungan. "Benar, aku bekerja untuk Pak Elano. Dan seperti yang Kakak bilang, dia orang yang sangat... visioner. Dia tahu peluang di mana pun letaknya, bahkan di tempat yang paling tidak terduga."Ia menatap lurus ke manik mata Tasya, tak sedikit pun gentar."Tentang klien Dimas... biar dibilang begitu, kami hanya menawarkan alternatif yang lebih menguntungkan. Di dunia bisnis, siapa yang memberi harga terbaik, dia yang menang, kan? Apalagi kalau ada tanda-tanda bahwa 'kapal' yang ditumpangi sekarang mulai bocor karena ulah orang dalam."Tasya terkekeh pelan, suara itu terdengar manis namun menusuk. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menatap Maiza dengan pandangan menilai—seperti predator yang sedang mengukur kekuatan lawan."Bocor?" ulangnya lemb
Elano bersandar santai di dinding kamar pribadi Tasya, tangannya dilipat di dada sambil memperhatikan Tasya yang berjalan gelisah bolak-balik. "Kamu terlalu memikirkan hal ini," katanya dengan suara tenang, sangat kontras dengan energi gelisah Tasya. Tasya berbalik menatapnya, matanya berkedip mar
Ia berhenti pada jarak yang sopan, tangan diselipkan ke saku — sebagai bentuk kontrol, agar tidak menerobos batas. Konflik tampak jelas di mata suaminya itu: antara kesetiaan pada sang istri dan perasaan bersalah terhadap semua yang telah terjadi. “Aku tahu aku telah menyakitimu dengan kata-kata
“Mungkin,” lanjut Tasya, suaranya meneteskan kepura-puraan peduli, “akan lebih baik kalau kamu meluangkan waktu untuk dirimu sendiri. Untuk… menemukan jalan hidupmu.” Pikiran Rani berputar ketika ia mencoba menangkap maksud dari ucapan Tasya. Apa ini… pemecatan? Apakah dia sedang diusir dari satu-
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk bagi Rani. Ia merasa Tasya terus mengawasinya, memperhatikan setiap gerakannya dengan intensitas yang membuatnya merinding. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para staf rumah tangga, percakapan yang tiba-tiba berhenti saat Rani masuk ke ruangan







