แชร์

🖤 EPISODE 73

ผู้เขียน: Yes, me! Leesoochan
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-22 23:57:28
Dimas bersandar di kusen pintu dapur dengan seringai puas, memperhatikan Rani melalui pantulan kaca. Perempuan itu merosot di rak berisi makanan ringan impor, napasnya belum sepenuhnya stabil. Gaunnya miring, rambutnya kusut oleh jemari yang sebelumnya terlalu akrab, dan tubuhnya masih menyimpan jejak dari malam yang terasa terlalu panjang untuk disebutkan dengan kata-kata biasa.

“Kamu kelihatan benar-benar berantakan,” katanya dengan nada ringan yang sarat makna, menyilangkan tangan di dadanya. “Seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya berdiri dengan wajar setelah terlalu lama… sibuk.”

Jam dapur menunjukkan hampir pukul lima pagi—waktu yang terasa sempit sebelum rumah ini kembali hidup. Sebelum Tasya bangun, sebelum peran-peran lama harus dikenakan lagi dengan rapi.

“Jangan bergerak terlalu banyak,” Dimas menambahkan malas sambil menuangkan segelas air. “Tubuhmu belum sepenuhnya pulih. Aku tidak mau kamu jatuh sebelum sempat beres-beres.”

Rani mendengus pelan. “Itu karena
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 78

    Zenira mencondongkan tubuhnya sedikit di atas meja arisan, cukup dekat untuk membuat bisikannya terasa seperti rahasia yang seharusnya tidak pernah diucapkan.“Aku mungkin terlalu peka,” katanya ringan, seolah menertawakan dirinya sendiri, “tapi aku perhatikan Dimas selalu tahu di mana Rani berada. Di pesta mana pun.”Kata-katanya menggantung di udara, tipis namun lengket. Khalisa Kamila tidak langsung menanggapi. Ia hanya memutar seruling sampanyenya pelan, memperhatikan pantulan cahaya kristal sebelum akhirnya melirik ke meja utama.Dimas duduk di samping Tasya, sebagaimana mestinya. Sikapnya rapi, senyumnya terukur. Namun pandangannya—entah disengaja atau tidak—sesekali melayang ke arah Rani yang berdiri tak jauh dari sana, berbincang dengan tamu lain. Terlalu sering untuk dianggap kebetulan, terlalu singkat untuk disebut kesalahan.“Dia adik iparnya,” Khalisa akhirnya berkata datar.“Tentu,” Zenira mengangguk cepat. “Dan tidak ada yang salah dengan itu.”Namun senyumnya mengatakan

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 77

    Di lantai bawah, Rani terduduk kaku di lantai gudang, dikelilingi kotak-kotak berisi kenangan yang terlupakan dan mimpi-mimpi yang ditinggalkan. Di samping tangannya yang gemetar, sebuah cincin emas tergeletak. Desainnya sederhana, namun kini terpatri kuat di benaknya, menyatu dengan bayangan dirinya berjalan menuju altar bersama Dimas di bawah kanopi suci—sementara Tasya menyaksikan dari kejauhan, air mata membasahi wajahnya.Setelah membereskan gudang sebisanya, Rani melangkah pergi. Dengan langkah ragu, ia menuju ruang kerja Dimas dan mengetuk pintunya.Kepala Dimas tersentak mendengar ketukan itu. Aroma asam wiski masih melekat di napasnya ketika ia menyadari bahwa Rani entah bagaimana berhasil menemukan jalan ke ruang pribadinya—tanpa izin. Sesaat, ia tergoda untuk mengabaikannya, membiarkannya berdiri di luar sementara ia kembali menenggelamkan diri dalam minuman mahal.Namun ia memilih bangkit.Dengan gerakan lambat dan terukur, nyaris seperti pemangsa, Dimas berdiri dari kursi

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 76

    Tasya memperhatikan mereka dari balik cangkir kopinya. Garpunya berhenti di udara ketika ia melihat tangan Dimas bertumpu di punggung bawah Rani—gerakan yang terlalu akrab untuk sekadar kebiasaan sopan. Ia mengenali sentuhan itu, pernah melihatnya berkali-kali dalam berbagai acara sosial, tetapi pagi ini terasa berbeda. Terlalu lama. Terlalu sadar. “Sayang,” kata Tasya lembut, senyumnya terukir sempurna. “Jangan menghalangi Rani dari tugasnya. Ketepatan waktu dan tanggung jawab penting di rumah ini.” Tatapannya berpindah dari Dimas ke Rani, mengamati setiap perubahan kecil di wajah mereka. Sinar matahari pagi menembus jendela ruang makan, memantulkan ketegangan yang terasa semakin padat di antara ketiganya. Dimas bersandar di kursinya. Tangannya masih berada di tempat yang sama, seolah sengaja. “Dia hanya butuh beberapa menit,” katanya singkat. Nada suaranya tenang, namun menantang. Rani menunduk cepat. “Aku akan membersihkan gudang,” ujarnya, lalu berdiri. Ia melangkah pergi dar

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 75

    . Saat Rani melangkah ke arah dapur sambil membawa piring sarapan, tangan Dimas tiba-tiba melesat meraih pergelangan tangannya. Genggamannya kuat, posesif. Ibu jarinya sengaja menekan titik nadinya—cukup dekat untuk merasakan detak jantung Rani yang berdegup cepat, membawa rahasia yang hanya mereka berdua pahami. “Jangan terburu-buru,” gumamnya pelan, menarik Rani kembali ke meja dengan kendali yang terukur. “Aku belum selesai sarapan. Dan kamu belum menjawab pertanyaanku.” Tatapan mereka saling mengunci. Dari seberang meja kayu yang mengilap, Tasya memperhatikan dengan saksama, sarapannya terlupakan. Matanya menelusuri setiap detail kecil—cara bahu Rani menegang, napasnya yang sedikit terputus—seolah tubuh itu sedang mengkhianati sesuatu yang ingin disembunyikan. “Apakah kamu menikmatinya tadi malam?” bisik Dimas begitu pelan hingga tenggelam di antara suara rumah yang bersiap menyambut pagi. Rani mencubit pergelangan tangannya, menatapnya tajam—peringatan tanpa kata: istri

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 74

    Bel pintu depan berdentang di seluruh rumah, memecah keheningan dapur yang tegang. Aysha segera menyeka tangannya di celemek, wajahnya kembali ke ekspresi profesional yang netral. “Itu pasti pengiriman kopi pagi,” katanya sambil berjalan menuju serambi. “Seperti biasa, pukul tujuh lima belas.” Kesempatan itu dimanfaatkan Rani untuk menyingkir dari pengawasan. Ia menyelesaikan penyusunan nampan sarapan dengan cepat, lalu melangkah menuju ruang makan. Punggungnya sengaja tetap setengah membelakangi dapur, seolah jarak beberapa langkah saja bisa melindunginya dari tatapan yang terasa menekan. Saat memasuki ruang makan, Rani hampir bertabrakan dengan Tasya yang baru turun dari tangga utama. Tatapan kakaknya langsung tertuju padanya—tajam, menimbang. Bukan satu titik, melainkan keseluruhan: rambut yang kurang rapi, lipatan gaun yang sedikit melenceng, rona pucat yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. “Selamat pagi,” sapa Tasya ringan, senyumnya sempurna. “Kamu kelihatan lelah.” R

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 73

    Dimas bersandar di kusen pintu dapur dengan seringai puas, memperhatikan Rani melalui pantulan kaca. Perempuan itu merosot di rak berisi makanan ringan impor, napasnya belum sepenuhnya stabil. Gaunnya miring, rambutnya kusut oleh jemari yang sebelumnya terlalu akrab, dan tubuhnya masih menyimpan jejak dari malam yang terasa terlalu panjang untuk disebutkan dengan kata-kata biasa. “Kamu kelihatan benar-benar berantakan,” katanya dengan nada ringan yang sarat makna, menyilangkan tangan di dadanya. “Seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya berdiri dengan wajar setelah terlalu lama… sibuk.” Jam dapur menunjukkan hampir pukul lima pagi—waktu yang terasa sempit sebelum rumah ini kembali hidup. Sebelum Tasya bangun, sebelum peran-peran lama harus dikenakan lagi dengan rapi. “Jangan bergerak terlalu banyak,” Dimas menambahkan malas sambil menuangkan segelas air. “Tubuhmu belum sepenuhnya pulih. Aku tidak mau kamu jatuh sebelum sempat beres-beres.” Rani mendengus pelan. “Itu karena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status