MasukCarsein menatap Laticia dengan kening sedikit berkerut. Ada ketidakpercayaan yang jelas terlihat di matanya, seolah jawaban perempuan itu masih menyisakan terlalu banyak hal yang belum ia pahami.“Apa maksudmu dengan dia membayarmu sangat mahal?”Laticia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil kembali cangkir tehnya, lalu mengangkatnya perlahan. Namun sebelum sempat menyesapnya, ia berkata dengan nada tenang,“Aku rasa kau bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi di dalam istana selama kau pergi.”Tatapan Carsein langsung berubah. Ia menatap Laticia lebih tajam, mencoba mencari sesuatu dari ekspresi tenangnya.“Jadi kau akan mengatakannya kepadaku dengan su
Carsein membeku. Satu kata sederhana itu terasa menghantam dadanya jauh lebih keras daripada apa pun yang pernah ia terima. Ia menatap Laticia dalam diam, seolah-olah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.“Sekarang...?”Suaranya terdengar rendah, hampir seperti bisikan. Namun Laticia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di hadapannya dengan wajah tenang, sementara Carsein perlahan menyadari bahwa ketenangan itulah yang justru membuat dadanya terasa semakin sesak.Selama ini, ia selalu mengenal Laticia sebagai seseorang yang mudah dibaca ketika berhadapan dengannya. Ketika terluka, perempuan itu akan diam terlalu lama. Ketika cemburu, matanya akan menunjukkan sesuatu yang tidak mampu disembunyikan. Ketika Carsein menjauh, Laticia akan tetap menunggunya meskipun harus
Jenoch hanya memandangi lorong tempat Carsein menghilang. Ia mulai menyadari bahwa Laticia sudah jauh berbeda dari yang selama ini dipikirkan Kaisar.Laticia baru saja menolak keputusan Carsein, mengambil kembali aset Valcren, lalu meninggalkan aula dengan tenang. Bahkan dalam perjalanan pulang, ia masih sempat bersenandung.Sementara itu, Laticia telah kembali ke Istana Ratu tanpa sedikit pun kesedihan atau penyesalan. Bagi dirinya, kejadian di aula tadi hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar. Mungkin itulah yang paling sulit diterima Carsein. Ia masih melihat Laticia yang dulu, padahal perempuan itu sudah tidak lagi sama.Carsein akhirnya tiba di Istana Ratu setelah melewati lorong-lorong Istana Utama. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya kepada Laticia. Terlalu banyak pertanyaan dan kemarahan yang bercampur dengan kegelisahan."Dimana Ratu?" Tanya Carsein saat melihat Ema.Ema membungkuk dan mengantar Carsein.Setelah melewati beberapa pelayan, Carsein tiba di b
Suaranya rendah dan tegas. Ia menyerahkan dokumen yang sudah kusut kepada asistennya.“Bawa Pricilla ke ruang hukuman. Jangan biarkan siapa pun menghalangi.”“Baik, Yang Mulia.”Asisten itu segera membungkuk dan pergi menjalankan perintah. Sementara Carsein tetap berdiri di lorong, tangannya mengepal di sisi tubuh.Selama ini ia mengira Laticia hanya sedang menjaga jarak karena luka masa lalu. Namun kini ia sadar, Laticia bukan hanya berani menolak keputusannya di depan seluruh istana, tetapi juga telah mengambil kembali aset Valcren tanpa sepengetahuannya.Yang paling mengganggunya adalah satu pertanyaan: mengapa Pricilla menyerahkan semua aset itu kepada Zion?Carsein melangkah meninggalkan aula dengan pikiran yang semakin tidak tenang. Suara para bangsawan yang tadi memenuhi ruangan masih terngiang di kepalanya, begitu pula wajah Pricilla ketika ia mengatakan bahwa perempuan itu belum memiliki kedudukan khusus di dalam istana. Namun semua itu hanya bertahan beberapa saat dalam piki
Carsein akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang seluruh orang yang masih menunggu keputusannya. Aula itu dipenuhi keheningan yang aneh. Tidak ada seorang pun yang berani melanjutkan perdebatan setelah Laticia pergi, tetapi jelas dari tatapan mereka bahwa mereka masih menunggu jawaban mengenai Selena.Carsein menghela napas pendek.“Aku akan membicarakan masalah ini secara terpisah dengan Ratu.”Beberapa bangsawan saling berpandangan. Mereka mengira keputusan itu akan dibicarakan nanti secara tertutup, tetapi setidaknya mereka mendapatkan satu kepastian bahwa Carsein tidak berniat memperpanjang perdebatan di hadapan semua orang.Carsein kemudian mengalihkan pandangannya kepada kepala pelayan istana.“Untuk sementara, siapkan sebuah kamar untuk Selena.”Kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di sisi aula langsung maju beberapa langkah. Ia menundukkan kepala dengan hormat, tetapi sebelum memberikan perintah kepada para pelayan, ia tampak ragu sejenak.“Yang Mulia,” katanya hati-hati,
Wajah beberapa bangsawan langsung berubah pucat. Seseorang bahkan tanpa sadar menarik napas panjang.“Mustahil...”“Jika kuil benar-benar memiliki hak tersebut...”“Berarti...”Tidak ada yang berani menyelesaikan kalimatnya.Carsein masih menatap dokumen itu.Laticia memandangnya tanpa sedikit pun rasa gentar.“Jadi,” katanya perlahan, “ketika Anda tadi mengatakan kita bisa membicarakannya, saya hanya ingin memastikan bahwa Anda benar-benar yakin.”Carsein akhirnya mengangkat wajahnya.Tatapan mereka bertemu.“Lati...”“Jika Anda ingin membatalkan perjanjian pertama,” lanjut Laticia, “Anda tentu bisa melakukannya.”Ia tersenyum tipis.“Namun jangan lupa bahwa ada perjanjian kedua yang akan ikut terkena dampaknya.”Carsein terdiam, ia benar-benar merasa terpojok oleh sesuatu yang bahkan tidak dapat ia bantah. Bukan karena Laticia memiliki pasukan. Bukan karena ia memiliki pengaruh lebih besar. Melainkan karena semua yang dibawa perempuan itu adalah dokumen yang memiliki tanda tangannya
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka







