Chapter: Bab 23Krieeet—Pintu aula rapat terbuka perlahan dan dalam sekejap, seluruh percakapan di dalam ruangan langsung terhenti. Semua mata tertuju pada sosok wanita yang melangkah masuk dengan tenang ke dalam aula besar itu.Laticia.Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, namun justru ketenangan itulah yang membuat kehadirannya terasa semakin menekan.Satu per satu para bangsawan dan pejabat langsung berdiri dari kursi mereka. Kursi-kursi bergeser pelan memenuhi ruangan sebelum akhirnya semua orang membungkukkan tubuh hormat kepada sang ratu.Karena bagaimanapun juga meski posisinya terus digoyahkan, Laticia tetaplah ratu kekaisaran. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal hal itu di depan umum.Namun di antara semua orang yang berdiri ada dua orang yang tetap duduk di tempat mereka.Carsein dan Pricilla. Tatapan mata Laticia bergerak perlahan ke arah kursi utama di ujung aula.Carsein duduk santai di sana dengan satu tangan bertumpu di sandaran kursinya. Tatapan mata biru lelaki itu lang
最後更新: 2026-05-24
Chapter: Bab 22Laticia melangkah masuk ke dalam istana utama tanpa memperlambat langkahnya sedikit pun.Gaun panjang berwarna gelap yang dikenakannya bergerak pelan menyapu lantai marmer sementara suara langkah sepatu para pengawal terdengar samar di sepanjang lorong besar istana.Di belakangnya, Jenoh mengikuti dengan tenang sambil membawa beberapa dokumen tipis di tangannya.Suasana di sekitar mereka terasa berbeda pagi itu.Para pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala dengan gugup. Beberapa pejabat istana bahkan buru-buru minggir dari jalur langkah sang ratu begitu melihat ekspresi wajahnya yang terlalu tenang.Karena semua orang tahu Laticia jarang sekali datang langsung ke istana utama tanpa alasan. Dan lebih jarang lagi dirinya terlihat seperti sekarang.Tenang, justru terasa menekan. Langkah wanita itu akhirnya berhenti di depan ruang keuangan kekaisaran.Pintu besar ruangan tersebut terbuka lebar memperlihatkan suasana sibuk di dalamnya. Para pegawai keuangan tampak mondar-mandir
最後更新: 2026-05-24
Chapter: Bab 21Semua orang di ruangan itu perlahan berlutut hampir bersamaan.“Kami tidak akan menyesalinya, Yang Mulia Ratu.” Suara mereka terdengar rendah namun tegas memenuhi ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Laticia terdiam menatap mereka satu per satu.Tatapan matanya perlahan berhenti pada Ema yang masih terlihat pucat sejak kejadian kemarin. Gadis itu memang penakut dan sering panik untuk hal-hal kecil, tetapi sampai sekarang dirinya tetap bertahan di sisi Laticia tanpa pernah meminta pergi.Lalu ada Isabel dan Liana.Dua dayang yang selama ini paling sering berada di dekatnya.Isabel masih muda dan cenderung pendiam, sementara Liana jauh lebih dewasa dan tenang dibanding yang lain. Wanita itu sebenarnya adalah seorang countess dari keluarga Ernest, meski gelarnya hampir tidak pernah dibicarakan di lingkungan bangsawan ibu kota.Bukan karena keluarganya lemah.Namun karena dirinya hidup terlalu sederhana dibanding para wanita bangsawan lain.Suaminya hanyalah seorang pejabat istana
最後更新: 2026-05-24
Chapter: Bab 20Suara tenangnya terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab.Para pelayan hanya saling berpandangan ragu sementara beberapa pengawal tetap menundukkan kepala.Hingga akhirnya Jenoh melangkah maju sedikit sebelum berkata hati-hati, “Karena penyerangan kemarin, Yang Mulia?”Laticia tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang lelaki itu beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas pelan.“Benar,” jawabnya tenang. “Namun bukan hanya karena itu.”Suasana kembali hening dan tatapan mata Laticia perlahan berubah lebih dingin sekarang.“Kalian semua pasti sudah mendengar bagaimana kabar itu menyebar pagi ini.”Beberapa pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Karena mereka memang mendengarnya. Dan sebagian dari mereka bahkan mendengar sendiri bagaimana orang-orang di luar mengejek sang ratu.Laticia tersenyum kecil terlihat sangat tipis dan lelah.“Menarik sekali,” ucapnya pelan. “Aku hampir mati, tetapi yang dipikirkan orang-orang justru apakah kematianku
最後更新: 2026-05-23
Chapter: Bab 19Jack membungkuk lebih dalam. “Saya akan menyampaikannya, Yang Mulia.”Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Angin malam berembus pelan melewati pelataran istana yang luas, membuat ujung mantel hitam Carsein bergerak samar. Entah kenapa, ucapan Carsein tadi tidak terdengar seperti rasa terima kasih.Melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam dari itu.Laticia menatap lelaki tersebut beberapa saat. Mata biru sang kaisar kini kembali tenang seperti biasa, sulit ditebak dan sulit dibaca. Seolah sejak tadi dirinya tidak menunjukkan emosi apa pun.Dan justru itulah yang membuat hati Laticia terasa semakin tidak nyaman.Perlahan ia mengalihkan pandangannya lalu berbalik meninggalkan tempat itu bersama Ema yang masih terlihat gemetar ketakutan sejak penyerangan tadi.Sepanjang perjalanan menuju istana ratu, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Lorong-lorong istana terasa begitu sunyi malam itu. Cahaya lampu dinding menerangi langkah mereka yang perlahan sementara suara gaun panja
最後更新: 2026-05-23
Chapter: Bab 18Suasana di pelataran istana langsung berubah menegangkan setelah ucapan Jack terdengar.Bahkan Bill yang sejak tadi berdiri diam di belakang Carsein terlihat sedikit terkejut mendengarnya. Sementara Carsein sendiri membeku sesaat.Tatapan mata birunya langsung kembali jatuh pada Laticia, dan untuk pertama kalinya malam itu raut wajah lelaki tersebut berubah.“Apa?” Suara itu terdengar jauh lebih rendah sekarang. Bukan nada dingin penuh sindiran seperti sebelumnya, melainkan suara berat yang keluar spontan karena keterkejutan.Jack masih menundukkan kepalanya ketika kembali melanjutkan penjelasannya.“Bandit gunung menyerang kereta Yang Mulia Ratu di jalan utama dekat distrik barat. Salah satu dayang terluka terkena panah.”Rahang Carsein langsung mengeras.Aura dingin yang sejak tadi menyelimuti dirinya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat. Tatapan mata biru lelaki itu perlahan menajam seiring pikirannya mulai memproses ucapan Jack.Bandit gunung.Kelompok itu berasal dari wi
最後更新: 2026-05-23
Chapter: Bab 162Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya
最後更新: 2026-05-04
Chapter: Bab 161Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk
最後更新: 2026-04-22
Chapter: Bab 160Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi
最後更新: 2026-04-22
Chapter: Bab 159Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.
最後更新: 2026-04-22
Chapter: Bab 158Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s
最後更新: 2026-04-17
Chapter: Bab 157Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w
最後更新: 2026-04-17