author-banner
Lalapoo
Lalapoo
Author

Novels by Lalapoo

Bercerai Dari Kaisar!

Bercerai Dari Kaisar!

Laticia Valcrren akhirnya setuju bercerai setelah kedua orang tuanya mati dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Namun lelaki yang menghancurkan hidupnya—suaminya sendiri, sang kaisar—menolak melepaskannya. Tidak lagi memiliki cinta yang tersisa, Laticia bersumpah akan menghancurkan pria itu, bahkan jika ia harus menyeret seluruh kekaisaran jatuh bersamanya.
Read
Chapter: Bab 140
Dan Lereg berhenti bertanya.Tangannya menarik kain gaun ke pinggang. Laticia mengangkat pinggulnya secara naluriah, membantunya, dan kain sutra itu berkerut di perutnya. Lereg menatap paha-pahanya yang terbuka kulit pucat yang berkilau oleh cahaya api perapian, otot-ototnya yang sedikit tegang karena dingin dan keinginan."Buka," desah Laticia, suaranya tidak lagi seperti ratu.Seperti wanita yang menginginkan sesuatu dan tidak malu untuk mengatakannya. Lereg tidak menunggu untuk diperintah dua kali.Sabuk terbuka. Kancing-kancing terlepas. Kain celana meluncur ke lantai ruang kerja dengan suara lembut, dan ia kembali menindih Laticia dengan tubuh yang kini setengah telanjang kulitnya yang hangat menempel di kakinya yang terbuka.Laticia mendesah."Ini..." bisiknya, matanya memejam. "Sial."Lereg mendorong masuk.Laticia nyaris berteriak tangannya mencengkeram sandaran sofa hingga kain pelapisnya berkerut. Lereg menutup mulutnya dengan ciumannya, menelan suara-suara yang keluar dari
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 139
Badai salju datang tanpa peringatan.Angin menderu di luar tembok kastil seperti gerombolan serigala yang mengaum meminta masuk. Salju menumpuk di ambang jendela, menghalangi cahaya matahari, dan suhu turun begitu drastis hingga embun membeku di bagian dalam kaca.Selama dua hari pertama, tidak ada seorang pun yang keluar.Pedagang tidak datang. Kurir tidak melewati jalanan. Desa-desa di lembah menyalakan api unggun di tengah rumah mereka dan berdoa agar persediaan kayu cukup. Wilayah itu sepi, bukan sepi yang damai, melainkan sepi yang berat. Sepi yang membuat dinding-dinding kastil terasa semakin sempit."Badai seperti ini memang sering terjadi di musim ini," kata Lereg suatu pagi, berdiri di depan jendela ruang kerjanya dengan secangkir teh yang masih mengepul. "Biasanya berlangsung tiga sampai lima hari. Kadang lebih."Laticia duduk di sofa di belakangnya, selimut bulu domba melingkari bahunya."Kau tidak khawatir?" tanyanya.Lereg menoleh, dan senyumnya pelan."Tentang badai?""T
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 138
Pagi itu, salju masih turun pelan menutupi halaman Kastil Rudwick. Di depan kastil, rombongan kekaisaran sudah bersiap untuk berangkat. Para ksatria berdiri rapi, sementara kereta kekaisaran menunggu di depan tangga utama. Para pelayan sibuk menyiapkan semuanya, tetapi suasana tetap tenang.Carsein berdiri di depan kereta sambil menatap Laticia. Wanita itu mengenakan mantel putih tebal dan berdiri beberapa langkah darinya. Di sisi lain, Pricilla sudah lebih dulu naik ke dalam kereta dengan bantuan para pelayan karena kehamilannya. Laticia melihat semua itu, tetapi wajahnya tetap tenang, seolah tidak lagi peduli.Tak lama kemudian, Carsein berjalan mendekati Laticia dan berhenti tepat di depannya. Angin dingin berembus pelan, sementara keduanya hanya saling diam."Lati."Laticia mengangkat pandangannya perlahan."Ya, Yang Mulia?"Carsein menghela napas pelan. Entah mengapa, setiap kali Laticia memanggilnya dengan sapaan formal seperti itu, ia selalu merasa jarak di antara mereka bertam
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 137
Keheningan jatuh di antara mereka. Namun kali ini bukan keheningan yang canggung. Ia mengandung sesuatu yang lebih berat, sesuatu yang berdenyut di udara seperti petir yang menunggu untuk menyambar.Laticia tidak melepas tangan Lereg. Sebaliknya, ia menariknya perlahan.Sangat dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Lereg menelan ludah. Ia bisa mencium aroma kulit Laticia campuran dari sesuatu yang lebih alami, lebih murni. Sesuatu yang membuat ia tak kuasa menahan diri lebih dari ini."Laticia..." bisiknya, namun tidak ada kata-kata yang mengikuti.Karena Laticia sudah menciumnya lagi.Kali ini bukan kelembutan. Ada kelaparan di sana dan sesuatu yang tersembunyi terlalu lama di balik mahkota dan tanggung jawab dan pernikahan yang dingin. Bibirnya menekan dengan urgensi yang membuat Lereg tersentak. Desahan yang keluar dari tenggorokan Lereg terdengar hampir seperti rintihan.Tangannya yang tadinya bertumpu di sisi pohon kini bergerak sendiri.Menyentuh leher Laticia, jari-jariny
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 136
Laticia tidak menjawab. Ia hanya memandang Carsein beberapa detik, kemudian kembali mengalihkan tatapannya kepada hamparan mawar yang bermekaran di balik dinding kaca.Sikap itu sudah menjadi jawaban.Carsein akhirnya berbalik. Bersama Pricilla, ia meninggalkan rumah kaca tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dan pintu kaca tertutup perlahan di belakang mereka.Suara langkah kaki keduanya semakin menjauh, hingga akhirnya benar-benar menghilang, menyisakan keheningan panjang di tengah rumah kaca yang dipenuhi aroma mawar.Di meja makan itu kini hanya tinggal dua orang. Laticia yang masih memandang bunga-bunga.. Dan Lereg yang sejak awal memilih diam, menyaksikan seluruh pertengkaran itu tanpa sekali pun ikut campur.Ia tahu. Kadang-kadang, luka yang paling dalam bukanlah luka yang membuat seseorang menangis. Melainkan luka yang membuat seseorang mampu tersenyum sambil mengatakan kebenaran yang paling menyakitkan.Lereg memecah keheningan lebih dahulu."Apakah kau ingin aku meminta dapur
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 135
Kalimat itu meluncur begitu saja dengan pelan dan lembut. Tanpa sedikit pun nada meninggi, tapi karena disampaikan dengan begitu tenang, seluruh isi rumah kaca seakan kehilangan suara.Tangan Pricilla yang semula bertumpu di atas meja perlahan menegang. Senyumnya menghilang dan wajahnya yang semula merona kini berubah pucat sedikit demi sedikit. Ia tentu mengerti jika Laticia tidak sedang berbicara tentang sepotong steik. Wanita itu sedang berbicara tentang Carsein.Ema yang berdiri di belakang Laticia spontan menundukkan kepalanya lebih dalam, berusaha menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Bahkan beberapa pelayan yang sedang menuangkan minuman ikut menghentikan gerakan mereka sesaat.Sementara Lereg yang duduk tidak jauh dari sana perlahan mengangkat pandangan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Laticia, kemudian Pricilla, tetapi ia memilih tetap diam.Carsein sendiri tampak membeku.Pricilla menarik napas pelan. Ia berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai runtuh."Yang Mu
Last Updated: 2026-07-07
Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?

Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?

Helena putri dari kerajaan yang bangkrut dipaksa menikahi Marquess Laurent demi melunasi hutang kerajaannya. Ia telah diperingatkan bahwa jangan pernah menyalakan lampu setiap malam. Dalam kegelapan total, ia hanya bisa merasakan napas berat dan sentuhan seorang pria yang ia tahu bahwa itu suaminya. Namun, saat pagi datang, ia diperkenalkan adik iparnya yang baru usai perang. Masalahnya, mengapa pria ini terasa sangat familiar seperti semalam? Jika dia bukan suaminya, lantas siapa yang bermain dengannya di tiap malam?
Read
Chapter: Bab 55
Rion tidak langsung membantah ucapan Helena.Ia hanya menatap wanita itu dari seberang meja makan, sementara cahaya lilin yang bergoyang pelan membuat bayangan di wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Di luar jendela, malam telah turun sepenuhnya. Kastel Laurent yang megah kini tenggelam dalam kesunyian, hanya sesekali terdengar suara langkah pelayan yang berlalu di koridor.Helena menundukkan pandangan ke arah piringnya. Entah mengapa, percakapan yang awalnya membahas pergaulan bangsawan kini berakhir pada topik yang sama sekali tidak ingin ia pikirkan.Pernikahannya atau lebih tepatnya, pernikahan yang tidak pernah benar-benar terasa seperti pernikahan.Rion memutar gelas di tangannya , "Bisa saja lambat laun pernikahan politik yang kau jalani berubah menjadi pernikahan yang dipenuhi cinta."Helena tersenyum tipis. Namun kali ini senyumnya lebih menyerupai rasa tidak percaya."Aku tidak yakin."Rion mengangkat alis."Kenapa?"Helena terdiam beberapa saat. Pertanyaan itu terden
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 54
Kata-kata itu sederhana, cukup untuk membuat Dorote menundukkan kepala lebih dalam. Setelah itu tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Ruangan kembali hening. Helena mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan dokumen di atas meja, tetapi pikirannya masih tertahan pada cerita yang baru saja ia dengar. Entah mengapa, dari semua kisah yang didengarnya hari ini, sosok yang paling sulit ia lupakan justru adalah Rion.Pria itu selalu terlihat tenang.Dan kini Helena mulai bertanya-tanya berapa banyak hal yang harus dipendam seseorang hingga akhirnya mampu mengenakan ketenangan seperti sebuah topeng.***Makan malam malam itu berlangsung jauh lebih tenang dibanding biasanya. Meja makan yang panjang hanya ditempati oleh dua orang. Helena duduk di salah satu sisi, sementara Rion berada tidak jauh di hadapannya. Cahaya lilin memantulkan bayangan lembut di atas meja, menciptakan suasana yang cukup hangat meski percakapan di antara mereka tidak terlalu banyak.Helena sesekali mengangkat pandangann
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 53
Helena terdiam, dan Dorote menghela napas pelan seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah lama berlalu."Setelah Marchioness meninggal, tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka. Semua orang hanya mengatakan bahwa beliau terlalu menderita karena penyakitnya.""Tapi tidak ada yang benar-benar percaya?" Tanya Helena.Dorote ragu sejenak."Kami tidak tahu harus percaya apa."Jawaban itu justru membuat Helena semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan. Jika semua orang benar-benar percaya bahwa kematian itu disebabkan oleh penyakit dan keputusasaan, seharusnya tidak akan ada keraguan seperti ini bertahun-tahun kemudian."Apa Marquess tidak mengatakan apa pun?" tanya Helena.Dorote menggeleng."Beliau mengurusi pemakaman dan setelah itu tidak pernah membicarakan masalah tersebut lagi.""Dan Nyonya Eliza?"Dorote terlihat benar-benar berhati-hati."Nyonya Eliza tetap berada di kastel."Helena mengangkat alis."Tetap berada di kastel?""Ya." Dorote menundukkan pandangan. "Tidak
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 52
Keheningan yang muncul setelahnya terasa lebih berat daripada teriakan Rose. Rion berhenti sejenak, tetapi tidak mengatakan apa pun. Ia hanya melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar kastel.Sementara itu, Rose tetap berdiri di tempat dengan dada yang naik turun karena emosi sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat menuju Paviliun Timur.Tak seorang pun berani menatap atau menyapanya. Setelah keduanya menghilang dari pandangan, koridor kembali sunyi. Di lantai atas, Helena masih berdiri di tempatnya sambil menggenggam pagar tangga. Pikirannya terasa kacau, bukan karena pertengkaran yang baru saja terjadi, melainkan karena satu kenyataan yang baru saja ia dengar.Rion anak haram keluarga Laurent. Helena menatap kosong ke arah pintu yang tadi dilewati pria itu. Tiba-tiba banyak hal yang selama ini terasa aneh mulai menemukan jawabannya sendiri.Sikap beberapa bangsawan terhadap Rion. Cara pria itu selalu menjaga jarak. Dan mengapa, meskipun memegang begitu banyak kekuasaan, ia tida
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 51
Rose terdiam.Koridor utama kastel tenggelam dalam keheningan yang terasa menyesakkan. Tatapannya masih tertuju pada Rion, seolah menunggu pria itu mengatakan sesuatu. Membantah. Marah. Atau setidaknya menunjukkan bahwa kata-katanya berhasil melukai.Namun Rion tidak melakukan semua itu. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Hal itu justru membuat kemarahan Rose semakin membesar.Rion menghela napas pelan, lalu menatapnya seolah percakapan ini telah berlangsung terlalu lama."Masuklah." Nada suaranya tenang. "Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi keluhanmu."Kalimat itu membuat wajah Rose langsung menggelap. Sesaat lalu ia masih berusaha terlihat sebagai pihak yang tersakiti. Kini seluruh kepura-puraan itu runtuh begitu saja."Jadi sekarang kau memperlakukanku seperti ini?"Suara Rose terdengar tajam."Aku memperlakukanmu seperti ini?"Rion mengulang kalimat itu pelan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian ia menggel
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 50
Rose tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi Helena sudah tidak berniat mendengarnya. Tanpa memberinya kesempatan berbicara, Helena berbalik dan melangkah menuju pintu kastel. Ia bisa merasakan tatapan Rose mengikuti setiap langkahnya, namun kali ini ia tidak menoleh.Apa pun yang dikatakan wanita itu tidak lagi penting, Madam Carol benar. Ia terlalu banyak menghabiskan waktu memikirkan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.Masa lalu Rezef. Hubungan pria itu dengan Rose. Perasaan yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui. Semua itu hanya membuatnya lelah.Pernikahan ini adalah pernikahan politik. Sejak awal memang demikian. Selama ia menjalankan kewajibannya sebagai Marchioness Laurent dengan baik, tidak ada alasan bagi kedudukannya untuk terguncang.Rezef mencintainya atau tidak, itu bukan sesuatu yang bisa ia paksa. Namun ia tetap istrinya. Tetap nyonya rumah kastel ini. Dan tidak ada gunanya terus membiarkan dirinya terseret oleh kecemburuan yang tidak menghasilkan apa-apa.D
Last Updated: 2026-06-30
Jerat Hasrat Ayah Angkat

Jerat Hasrat Ayah Angkat

Diusir tanpa harta setelah perceraian, aku kembali sebagai wanita penuh kemewahan. Semua orang bertanya dari mana datangnya kekayaanku. Tak ada yang tahu, rahasiaku hanyalah satu— aku adalah wanita simpanan ayah angkatku sendiri.
Read
Chapter: Bab 162
Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 161
Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 160
Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 159
Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 158
Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bab 157
Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w
Last Updated: 2026-04-17
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status