author-banner
Lalapoo
Lalapoo
Author

Novels by Lalapoo

Bercerai Dari Kaisar!

Bercerai Dari Kaisar!

Laticia Valcrren akhirnya setuju bercerai setelah kedua orang tuanya mati dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Namun lelaki yang menghancurkan hidupnya—suaminya sendiri, sang kaisar—menolak melepaskannya. Tidak lagi memiliki cinta yang tersisa, Laticia bersumpah akan menghancurkan pria itu, bahkan jika ia harus menyeret seluruh kekaisaran jatuh bersamanya.
Read
Chapter: Bab 289
Pricilla masih menatap Laticia dengan pikiran yang belum sepenuhnya mampu menerima semua perkataan wanita itu. Tawaran untuk menjadi Ratu terlalu besar untuk dianggap sebagai sekadar permainan. Jika Laticia benar-benar melepaskan posisinya, maka jalan menuju takhta yang selama ini terasa mustahil tiba-tiba terbuka di hadapannya.Namun ada satu hal yang masih membuat Pricilla ragu.“Kalau aku benar-benar menjadi Ratu...” suaranya terdengar lebih pelan. “Apa kau akan mendukungku?”Laticia menoleh dan memandang Pricilla dari balik bahunya. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun keraguan.“Tentu saja.”Hanya dua kata.Namun jawaban itu justru membuat Pricilla terdiam lebih lama.Laticia tidak menjelaskan apa pun lagi. Ia hanya berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Pricilla sendirian dengan pikirannya sendiri.Pintu perlahan tertutup.Pricilla masih memandang ke arah pintu tersebut. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Laticia hanya sebagai wanita
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 288
Laticia akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia sudah cukup mendengar luapan emosi Pricilla. Tidak ada gunanya terus berada di ruangan itu jika wanita tersebut belum mampu mengendalikan pikirannya sendiri. Bagi Laticia, rencana yang bagus hanya akan menjadi sia-sia jika orang yang menerimanya terlalu dikuasai ketakutan.Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Pricilla terdengar dari belakang.“Tunggu.”Langkah Laticia berhenti.Ia tidak langsung menoleh. Untuk sesaat, ia hanya berdiri dengan tenang, seolah sudah mengetahui bahwa Pricilla pada akhirnya akan memanggilnya kembali. Setelah beberapa detik, Laticia perlahan menoleh dan mendapati Pricilla sedang menatapnya dari atas ranjang.Wajah wanita itu masih terlihat tegang. Sisa kemarahan masih jelas terlihat di matanya, tetapi kali ini tidak lagi bercampur dengan ledakan emosi seperti sebelumnya. Ada keraguan, rasa takut, sekaligus keinginan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakan Laticia.“Aku akan mende
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 287
Pricilla membeku.Laticia menatapnya lurus. “Menjadi Ratu bukan berarti aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Gelar itu hanya memberiku sebuah posisi.”Pricilla tidak mampu menjawab.“Kalau Kaisar memilih wanita lain, lalu apa yang berubah bagiku?” lanjut Laticia. “Aku tetap Ratu. Dia tetap Kaisar. Istana ini tetap berdiri. Semuanya terlihat sama seperti sebelumnya.”Laticia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,“Hanya saja sekarang aku tidak lagi menunggu apa pun darinya.”Pricilla menatapnya dalam diam, ia mulai menyadari bahwa ketenangan Laticia bukan karena wanita itu yakin Carsein tidak akan meninggalkannya. Justru sebaliknya. Laticia tampak begitu tenang karena ia sudah tidak peduli apakah Carsein memilihnya atau tidak.Dan entah mengapa, kesadaran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan seorang Ratu.Laticia masih berdiri di hadapan Pricilla ketika akhirnya berkata,“Sepertinya, meskipun aku melakukan lebih banyak hal untukmu, Kaisar tetap aka
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: Bab 286
“Baik, Yang Mulia. Saya akan menyampaikannya.”Melisa masih berdiri di hadapan Laticia, menunggu keputusan berikutnya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya memberanikan diri bertanya, “Jadi, kapan Yang Mulia akan menemui Lady Selena?”Laticia yang sejak tadi memandang ke luar jendela perlahan mengalihkan pandangannya kepada Melisa. Wajahnya tetap tenang, seolah persoalan Selena bukan sesuatu yang perlu dipikirkannya terburu-buru.“Jika dia bisa membuat Carsein melupakan masalah denganku, aku akan menemuinya,” jawab Laticia santai. “Katakan kepadanya, jika dia berhasil melakukannya, aku akan memberinya hadiah.”Melisa segera menundukkan kepala. “Baik, Yang Mulia. Akan saya sampaikan.”Namun setelah mengatakan itu, Melisa tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan ekspresi sedikit ragu. Laticia yang menyadarinya akhirnya menoleh lagi.“Apa ada lagi yang ingin kau katakan?”Melisa menarik napas pelan,“Lady Selena juga bertanya apakah setelah kejadian ini akan terjadi masa
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: Bab 285
Lereg masih menatap Laticia setelah mendengar bahwa Kaisar Kekaisaran Barat ingin bertemu dengannya sebelum memasuki ibu kota.Ada sedikit perubahan pada sorot matanya. Jika sebelumnya pembicaraan mereka hanya berkisar pada serangan bandit dan perjalanan rombongan kekaisaran, sekarang perhatian mereka beralih pada satu hal yang jauh lebih penting: bagaimana Laticia bisa bertemu dengan Kaisar Barat tanpa diketahui Carsein.“Kalau begitu,” ujar Lereg setelah beberapa saat, “apakah kau sudah bisa pergi sekarang untuk bertemu dengannya?”Laticia yang sedang merapikan beberapa dokumen di atas meja berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah dan menatap Lereg dengan tenang.“Tidak semudah itu. Aku harus mencari waktu yang tepat.”“Bukankah dia sudah menunggumu?”“Menunggu bukan berarti aku bisa langsung meninggalkan istana.” Laticia kembali meletakkan dokumen di tempatnya. “Terlebih lagi setelah kejadian beberapa hari terakhir. Carsein tidak akan membiarkanku bergerak terlalu bebas.”Lereg mengan
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: Bab 284
Laticia terdiam. Ia tidak bisa menyangkal bahwa tindakan Lereg mungkin telah mencegah keadaan menjadi lebih buruk. Namun, persoalan sebenarnya bukan hanya tentang siapa yang menang dalam serangan tersebut.Jika Kaisar Barat mengetahui bahwa seseorang dari wilayah Utara telah menyelamatkannya, ia mungkin akan menganggap kejadian itu sebagai alasan untuk menjalin hubungan langsung dengan Lereg. Sebaliknya, jika identitas pria itu disembunyikan, kunjungan diplomatik yang seharusnya berjalan lancar bisa menimbulkan kecurigaan.“Setelah serangan itu berakhir, apa yang terjadi?” tanya Laticia akhirnya.Lereg menyilangkan kedua lengannya. “Kaisar Barat ingin mengetahui siapa orang yang telah membantunya. Dia bahkan memerintahkan para pengawalnya mencari tahu identitasku.”“Dan kau?”“Aku tidak langsung memberitahunya.”Laticia mengernyit.“Lalu bagaimana kalian bisa bertemu?”“Dia sendiri yang mendekatiku. Sepertinya dia tidak terlalu suka jika seseorang menyelamatkannya lalu pergi tanpa mem
Last Updated: 2026-10-02
Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?

Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?

Helena putri dari kerajaan yang bangkrut dipaksa menikahi Marquess Laurent demi melunasi hutang kerajaannya. Ia telah diperingatkan bahwa jangan pernah menyalakan lampu setiap malam. Dalam kegelapan total, ia hanya bisa merasakan napas berat dan sentuhan seorang pria yang ia tahu bahwa itu suaminya. Namun, saat pagi datang, ia diperkenalkan adik iparnya yang baru usai perang. Masalahnya, mengapa pria ini terasa sangat familiar seperti semalam? Jika dia bukan suaminya, lantas siapa yang bermain dengannya di tiap malam?
Read
Chapter: Bab 97
Helena tetap berdiri di tempatnya setelah Rose pergi. Baru ketika pintu balkon benar-benar tertutup dan langkah kaki wanita itu tak lagi terdengar, ia membiarkan bahunya sedikit mengendur.Ia mengembuskan napas panjang.Akhirnya. Setidaknya untuk beberapa saat, ia bisa bernapas tanpa harus memikirkan kata-kata yang sengaja dilemparkan kepadanya.Helena mengangkat wajah, membiarkan angin malam menyentuh pipinya. Udara di balkon terasa jauh lebih dingin dibandingkan suasana di dalam aula, tetapi justru itulah yang ia butuhkan.Pesta ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Ia datang hanya untuk menghadiri sebuah acara. Namun sepanjang malam, ia harus menghadapi tatapan orang-orang, bisikan mengenai Rezef, sindiran Rose, bahkan rumor tentang dirinya dan Rion.Helena menundukkan pandangan. Ia masih teringat perkataan Rose. Helena tidak ingin memikirkannya.Pernikahannya dengan Rezef memang berbeda dari kebanyakan pernikahan bangsawan lainnya. Tidak ada kemesraan yang
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 96
Rion kembali menatap Helena."Kalau kita berhenti sekarang hanya karena mereka berbicara, bukankah itu justru membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu?"Helena terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa perkataan Rion masuk akal."Jadi kita terus saja?""Ya."Rion kembali menggerakkan langkahnya."Biarkan mereka melihat sesuatu yang memang tidak salah."Helena tidak menjawab.Ia hanya mengikuti gerakannya. Musik terus mengalun, dan mereka kembali berputar di tengah lantai dansa.Dari luar, mereka memang terlihat seperti pasangan yang serasi. Rion memimpin dengan tenang, sementara Helena mengikuti langkahnya dengan anggun. Tidak ada yang mengetahui bahwa wanita itu justru sedang berusaha keras menjaga jarak di dalam pikirannya.Tidak ada yang mengetahui bahwa setiap kali tangan Rion menyentuhnya, Helena teringat pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.Dan mungkin itulah yang paling membuatnya gelisah. Bukan tatapan para bangsawan. Bukan pula bisikan Rose. Melainkan kenyataan b
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 95
Helena menarik napas perlahan. Ia mulai memahami apa yang dilakukan Rose. Wanita itu tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa Helena menyukai Rion atau bahwa pernikahannya dengan Rezef sedang bermasalah. Rose hanya melemparkan kalimat-kalimat samar, lalu membiarkan orang lain membuat kesimpulan sendiri.Helena tidak perlu mendengar bisikan mereka untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tatapan beberapa bangsawan yang sesekali beralih dari dirinya kepada Rion sudah cukup menjelaskan semuanya.Ia menegakkan tubuh dan memilih untuk tidak menanggapi.Jika ia membantah setiap perkataan, justru akan terlihat seolah-olah dirinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Lebih baik membiarkan mereka berbicara sampai bosan sendiri.Namun ketika Helena tanpa sengaja menoleh kepada Rion, pria itu sedang memandangnya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata. Tetapi tatapan itu membuat Helena kembali teringat pada satu hal yang selama ini berusah
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 94
Begitu memasuki aula, Helena segera menyadari bahwa suasananya jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Para bangsawan telah memenuhi ruangan, sebagian berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbincang, sementara yang lain duduk di sekitar meja panjang yang dipenuhi hidangan dan minuman. Kilauan lampu kristal memenuhi langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai marmer dan gaun-gaun mewah yang dikenakan para wanita.Namun sebelum Helena sempat memperhatikan lebih jauh, Rion sudah membimbingnya menuju bagian tengah aula."Yang Mulia ada di sana."Helena mengikuti arah pandangnya. Kaisar berdiri bersama beberapa pejabat dan bangsawan tinggi. Begitu melihat mereka mendekat, percakapan di sekitar kelompok itu perlahan mereda.Helena menarik napas kecil. Ia kemudian berdiri sedikit lebih tegak. Rion berhenti beberapa langkah di hadapan Kaisar, lalu menundukkan kepala dengan hormat. Helena segera melakukan hal yang sama."Salam hormat, Yang Mulia."Kaisar memandang mereka berdua se
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: Bab 93
Rion terdiam mendengar jawaban Helena. Tatapannya sempat beralih pada cadar tipis yang menutupi sebagian wajah wanita itu, kemudian kembali pada matanya. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya terangkat sedikit."Jadi Anda takut orang-orang mengira saya pasangan Anda?"Helena langsung mengerutkan kening. "Jangan mengatakan sesuatu seperti itu."Nada suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia maksudkan. Namun Rion justru terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat tersinggung."Saya hanya bertanya.""Anda tahu apa yang saya maksud.""Saya tahu."Jawaban Rion begitu singkat. Setelah itu ia tidak lagi menggoda Helena. Ia hanya berbalik menuju kereta yang telah menunggu di depan mereka, lalu membuka pintunya dengan tenang."Silakan."Helena hanya menatap Rion sebentar sebelum masuk ke dalam kereta. Rion menyusul setelah memastikan Helena duduk dengan nyaman, lalu mengambil tempat di seberangnya.Kereta mulai berjalan meninggalkan Kastel Laurent. Helena memandang keluar jendela,
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: Bab 92
Malam itu, setelah kembali ke kamar, Helena masih memikirkan perkataan Rion sebelum mereka berpisah. Helena duduk di depan meja rias dengan rambut terurai. Ia sudah berganti pakaian, tetapi kalung dengan batu permata merah dari Rezef masih terpasang di lehernya. Ia menyentuhnya perlahan.Entah mengapa, Helena merasa heran. Bukankah seharusnya Rion lebih mengingat bros pemberiannya sendiri? Bros berlambang keluarga Laurent itu masih tersemat di gaunnya.Namun saat mereka berpisah, justru kalung pemberian Rezef yang Rion ingatkan untuk dijaga.Helena mengerutkan kening."Aneh..."Helena memiringkan kepala, mencoba memahami maksud Rion. Mungkin Rion hanya ingin mengingatkannya. Kalung itu bukan perhiasan biasa. Itu hadiah dari Rezef, suaminya, yang diberikan tepat pada hari pesta teh pertamanya dan disaksikan banyak orang.Mungkin Rion hanya mengingatkan bahwa kalung itu penting.Tidak lebih.Helena mengangguk kecil, merasa sudah menemukan alasan yang masuk akal."Ya. Mungkin hanya itu."
Last Updated: 2026-08-23
Jerat Hasrat Ayah Angkat

Jerat Hasrat Ayah Angkat

Diusir tanpa harta setelah perceraian, aku kembali sebagai wanita penuh kemewahan. Semua orang bertanya dari mana datangnya kekayaanku. Tak ada yang tahu, rahasiaku hanyalah satu— aku adalah wanita simpanan ayah angkatku sendiri.
Read
Chapter: Bab 162
Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 161
Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 160
Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 159
Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 158
Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bab 157
Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w
Last Updated: 2026-04-17
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status