Share

Bercerai Dari Kaisar!
Bercerai Dari Kaisar!
Penulis: Lalapoo

Bab 1

Penulis: Lalapoo
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 12:10:17

“Aku setuju bercerai.”

Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.

Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Kaisar Carsein Rass de Ascham.

Carsein menatapnya balik, tajam, dingin, seolah berusaha menembus isi kepalanya.

“Setan apa yang merasukimu kali ini, Ratu?” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun sarat ejekan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

Laticia tidak goyah. “Saya serius, Yang Mulia.”

Jawabannya tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin menegang.

“Sungguh?” Carsein terkekeh pelan, lalu tiba-tiba suaranya meninggi. “Sudah kuduga!”

Para pelayan refleks mundur beberapa langkah. Tak seorang pun berani menatap langsung ke arah mereka.

Carsein menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dengan sorot penuh kecurigaan.

“Kau pikir aku akan langsung percaya setelah kau menolak perceraian itu sebanyak sembilan belas kali?” Angka itu menggantung di udara seperti tuduhan yang tak terbantahkan.

Laticia menunduk.

Sembilan belas kali Carsein mengajukan perceraian, dan sembilan belas kali pula Laticia menolaknya dengan menggunakan haknya sebagai ratu untuk mempertahankan pernikahan dan keutuhan tahta.

Ia bertahan karena cinta, dan karena konsekuensi perceraian yang mengerikan. Jika bercerai, Laticia tidak hanya kehilangan tahtanya sebagai ratu, tetapi juga bisa diasingkan, bahkan dilelang seperti barang tak berharga.

Ia tetap bertahan meskipun tahu Carsein memiliki wanita lain di belakangnya. Ia menutup mata, menutup telinga, meyakinkan dirinya bahwa selama ia tetap menjadi ratu, selama ia tetap berada di sisi lelaki itu, semuanya masih bisa diperbaiki.

Namun kali ini berbeda sebab wanita itu sedang mengandung anak Carsein, Laticia merasa posisinya benar-benar terancam.

Setelah penolakan terakhirnya, Carsein tidak lagi bersembunyi. Ia membawa wanita simpanannya ke istana. Seorang wanita yang bahkan tengah mengandung anaknya.

Sejak saat itu, pernikahan mereka yang sebelumnya hanya dipenuhi kepura-puraan berubah menjadi neraka yang nyata.

“Kita bercerai saja, saya lelah.” Kali ini, suaranya lebih pelan. Namun justru karena itu, kalimat itu terasa jauh lebih berat.

Laticia menahan napas sejenak sebab ia benar-benar lelah.

Bukan hanya sekali atau dua kali ia dihina. Carsein merendahkannya di hadapan para bangsawan, di depan seluruh kekaisaran. Ia datang ke setiap acara resmi dengan wanita itu, menggandengnya dengan bangga, seolah Laticia tidak pernah ada.

Seolah ratu kekaisaran hanyalah bayangan yang tak berarti.

Harga dirinya hancur bukan hanya sebagai seorang ratu, tetapi juga sebagai seorang istri. Sebagai nyonya istana, ia seharusnya dihormati, dijunjung tinggi. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan meremehkan dan bisikan penuh kasihan.

Balum lagi Carsein tidak segan menuduh atau menghukumnya, mencampakkannya dan lebih parah lagi merendahkannya seolah ia hanyalah wanita murahan dan bukan seorang Ratu.

Carsein terkekeh ringan. “Jadi begitu?”

Laticia menghela napas kasar. Ia tidak ingin membahas ini. Tidak sekarang dan tidak di hadapan semua orang.

Namun Carsein tidak berniat berhenti.

“Setelah duke dan duchess mati, akhirnya kau menyerah juga, ya?”

Laticia menatapnya.

Ia masih mengenakan gaun berkabung hitam pekat, tanpa satu pun hiasan. Kematian ayah dan ibunya masih terasa seperti luka yang menganga.

Dan lelaki yang duduk di hadapannya itu adalah tersangka utama di balik semuanya. Carsein melakukan itu hanya karena ia menolak bercerai.

Bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tuanya, Carsein juga menghancurkan keluarganya, membuat nama Valcren dijauhi, ditinggalkan, seolah mereka adalah kutukan.

“Jangan pikir aku akan setuju kali ini,” kata Carsein dingin.

Laticia tidak segera menjawab.

Ia hanya menatapnya, lama seolah untuk terakhir kalinya melihat lelaki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati.

“Kau yang memilih semua ini terjadi, Laticia Valcren!”

“Saya rasa saya tidak salah.”

Suara Laticia terdengar tenang, akan tetapi justru karena itulah, kalimat itu terasa jauh lebih tegas, seolah ia telah menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya.

Carsein menyeringai.

“Tidak salah?” Balasannya ringan, namun mengandung tekanan yang cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

Laticia tidak menanggapi.

Carsein sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap wanita di hadapannya.

“Kesombonganmu itulah yang menghancurkanmu!”

Tatapan Laticia terangkat perlahan.

“Saya hanya mempertahankan hak saya, Yang Mulia.” Jawabannya tetap sama, tanpa emosi berlebihan dan tanpa penyesalan.

Namun justru itulah yang membuat ekspresi Carsein mengeras.

Ia tertawa pendek, kering, tanpa sedikit pun kehangatan.

“Hak?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Aku sudah membayar harga dari apa yang kau dan orang tuamu berikan, Laticia. Jangan serakah.”

Laticia tetap menatapnya.

Di dalam dirinya, ingatan demi ingatan berkelebat tentang bagaimana keluarganya mempertaruhkan segalanya demi lelaki ini. Tentang bagaimana mereka menentang arus, melawan kehendak istana, hanya untuk memastikan Carsein duduk di atas tahta padahal ia bukan pilihan yang ditetapkan.

Dan inilah balasannya. Pengkhianatan dan penghinaan yang terus berulang.

Srak—

Suara kursi berderit kasar memecah keheningan.

Carsein berdiri.

Bayangannya jatuh panjang, menutupi sosok Laticia yang masih duduk dengan anggun di kursinya.

Berbeda dari biasanya, Laticia tidak mengenakan perhiasan mewah ataupun riasan mencolok. Gaun yang ia kenakan sederhana, tanpa kilau kebesaran seorang ratu.

Carsein menatapnya dari atas, sorot matanya tajam dan penuh keputusan.

“Baiklah,” ucapnya pelan, namun sarat ancaman. “Seperti yang kau inginkan, Laticia.”

Laticia tidak bergerak.

“Seumur hidupmu,” lanjut Carsein, setiap katanya ditekan dengan jelas, “kau akan tahu seperti apa neraka dalam pernikahanmu sendiri.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 159

    Laticia tetap berdiri di sisi Lereg dengan tenang. Senyum anggun yang sejak awal menghiasi wajahnya tidak berubah sedikit pun, seolah percakapan yang sedang berlangsung sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya. Namun sebagai seorang wanita, ia dapat dengan mudah menangkap maksud yang tersembunyi di balik setiap ucapan Lady Eleanor.Tidak ada satu pun kalimat yang terdengar terang-terangan menggoda, itulah yang membuatnya terasa begitu jelas.Cara Eleanor memandang Lereg lebih lama dari seharusnya, senyum yang selalu mengembang setiap kali lelaki itu berbicara, hingga gerakan kecil merapikan rambutnya seolah tanpa sadar... semuanya menunjukkan bahwa perhatian wanita itu bukan sekadar rasa hormat kepada seorang Grand Duke.Laticia hanya mengembuskan napas pelan.Ia tidak menyela.Tidak pula menunjukkan ketidaksukaannya. Namun Lereg yang berdiri di sampingnya justru mulai merasa gelisah. Sesekali ia melirik ke arah Laticia, berharap menemukan sesuatu pada wajah perempuan itu. Sayang

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 158

    Jawaban Lereg begitu singkat, tetapi terdengar mantap. Ia mengambil segelas minuman dari nampan pelayan, kemudian berdiri di samping Laticia sambil memandang para tamu yang masih memenuhi aula."Orang-orang selalu membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan. Kalau bukan tentang politik, mereka akan membicarakan keluarga bangsawan. Kalau bukan tentang perang, mereka akan membicarakan kehidupan pribadi orang lain."Ia mengangkat bahu kecil."Rumor hanya akan berhenti ketika mereka menemukan korban berikutnya."Laticia memperhatikan wajahnya beberapa saat."Jadi kau benar-benar tidak keberatan?"Lereg menoleh dan menatap mata Laticia secara langsung."Aku lebih khawatir padamu daripada pada diriku sendiri."Jawabannya begitu jujur hingga membuat Laticia sedikit terdiam. Lereg melanjutkan dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat."Aku sudah hidup dengan berbagai macam gosip sejak kecil. Hanya karena aku lahir sebagai anak haram, orang-orang sudah menciptakan ratusan cerita tentangku. Aku

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 157

    "Aku mendengar percakapan kalian."Nada suaranya begitu lembut hingga nyaris terdengar seperti bisikan. Namun justru kelembutan itulah yang membuat jantung para wanita itu berdegup semakin kencang.Laticia perlahan berbalik menghadap mereka. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya tetap tenang, sulit ditebak apakah ia sedang marah atau justru tidak peduli sama sekali."Aku hanya ingin memastikan satu hal," ujarnya pelan. "Menurut kalian, apakah setiap pria yang memperlakukan seorang wanita dengan hormat pasti sedang jatuh cinta kepadanya? Ataukah setiap wanita yang menerima penghormatan itu otomatis dianggap sedang menggoda?"Tak ada jawaban.Para wanita itu saling melirik dengan gelisah. Laticia melanjutkan tanpa meninggikan nada bicaranya."Grand Duke Rudwick adalah penguasa wilayah ini. Aku datang sebagai tamunya sekaligus tamu kehormatan bagi seluruh bangsawan Utara. Sudah menjadi kewajibannya memastikan aku diperlakukan dengan baik selama berada di wilayahnya.

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 156

    Sejak sore hari, seluruh Kastil Rudwick telah dipenuhi kesibukan.Para pelayan berlalu-lalang di sepanjang koridor sambil membawa kotak-kotak perhiasan, jubah musim dingin, serta berbagai perlengkapan yang akan digunakan untuk perjamuan malam itu. Aula utama tempat pesta diselenggarakan telah dihias sejak pagi. Lampu-lampu kristal dibersihkan hingga berkilau, rangkaian bunga musim dingin memenuhi setiap sudut ruangan, sementara para juru masak sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut para bangsawan yang datang dari berbagai wilayah Utara.Di kamar yang kini hampir setiap hari ia tempati, Laticia telah selesai mempersiapkan diri.Ema merapikan lipatan terakhir gaunnya, sementara Melisa memasangkan sepasang anting safir yang memantulkan cahaya kebiruan setiap kali terkena sinar matahari yang mulai menghilang di balik jendela."Yang Mulia benar-benar cantik malam ini," gumam Ema dengan senyum bangga.Laticia hanya membalas dengan senyum tipis.Ia tidak terlalu memikirkan pesta itu. Bagi

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 155

    Laticia terdiam karena jawaban itu terdengar begitu sederhana. Tapi karena kesederhanaannya, hatinya terasa menghangat.Tidak ada janji yang berlebihan dan tidak ada kata-kata manis yang dibuat-buat. Hanya sebuah kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh seseorang yang benar-benar bersungguh-sungguh.Laticia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali tersenyum."Kalau begitu..." Ia mengambil secangkir teh hangat, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah Lereg. "Kurasa kita harus lebih sering melakukan perjalanan seperti ini."Lereg terkekeh pelan."Aku juga berharap begitu."***Menjelang siang pada hari ketiga, puncak-puncak menara Kastil Rudwick akhirnya mulai terlihat dari kejauhan.Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi wilayah Barat, hutan-hutan pinus, dan dataran bersalju di Utara, keduanya akhirnya kembali ke tempat yang selama beberapa minggu terakhir menjadi rumah bagi Laticia.Begitu kuda mereka memasuki gerbang utama, deretan pelayan dan para kesatri

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 154

    Sirvian perlahan menganggukkan kepala. Kini ia memahami maksud keponakannya."Jadi kau tidak ingin ada yang mengetahui bahwa kau pernah datang ke wilayah Barat.""Benar." Jawaban Laticia terdengar mantap. "Semakin sedikit orang yang mengetahui pertemuan kita hari ini, semakin baik. Aku ingin Carsein tetap percaya bahwa seluruh waktuku hanya kuhabiskan di Utara."Ia menarik napas panjang."Biarkan dia merasa semuanya masih berada dalam kendalinya."Lereg yang sejak tadi memilih diam akhirnya membuka suara."Itu keputusan yang tepat." Tatapannya beralih kepada keluarga Edevane. "Selama mereka belum mengetahui kalian berada di pihak Ratu, kalian masih memiliki kebebasan untuk bergerak."Sirvian mengangguk pelan."Kalau begitu, kami akan menjaga rahasia ini."Duke Edevane tersenyum tipis, meski sorot matanya memperlihatkan rasa enggan untuk kembali berpisah."Baiklah." Ia menghela napas panjang. "Kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan menahanmu."Laticia menghampiri kursi sang duke.

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 3

    “Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 2

    Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 101

    Melisa menunduk dalam, memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar percakapan biasa.“Baik, Yang Mulia.”Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laticia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gaunnya bergesekan pelan di atas lantai marmer, langkahnya terdengar mantap meski tubuhnya belum sepenuhnya puli

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 85

    Hari-hari berlalu setelah pesta itu, namun istana tetap berdiri dalam ketenangan yang sama seperti biasanya.Koridor panjang masih dipenuhi langkah pelayan yang berjalan terburu-buru sambil membawa nampan teh atau setumpuk dokumen kerajaan. Para bangsawan tetap datang menghadiri pertemuan resmi den

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status