LOGINLaticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.
“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam-diam bertemu dengan Grand Duke untuk berkhianat?”
Tatapan Laticia sempat beralih ke arah Lereg yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Berbeda dengan beberapa saat lalu, lelaki itu kini sudah kembali tenang. Wajahnya kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hanya tatapan birunya saja yang terlihat lebih gelap dari biasanya.
Laticia lalu kembali menatap Carsein.
Sementara sang kaisar masih berdiri diam di depannya dengan aura dingin yang memenuhi seluruh ruangan.
“Semua orang membicarakan ini.” Suara Carsein terdengar rendah dan tajam.
Laticia perlahan bangkit dari duduknya.
Gaun panjangnya jatuh rapi saat ia berdiri hingga kini dirinya berhadapan langsung dengan sang kaisar tanpa jarak meja di antara mereka.
Tatapan mata biru keduanya bertemu dan suasana ruangan langsung terasa semakin menyesakkan.
“Jadi sekarang,” ucap Laticia pelan, “bisik-bisik orang lain menjadi perhatian Anda?”
Sorot mata Carsein langsung berubah dingin.
“Jangan lancang, Laticia.”
Namun Laticia tidak mundur sedikit pun. Wanita itu hanya menatap lurus ke arah lelaki di depannya, seolah tidak lagi takut pada sang kaisar.
Carsein kembali membuka suara dengan nada lebih keras dibanding sebelumnya.
“Urusan wilayah utara harus berada di bawah persetujuanku.” Rahangnya mengeras. “Dan aku sudah menolaknya.”
Laticia tetap diam, tatapannya tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat Carsein semakin tidak nyaman.
“Jadi sekarang,” lanjut Carsein dingin, “kau melanggar perintahku dengan membiarkan Grand Duke masuk ke ruang kerjamu?”
“Grand Duke berhak mengetahui keputusan Anda,” jawab Laticia tanpa ragu.
Carsein langsung menatap tajam ke arahnya.
“Perintahku mutlak.” Suaranya terdengar penuh tekanan. “Dan kau tidak punya hak untuk membantahnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Para pelayan di luar pintu bahkan tidak berani mengangkat kepala mereka sedikit pun. Ketegangan di dalam ruangan terasa terlalu jelas hingga membuat siapa pun sulit bernapas dengan tenang.
Namun di tengah suasana itu, Laticia justru tersenyum kecil. Senyuman tipis yang terlihat pahit.
Tatapannya tidak meninggalkan wajah Carsein saat ia perlahan membuka bibirnya.
“Bagaimanapun juga saya adalah ratu.”
Suara wanita itu terdengar pelan, tetapi jelas di tengah ruangan yang sunyi.
“Saya memiliki hak kesetaraan dengan Anda.” Tatapannya perlahan menajam. “Bukan hanya dalam urusan pribadi, tetapi juga dalam urusan kekaisaran.”
Hening.
Lereg yang berdiri di belakang mereka sedikit mengangkat pandangannya ke arah Laticia. Sementara Carsein menatap wanita di depannya tanpa bicara.
Carsein menatap Laticia tajam setelah mendengar ucapannya. Tatapan mata biru itu terasa semakin dingin, seolah setiap kata yang keluar dari mulut sang ratu membuat kesabarannya terkikis sedikit demi sedikit.
“Jadi sekarang kau berani membelanya dengan menggunakan hak itu?”
Suara rendah sang kaisar menggema di dalam ruangan yang sunyi. Tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat suasana berubah menyesakkan.
Namun Laticia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Wanita itu berdiri tegak di hadapan Carsein dengan kedua tangan terkepal samar di balik lengan gaunnya.
“Urusan utara adalah tanggung jawab saya sebagai ratu,” jawabnya tenang. “Jika saya tidak menanganinya, maka rakyat akan menyalahkan saya, Yang Mulia.”
Carsein mengatupkan rahangnya. Tatapan pria itu berubah semakin tajam. Ia jelas tidak menyukai cara Laticia berbicara padanya sekarang.
Karena wanita ini berbeda dibanding Laticia yang biasanya.
Tidak ada lagi tatapan penuh harap yang dulu selalu mengikutinya ke mana pun. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu berusaha menyenangkan dirinya.
Yang berdiri di hadapannya sekarang terasa asing.
“Kau semakin berani, Laticia.” Nada suara Carsein terdengar seperti peringatan.
Laticia tetap diam tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“Karena ini tugas dan kewajiban saya,” jawabnya pelan.
Ruangan kembali sunyi.
Sementara Lereg berdiri tidak jauh dari mereka tanpa ikut campur. Tatapan terus memperhatikan keduanya dengan tenang.
Carsein tertawa kecil, tidak ada kehangatan sedikit pun dalam tawanya.
“Hanya karena kau seorang ratu,” ucapnya dingin, “bukan berarti kau bisa bicara seperti ini padaku.”
Tatapan mata biru itu menekan lurus ke arah Laticia.
“Kau hanyalah pendamping kaisar, Lati.”
Deg.
Dada Laticia terasa sesak sesaat.
"Kau tidak pantas menjadi Ratu jika seperti ini!"
“Kalau begitu,” suara Laticia terdengar tenang di tengah ruangan yang membeku, “berikan saya perjanjian cerainya.”
Carsein langsung terdiam, ekspresi pria itu terlihat berubah jelas.
Tatapan tajamnya sedikit goyah seolah tidak menyangka Laticia akan kembali mengatakan hal itu di depan Lereg.
“Ketika kita bercerai,” lanjutnya perlahan, “Anda bisa mengganti saya dengan ratu yang Anda inginkan.”
Laticia tetap berdiri di sisi Lereg dengan tenang. Senyum anggun yang sejak awal menghiasi wajahnya tidak berubah sedikit pun, seolah percakapan yang sedang berlangsung sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya. Namun sebagai seorang wanita, ia dapat dengan mudah menangkap maksud yang tersembunyi di balik setiap ucapan Lady Eleanor.Tidak ada satu pun kalimat yang terdengar terang-terangan menggoda, itulah yang membuatnya terasa begitu jelas.Cara Eleanor memandang Lereg lebih lama dari seharusnya, senyum yang selalu mengembang setiap kali lelaki itu berbicara, hingga gerakan kecil merapikan rambutnya seolah tanpa sadar... semuanya menunjukkan bahwa perhatian wanita itu bukan sekadar rasa hormat kepada seorang Grand Duke.Laticia hanya mengembuskan napas pelan.Ia tidak menyela.Tidak pula menunjukkan ketidaksukaannya. Namun Lereg yang berdiri di sampingnya justru mulai merasa gelisah. Sesekali ia melirik ke arah Laticia, berharap menemukan sesuatu pada wajah perempuan itu. Sayang
Jawaban Lereg begitu singkat, tetapi terdengar mantap. Ia mengambil segelas minuman dari nampan pelayan, kemudian berdiri di samping Laticia sambil memandang para tamu yang masih memenuhi aula."Orang-orang selalu membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan. Kalau bukan tentang politik, mereka akan membicarakan keluarga bangsawan. Kalau bukan tentang perang, mereka akan membicarakan kehidupan pribadi orang lain."Ia mengangkat bahu kecil."Rumor hanya akan berhenti ketika mereka menemukan korban berikutnya."Laticia memperhatikan wajahnya beberapa saat."Jadi kau benar-benar tidak keberatan?"Lereg menoleh dan menatap mata Laticia secara langsung."Aku lebih khawatir padamu daripada pada diriku sendiri."Jawabannya begitu jujur hingga membuat Laticia sedikit terdiam. Lereg melanjutkan dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat."Aku sudah hidup dengan berbagai macam gosip sejak kecil. Hanya karena aku lahir sebagai anak haram, orang-orang sudah menciptakan ratusan cerita tentangku. Aku
"Aku mendengar percakapan kalian."Nada suaranya begitu lembut hingga nyaris terdengar seperti bisikan. Namun justru kelembutan itulah yang membuat jantung para wanita itu berdegup semakin kencang.Laticia perlahan berbalik menghadap mereka. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya tetap tenang, sulit ditebak apakah ia sedang marah atau justru tidak peduli sama sekali."Aku hanya ingin memastikan satu hal," ujarnya pelan. "Menurut kalian, apakah setiap pria yang memperlakukan seorang wanita dengan hormat pasti sedang jatuh cinta kepadanya? Ataukah setiap wanita yang menerima penghormatan itu otomatis dianggap sedang menggoda?"Tak ada jawaban.Para wanita itu saling melirik dengan gelisah. Laticia melanjutkan tanpa meninggikan nada bicaranya."Grand Duke Rudwick adalah penguasa wilayah ini. Aku datang sebagai tamunya sekaligus tamu kehormatan bagi seluruh bangsawan Utara. Sudah menjadi kewajibannya memastikan aku diperlakukan dengan baik selama berada di wilayahnya.
Sejak sore hari, seluruh Kastil Rudwick telah dipenuhi kesibukan.Para pelayan berlalu-lalang di sepanjang koridor sambil membawa kotak-kotak perhiasan, jubah musim dingin, serta berbagai perlengkapan yang akan digunakan untuk perjamuan malam itu. Aula utama tempat pesta diselenggarakan telah dihias sejak pagi. Lampu-lampu kristal dibersihkan hingga berkilau, rangkaian bunga musim dingin memenuhi setiap sudut ruangan, sementara para juru masak sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut para bangsawan yang datang dari berbagai wilayah Utara.Di kamar yang kini hampir setiap hari ia tempati, Laticia telah selesai mempersiapkan diri.Ema merapikan lipatan terakhir gaunnya, sementara Melisa memasangkan sepasang anting safir yang memantulkan cahaya kebiruan setiap kali terkena sinar matahari yang mulai menghilang di balik jendela."Yang Mulia benar-benar cantik malam ini," gumam Ema dengan senyum bangga.Laticia hanya membalas dengan senyum tipis.Ia tidak terlalu memikirkan pesta itu. Bagi
Laticia terdiam karena jawaban itu terdengar begitu sederhana. Tapi karena kesederhanaannya, hatinya terasa menghangat.Tidak ada janji yang berlebihan dan tidak ada kata-kata manis yang dibuat-buat. Hanya sebuah kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh seseorang yang benar-benar bersungguh-sungguh.Laticia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali tersenyum."Kalau begitu..." Ia mengambil secangkir teh hangat, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah Lereg. "Kurasa kita harus lebih sering melakukan perjalanan seperti ini."Lereg terkekeh pelan."Aku juga berharap begitu."***Menjelang siang pada hari ketiga, puncak-puncak menara Kastil Rudwick akhirnya mulai terlihat dari kejauhan.Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi wilayah Barat, hutan-hutan pinus, dan dataran bersalju di Utara, keduanya akhirnya kembali ke tempat yang selama beberapa minggu terakhir menjadi rumah bagi Laticia.Begitu kuda mereka memasuki gerbang utama, deretan pelayan dan para kesatri
Sirvian perlahan menganggukkan kepala. Kini ia memahami maksud keponakannya."Jadi kau tidak ingin ada yang mengetahui bahwa kau pernah datang ke wilayah Barat.""Benar." Jawaban Laticia terdengar mantap. "Semakin sedikit orang yang mengetahui pertemuan kita hari ini, semakin baik. Aku ingin Carsein tetap percaya bahwa seluruh waktuku hanya kuhabiskan di Utara."Ia menarik napas panjang."Biarkan dia merasa semuanya masih berada dalam kendalinya."Lereg yang sejak tadi memilih diam akhirnya membuka suara."Itu keputusan yang tepat." Tatapannya beralih kepada keluarga Edevane. "Selama mereka belum mengetahui kalian berada di pihak Ratu, kalian masih memiliki kebebasan untuk bergerak."Sirvian mengangguk pelan."Kalau begitu, kami akan menjaga rahasia ini."Duke Edevane tersenyum tipis, meski sorot matanya memperlihatkan rasa enggan untuk kembali berpisah."Baiklah." Ia menghela napas panjang. "Kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan menahanmu."Laticia menghampiri kursi sang duke.
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka
Melisa menunduk dalam, memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar percakapan biasa.“Baik, Yang Mulia.”Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laticia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gaunnya bergesekan pelan di atas lantai marmer, langkahnya terdengar mantap meski tubuhnya belum sepenuhnya puli
Hari-hari berlalu setelah pesta itu, namun istana tetap berdiri dalam ketenangan yang sama seperti biasanya.Koridor panjang masih dipenuhi langkah pelayan yang berjalan terburu-buru sambil membawa nampan teh atau setumpuk dokumen kerajaan. Para bangsawan tetap datang menghadiri pertemuan resmi den
Laticia terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban itu. Ruangan kerja yang sejak tadi terasa tenang mendadak berubah menjadi terlalu sunyi bagi dirinya. Cahaya matahari yang mulai tenggelam jatuh miring ke lantai marmer, menciptakan bayangan panjang di antara mereka.Namun anehnya, keheningan it







