LOGIN“Apa kau kerasukan setan?”
Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.
“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”
Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.
Langkahnya berhenti tepat di depan sang ratu.
“Apa sekarang kau ingin membuatku terlihat seperti kaisar yang tidak berperasaan?” tanyanya dingin.
Laticia mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya bertemu dengan mata biru milik lelaki itu yang dulu selalu ia kejar ke mana pun.
“Bukankah sejak awal Anda memang ingin menceraikan saya?” balasnya tenang.
Carsein mengernyit samar. Untuk sesaat wajahnya terlihat tidak senang mendengar jawaban itu.
“Kau bahkan bicara seperti ini tanpa memikirkan anak di dalam perutmu.”
Deg.
Tubuh Laticia langsung menegang. Matanya perlahan membesar sebelum ia menatap Carsein dengan tatapan sulit dipercaya.
“Anda tahu saya hamil?”
Carsein terlihat kesal sesaat lalu menoleh ke arah Bill yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
“Asistenku terlalu sering ikut campur,” ucapnya dingin.
Bill langsung menundukkan kepala tanpa berani bicara.
Sementara Laticia hanya diam. Dadanya terasa sesak.
Bagaimana ia tahu sementara selama ini Carsein mengabaikan dirinya bersama anak mereka?
“Berhenti membuat masalah hanya untuk menarik perhatianku, Lati,” lanjut Carsein. “Itu tidak cocok untukmu.”
Tatapan Laticia perlahan meredup.
Dulu ucapan seperti itu akan membuatnya menangis semalaman. Ia akan berusaha menjelaskan dirinya dan memohon agar Carsein kembali memperhatikannya.
Namun sekarang tidak lagi. Setelah mengatakan itu Carsein langsung berbalik seolah pembicaraan mereka sudah selesai.
“Yang Mulia.”
Langkah Carsein berhenti.
“Jika perceraian diajukan sekarang, maka setelah anak ini lahir kita akan resmi bercerai.”
Suasana kembali hening.
Carsein tidak berbalik. Ia hanya berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan nada dingin.
“Berhentilah mengatakan omong kosong, Lati.” Nada suaranya terdengar penuh rasa lelah. “Aku tidak punya waktu untuk meladenimu.”
Setelah itu ia kembali berjalan.
Tangannya terulur menarik Pricilla mendekat ke sisinya dengan hati-hati, seolah wanita itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Pricilla tersenyum kecil penuh kemenangan kearah Laticia.
Laticia hanya berdiri diam sambil melihat keduanya berjalan bersama.
Perlahan tangan Laticia bergerak memegang perutnya. Dadanya masih terasa sesak setelah melihat Carsein pergi bersama Pricilla tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya lagi.
Tatapan wanita itu perlahan menunduk.
Lucu sekali.
Dirinya adalah istri sah sekaligus ratu kekaisaran, tetapi di depan seluruh pelayan dan bangsawan istana, Carsein sama sekali tidak berusaha menjaga harga dirinya.
Seolah mempermalukannya di depan semua orang bukanlah sesuatu yang penting.
Laticia menghela napas pelan lalu berniat melangkah pergi dari tempat itu. Ia sudah terlalu lelah untuk terus berdiri di sana.
Namun langkahnya terhenti sebab seseorang berdiri tidak jauh di depannya. Tubuh Laticia langsung menegang sesaat dan tatapannya perlahan terangkat menatap lelaki itu.
Grand Duke Lereg Ruediger Ascham de Rudwik.
Saudara satu ayah Carsein sekaligus pria yang memiliki hak atas suksesi tahta tepat di bawah sang kaisar.
Lelaki itu berdiri tenang dengan mantel hitam panjang yang masih dipenuhi debu perjalanan. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, sementara mata birunya menatap lurus ke arah Laticia dengan tatapan yang sulit dibaca.
Dan hanya dengan melihat pria itu saja jantung Laticia mulai berdetak tidak tenang.
Tubuhnya sedikit gemetar. Tatapan Laticia sedikit goyah.
“Ratu.”
Suara rendah Lereg membuat Laticia kembali tersadar dari pikirannya. Pria itu melangkah mendekat beberapa langkah sebelum berhenti dengan jarak yang masih sopan.
“Saya datang selama tiga hari,” ucapnya tenang, “tetapi Anda terus menolak bertemu dengan saya.”
Laticia menatapnya cukup lama tanpa bicara. Suara itu masih sama seperti yang ia ingat.
“Aku sedang sakit,” jawab Laticia akhirnya pelan.
Tatapan Lereg tidak berubah sedikit pun.
“Saya pikir,” ucapnya lirih, “Anda memang tidak ingin bertemu dengan saya.”
Laticia langsung mengalihkan pandangannya. Sulit rasanya menatap lelaki itu terlalu lama.
Laticia perlahan menarik napas sebelum kembali bicara.
“Bagaimana jika kita berbicara di ruang kerja saya, Grand Duke?”
Untuk sesaat Lereg hanya diam menatapnya sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Tentu.”
Laticia langsung berbalik tanpa mengatakan apa pun lagi lalu mulai berjalan memasuki istana.
Sementara di belakangnya, Lereg berjalan mengikuti sang ratu tanpa banyak bicara.
Para pelayan dan dayang Laticia juga buru-buru bergerak mengikuti mereka berdua, meski beberapa di antara mereka diam-diam saling bertukar pandang.
Bagaimanapun juga pertemuan antara sang ratu dan Grand Duke Rudwik selalu menjadi bahan pembicaraan di dalam istana.
.
.
“Prang!”
Suara pecahan cangkir menggema di dalam ruangan kerja sang ratu.
Laticia menahan napas sesaat saat melihat teh hangat tumpah membasahi tangan Grand Duke Lereg. Pecahan porselen berserakan di atas meja, sementara beberapa tetes teh jatuh ke lantai marmer yang dingin.
Lereg memejamkan matanya pelan, jelas sedang berusaha menahan emosinya. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga urat di lehernya terlihat samar.
Sementara di hadapannya, Laticia hanya duduk diam dengan tenang sambil memegang perutnya.
“Yang Mulia Kaisar sekali lagi menolak,” ucapnya pelan, membuat suasana terasa semakin berat.
Lereg membuka matanya perlahan. Tatapan birunya tampak jauh lebih dingin dibanding sebelumnya.
Sejak tadi mereka membahas kondisi wilayah utara yang mulai kacau akibat pajak baru yang ditetapkan Carsein. Banyak bangsawan mulai tidak puas, rakyat kelaparan, dan para kesatria perbatasan kekurangan bantuan.
Namun sang kaisar tetap menolak menarik kembali kebijakannya.
Karena semua emas kekaisaran sekarang lebih banyak digunakan untuk membangun istana baru bagi Pricilla.
Laticia menatap tangan Lereg yang terluka akibat pecahan cangkir sebelum perlahan mendorong kotak tisu ke arahnya.
“Grand Duke,” ucapnya tenang, “tangan Anda berdarah.”
Lereg tidak langsung bergerak, tatapannya masih dingin dan penuh tekanan.
“Apakah dia tidak memikirkan rakyatnya sendiri?” tanya lelaki itu akhirnya dengan suara rendah.
Laticia tersenyum kecil.
“Kaisar hanya memikirkan dirinya sendiri.”
Lereg langsung menatapnya.
“Apa gunanya Anda menjadi ratu jika Anda tidak bisa menghentikannya?” tanya Lereg tajam.
Laticia menundukkan pandangannya sesaat sebelum kembali bicara dengan tenang.
“Aku tidak bisa memaksanya.”
Lereg menatapnya dalam diam.
Siapa pun ia tidak pernah bisa menghentikan Carsein melakukan apa pun yang diinginkannya. Tidak peduli seberapa keras dirinya mencoba.
“Bahkan Anda juga tidak bisa,” lanjut Laticia pelan.
Rahang Lereg langsung mengeras.
Laticia bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki itu menahan emosinya. Jemarinya perlahan mengepal di atas meja, sementara tatapannya berubah semakin gelap.
Selama ini Lereg selalu menjadi bayangan Carsein. Sehebat apa pun dirinya, tetap saja seluruh kekuasaan berada di tangan sang kaisar.
“Satu-satunya cara untuk melawan kaisar…”
Tatapan Lereg perlahan terangkat ke arahnya.
"Adalah dengan menurunkannya dari tahta.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.Lereg tidak lagi melihat seorang wanita yang sekadar ingin membalas penghinaan. Ia melihat seseorang yang telah menyusun semuanya dengan begitu tenang hingga bahkan dirinya sendiri harus berhati-hati ketika bertanya.Namun Laticia tidak terlihat puas. Ia hanya kembali mengambil cangkir tehnya.“Jadi jangan khawatir aku akan terjerumus,” katanya. “Aku tahu persis ke mana aku sedang berjalan.”Lereg terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.“Kadang aku tidak tahu mana yang lebih berbahaya,” gumamnya, “musuhmu atau dirimu sendiri.”Laticia menatapnya sekilas.“Kalau begitu, pastikan kau berada di pihak yang benar.”Lereg menatapnya, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Aku selalu berada di pihakmu.”Laticia tidak menjawab. Ia hanya kembali memandang ke luar jendela, sementara di dalam pikirannya, langkah berikutnya sudah mulai tersusun.Takhta itu tidak pernah menjadi sesuatu yang ingin ia pertahankan. Jika Pricilla menginginkannya, bi
Pricilla masih menatap Laticia dengan pikiran yang belum sepenuhnya mampu menerima semua perkataan wanita itu. Tawaran untuk menjadi Ratu terlalu besar untuk dianggap sebagai sekadar permainan. Jika Laticia benar-benar melepaskan posisinya, maka jalan menuju takhta yang selama ini terasa mustahil tiba-tiba terbuka di hadapannya.Namun ada satu hal yang masih membuat Pricilla ragu.“Kalau aku benar-benar menjadi Ratu...” suaranya terdengar lebih pelan. “Apa kau akan mendukungku?”Laticia menoleh dan memandang Pricilla dari balik bahunya. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun keraguan.“Tentu saja.”Hanya dua kata.Namun jawaban itu justru membuat Pricilla terdiam lebih lama.Laticia tidak menjelaskan apa pun lagi. Ia hanya berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Pricilla sendirian dengan pikirannya sendiri.Pintu perlahan tertutup.Pricilla masih memandang ke arah pintu tersebut. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Laticia hanya sebagai wanita
Laticia akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia sudah cukup mendengar luapan emosi Pricilla. Tidak ada gunanya terus berada di ruangan itu jika wanita tersebut belum mampu mengendalikan pikirannya sendiri. Bagi Laticia, rencana yang bagus hanya akan menjadi sia-sia jika orang yang menerimanya terlalu dikuasai ketakutan.Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Pricilla terdengar dari belakang.“Tunggu.”Langkah Laticia berhenti.Ia tidak langsung menoleh. Untuk sesaat, ia hanya berdiri dengan tenang, seolah sudah mengetahui bahwa Pricilla pada akhirnya akan memanggilnya kembali. Setelah beberapa detik, Laticia perlahan menoleh dan mendapati Pricilla sedang menatapnya dari atas ranjang.Wajah wanita itu masih terlihat tegang. Sisa kemarahan masih jelas terlihat di matanya, tetapi kali ini tidak lagi bercampur dengan ledakan emosi seperti sebelumnya. Ada keraguan, rasa takut, sekaligus keinginan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakan Laticia.“Aku akan mende
Pricilla membeku.Laticia menatapnya lurus. “Menjadi Ratu bukan berarti aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Gelar itu hanya memberiku sebuah posisi.”Pricilla tidak mampu menjawab.“Kalau Kaisar memilih wanita lain, lalu apa yang berubah bagiku?” lanjut Laticia. “Aku tetap Ratu. Dia tetap Kaisar. Istana ini tetap berdiri. Semuanya terlihat sama seperti sebelumnya.”Laticia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,“Hanya saja sekarang aku tidak lagi menunggu apa pun darinya.”Pricilla menatapnya dalam diam, ia mulai menyadari bahwa ketenangan Laticia bukan karena wanita itu yakin Carsein tidak akan meninggalkannya. Justru sebaliknya. Laticia tampak begitu tenang karena ia sudah tidak peduli apakah Carsein memilihnya atau tidak.Dan entah mengapa, kesadaran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan seorang Ratu.Laticia masih berdiri di hadapan Pricilla ketika akhirnya berkata,“Sepertinya, meskipun aku melakukan lebih banyak hal untukmu, Kaisar tetap aka
“Baik, Yang Mulia. Saya akan menyampaikannya.”Melisa masih berdiri di hadapan Laticia, menunggu keputusan berikutnya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya memberanikan diri bertanya, “Jadi, kapan Yang Mulia akan menemui Lady Selena?”Laticia yang sejak tadi memandang ke luar jendela perlahan mengalihkan pandangannya kepada Melisa. Wajahnya tetap tenang, seolah persoalan Selena bukan sesuatu yang perlu dipikirkannya terburu-buru.“Jika dia bisa membuat Carsein melupakan masalah denganku, aku akan menemuinya,” jawab Laticia santai. “Katakan kepadanya, jika dia berhasil melakukannya, aku akan memberinya hadiah.”Melisa segera menundukkan kepala. “Baik, Yang Mulia. Akan saya sampaikan.”Namun setelah mengatakan itu, Melisa tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan ekspresi sedikit ragu. Laticia yang menyadarinya akhirnya menoleh lagi.“Apa ada lagi yang ingin kau katakan?”Melisa menarik napas pelan,“Lady Selena juga bertanya apakah setelah kejadian ini akan terjadi masa
Lereg masih menatap Laticia setelah mendengar bahwa Kaisar Kekaisaran Barat ingin bertemu dengannya sebelum memasuki ibu kota.Ada sedikit perubahan pada sorot matanya. Jika sebelumnya pembicaraan mereka hanya berkisar pada serangan bandit dan perjalanan rombongan kekaisaran, sekarang perhatian mereka beralih pada satu hal yang jauh lebih penting: bagaimana Laticia bisa bertemu dengan Kaisar Barat tanpa diketahui Carsein.“Kalau begitu,” ujar Lereg setelah beberapa saat, “apakah kau sudah bisa pergi sekarang untuk bertemu dengannya?”Laticia yang sedang merapikan beberapa dokumen di atas meja berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah dan menatap Lereg dengan tenang.“Tidak semudah itu. Aku harus mencari waktu yang tepat.”“Bukankah dia sudah menunggumu?”“Menunggu bukan berarti aku bisa langsung meninggalkan istana.” Laticia kembali meletakkan dokumen di tempatnya. “Terlebih lagi setelah kejadian beberapa hari terakhir. Carsein tidak akan membiarkanku bergerak terlalu bebas.”Lereg mengan
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka







