Mag-log inLereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.
“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.
Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang di kursinya sambil memegang cangkir teh yang mulai mendingin.
“Saya hanya memberitahu situasi yang sedang terjadi saat ini, Grand Duke.”
Lereg diam dan tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah sang ratu.
Sementara Laticia terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Tidak ada lagi ekspresi lembut yang dulu selalu menghiasi wajahnya, sekarang terlihat dingin dan sulit ditebak.
“Anda tahu sendiri,” lanjut Laticia pelan, “semua keputusan berada di tangan kaisar.”
Laticia perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum kembali bicara.
“Pajak wilayah utara terus dinaikkan.”
“Bantuan pangan dihentikan.”
“Dan para bangsawan pusat mulai menekan wilayah Anda.”
Tatapan Laticia perlahan berubah tajam.
“Jika ini terus berlanjut, rakyat utara tidak akan selamat musim dingin ini.”
Rahang Lereg langsung mengeras dan Laticia memperhatikannya dalam diam. Ia tahu titik lemah lelaki itu. Bukan tahta dan bukan kekuasaan, melainkan rakyatnya sendiri.
Lereg mungkin terlihat dingin dan tidak peduli pada siapa pun, tetapi pria itu sangat melindungi wilayah utara. Dan sekarang Carsein perlahan menghancurkan wilayah itu demi memenuhi keinginannya sendiri.
“Apa Anda tidak punya solusi lain?” tanya Lereg akhirnya.
Laticia menghela napas pelan.
Kemudian ia duduk lebih tegak sambil melipat kedua tangannya di depan tubuhnya.
“Berapa harga dari bantuan saya?”
Tatapan Lereg langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan ini, wajah dingin itu menunjukkan reaksi yang jelas.
Kaget.
Laticia hampir ingin tertawa melihatnya. Karena sejujurnya, ini pertama kalinya ia melihat Grand Duke Lereg kehilangan ketenangannya.
“Tentu saja,” lanjut Laticia santai, “bantuan saya tidak mungkin gratis, bukan?”
Lereg masih diam beberapa saat. Tatapannya terus tertuju pada wanita di depannya, seolah sedang mencoba memahami siapa sebenarnya Laticia sekarang.
Karena wanita ini terasa sangat berbeda, dan entah kenapa, perubahan itu membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
“Apapun yang Anda inginkan,” jawab Lereg akhirnya.
Laticia terdiam sesaat.
Lalu perlahan ia terkekeh kecil. Suara tawanya pelan, tetapi cukup membuat Lereg mengernyit bingung. Tatapan mata Laticia kembali terangkat menatap lelaki itu.
“Bagaimana jika saya meminta nyawa Anda?”
Tatapan Lereg langsung menajam. Bibirnya sedikit mengatup, jelas terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun hanya beberapa detik.
Karena setelahnya ekspresi dingin itu kembali lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
“Saya setuju.”
Kali ini justru Laticia yang terdiam. Senyuman kecil di bibirnya perlahan menghilang. Ia menatap Lereg cukup lama, mencoba mencari keraguan di wajah lelaki itu.
Namun tidak ada karena tatapan itu tetap tenang. Seolah nyawanya sendiri bukan sesuatu yang penting.
“Selama Anda bisa membantu rakyat saya, maka apa pun akan saya lakukan.”
Suara Lereg terdengar rendah dan tenang di tengah sunyinya ruangan. Namun justru karena ketenangan itu, kalimatnya terasa jauh lebih serius.
Deg.
Jantung Laticia berdetak keras.
Wanita itu menatap lurus ke arah lelaki di hadapannya. Mata biru Lereg terlihat begitu tenang, tanpa keraguan sedikit pun. Seolah jika dirinya benar-benar meminta nyawanya sekarang, lelaki itu akan memberikannya tanpa ragu.
Untuk sesaat Laticia kehilangan kata-kata.
Tangannya perlahan mengepal di atas gaunnya sendiri. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat keyakinan di wajah Lereg
Sudah sejak lama ia bermasalah dengan Carsein. Ada banyak hal yang dilakukan Carsein untuk mempersulit Lereg dan rakyatnya.
Tapi bedanya Lereg lebih memikirkan rakyatnya lebih dulu dibanding dirinya sendiri. Berbeda dengan Carsein.
Laticia perlahan meneguk ludah. Bibirnya sedikit terbuka, ingin mengatakan sesuatu.
Namun sebelum suara itu keluar—
Brak!
Pintu ruang kerja terbuka keras hingga menghantam dinding. Tubuh Laticia langsung terjingkat kaget. Tatapannya refleks mengarah ke pintu.
Dan di sana berdiri Carsein.
Rambut perak pria itu sedikit berantakan seolah datang dengan tergesa-gesa. Tatapan mata birunya terlihat tajam dan dingin saat menatap lurus ke arah mereka.
Suasana ruangan langsung membeku.
Para pelayan yang berjaga di luar pintu menundukkan kepala dengan wajah pucat. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara melihat ekspresi sang kaisar sekarang.
Sementara Lereg perlahan berdiri dari kursinya lalu membungkuk hormat.
“Yang Mulia Kaisar.”
Namun Carsein bahkan tidak meliriknya.
Pria itu melangkah masuk perlahan dengan tatapan yang tetap tertuju pada Laticia. Suara langkah sepatu boots-nya menggema pelan di lantai marmer, membuat suasana semakin terasa menyesakkan.
Laticia tanpa sadar menahan napas saat Carsein berhenti tepat di depannya yang duduk. Tatapan mata biru itu turun lurus menatap dirinya.
“Apakah kau selalu diam-diam bertemu dengannya seperti ini, Lati?”
"Apa maksud Anda?"
"Kau berkhianat dibelakangku!"
Lereg tertawa kecil mendengar jawaban itu. Sementara Laticia hanya kembali pada dokumen-dokumennya, seolah apa yang baru saja ia katakan bukanlah sesuatu yang kejam.Namun di dalam pikirannya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana semuanya akan berjalan.Carsein akan menemukan Selena. Dan ketika saat itu tiba, Laticia tidak perlu melakukan apa pun. Carsein sendiri yang akan membawa Selena semakin dekat ke dalam hidupnya. Dan mungkin, tanpa ia sadari, semakin dekat pula pada kehancurannya sendiri.Di tempat lain, suasana jauh berbeda. Count Seymour kini tidak lagi duduk di ruang megah kediamannya ataupun berdiri di hadapan para bangsawan dengan pakaian kebesarannya. Ia berada di balik jeruji penjara kekaisaran, duduk dengan wajah muram sementara cahaya dari obor di sepanjang lorong hanya menerangi sebagian wajahnya. Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Pricilla datang dengan pengawalan beberapa prajurit dan berhenti tepat di depan sel tempat ayahnya ditahan. Untuk beber
Lereg masih berada di dalam ruang kerja Laticia, duduk santai di hadapannya sementara Laticia kembali memeriksa dokumen-dokumen yang baru saja diberikan pria itu. Setelah beberapa saat memperhatikan Laticia yang tampak begitu serius membaca, Lereg akhirnya teringat pada sesuatu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan bertanya dengan nada ringan, “Jadi, bagaimana dengan wanita itu?”Laticia mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. “Selena?”Lereg mengerutkan kening sebentar. “Siapa Selena?”Laticia menatapnya beberapa detik dengan ekspresi tidak percaya. “Wanita asli yang menyelamatkan Carsein,” jawabnya kemudian. “Wanita yang selama ini dicari oleh Kaisar.”Lereg akhirnya mengangguk kecil, seolah baru menyadari siapa yang sedang dibicarakan. Laticia masih memperhatikannya sebelum bertanya, “Apa kau tidak tahu namanya?”“Apa itu penting?” jawab Lereg santai.“Tentu saja penting.”“Bagiku tidak.”Laticia hanya bisa menghela napas mendengar jawaban itu. Ia kembali meletakkan d
Laticia baru saja hendak duduk ketika menyadari tatapan Lereg tertuju pada meja di hadapannya. Beberapa dokumen yang sebelumnya ia tinggalkan berserakan di sana, sebagian masih terbuka dan sebagian lainnya ditumpuk begitu saja. Lereg memperhatikannya beberapa saat, lalu mengangkat dagu ke arah tumpukan kertas tersebut.“Sepertinya kau juga menemukan sesuatu.”Laticia mengikuti arah pandangannya. Ia mengambil salah satu dokumen yang berada paling atas, kemudian menatap Lereg dengan sedikit rasa penasaran.“Apa ini?”Lereg tidak langsung menjawab. Ia justru bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati meja. Tangannya mengambil salah satu berkas yang berada di tengah tumpukan, lalu menyerahkannya kepada Laticia.“Buka.”Laticia menerima dokumen itu. Begitu membaca halaman pertama, ekspresinya yang semula santai perlahan berubah.Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.Beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajah.“Dari mana kau mendapatkan ini?”Lereg menatapnya dengan tenang.“Aku b
Count Seymour masih berdiri di hadapan Kaisar, sementara Yovia berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tubuh tegang. Tidak ada yang berani berbicara setelah perintah Carsein.Carsein tidak langsung menuduh mereka. Ia hanya menatap Yovia sejenak, lalu mengalihkan pandangan kepada para pengawalnya.“Bawa wanita itu ke tempat pemeriksaan.”Yovia tersentak.“Yang Mulia…”Carsein tidak menjawab. Tatapannya justru berpindah kepada seorang pejabat yang berdiri di sisi ruangan.“Periksa seluruh keterangannya. Identitasnya, asal-usulnya, hubungannya dengan keluarga Seymour, dan semua hal yang berkaitan dengan keberadaannya selama perang.”Pejabat itu segera membungkuk.“Baik, Yang Mulia.”“Dan periksa juga catatan keluarga Seymour.”Count Seymour yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.“Yang Mulia, apakah itu benar-benar diperlukan? Saya sudah mengatakan bahwa dia adalah—”“Aku belum memintamu berbicara.”Suara Carsein menghentikannya.Count Seymour langsung terdiam.Carsein kem
Laticia terdiam. Pikirannya sempat kosong saat mendengar nama Yovia. Bukan Selena, bukan pula wanita yang ia temui sebelumnya. Kemunculan Yovia sama sekali tidak ada dalam rencananya.Carsein juga tampak terkejut. Tatapannya terus tertuju pada Yovia, seolah wajah wanita itu mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini ia lupakan. Meski ingatannya tidak jelas, ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Yovia adalah wanita yang selama ini ia cari.Laticia melihat perubahan itu, lalu berkata dengan tenang,“Bukankah yang menyelamatkanmu adalah Pricilla?”Carsein langsung terdiam. Tatapannya beralih kepada Laticia, tetapi ia tidak menjawab. Keheningan itu justru membuat suasana di dalam aula semakin aneh. Laticia memandang Carsein beberapa saat sebelum kembali melihat Yovia.“Jadi sekarang salah orang?”Carsein masih terdiam. Ia sendiri sedang mencoba memahami semuanya. Selama ini Pricilla mengaku sebagai wanita yang menyelamatkannya, tetapi setelah kebohongannya terbongkar, Carsein mula
Pricilla tertegun. Tubuhnya terasa dingin saat menyadari bahwa ancaman Carsein bukan sekadar kemarahan sesaat. Tidak ada lagi kasih sayang ataupun kepercayaan untuknya. Ia hanya dibiarkan hidup karena anak yang dikandungnya, sebab bayi itu tidak bersalah atas dosa ibunya.“Bawa dia pergi.”Para pengawal kembali menarik Pricilla. Ia terus memanggil Carsein, tetapi Kaisar tidak menoleh lagi. Tangisannya perlahan menghilang di lorong menuju Istana Selir.Carsein kemudian berdiri sendirian di depan Istana Utama. Ia baru menyadari betapa banyak hal yang selama ini ia abaikan. Ada seorang wanita yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya, tetapi wanita itu justru disiksa, disembunyikan, dan kehilangan penglihatannya. Sementara Pricilla menempati tempat yang seharusnya bukan miliknya.Carsein mengepalkan tangan. Ia tidak tahu di mana wanita itu berada sekarang, tetapi ia sudah mengambil keputusan. Ia akan menemukannya dan membongkar semua kebohongan yang selama ini disembunyi
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka







