Share

Bab 4. Diajak Mandi Sauna

last update Last Updated: 2025-08-01 09:29:43

Pertemuan tidak direncanakan antara Mili dan Angela di dalam ruang pijat, membuat kedua anggota club mamah muda itu menceritakan rencana masing-masing terhadap berondong yang sengaja mereka bawa ke salon.

“Aku sih cuma mau pamer aja sama orang-orang di sini, Sis, walaupun aku sudah disebut tante-tante kenyataannya aku bisa kok membawa berondong muda yang wajahnya manis dan badannya berotot,” ungkap Angela yang sudah mengganti pakaiannya dengan handuk piyama yang sudah disediakan terapis. 

“Aku sih masih dalam tahap menjinakkan sopir ganteng itu, soalnya dia ini bukan tipe cowok gampangan, jadi perlu waktu untuk bikin dia jinak,” ungkap Mili yang sudah tertelungkup di meja pijat.

“Kalau soal jinak-menjinakkan kasih aja ke aku, Sis, gampanglah itu,” ucap Angela mulai menghampiri meja pijatnya di samping Mili, lalu dia tertelungkup di sana. Angela pun, mengutarakan idenya agar si sopir ganteng menjadi bagian acara dinner nanti malam. Mili pun berterus terang, memang sebenarnya itu yang dia rencanakan. 

Setelah satu jam masih di massage room and sauna

Ketika sedang asyik berbincang-bincang, seorang terapis wanita menyuruh Firzan dan Ray masuk ke dalam massage room and sauna secara bersamaan. Keduanya tanpa komentar menurut saja masuk ke dalam ruangan yang tak tampak bagian dalamnya karena ditutupi dengan gorden berwarna gold.

Di dalam ruangan itu ternyata ada beberapa ruangan lagi, kata petugas yang lain yang memberi handuk putih polos kepada Firzan dan Ray, mereka ditunggu oleh Mili dan Angela di ruangan sauna. 

Ray tampak tidak ada masalah sama sekali, saat itu juga dia menanggalkan seluruh pakaiannya dan menutupi wilayah sensitifnya dengan handuk. Berbeda dengan Firzan, dia hanya terdiam mematung sambil berperang melawan batinnya untuk memutuskan “ya” atau “tidak” ikut masuk ke dalam perangkap Mili yang pasti ini semua sudah direncanakannya.

Come on, Bro! Let’s we have fun inside...” ajak Ray yang kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan sauna meninggalkan Firzan yang masih ragu-ragu dengan keputusannya.

Selepas melakukan pijat seluruh badan, mengendorkan urat syaraf yang tegang, dan menghilangkan rasa capek di seluruh badan, Mili dan Angela memutuskan untuk bersantai dengan mandi sauna. 

Ruangan sauna itu berukuran tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil, dikhususkan untuk 6 hingga 8 orang. Dinding-dinding ruangan beruap hangat dan beraroma terapi ini terbuat dari kayu-kayu alam. Demikian juga tempat duduknya yang membentuk huruf L terbuat dari bahan kayu, hingga membuat ruangan ini berkesan alami. 

Angela yang mempunyai ide untuk mengajak dua berondong ikut memanaskan tubuh bersama mereka di dalam private sauna yang dibookingnya. 

Si big boy yang pertama datang, tubuhnya yang besar dan berotot membuat Mili langsung terpesona saat melihat lelaki itu masuk ke dalam ruang Sauna. 

Ray, this is Miliana, you just call her Mili...” Angela memperkenalkan si big boy kepada Mili.

Hai, Mili... nice to meet you,” sapa Ray kepada Mili yang berbikini merah. 

Hai, nice to meet you too. Wow, your body is gorgeous!” puji Mili tampak terpesona dengan tubuh cokelat dan berototnya Ray.

You also look beautiful, aku suka matamu,” puji Ray.

“Hahaha... thank you, Ray...”

Ray membuka handuk putih yang dikenakannya, lalu digantungkan handuk itu di tempat yang sudah disiapkan di pojok ruangan. Tubuh besar Ray kini hanya berbalut boxer sekali pakai berwarna biru yang diberikan oleh petugas sebelum dia masuk ke ruangan sauna.

“Dimana Firzan?” tanya Angela kepada Ray yang kini duduk  di sebelah kiri Angela di tengah-tengah wanita berbikini itu.

“Firzan?” Ray mengernyitkan keningnya.

Mili’s friend... lelaki yang tadi bersama you di lobi,” jelas Angela.

Oh, i see... Ya, dia masih di ruang ganti, aku tak tahu dia mau ke sini atau tidak, dia diam saja waktu aku ajak masuk,” jelas Ray.

Saat di ruang ganti, setelah cukup lama ragu untuk mengikuti ajakan Mili mandi sauna, Firzan akhirnya sampai pada satu keputusan untuk menerimanya sebagai sebuah pengalaman baru yang perlu dicobanya.  “Toh bukan hanya aku berdua dengan Mili, sepertinya berlebihan kalau aku khawatir Mili mengambil kesempatan kepadaku,” batin Firzan yakin dengan keputusannya.

Firzan berbuat seperti yang dilakukan si cowok berotot yang sudah terlebih dahulu keluar dari ruang ganti. Dia menanggalkan seluruh pakaiannya dan menutup bagian bawahnya dengan handuk putih…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 214. Ketahuan Kevin

    “Rasya…!” teriak Kevin mencari sahabatnya. Namun, ia mendapati di dapur sepi, tidak ada siapa-siapa. “Mbak Nung… Mbak Nung…!” panggil Kevin lagi mencari pembantu rumahnya itu, namun sama, tidak ada jawaban. “Kemana sih Mbak Nung? Rasya juga nggak ada lagi…” gumamnya keheranan.Ahhhh…!Saat akan melangkah keluar dari ruangan dapur, langkah Kevin terhenti mendengar sayup-sayup suara desahan seorang perempuan. Kening Kevin mengerut, suara aneh itu kemudian terdengar lagi, ia menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. Pandangan Kevin akhirnya tertuju pada gudang yang pintunya tertutup. “Mbak Nung… Mbak… Mbak Nung…!”Panggil Kevin sambil mengetuk-ngetuk pintu gudang yang terkunci itu. Namun, beberapa saat memanggil tidak ada jawaban. Hening, suara desahan itu pun tak terdengar lagi. “Apa aku salah dengar? Tapi, tadi jelas sekali suaranya berasal dari gudang ini,” pikir Kevin masih berdiri di depan pintu gudang dengan perasaan heran. Kevin memutuskan untuk pergi ke teras depa

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 213. Melanjutkan Permainan

    Setelah membuntuti Tante Mili, Kevin memutuskan kembali ke rumah, tentu saja ia tidak ingin pergi terlalu lama karena ada Rasya yang semalam menginap di rumahnya. Ia menduga temannya itu masih tertidur, karena saat ditelepon tadi tidak ada jawaban.“Aduhhh… sakit…” Saat Kevin masuk ke dalam rumah terdengar rintihan seseorang. Rupanya Mbak Nung sedang memijat punggung Rasya di ruang tengah. “Loh, kenapa lu, bro…?” tanya Kevin tiba-tiba.Tentu saja Rasya dan Mbak Nung terkejut melihat Kevin sudah kembali ke rumah, untung saja Rasya sudah mengenakan pakaian, demikian pula Mbak Nung, jadi tak dicurigai Kevin.“I-ini Mas… katanya badannya Mas Rasya pada pegal-pegal semua,” jawab Nung menjelaskan.“Makanya kalau tidur jangan kelamaan, Sya…”“Daripada nunggu lu nggak jelas ke mana, mending gue tidur,” ucap Rasya dengan nada ketus pada Kevin.Merasa tidak nyaman lagi karena kedatangan Kevin, Mbak Nung memilih pergi ke dapur, “Ya udah, Mas Rasya, Mas Kevin, aku mau lanjut menyiapkan masakan u

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 212. Nung Naik Kuda-Kudaan

    “Kevin tadi mau pergi ke mana, Mbak?” tanya Rasya pada Mbak Nung sejurus ia keluar dari kamar mandi. “Mas Kevin nggak bilang mau pergi ke mana, setelah Bu Mili keluar rumah dia langsung pergi,” jawab Mbak Nung yang masih mengemas tempat tidur Kevin.“Loh… berarti di dalam rumah ini sekarang tinggal kita berdua saja dong, Mbak,” ujar Rasya terdengar antusias .“Iya betul, Mas…” jawab Mbak Nung sambil tersenyum salah tingkah.“Wah, aku jadi takut nih, Mbak?”“Takut kenapa, Mas Rasya?”“Takut nggak bisa nahan diri, soalnya pagi ini Mbak Nung kelihatan seksi sekali,” ucap Rasya menggoda si pembantu rumah itu.“Ah, bisa aja Mas Rasya nih…” Mbak Nung kembali tersipu dibuat Rasya.“Tapi…, aku lapar, Mbak, apa masih ada makanan untuk sarapan?”“Iya ada, Mas, tadi aku bikin nasi goreng dan telor ceplok. Tapi… sebelum sarapan nasi goreng, apa Mas Rasya tidak ingin sarapan yang lain?” tanya Mbak Nung mulai menjalankan rencananya menggoda anak muda yang hanya mengenakan boxer dan masih bertelanja

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 211. Membuntuti Tante Mili

    Kevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman, lalu mengeluarkan ponsel dari saku cela

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 210. Ditinggal Berduaan Dalam Rumah

    “Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 209. Sopir Pribadi Baru

    Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status