Home / Romansa / Bercinta Denganmu / 3. Membuntuti

Share

3. Membuntuti

Author: Chida
last update Last Updated: 2021-09-18 16:03:05

Bunyi jam weker menggema di kamar Shesa. Tepat pukul lima pagi, suara itu membuat matanya harus terbuka. Jika saja hari ini bukan jadwalnya dia harus berangkat ke Bali mungkin dia akan terbangun pukul tujuh dan masih menyempatkan dirinya untuk menikmati secangkir kopi latte di meja makan.

Shesa harus bergegas, dia harus sampai di bandara pukul sembilan sedangkan situasi jalan di pagi hari kota besar ini begitu padat merayap, belum lagi Shesa harus menunggu orang bengkel untuk mengambil kunci di apartemennya, agar bisa membawa mobilnya ke bengkel.

"Mas nya dimana? Atau gini aja deh, saya taruh kunci mobil di lobby apartemen ya ... nanti Mas bilang aja sama resepsionisnya, atas nama saya," ujar Shesa pada orang bengkel di seberang sana.

Terburu-buru Shesa masuk ke dalam taksi yang akan mengantarkan dia ke bandara pagi ini. Jika saja urusan mobil bisa dia selesaikan semalam mungmjn dia tidak akan telat untuk urusan kunvu saja.

Shesa sudah melewati pintu pemeriksaan lalu dia menghubungi Reta jika dia sudah berada di bandara dan akan menuju ke pesawat. Dengan berlari kecil akhirnya dia sudah berada di antara para penumpang yang akan memasuki pesawat.

"Sha," panggil Reta.

"Hai ... sorry telat, aku ada urusan mendadak tadi," ujar Shesa mendatangi Reta.

"Sha, duduk di sana ya ... aku ada beberapa hal yang harus di bahas dengan Pak Robby, untuk meeting sore nanti," ujar Reta. 

"Oh, ok ... di sana ya," ujar Shesa menunjuk tempat duduk yang sudah berisi seseorang di sana.

"Terimakasih," ujar Shesa pada salah satu pramugari yang membantunya meletakkan travel bag ke dalam kabin.

"Maaf, saya bisa duduk di sebelah jendela?" tanya Shesa pada lelaki yang sedang menunduk membaca sebuah majalah lalu menengadahkan kepalanya "Kamu?"

"Kamu?" pertanyaan yang sama yang di lontarkan oleh lelaki itu.

Shesa menoleh ke arah Reta sayangnya wanita itu sedang sibuk membahas sesuatu. Lalu kemudian dia menjatuhkan kembali pandangannya pada lelaki yang duduk di sebelahnya.

"Kalo mau duduk ya duduk aja, apa mau di pangku?" Lelaki itu kembali membaca majalahnya.

"Kalo di dekat jendela boleh?" tanya Shesa.

"Oh, silahkan ... mau di luar jendela juga gak apa-apa sih," ujar lelaki itu asal.

"Ish." Shesa seakan memipihkan tubuhnya melewati lelaki itu.

Shesa meraih laptopnya, dia kembali sibuk membuka email yang berisi beberapa file untuk pembahasan meeting tiga hari ini di Bali. Kenapa harus di Bali? Kabarnya keluarga besar pemilik perusahaan ini tinggal di Bali, setelah meeting usai, pemilik perusahaan akan mengadakan acara di sana.

"Pemilihan bahan yang baik itu di lihat dari teksturnya," ujar lelaki itu lagi.

"Hah?"

"Itu, kata-kata kamu kurang pas kalo seperti itu," ujarnya menunjuk sepenggalan kata dari isi pembahasan meeting.

"Sok tau," ujar Shesa menutup laptopnya.

"Maaf, Ibu bisa di pasang safety belt nya, kita sebentar lagi akan take off," ujar salah satu pramugari yang menghampiri.

"Mau aku pasangin?" bisik lelaki itu mengedikkan alis matanya.

Shesa berdecik dan menggeleng, dia seperti duduk bersebelahan dengan lelaki yang selalu suka tebar pesona. Tebar pesona? Shesa tersenyum samar.

Penerbangan menuju Bali dengan memakan waktu tempuh selama dua jam itu akhirnya sampai di tujuan. Shesa mengemasi barang-barangnya saat semua penumpang satu per satu  mulai turun.

"Sha ...," panggil Reta. "Kita di mobil itu," ujar Reta menunjuk sebuah minibus berhenti di depan mereka.

Shesa mengikuti arahan Reta, mereka menaiki mobil menuju salah satu hotel bintang lima. Sesampai di lobby hotel betapa terkejutnya Shesa ketika matanya beradu pandang dengan lelaki yang dua hari ini seperti membuntutinya.

"Ayo, Sha."

Pintu lift itu berhenti di lantai lima, sebuah kamar dengan dua tempat tidur dan fasilitas yang mengesankan untuk staf kantor seperti mereka.

"Setelah ini kita istirahat sebentar lalu turun ke bawah langsung meeting, Sha."

"Perusahaan sering ngadain meeting di luar kota ya, Ya? dengan fasilitas seperti ini?" 

"Sebenarnya gak sih, ini karena kebetulan ada acara keluarga Atmaja makanya beberapa staf terpilih di kirim kesini termasuk kita dari divisi Humas."

"Acara apa?"

"Kurang tau juga aku," kata Reta lalu masuk ke dalam kamar mandi.

"Ta, setelah makan siang kan meeting nya?" seru Shesa.

"Iya," jawab Reta dari kamar mandi.

Shesa membuka jendela kamarnya yang langsung ke balkon menyajikan hamparan laut lepas di depan sana. Sudah tiga bulan ini dia tak menginjakkan kaki ke Bali.

Rindu liburan gumamnya dalam hati.

Pukul dua siang, Shesa sudah memasuki ruang meeting ya g di sediakan oleh hotel. Pantas saja perusahaan mengadakan meeting di luar kota dan di hotel, peserta yang mengikuti hotel pun dari cabang-cabanh perusahaan di berbagai kota.

Shesa duduk di barisan meja kursi nomer dua dari depan, matanya masih fokus pada laptop, mendengarkan beberapa pemimpin rapat menyampaikan perkembangan perusahaan dalam satu tahun ini.

Dan betapa terkejutnya Shesa ketika matanya bersitatap dengan lelaki yang beberapa hari ini seperti membuntutinya. Ah, membuntutinya? Tapi kenapa dia ada di atas podium?

"Perkenalkan saya Alvin Atmaja, pewaris nomer dua perusahaan ini, senang bisa bertemu dengan petinggi perusahaan beserta staf terpilih yang mengikuti acara ini."

"Ta, aku permisi sebentar ke toilet ya."

"Oke ... eh Sha, udah di kirim file nya ke Pak Robby? Setelah ini Pak Robby yang akan presentasi."

"Udah, itu udah beres ada beberapa yang aku revisi untuk kata-katanya." Reta mengangguk tanda mengerti. "Aku keluar sebentar ya, lagian kayaknya masih lama yang di podium memperkenalkan diri," ujar Shesa tersenyum.

Shesa merapikan kembali penampilannya, wanita itu hanya menggunakan celana bahan bermodel pensil dan kemeja press body berwarna maroon serta stiletto setinggi tujuh centimeter menambah keanggunan wanita berambut hitam legam yang terurai sebahu itu.

"Kayaknya gak betah banget ada di dalam ya," ujar suara itu mengagetkannya saat keluar dari dalam toilet.

"Astagaaa." Shesa menepuk dadanya. "Ngagetin banget sih," ujar Shesa kesal lalu melangkah mendahului Alvin.

"Mau kemana?" tanya Alvin masih berdiri di ambang pintu toilet 

"Ya ke dalem lah, masa di sini ... meeting nya kan di sana bukan di sini," ujar Shesa membenarkan tali name tag yang melingkar di lehernya.

Alvin mendekat, lalu meraih name tag itu.

"Shesa ... divisi PR, lumayan namanya." 

"Ya iyalah." Shesa menatap jengah. "Daripada Alvin ... kayak naman film kartun favorit aku," ujar Shesa terkekeh lalu melanjutkan langkahnya.

"Apa?" Alvin mengikutinya dari belakang.

Shesa berhenti lalu memutar tubuhnya, "Alvin and the chipmunk setiap hari jam sembilan malam channel Disney Junior, tonton deh lucu dan ... menyebalkan kayak kamu." 

Wanita itu melangkah memasuki ruangan meeting meninggalkan Alvin yang berdiri terpaku dengan satu tangan berada di kantung celananya, dan menyisakan sedikit senyum.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (19)
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
sha jgn bgtu nanti jatuh cinta lho
goodnovel comment avatar
zaza zaza
anak bigbis loh sha
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
keren bngt
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bercinta Denganmu   111. I Love You To The Moon And Back (TAMAT)

    Taman samping rumah Shesa sudah di penuhi keluarga Atmaja dan Gunawan. Malam ini adalah perayaan kembalinya Gunawan setelah melewati masa hukumannya di penjara atas perbuatannya. Shesa dan Anggi duduk di sisi para suaminya, Gunawan dengan seksama mendengarkan cerita dari putri-putrinya melewati hari mengurus buah hati mereka. Sementara Wulan dan Paula sudah menjadi kebiasaan dua nenek ini menyiapkan segala sesuatu di meja makan. "Ini yang mau di bakar apa?" tanya Pandu dengan polosnya. "Jangan rumah gue," seloroh Alvin diiringi tawa semua anggota keluarga. "Kita tunggu satu keluarga lagi untuk bergabung," ujar Budiman. "Papa sengaja mengundang mereka." "Selamat malam." Semua orang menoleh ke asal suara, lelaki tampan bermata sipit berkulit putih, merangkul seorang wanita dengan perut yang membesar. "Aya, Windu," sahut Shesa yang tak percaya jika yang di maksud Budiman adalah Soraya dan Windu serta Citra yang berdi

  • Bercinta Denganmu   110. Selamat Datang Kembali

    "Sayaaang," seru Anggi dari dalam kamarnya. Pandu menaiki tangga tergopoh-gopoh, membawa tiga bungkus pampers berukuran besar dan satu plastik besar. Setengah jam yang lalu, Anggi menyuruhnya membeli perlengkapan bayi yang dia butuhkan termasuk susu dan Pampers untuk si kembar. "Sayang," seru Anggi lagi. "Iya, aku di sini," jawab Pandu masuk ke dalam dan melihat kesibukan Anggi mengurus bayi mereka yang berumur lima bulan. "Apa lagi yang harus aku bantu?" tanya Pandu dengan napas tersengal-sengal. "Bikinin susu untuk Aira, aku mau gantiin pampers Arya dulu," jawab Anggi meletakkan Aira ke tempat tidur bayinya, lalu mengangkat pelan tubuh Arya yang sudah menunggu antrian untuk di gantikan popoknya. "Siap!" jawab Pandu lantang, lalu melangkah ke sudut ruangan yang sudah lengkap dengan semua peralatan susu bayi kembar mereka. "Nggi." Wulan memanggilnya di ambang pintu. "Iya, Ma." "Kita berangkat setelah makan siang

  • Bercinta Denganmu   109. Selalu Bersama

    "Wah, selamat ya, Ndu. Langsung dua keren banget gimana bikinnya itu?" tanya Windu yang siang itu di telpon oleh Pandu, mengabarkan kalau Anggi sudah melahirkan. "Ya bikin aja, Win. Masa perlu gue ajarin." Pandu terkekeh. "Gimana Soraya?" "Sehat dia, tapi ya gitu ... apa memang begitu ya kalo perempuan lagi hamil?" "Emang gimana?" tanya Pandu, "eh, sebentar gue ubah mode video call aja, ini ada yang ribet pengen ikut ngobrol." Windu tertawa, hubungan tiga orang lelaki ini semakin hari semakin akrab. "Gimana? Coba di ulang lagi." Alvin meminta Windu mengulang perkataannya. "Iya, banyak banget maunya, belum sensitifnya, belum lagi minta yang nggak-nggak," keluh Windu. "Minta yang aneh dalam hal itu, nggak?" tanya Alvin tertawa. "Iya, Vin. Kok lo tau? Shesa juga?" tanya Windu penasaran. "Ya kali gue cerita, Win." Alvin tertawa. "Kapan lahiran?" tanya Pandu. "Masih lima bulan lagi," ujar Windu.

  • Bercinta Denganmu   108. Bayi Kembar

    Pandu berjalan tergopoh-gopoh memasuki koridor rumah sakit. Setengah jam yang lalu dia di telpon Wulan untuk langsung datang ke rumah sakit karena Anggi mengeluh sakit pada perutnya. Jadwal melahirkan Anggi masih tiga minggu lagi seharusnya. Saat ini usia kandungannya masih delapan bulan, untung saja selesai acara keluarga tiga minggu lalu, Wulan memutuskan untuk tinggal bersama mereka mengingat kandungan Anggi yang sudah membesar. Apalagi kehamilan bayi kembar lebih-lebih tidak bisa di prediksi kapan akan lahirnya. Dokter saat pemeriksaan terakhir dua minggu lalu menyarankan untuk Anggi melakukan operasi secar, namun Anggi bersikeras ingin melahirkan normal. "Gimana, Ma?" tanya Pandu pada Wulan yang berdiri di depan ruang bersalin. "Ndu, kamu cepat siap-siap, temui suster temani Anggi," ujar Wulan terlihat panik. "I-iya, Ma. Pandu masuk dulu ya, Mama tolong hubungi keluarga," kata Pandu. Memasuki ruang dingin itu dengan baju yang suda

  • Bercinta Denganmu   107. Pelukan Keluarga

    Perut itu semakin membuncit, bukan hal biasa jika mengandung dua janin sekaligus apalagi dengan tubuh mungil seperti tubuh Anggi. Dengan susah payah, wanita yang mengenakan denim jumper dress itu berjalan menuju ruang makan VVIP di sebuah restoran di Bandung. "Kenapa sih nggak di rumah aja?" tanyanya namun dengan mendumel. "Perutnya gede banget," kekeh Shesa yang sedang menyuapi Naima. "Iyalah Kak, kan di kasih makan sama bapaknya," ujar Anggi sebal lalu dia menoleh ke kanan ke kiri. "Mas Pandu mana?" "Dih, mana tau," jawab Alvin mengangkat kedua bahunya. "Suami situ," kekeh Alvin di balas tepukan di bahu oleh Shesa. "Kakaknya situ," balas Shesa. "Iya juga, ya." Alvin lalu tertawa lagi. "Dia belum dateng?" Anggi mendelik, lalu merogoh tasnya mengambil ponsel. "Suami isrti yang aneh," ujar Wulan mengusap bibir Naima yang sudah belepotan dengan biskuitnya. "Ya udah, ini udah di tungguin," ujar Anggi yang ber

  • Bercinta Denganmu   106. Sahabat Lama

    Usia Naima menginjak enam bulan, hari ini adalah hari pertama dia mendapatkan makanan pendamping ASI. Pagi sekali Shesa sudah sibuk di dapur, dia begitu bersemangat memberikan makanan pendamping pertama untuk Naima. "Mau dibikinin apa?" tanya Wulan yang sudah satu bulan ini tinggal bersama mereka. "Ada hati ayam, telur ayam kampung, wortel, brokoli," jawab Shesa. "Kaldu ayam yang Mama bikin kemarin jangan lupa, Sha." Wulan membalik telur dadar yang di buat untuk tambahan sarapan nasi goreng kegemaran Alvin. "Buburnya kamu saring, kan?" "Iya, Ma. Kalo di blender emang kenapa, Ma?" tanya Shesa. "Ya nggak kenapa-kenapa. Cuma kayaknya nggak sreg aja sih, kalo Mama ya." "Ya udah, nanti Shesa saring aja," ujar Shesa yang mencampur semua bahan menjadi satu. "Bik," panggilnya pada pembantu rumah tangganya. "Tolong di aduk ya, aku mau lihat Nay sama papi nya udah pada bangun belum." Yang di serahkan tanggungjawab pun hanya mengangguk. S

  • Bercinta Denganmu   105. Segera Menjadi Ayah

    "Kamu mau coba gaya yang gimana?" tanya Windu mendesah di telinga Soraya. Soraya mendekat dengan seluruh tubuh yang tidak terhalang sehelai benangpun. Masih menggunakan heelsnya, Soraya mendorong pelan tubuh suaminya hingga ke sisi tempat tidur. Windu terjatuh pelan ke atas tempat, membuat senyuman kecil kala melihat kelakuan istrinya. Dia memundurkan dirinya tepat ke tengah-tengah, Soraya merangkak erotis menggerakkan tubuhnya meliuk di atas tubuh Windu. "Kamu punya gaya baru?" goda Windu. "Khusus malam ini," ujar Soraya menarik turun boxer suaminya dan membuangnya ke sembarang tempat. Kelakian Windu sudah menegang sejak awal mereka melakukan cumbuan tadi. Tangan Soraya dengan cepatnya meraih milik Windu, Soraya sedikit turun menghadap pada milik Windu, lalu menatap mata Windu. Windu mengangkat sedikit kepalanya, rasa ingin tahu yang besar atas apa yang akan dilakukan Soraya padanya. "Hhmm." Windu mengerang saat So

  • Bercinta Denganmu   104. Windu Soraya Wedding

    Soraya memandangi tubuhnya di depan kaca besar di dalam kamar hotel. Tubuh langsing, tinggi dan cantik, siapa yang tidak ingin bersanding dengannya. Hubungannya dengan Windu yang sempat terputus akhirnya membawanya kembali kedalam pelukan lelaki itu. Windu yang selalu ada di saat-saat susahnya, di saat-saat terpuruknya. Windu yang selalu menyemangati hidupnya, Windu yang meredamkan amarah kesalahpahaman yang terjadi selama ini, dan Windu juga yang menguatkan dia dan ibunya. Sebegitu yakinnya Soraya jika Windu adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Ketukan di pintu kamar menyadarkannya untuk bergegas merapikan penampilannya. Shesa masuk ke dalam kamar Soraya, dia tertegun dengan penampilan wanita yang sempat menjadi saingannya itu. "Ya ampun, cantik banget," ujar Shesa terpana. "Siapa yang bikin gaunnya," kekeh Soraya mengulurkan tangannya pada Shesa. "Makasih ya, ini luar biasa." Gaun pengantin dengan potongan tanpa lengan, dengan bagian da

  • Bercinta Denganmu   103. Jangan-jangan Kamu Hamil

    "Siapa?" tanya Soraya lagi. "Kalo marah kamu makin cantik," ujar Windu menggoda. "Nggak usa ngerayu!' "Aku ngga ngerayu, bahkan kamu memang lebih cantik dengan wanita tadi," ucap Windu mengendusi parfum di leher kekasihnya. "Jadi pengen." Tangan Windu sudah berada di bokong Soraya. "Nggak usah macem-macem, aku masih marah." "Kalo marah malah lebih hot," bisik Windu di telinga Soraya, yang membuat tubuh Soraya menegang. "Lepas nggak! Aku mau tau siapa perempuan tadi!" Soraya berusaha melepaskan dirinya dari Windu. "Kalo aku kasih tau, janji jangan marah ya?" Windu semakin menempelkan tubuhnya. "Hhmm." "Cium dulu tapi." "Win!" "Cium dulu," rengek Windu. Mau tidak mau, Soraya pun memberikan kecupan sekilas di bibir calon suaminya yang entah mengapa semakin hari semakin manja dan harus siap di layani. "Udah," ujar Soraya kesal. "Jadi siapa dia?" "Dia itu ... wedding organizer

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status