LOGIN“Saya tidak bermaksud lancang dan masuk ke kamar Tuan tanpa izin.” Mayra mengucapkannya dengan sangat hati-hati.
Wajah Mayra memerah hingga ke telinga. Kepalanya menunduk dalam, tak berani menatap ke arah pria itu. Ia bergegas meraih catatan yang terjatuh di lantai dengan tangan yang sedikit gemetar, tapi dirinya berusaha secepat mungkin mengambilnya agar tidak terlihat semakin ceroboh. “Saya akan pergi—” “Lalu siapa yang melakukan tugasmu? Aku?” Sarkasme itu terdengar rendah namun tajam. “Saya ….” Suara Mayra nyaris tak terdengar. Ia membuka mulutnya, tapi tak ada satu pun jawaban yang muncul. Pikiran Mayra campur aduk, tak tahu harus berkata apa. Ia juga bingung bagaimana cara menjelaskannya, kini dirinya terjebak di antara keinginan pergi dan kewajiban yang belum selesai. “Masuk dan tutup pintunya.” Nada bicaranya datar namun mematikan. Mayra menelan ludah, perintah itu membuatnya semakin terjebak. Posisi yang sempat ia coba pertahankan kini runtuh perlahan, ia tak bisa lagi menjaga jarak ataupun menghindar. Semakin dekat ia pada Matthias, semakin sulit untuk melangkah pergi. “Baik, Tuan.” Mayra mengangguk pelan, tak berani menunda sedikit pun. Ia melangkah masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya seakan menutup satu-satunya jalan keluar yang tersisa. “Saya akan bergegas pergi setelah menyiapkan pakaian untuk Tuan.” Di sela-sela tangannya yang sibuk menata pakaian, Mayra berharap waktu berjalan secepat mungkin. Wajah Mayra memerah seketika saat jemarinya menyentuh pakaian dalam milik pria itu. Ia tahu Matthias sedang mengawasinya langsung, tatapannya tak lepas sedikit pun darinya. Rasa canggung yang luar biasa memenuhi dadanya, membuatnya ingin menyembunyikan wajah di balik punggung tangannya. Meski begitu, Mayra memaksa dirinya tetap tenang dan profesional. “Sudah saya siapkan, Tuan.” Mayra membungkuk hormat dengan sopan, menunggu sejenak izin untuk pergi. “Tetap di sini.” Wajahnya tetap datar dan tenang, seakan tak ada yang aneh dengan perintah itu. “Tuan akan berganti pakaian. Rasanya tidak pantas jika saya masih berada di sini.” Mayra menunduk, berharap alasan itu cukup untuk diizinkan pergi. “Wajahmu merah. Kau sedang merasa malu?” Matthias mengangkat sebelah alisnya, suaranya terdengar tenang. Napas Mayra tertahan di tenggorokan. Tiba-tiba ia merasa gerah luar biasa, padahal udara di sekitarnya terasa sejuk. Panas itu menjalar dari wajah ke seluruh tubuhnya, bukan karena cuaca melainkan karena kehadiran pria itu yang sedekat ini. “Bukan begitu, Tuan. Hanya saja ruangan ini terasa sedikit hangat, saya juga merasa tidak pantas jika terus berada di sini lebih lama.” Bukannya Mayra tidak mau menurut, hanya saja ia tahu posisinya. “Diam di tempatmu, berbalik badan jika perlu.” Matthias meraih pakaiannya dengan santai. Mayra memejamkan mata sebentar, rasa canggung bercampur perih menjalar di dadanya. Ia berdiri membelakangi pria itu, berusaha tak mendengar dan tak melihat meski setiap gerakannya tetap terasa jelas di telinganya. “Kau boleh berbalik, bantu aku memakai ini.” Suaranya terdengar tenang, Matthias mengulurkan kemeja ke arah Mayra. Napas Mayra tertahan sejenak, ia berbalik perlahan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil dengan hati-hati kemeja itu, menyadari betul betapa dekatnya ia harus berdiri dengan pria itu. Mayra bertekad sekuat tenaga untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Namun takdir seakan tidak mengizinkannya. Di detik itu juga kakinya tersandung sendal yang tergeletak di lantai, sendal milik Matthias yang belum sempat dipakai. Mayra refleks menyentuh dada Matthias yang tidak terbalut apa pun. Sentuhan itu hanya berlangsung beberapa detik, namun terasa begitu nyata. Ia segera menarik tangannya kembali, wajahnya memerah seketika menyadari betapa lancang perbuatannya. “Kau sangat suka jatuh? Pertama kali bisa dibilang tidak sengaja, tapi kali kedua … kau mencoba mencari keuntungan?” Suara Matthias rendah namun menusuk, tatapannya mengunci Mayra di tempatnya. “Saya tidak punya keberanian untuk melakukan hal seperti itu, Tuan. Saya benar-benar minta maaf.” Suara Mayra bergetar halus, bahunya merosot lemah. Matthias mendengus pelan. “Cepat pakaikan.” Perintah itu singkat dan tegas, tak memberi ruang untuk permohonan maaf lebih lanjut. Mayra segera mengangguk, berusaha secepat dan sebaik mungkin menyelesaikan tugasnya tanpa melakukan kesalahan lagi. Tugasnya kini belum sepenuhnya selesai, Mayra masih harus membantu Matthias mengenakan dasi. Mayra menatap benda itu dengan cemas, ia bahkan tidak tahu cara mengikat dasi dengan benar. Jemari Mayra terhenti di udara karena bingung dan takut salah, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya agar tidak dimarahi lagi. “T-tuan maaf, tapi saya tidak tahu cara memasang dasi.” Lebih baik Mayra mengaku sekarang daripada mencoba dan merusak segalanya. “Ssh.” Suara Matthias terdengar rendah, terselip nada kesal yang samar namun jelas. “Melakukan hal sepele seperti ini pun kau tidak bisa?” Mayra memainkan jari-jemarinya dengan perasaan gugup bercampur dengan gelisah. “Saya ….” Mayra tak berani meminta maaf lagi, pasti pria itu sudah muak mendengarnya berulang kali. Mayra hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mayra tidak menyangka akan mendapat tugas seperti itu. Memasangkan dasi untuk Matthias? Ia bahkan belum pernah melakukannya untuk siapa pun. “Pasang saja, aku akan beri arahan.” Suaranya dingin, tak memberi ruang untuk menolak. “Saya akan coba.” Mayra meraih dasi itu dengan hati-hati, berusaha sekuat tenaga agar tangannya tidak terlihat gemetar. “Lebih dekat.” Tangan Matthias menyentuh lengan Mayra, menariknya mendekat. Gerakannya tidak kasar, tapi tak terbantahkan. Mayra melangkah tanpa sadar, dadanya berdebar kencang saat menyadari betapa dekatnya ia berdiri sekarang, sejajar dengan dada pria itu. Akan sangat memalukan jika Matthias menyadariya. “Pegang yang benar.” Matthias mengulurkan tangan, membetulkan posisi jari-jari Mayra di atas dasi itu. Mayra menahan napas, berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada arahan itu. Ia mencoba mengingat setiap gerakan agar tidak perlu diperbaiki lagi. Posisi yang begitu menyulitkannya ini, entah kenapa membuat waktu seolah berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. *** Mayra baru benar-benar merasa lega saat Matthias akhirnya meninggalkan kediaman, namun rasa tenang itu tak bertahan lama. Begitu pria itu pergi, ia langsung menyadari tatapan para pelayan lain yang tertuju padanya. Padahal Mayra belum menceritakannya kepada siapa pun. Namun entah bagaimana, para pelayan itu seakan sudah mengetahuinya. Mereka tahu ia kini telah menjadi pelayan pribadi Matthias. “Bukannya Tuan lebih suka wanita yang berusia lanjut jika membutuhkan pelayan pribadi?” Salah seorang pelayan menatap Mayra sekilas, lalu berbicara pada temannya di samping. “Semua pelayan pribadi Tuan Hayes selalu berakhir kehilangan nyawa. Paling lama sebulan bisa bertahan, itu pun kalau beruntung.” Teman pelayan itu langsung menyahut. “Ivy ….” Mayra tersentak pelan saat temannya itu tiba-tiba muncul di sampingnya. “Menjadi pelayan pribadi Tuan Hayes, pasti gajinya lebih tinggi.” Ivy mengucapkannya dengan nada ringan, berusaha mencairkan suasana yang mendadak kelam. Mayra sama sekali tidak terpikirkan soal gaji yang lebih tinggi. Baginya hal itu tak ada artinya, mengingat ia justru masih memiliki hutang yang belum lunas kepada Matthias karena telah merusak gaun kesukaan Nyonya Hayes. “Oh iya, lusa ulang tahun Tuan Hayes. Jadi kau harus lebih hati-hati.” Ivy berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. “Dari yang aku dengar, semua staff yang ada di kediaman selalu dibuat sangat ketakutan di hari itu.” Tubuh Mayra menegang seketika. Rasa tidak tenang melanda dirinya sepenuhnya, membuat jantungnya berdebar tak menentu. Ada apa sebenarnya dengan hari ulang tahun itu? Bersambung....“Saya tidak bermaksud lancang dan masuk ke kamar Tuan tanpa izin.” Mayra mengucapkannya dengan sangat hati-hati.Wajah Mayra memerah hingga ke telinga. Kepalanya menunduk dalam, tak berani menatap ke arah pria itu. Ia bergegas meraih catatan yang terjatuh di lantai dengan tangan yang sedikit gemetar, tapi dirinya berusaha secepat mungkin mengambilnya agar tidak terlihat semakin ceroboh.“Saya akan pergi—”“Lalu siapa yang melakukan tugasmu? Aku?” Sarkasme itu terdengar rendah namun tajam.“Saya ….” Suara Mayra nyaris tak terdengar. Ia membuka mulutnya, tapi tak ada satu pun jawaban yang muncul.Pikiran Mayra campur aduk, tak tahu harus berkata apa. Ia juga bingung bagaimana cara menjelaskannya, kini dirinya terjebak di antara keinginan pergi dan kewajiban yang belum selesai.“Masuk dan tutup pintunya.” Nada bicaranya datar namun mematikan.Mayra menelan ludah, perintah itu membuatnya semakin terjebak. Posisi yang sempat ia coba pertahankan kini runtuh perlahan, ia tak bisa lagi menjag
“Pekerjaanmu biar diurus pelayan lain, jangan membuang waktu Tuan Hayes hanya untuk menunggumu.” Elias berbalik tanpa menunggu tanggapan.Mayra segera meletakkan gelas di meja. Tangannya masih sedikit gemetar, sehingga ia bergerak sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Napasnya diatur perlahan dan dalam, berusaha tampil tenang, meski jantungnya berpacu begitu kencang hingga terasa sesak dan nyeri.“Kamu akan baik-baik saja.” Ivy tahu persis apa yang Mayra takutkan, ia bisa membacanya dari wajah pucat dan tatapan gelisah itu.“Entahlah, aku tidak yakin.” Mayra mengeluarkan tawa kecil yang terdengar hampa.Ivy meraih tangan Mayra yang terasa dingin, lalu menggenggamnya pelan namun erat.“Kau tidak perlu khawatir.” Mayra melepaskan genggaman itu perlahan, berusaha terlihat tegar. Cukup Mayra sendiri yang memikul kegelisahan ini, Ivy tidak perlu ikut terlibat. Mayra bahkan tidak tahu sampai kapan dirinya akan tetap hidup. Nyawanya kini berada sepenuhnya di dalam ge
Kau ceroboh.” Hanya dua kata, namun cukup membuat perasaan Mayra semakin tidak karuan. Ia berdiri di sana, napasnya masih tertahan, jantungnya belum sepenuhnya tenang. Teguran Matthias terkesan tajam dan dingin, seolah nyawa Mayra yang hampir hilang hanyalah gangguan belaka. Rasa bersalah bercampur kebingungan memenuhi dadanya, membuatnya makin menunduk tanpa tahu harus berkata apa. “Kau seharusnya sudah berada di tempat aman sebelum hewan itu dilepaskan. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.” Rahang Matthias mengeras pelan. “Saya benar-benar minta maaf, Tuan.” Mayra menelan ludah dengan susah payah, suara bergetar halus. “Tidak seharusnya saya melakukan kesalahan dan merepotkan Tuan.” Perlahan bisik-bisik terdengar di antara para anak buah. Suara mereka tertahan, segan mengganggu kehadiran tuannya. Tatapan mereka beralih sejenak ke Mayra, lalu kembali ke Matthias, penuh rasa hormat sekaligus sadar betapa beruntungnya gadis itu. Potongan kata yang terdengar samar-s
“Kau berpikir terlalu berlebihan.” Ivy menggeleng mantap, raut wajahnya jelas-jelas tidak setuju dengan dugaan itu.Mayra hanya menunduk dalam, matanya kosong menatap lantai seolah sudah melihat bayangan nasibnya sendiri. Yang Mayra rusak bukanlah gaun biasa, itu gaun warna biru laut kesukaan Nyonya Hayes.“Aku bukan berlebihan.” Suara Mayra nyaris tak terdengar. “Kalau sekadar menyentuh saja sudah harus dibayar nyawa … apa yang akan terjadi padaku yang merusaknya?”“Tuan Hayes melepaskanmu, mungkin karena kerjamu bagus.” Ivy menatapnya lembut, berusaha keras menemukan alasan yang paling masuk akal dan paling menenangkan.Tangan Ivy masih mengusap pelan punggung tangan temannya, seolah ingin menanamkan keyakinan itu perlahan ke dalam hati Mayra. Namun alasan itu tak cukup mampu menenangkan hati Mayra sedikit pun.Kerja bagus, rajin, teliti, semua hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan benda yang nilainya melampaui nyawa manusia biasa. Apalagi Mayra hanyalah pelayan rendahan, dan nya
“G-gaun itu—”“Bicara yang benar.” Matthias memotong dengan suara yang terdengar lebih dingin, rahangnya mengeras perlahan.Mayra tanpa sadar berhenti bernapas sebentar. Kepalanya menunduk makin dalam, pandangannya terpaku pada lantai saja. Dadanya sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dihirup.“Gaun itu rusak karena kelalaian saya, Tuan.” Mayra memejamkan matanya untuk beberapa saat.Matthias tidak mengatakan apapun.Suasana yang sunyi itu membuat Mayra menelan ludahnya dengan susah payah. “Mohon maaf, Tuan. Jika diperlukan Tuan bisa memotong seluruh gaji saya untuk mengganti kerugian itu.”Mayra memang sangat butuh gaji tinggi hasil dari bekerja menjadi pelayan di kediaman Hayes, tapi semuanya tak berarti apa-apa jika ia tidak selamat malam ini.“Uang tidak akan pernah cukup, gantilah dengan yang lain.”Sesuatu yang pernah Mayra dengar tak sengaja melintas dengan cepat di benaknya, para pelayan pernah bilang kalau Tuan Hayes sangat mencintai istrin
“Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?”Mayra refleks menahan napas. Jari-jarinya masih mencengkram ujung gaun, sementara pelayan di hadapannya tampak semakin pucat.“T-Tuan, maaf. Saya hanya khawatir gaun itu akan rusak. Saya bermaksud—”“Lalu kau ingin merusak gaun itu dengan tanganmu sendiri?” Suara Matthias terdengar lebih tajam dan menusuk.Pelayan itu semakin menundukkan kepala. Tidak ada lagi keberanian untuk menjelaskan apa pun. Pandangan Matthias kembali tertuju pada Mayra yang hanya bisa menundukkan kepala. Ia sempat menatap perempuan itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada pelayan di hadapannya.“Orang yang merasa dirinya berkuasa di rumah ini tidak pantas untuk tinggal di sini.” Tatapan Matthias mengeras. Ia mengangkat satu tangannya dan menunjuk pelayan tersebut.“Singkirkan dia.”Wajah pelayan itu seketika pucat.“T-Tuan, mohon ampuni saya. Saya benar-benar tidak bermaksud—”Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Elias tiba-tiba meraih l







