Mag-log inMayra Claire, terbiasa hidup di bawah tekanan. Ibunya selalu menuntut uang demi menyekolahkan adik laki-lakinya. Mayra pun nekat bekerja sebagai pelayan di kediaman mewah milik Matthias Hayes. - Pada akhirnya, takdir membawa Mayra terjebak dalam hubungan rumit bersama majikannya sendiri. Namun perlahan, Mayra justru menyadari bahwa Matthias hanya melihatnya sebagai sosok wanita yang mirip dengan istrinya yang hilang lima tahun lalu.
view more“Saya tidak bisa melakukannya, Tuan. Saya hanya pelayan di rumah ini.” Mayra menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung celemek.
Di hadapannya, Matthias masih menggenggam gaun berwarna biru laut. Potongannya anggun, dengan kain yang berkilau lembut di bawah cahaya ruangan. Warna biru itu rasanya tidak asing, Mayra pernah melihat foto yang ada di kamar milik istri Matthias. Di sana istri Matthias mengenakan dress selutut warna biru laut. Kenapa Tuan Hayes menyuruhnya memakai gaun dengan warna yang merupakan favorit istrinya? “Pakai,” ulang Matthias singkat. Mayra mengangkat wajah dengan ragu. “Tuan, saya takut gaun ini—” “Cepat pakai dan jangan membuat Tuan Hayes menunggu.” Suara Elias, kepala pelayan, terdengar dari samping. Mayra menelan kembali ucapannya. Jika bahkan Elias menyuruhnya menurut, ia tahu tidak ada gunanya membantah lagi. Akhirnya, Mayra mengulurkan tangan dan menerima gaun tersebut dengan hati-hati. “B–baik, Tuan. Akan saya pakai.” Mayra kemudian bergegas menuju ruang ganti. Selama tiga minggu bekerja di kediaman Matthias Hayes, Mayra sudah belajar bahwa pria itu bukan seseorang yang bisa dibantah. Matthias dikenal dingin, kejam, dan berkuasa. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat siapa pun berada dalam masalah besar. Namun, Mayra tidak punya banyak pilihan. Ia membutuhkan uang untuk memenuhi semua tuntutan ibunya, termasuk membayar biaya sekolah adik laki-lakinya. Dan gaji yang ditawarkan Matthias jauh lebih besar daripada pekerjaan lain yang bisa ia dapatkan, sehingga ia terpaksa bertahan di tempat ini. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan gaun biru laut yang membalut tubuhnya. Kainnya terasa begitu lembut, tetapi Mayra justru semakin gugup ketika menyadari beberapa memar ungu di lengannya masih terlihat jelas. Itu semua adalah bekas pukulan ibunya. Mayra buru-buru menarik ujung lengan gaun, berharap bisa menyembunyikannya. Namun, dari tatapan Matthias yang masih duduk di sofa kulit mewah, ia tahu pria itu sudah melihatnya. Mayra berdiri kaku di tempatnya. Ia melihat pandangan Matthias tertahan pada wajahnya beberapa saat sebelum beralih kembali ke lengannya. “Elias, tinggalkan kami,” titah Matthias tanpa membuang pandangan dari Mayra sedikitpun. “Baik, Tuan.” Elias segera keluar dan menutup pintu di belakangnya. Mayra menelan ludah. Kini hanya tersisa dirinya dan Matthias di ruangan itu. Entah kenapa, keheningan tersebut terasa jauh lebih menekan daripada sebelumnya. Matthias bangkit dari sofa dan berjalan mendekatinya. Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Mayra tanpa sadar mundur sedikit. “Kenapa lenganmu?” tanya Matthias tenang. Mayra terdiam sesaat sebelum menjawab, “Maaf Tuan, saya hanya tidak ingin membuat Tuan tidak nyaman melihatnya. Tapi, Tuan tenang saja, luka ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya dan akan segera sembuh.” Tatapan Matthias kembali jatuh pada memar di lengannya. Rahangnya mengeras tipis sebelum pandangannya kembali tertuju pada Mayra. “Siapa yang melakukannya?” Mayra membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Matthias akan menanyakan hal itu. “Ini...” Mayra menggenggam ujung gaunnya erat. “Saya hanya sedikit ceroboh, Tuan.” Tatapan Matthias berubah semakin tajam. Ia sedikit mencondongkan tubuh, membuat Mayra tanpa sadar menahan napas. “Aku tidak bertanya bagaimana kau mendapatkannya. Aku bertanya siapa yang melakukannya.” Mayra hanya terdiam. Bibirnya beberapa kali terbuka, tetapi tak satupun jawaban keluar. Jari-jarinya semakin erat menggenggam ujung gaun. Matthias menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Kau boleh pergi.” Mayra sedikit tertegun, seolah tidak menyangka akan dilepaskan semudah itu. “Terima kasih, Tuan.” Ia membungkuk kecil, lalu menatap gaun yang masih dikenakannya. “Untuk gaun ini, saya akan mencucinya sampai bersih dan segera mengembalikannya kepada Tuan.” Matthias tidak menjawab. Mayra kembali membungkuk sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Ia hanya berharap tidak ada sedikitpun noda atau kerusakan pada gaun semahal itu. Kalau sampai terjadi sesuatu, ia tidak yakin bisa menanggung akibatnya. Saat menginjakkan kaki di dapur dengan gaun biru laut yang masih dikenakannya, Mayra langsung merasakan tatapan para pelayan tertuju padanya. Bisik-bisik mulai terdengar. “Tuan Hayes menyuruhnya memakai gaun mahal itu, padahal dia baru beberapa minggu bekerja di sini?” bisik seorang pelayan dengan nada iri. “Dia bahkan diterima tanpa seleksi,” sahut pelayan lain sambil melirik Mayra dari atas ke bawah. “Jangan-jangan Tuan Hayes memang tertarik padanya.” “Kalau begitu, selera Tuan Hayes semakin buruk.” Pelayan ketiga terkekeh sinis. “Apa yang istimewa dari perempuan seperti dia?” Mayra mempercepat langkah, berusaha mengabaikan mereka. Namun, seorang pelayan perempuan yang sejak tadi ikut memperhatikannya sengaja melangkah ke depan dan menghadang jalan Mayra. “Kau pikir setelah memakai gaun itu, kedudukanmu langsung berbeda dari kami?” sindir pelayan perempuan itu. Mayra menggeleng cepat. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu.” “Lalu kenapa Tuan Hayes menyuruhmu memakai gaun istrinya?” Pelayan perempuan itu menatap Mayra dengan curiga. “Aku tidak tahu, aku hanya menjalankan perintah beliau.” Jawaban Mayra justru membuat dua pelayan yang berdiri di belakang perempuan itu tertawa sinis. “Jangan pura-pura polos.” Pelayan perempuan yang menghadang Mayra mendengus. “Baru beberapa minggu bekerja, tapi sudah berani memakai barang milik Nyonya Hayes.” Mayra menggenggam ujung gaunnya. “Aku benar-benar tidak tahu apa maksud Tuan Hayes. Jadi, tolong jangan salah paham.” “Jangan salah paham?” Pelayan perempuan itu mencibir. “Kau yang tiba-tiba datang ke sini dan langsung mendapat perlakuan khusus. Sekarang kau masih mau berpura-pura tidak tahu apa-apa?” Mayra mundur selangkah ketika pelayan perempuan itu semakin mendekat. “Aku tidak pernah meminta perlakuan khusus apa pun.” Pelayan perempuan yang berdiri di hadapan Mayra menatap gaun biru laut yang dikenakannya dengan tatapan penuh kebencian. “Kalau begitu, lepas gaun itu.” Mayra membeku. “A-apa?” “Lepaskan.” Perempuan itu kembali meraih lengan gaun Mayra. “Jangan, nanti gaunnya rusak.” Mayra spontan mundur selangkah. Tangannya refleks menahan kain gaun di bagian lengannya. Gaun semahal ini jelas bukan sesuatu yang mampu Mayra ganti jika sampai robek atau terkena noda. Bahkan jika hanya sedikit kotor, Mayra tidak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkannya kepada Matthias. “Saya akan mengembalikannya sendiri setelah selesai memakainya. Jadi, tolong jangan tarik,” lanjut Mayra. “Berani sekali kau membantahku.” Perempuan itu kembali mengulurkan tangan dan mencengkeram ujung kain gaun Mayra. Mayra buru-buru menahannya, tubuhnya menegang karena takut gaun itu sampai rusak. Namun, sebelum perempuan itu sempat menariknya, suara dingin terdengar dari arah pintu. “Berhenti.” Seluruh penghuni dapur langsung terdiam. Mayra perlahan menoleh. Matthias berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam yang membuat suasana dapur seketika membeku. Perempuan itu langsung melepaskan kain gaun Mayra dan menundukkan kepala. “T-Tuan Hayes…” Matthias tidak menjawab. Tatapannya beralih pada perempuan itu, lalu turun sekilas pada tangan Mayra yang masih mencengkram ujung gaunnya. “Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?” Bersambung….“Pekerjaanmu biar diurus pelayan lain, jangan membuang waktu Tuan Hayes hanya untuk menunggumu.” Elias berbalik tanpa menunggu tanggapan.Mayra segera meletakkan gelas di meja. Tangannya masih sedikit gemetar, sehingga ia bergerak sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Napasnya diatur perlahan dan dalam, berusaha tampil tenang, meski jantungnya berpacu begitu kencang hingga terasa sesak dan nyeri.“Kamu akan baik-baik saja.” Ivy tahu persis apa yang Mayra takutkan, ia bisa membacanya dari wajah pucat dan tatapan gelisah itu.“Entahlah, aku tidak yakin.” Mayra mengeluarkan tawa kecil yang terdengar hampa.Ivy meraih tangan Mayra yang terasa dingin, lalu menggenggamnya pelan namun erat.“Kau tidak perlu khawatir.” Mayra melepaskan genggaman itu perlahan, berusaha terlihat tegar. Cukup Mayra sendiri yang memikul kegelisahan ini, Ivy tidak perlu ikut terlibat. Mayra bahkan tidak tahu sampai kapan dirinya akan tetap hidup. Nyawanya kini berada sepenuhnya di dalam ge
Kau ceroboh.” Hanya dua kata, namun cukup membuat perasaan Mayra semakin tidak karuan. Ia berdiri di sana, napasnya masih tertahan, jantungnya belum sepenuhnya tenang. Teguran Matthias terkesan tajam dan dingin, seolah nyawa Mayra yang hampir hilang hanyalah gangguan belaka. Rasa bersalah bercampur kebingungan memenuhi dadanya, membuatnya makin menunduk tanpa tahu harus berkata apa. “Kau seharusnya sudah berada di tempat aman sebelum hewan itu dilepaskan. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.” Rahang Matthias mengeras pelan. “Saya benar-benar minta maaf, Tuan.” Mayra menelan ludah dengan susah payah, suara bergetar halus. “Tidak seharusnya saya melakukan kesalahan dan merepotkan Tuan.” Perlahan bisik-bisik terdengar di antara para anak buah. Suara mereka tertahan, segan mengganggu kehadiran tuannya. Tatapan mereka beralih sejenak ke Mayra, lalu kembali ke Matthias, penuh rasa hormat sekaligus sadar betapa beruntungnya gadis itu. Potongan kata yang terdengar samar-s
“Kau berpikir terlalu berlebihan.” Ivy menggeleng mantap, raut wajahnya jelas-jelas tidak setuju dengan dugaan itu.Mayra hanya menunduk dalam, matanya kosong menatap lantai seolah sudah melihat bayangan nasibnya sendiri. Yang Mayra rusak bukanlah gaun biasa, itu gaun warna biru laut kesukaan Nyonya Hayes.“Aku bukan berlebihan.” Suara Mayra nyaris tak terdengar. “Kalau sekadar menyentuh saja sudah harus dibayar nyawa … apa yang akan terjadi padaku yang merusaknya?”“Tuan Hayes melepaskanmu, mungkin karena kerjamu bagus.” Ivy menatapnya lembut, berusaha keras menemukan alasan yang paling masuk akal dan paling menenangkan.Tangan Ivy masih mengusap pelan punggung tangan temannya, seolah ingin menanamkan keyakinan itu perlahan ke dalam hati Mayra. Namun alasan itu tak cukup mampu menenangkan hati Mayra sedikit pun.Kerja bagus, rajin, teliti, semua hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan benda yang nilainya melampaui nyawa manusia biasa. Apalagi Mayra hanyalah pelayan rendahan, dan nya
“G-gaun itu—”“Bicara yang benar.” Matthias memotong dengan suara yang terdengar lebih dingin, rahangnya mengeras perlahan.Mayra tanpa sadar berhenti bernapas sebentar. Kepalanya menunduk makin dalam, pandangannya terpaku pada lantai saja. Dadanya sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dihirup.“Gaun itu rusak karena kelalaian saya, Tuan.” Mayra memejamkan matanya untuk beberapa saat.Matthias tidak mengatakan apapun.Suasana yang sunyi itu membuat Mayra menelan ludahnya dengan susah payah. “Mohon maaf, Tuan. Jika diperlukan Tuan bisa memotong seluruh gaji saya untuk mengganti kerugian itu.”Mayra memang sangat butuh gaji tinggi hasil dari bekerja menjadi pelayan di kediaman Hayes, tapi semuanya tak berarti apa-apa jika ia tidak selamat malam ini.“Uang tidak akan pernah cukup, gantilah dengan yang lain.”Sesuatu yang pernah Mayra dengar tak sengaja melintas dengan cepat di benaknya, para pelayan pernah bilang kalau Tuan Hayes sangat mencintai istrin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.