Kebohongan Membawa Petaka

Kebohongan Membawa Petaka

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-11-05
Oleh:  RomendrBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
5Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Arga Utama sudah selesai dengan dunia kelamnya. Mantan petinju jalanan yang pernah ditakuti, dia ingin hidup tenang bersama keluarganya. Membuka bengkel kecil untuk kehidupan sehari-harinya. Tapi di suatu malam, tiga pria datang membuka tabir peristiwa yang disembunyikan. Sejak malam itu, peristiwa demi peristiwa membawanya ke pusaran yang tidak pernah ia pilih. Istrinya punya rahasia yang disimpan lama, dan semakin ia menggali, semakin ia menemukan hal yang tidak pernah ia pikirkan. Dia pria yang ingin hidup tenang. Tapi lingkaran itu tidak akan membiarkannya pergi.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Tiga Preman

Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.

Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga.

"Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."

Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu menjawab perkataan istrinya tadi.

"Enggak apa-apa sih, soalnya Arka nanyain kamu terus tuh," ucapnya pelan. Arka adalah anak mereka yang berusia lima tahun.

"Heeum, tiga hari jadi lima. Bisa-bisa jadi tujuh hari. Terus kalau udah beres, kamu cepet pulang ya. Oke?" tambah Irene, permintaan yang nadanya lebih mirip perintah.

"Iya. Iya. Habis dokumen ini, aku langsung siap-siap... Tenang aja, oke? Nanti aku bawa oleh-oleh. Kamu tunggu aja di rumah."

Arga mengangguk, meski Iren tidak bisa melihatnya. Ia baru saja hendak mengucapkan selamat tidur ketika sebuah suara lain menyusup dari belakang suara Iren. Samar, seperti datang dari ruangan yang agak jauh.

"Heem… Iren… say…"

Lalu telepon terputus begitu saja.

Arga menatap layar ponselnya, lalu menelepon balik. Nada sambung berbunyi beberapa kali, lalu mati. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama.

Semenit kemudian pesan masuk.

[Jgan telpon aku lgi beresin dokumen, udah pesen tiket. Jam empat sore sampe. Bsok nggak usah jemput. Dari bandara aku pesan taksi aja, love you muaaah]

Arga membacanya dua kali. Ibu jarinya berhenti di atas layar.

Enam tahun menikah, Iren tidak pernah dinas lebih dari tiga hari tanpa penjelasan panjang. Biasanya dia yang menelepon duluan, bercerita kenapa harus tinggal lebih lama, bilang kangen, minta maaf. Kali ini tidak. Kali ini ada suara laki-laki yang menyebut namanya dengan cara yang terlalu akrab, dan pesan yang terlalu rapi.

Ia mengetik satu kata.

[Oke]

Ponsel masuk saku, keluar lagi, masuk lagi.

Ah Mungkin rekan kerja. Atasan. Orang hotel yang kebetulan lewat. Arga mengulang daftar itu dalam kepala, seakan makin sering diulang, makin benar jadinya. Tapi suara itu tetap menempel.

Heem… Iren… say…

Ia berdiri, merapikan kunci-kunci yang berserakan di meja kerja, lalu mematikan kompresor yang sedari tadi berdengung. Semua dikerjakannya tanpa berpikir.

Rolling door ia tarik turun. Besi bergesekan dengan lantai, panjang dan nyaring di jalan yang sudah sepi.

Gembok sudah terpasang. Arga masih berdiri membelakangi rolling door, kunci motor di tangan kanan, ketika deru mobil terdengar dari ujung jalan. Lampunya menyapu tembok rumah sebelah, lalu mobil itu melambat dan berhenti miring sekitar lima langkah di belakang motornya, moncongnya mengarah ke bengkel. Mesin dibiarkan menyala. Sorot lampunya jatuh tepat di dada Arga.

Pintu-pintu terbuka.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tiga pria turun, semuanya berjeans dan berjaket hitam. Yang paling depan bertubuh besar, usianya empat puluhan, bahunya lebar, dan sorot matanya menekan. Di sisi kirinya, pria kurus yang kakinya tidak bisa diam. Yang ketiga tidak ikut maju. Ia bersandar di sudut belakang mobil, menatap dingin seperti sedang mengukur Arga. Bau alkohol terbawa angin malam.

"Anda suaminya Irene Maharani, kan?"

Bukan "istri Anda", bukan "Bu Iren". Nama lengkap, disebut utuh, seperti dibaca dari selembar kertas.

"Iya. Irene Maharani istri saya."

Ketiganya saling melirik. Arga menangkap sesuatu yang lewat di mata mereka rasa lega, seperti orang yang akhirnya menemukan alamat yang dicari. Mereka tidak kebetulan lewat.

"Ada apa?"

Pria besar menunjuk mobil dengan dagunya. "Ikut."

Arga tertawa pendek, tanpa humor. "Lu siapa? Ngomong di sini aja."

Pria itu melangkah mendekat sambil menyeringai. "Residivis tukang perkosa kayak lo nggak perlu banyak tanya."

"Apa?"

Kata itu menggantung. Beberapa detik Arga hanya menatapnya, menunggu tawa, tanda bahwa ini lelucon buruk.

Tidak ada.

Hanya seringai dan bau alkohol. Tanpa sadar, ia mengukur jarak: pria besar dua langkah di depan, si kurus bergeser ke kiri mendekati sisi tubuhnya, dan di belakang mobil, pria ketiga akhirnya menegakkan badan.

"Lu... salah... alamat."

"BACOT!" Pria besar menoleh ke kedua temannya. "Bawa dia."

Si kurus yang bergerak lebih dulu. Ia menerjang dari kiri dengan pukulan lurus. Arga menangkisnya dengan lengan kiri, dan nyerinya langsung merambat sampai bahu. Belum sempat ia menarik lengan itu, tinju pria besar masuk dari kanan, telak di sudut bibirnya.

Kepalanya terlempar ke samping. Rasa asin darah memenuhi mulut. Pipinya panas, dan punggungnya menghantam besi rolling door, bunyinya berdentang nyaring di jalan yang sepi.

Pria besar menyeringai sambil menarik tangan untuk pukulan berikutnya. "Sekarang, mati lu!"

Arga tidak menunggu. Ia merunduk, dan kepalan itu lewat di atas rambutnya, menghantam besi tempat kepalanya tadi bersandar. Ia keluar dari sudut itu dengan satu langkah geser ke kanan, dagu turun, kedua tangan naik. Napasnya mengatur sendiri. Dua pukulan pendek ia hujamkan ke perut si kurus yang terlalu dekat.

Si kurus melipat, terbatuk, dan mundur terhuyung.

Pria besar menggeram dan menyerbu lagi, pukulannya lebar dan berat. Arga membaca bahunya yang bergerak lebih dulu. Ia membiarkan pukulan itu lewat tipis di depan wajah, merendahkan badan, lalu menyapu kaki penyangga pria itu dari samping. Pria besar kehilangan pijakan, menghantam kap mobil dengan punggungnya, lalu merosot ke aspal dan tidak langsung bangkit.

Dua jatuh. Napas Arga sudah pendek-pendek.

Dan ia baru ingat pada yang ketiga. Pria itu sudah tidak lagi berada di belakang mobil.

Tendangan menghantam rusuk kirinya dari sisi yang tidak terjaga, sisi yang sejak awal ia biarkan terbuka karena sibuk dengan dua orang di depan.

Napasnya pecah. Pandangannya memutih sesaat dan lututnya goyah. Ia membungkuk memegangi rusuknya, setiap tarikan napas seperti pisau yang ditusukkan pelan-pelan.

Satu lengan melingkar dari belakang, melilit leher dan menariknya tegak. Si kurus, hidungnya basah, tapi sudah bangkit lagi. Arga mengangkat dagu agar tidak tercekik, mengunci napas, lalu menghentakkan kepala ke belakang sekuat tenaga.

Krak.

Cengkeraman itu lepas disertai makian. Si kurus mundur dengan tangan menutup hidung yang kini berdarah.

Pria ketiga maju dengan hook kiri, rapi dan terukur. Kali ini Arga lebih cepat. Ia memiringkan kepala, membiarkan hook itu menyambar angin, lalu menumpukan seluruh berat badan ke kaki depan dan melepas satu pukulan keras ke rahang. Kepala pria itu terlempar, matanya memutih, dan tubuhnya jatuh ke aspal seperti karung. Tidak bangun lagi.

Lalu sunyi.

Si kurus terduduk di trotoar, satu tangan menutup hidung, tidak berani berdiri. Arga bertumpu pada lututnya, menarik napas pendek-pendek. Setiap tarikan menusuk rusuk kirinya, dan bibirnya berdenyut mengikuti detak jantung. Tangan kirinya masih memegangi sisi tubuh. Ia menegakkan badan perlahan, satu sisi lebih rendah dari sisi lain.

Pria besar masih telentang di samping mobil. Arga menghampirinya dengan langkah yang tidak lagi ringan, menjambak kerah jaketnya, dan menariknya setengah duduk.

"Siapa yang nyuruh kalian?"

Pria itu terbatuk. Darah menetes dari bibirnya. Ia tidak menjawab. Ia malah tertawa, rendah dan basah.

"Gue tanya sekali lagi." Suara Arga masih pelan.

"Lu pikir gue takut sama lu?" Pria itu meludah ke samping. "Lu cuma sayur. Pukul aja. Ayo pukul!"

Rahang Arga mengeras, urat di pipinya menonjol.

"Kenapa tangan lu gemeteran?" ledek pria itu.

Memang gemetar. Tapi bukan karena takut. Ia sedang menahan sesuatu.

"Lu bilang gue apa tadi?" Suaranya turun, nyaris berbisik. "Residivis. Tukang perkosa. Lu sebut itu di depan bengkel gue, ke muka gue, kayak lagi nyebut nama."

"Itu yang gue dengar."

"Dari siapa?"

Pria besar diam. Matanya melirik ke arah mobil, hanya sepersekian detik, lalu kembali. Arga melihatnya.

"Liat gua." Arga mendekatkan wajahnya. "Lu nyebut nama istri gua lengkap. Lu tahu alamat bengkel ini. Lu tahu jam gua tutup. Lu bukan orang mabok nyasar. Ada yang ngasih kalian alamat ini. Ada yang bayar lu. Siapa?"

Seringai di wajah itu menipis, tapi tidak hilang. "Pukul gue, baru gue ngomong."

"Jangan nantang."

Giginya kuning kehitaman saat ia menyeringai lebih lebar. "Pantes aja istri lu…"

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Dada Arga seperti dihantam sesuatu yang lebih keras daripada tinju mana pun malam ini. Rasa nyeri di rusuknya mendadak tak terasa. Cengkeramannya mengeras sampai otot lehernya menegang.

"Apa lu bilang? Kenapa istri gua?"

Di belakang, si kurus berbisik pada temannya, "Bang, udahlah, gue nggak ikut-ikutan lagi…" lalu terdiam ketika Arga menoleh sekilas.

Arga menatap pria besar itu lagi. Ia menarik napas lewat hidung, panjang dan berat, lalu membanting kepala itu ke aspal. Tidak sekeras yang bisa ia lakukan. Cukup untuk membuat mata pria itu berputar dan lehernya lunglai.

Ia menegakkan badan. Tangan kanannya mengepal pelan-pelan sampai buku-buku jarinya memutih. Pria di bawahnya tidak bisa bangun dan tidak bisa melindungi wajahnya.

"Siapa yang nyuruh lu?" Suaranya serak, menggeram. "Sebut namanya sekarang!"

Pria besar itu masih bisa tersenyum, meski matanya tidak fokus karena pening. Senyum yang membuat sisa kendali di kepala Arga terkikis.

"Ini yang terakhir. Siapa yang nyuruh lu? Jawab!"

Arga mengangkat kepalannya tinggi-tinggi. Ia tahu, ketika kepalan itu mendarat, senyum itu akan hilang bersama kesadarannya.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status