เข้าสู่ระบบRowan akhirnya berangkat bersama puluhan petarung pilihan yang telah disiapkan untuk menghadapi Mordrath. Derap kaki kuda dan roda kereta perlahan menjauh dari halaman Kastel Blackwood.Russle berdiri di sana sampai rombongan itu menghilang di balik gerbang.Tatapannya terpaksa tetap tenang.Bagaimanapun, di mata semua orang, dialah Duke Rowan Blackwood."Duke..."Salah seorang asistennya yang bertugas memilah jadwal dan panggilan pertemuan berdiri tidak jauh darinya."Saya tahu masalah ini berat. Anda hanya perlu bersabar."Russle menoleh kepadanya.Ia hanya mengangguk kecil."Ya."Namun setelah asistennya kembali masuk ke kastel, ekspresi Russle perlahan berubah.Tentu saja ini berat.Ia menatap jalan yang baru saja dilewati rombongan Rowan.Bagaimana mungkin aku tenang ketika saudaraku pergi ke sana, sementara seluruh dunia bahkan tidak tahu bahwa orang yang mereka sebut Kapten Eddy sebenarnya adalah Rowan?Russle mengepalkan tangannya di balik jubah.Ia tidak boleh mengejarnya.Ia
Sebelum para warga meninggalkan ruangan, Russle tiba-tiba angkat bicara."Tuan Duke."Rowan menoleh."Bagaimana kalau mereka untuk sementara tinggal di penginapan yang berada di wilayah Elarion?"Rowan langsung mengerutkan kening."Elarion?""Ya. Wilayah itu lebih jauh dari jalur pergerakan Mordrath. Setidaknya mereka bisa tinggal di sana sampai keadaan Nochtaryn kembali aman."Rowan tampak tidak sepenuhnya setuju."Kita tidak bisa terus-menerus membebani Elarion."Namun beberapa warga yang mendengar usulan tersebut justru mulai mengangguk."Kalau itu membuat keluarga kami aman, kami bersedia.""Saya juga.""Daripada kembali ke rumah yang sudah tidak ada..."Rowan terdiam.Ia akhirnya menghela napas."Baiklah."Ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan segera mengambil selembar kertas."Aku akan mengirim surat kepada Putra Mahkota Kael."Ujung pena mulai bergerak cepat.Dalam surat itu, Rowan menjelaskan bahwa puluhan warga Nochtaryn untuk sementara waktu akan tinggal di sebuah pe
Beberapa hari sebelumnya, setelah Russle dan Aruna berhasil membawa Rowan kembali ke Nochtaryn, keadaan sempat terlihat seolah-olah telah berakhir.Russle telah menggunakan pedang pusaka Blackwood untuk mengalahkan Vesper. Sementara itu, Elandor menggunakan sihirnya untuk memengaruhi seluruh anggota Holy Order agar meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing sebagai orang biasa.Namun, tidak seorang pun menyadari bahwa tubuh Vesper masih menyimpan satu kekuatan terakhir.Di tengah ruangan yang mulai ditinggalkan, tubuh Vesper yang tergeletak tiba-tiba bergerak.Krek...Kulit di sisi lehernya yang terkena tebasan pedang perlahan mengelupas.Lapisan kulit mudanya terlepas sedikit demi sedikit, memperlihatkan kulit baru di bawahnya yang jauh lebih pucat. Wajahnya yang dahulu tampak muda kini kembali pada wujud sebenarnya—tua, kering, dan menyerupai seseorang yang baru saja bangkit dari makam.Jari-jarinya bergerak.Lalu kedua kakinya perlahan menopang tubuh
Bab 132Kael membawa Aruna menuju taman pribadinya.Ukurannya memang tidak terlalu luas, hanya sekitar 4 × 5 meter, tetapi suasananya terasa begitu tenang. Pepohonan kecil menaungi sebagian taman, sementara berbagai jenis anggrek tumbuh di sepanjang sisi jalan setapak. Ada yang menjuntai dari pot-pot batu, ada pula yang tumbuh di antara semak hijau dengan bunga berwarna lembut.Aruna berhenti begitu memasuki taman."Indah sekali..."Kael tersenyum melihat reaksinya."Anda suka anggrek?" tanya Aruna sambil memperhatikan salah satu bunga."Iya, Lady. Saya menyukainya."Aruna menoleh kepadanya."Sama."Kael terdiam sebentar."Benarkah?"Aruna mengangguk."Iya. Aku suka melihatnya, apalagi kalau sedang berbunga."Kael tersenyum."Berarti kita punya kesukaan yang sama."Aruna berjalan perlahan menyusuri jalan setapak."Apakah Anda yang merawat semuanya?""Sebagian."Kael menunjuk beberapa anggrek."Yang itu diberikan kepadaku saat ulang tahun. Yang di sana kutanam sendiri."Aruna mendekat
"Lady, mau jalan-jalan bersamaku?" tanya Kael tiba-tiba.Aruna mengerjap."Bukankah di luar sedang kacau? Duke Rowan bahkan mengingatkanmu untuk menyebarluaskan berita tentang monster Utara yang berkeliaran ke mana-mana."Kael menggeleng cepat."Bukan keluar yang itu maksudku."Ia tampak sedikit salah tingkah sebelum akhirnya melanjutkan."Aku punya taman pribadi di istana."Kael menatap Aruna, lalu pipinya kembali memerah."Kalau kau mau... kita bisa berjalan-jalan di sana."Aruna terdiam.Entah mengapa, melihat Kael yang biasanya begitu percaya diri kini malah gugup hanya karena mengajaknya berjalan-jalan membuat hatinya terasa hangat.Gemes.Aruna hampir saja tertawa melihat telinganya yang ikut memerah."Kau kenapa?"Kael langsung menggeleng."Sepertinya aku baik-baik saja.""Benarkah?""Benar."Aruna tersenyum kecil."Kalau begitu... boleh."Mata Kael langsung berbinar."Benarkah?"Aruna mengangguk."Iya."Kael segera berdiri, tetapi baru melangkah dua langkah ia berhenti dan kem
"Lady..." Kael meletakkan cangkir tehnya perlahan setelah menghabiskan tegukan terakhir. Kali ini, tidak ada senyum jahil di wajahnya.Aruna menatapnya."Jika aku mengatakan sesuatu kepadamu, apakah kau akan menganggapku gila?"Aruna menggeleng santai."Sepertinya tidak."Dalam hati, ia justru berpikir bahwa pria di hadapannya ini terkadang lebih mirip tukang lawak di televisi daripada seorang pangeran pewaris takhta.Kael menarik napas panjang.Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tatapan kelabu lembutnya kemudian bertemu dengan mata Aruna."Lady..."Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya."Aku menyukaimu."Aruna membeku.Kael melanjutkan sebelum keberaniannya menghilang."Awalnya aku mengira aku hanya senang menggodamu. Aku pikir melihatmu kesal, mendengar ocehanmu, atau membuatmu tersenyum hanyalah hiburan bagiku."Ia tersenyum kecil, tetapi wajahnya kembali memerah."Tapi ternyata bukan itu."Kael menundukkan pandangan sebentar."Setiap kali kau pergi, aku selalu mencari-cari alas
Tiga hari sejak pesta, Aruna belum keluar dari kamar.Bukan karena malas. Tapi karena ia sedang sibuk mengamati.Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, ia memperhatikan ritme kehidupan kediaman Ardent. Para pelayan lalu-lalang dengan tugas masing-masing. Kepala dapur berteria
Pesta Musim Semi berlangsung hingga larut malam, tapi Aruna sudah muak dengan kebangsawanan setelah dua jam pertama.Ia menghabiskan sisa waktu dengan berdiri di dekat meja makanan—bukan karena lapar, tapi karena di sanalah tempat paling aman. Para bangsawan sibuk bergosip dan saling menjilat, tida
Aruna butuh waktu lima menit penuh untuk berhenti menatap bayangannya sendiri di cermin.Bukan karena ia terpesona—meski harus diakui, wanita di cermin ini cantik luar biasa. Tapi karena otaknya masih sibuk mencerna fakta bahwa ia baru saja kehilangan lima persen gaji di dunia lama dan mendapatkan
"Lady Evelyne... Duchess Marianne memerintahkan Anda segera bersiap."Suara itu lembut. Terlalu lembut. Seperti kapas yang diusapkan ke telinga.Aruna membuka mata. Dan dunia yang ia kenal lenyap. Bukan lampu neon kantor. Bukan meja kerja dengan tumpukan berkas. Bukan kursi ergonomis yang sudah buny







