MasukRussle pun segera kembali ke Kastel Blackwood. Ia menuntun kudanya sambil berjalan bersama puluhan pemuda yang baru saja melewati pertempuran panjang.Sesampainya di halaman kastel, aroma daging panggang langsung menyambut mereka.Ternyata benar perkataan Russle.Para koki kastel sudah menyiapkan puluhan potong daging rusa yang dipanggang dengan madu. Hidangan itu bahkan disusun di meja panjang agar seluruh pasukan bisa makan bersama."Wah!""Benar-benar sudah disiapkan!"Para pemuda segera duduk dan menyantapnya dengan lahap. Setelah berjam-jam berada di medan perang, makanan hangat itu terasa seperti hadiah besar."Terima kasih, Tuan Duke Rowan!"Ucapan itu terdengar hampir bersamaan.Russle hanya mengangguk, lalu mencoba menyunggingkan senyum yang biasa diberikan Rowan kepada bawahannya."Sama-sama. Kalian sudah bekerja keras."Namun ketika suasana mulai tenang, salah seorang ajudan yang sejak tadi memperhatikan rombongan tiba-tiba menghampiri.Ia melihat satu hal yang terasa jangg
Russle dan Rowan saling berpandangan.Mereka tidak punya banyak waktu.Tanpa perlu berbicara, keduanya memahami apa yang harus dilakukan."Semua mundur!" perintah Russle.Para petarung segera menarik diri.Russle mengangkat tangan kanannya, sementara Rowan mengangkat tangannya seolah-olah hendak memberikan aba-aba menyerang.Padahal, di balik gerakan itu, keduanya mulai menyatukan sihir mereka.Mana Russle berputar di sekitar tubuhnya.Mana Rowan menyusul, lalu perlahan menyatu dengan milik saudaranya.WHOOOM!Angin berembus keras.Para pemuda yang berada di dekat mereka sampai harus menahan tubuh agar tidak terdorong."Jangan lepaskan formasi!" seru Russle.Rowan mengangguk.Keduanya kemudian mengarahkan tangan dan senjata mereka lurus ke depan, berpura-pura sedang mempersiapkan serangan.Mordrath-mordrath di hadapan mereka mulai menggeram.Namun bukannya menyerang, energi sihir yang terkumpul justru membentuk gelombang besar di depan mereka.BOOOOM!Gelombang tersebut menghantam tan
Tiba-tiba, dari balik pepohonan yang menutupi lereng pegunungan, ratusan burung beterbangan kocar-kacir. Kepakan sayap mereka terdengar riuh sebelum seluruh kawanan menghilang ke langit.Para pemuda langsung saling berpandangan."Itu pertanda buruk..."Russle tidak menjawab. Sejak awal ia memang merasa ada sesuatu yang janggal di wilayah ini. Bahkan itulah alasan ia datang sendiri ke garis depan.Firasatnya terus mengatakan hal yang sama.Ada sesuatu yang akan terjadi."Tunggu," ujar Russle tegas. "Apa pun yang terjadi, jangan menyerang."Para pemuda mengangguk.Rowan—yang sebenarnya adalah Russle dalam penyamaran—berdiri paling depan, memperhatikan pepohonan yang mulai bergoyang hebat.DUUM...Satu langkah.DUUM...Langkah kedua.Tanah di bawah kaki mereka bergetar.Kemudian—BRAK!Pepohonan di hadapan mereka roboh sekaligus.Sesuatu keluar dari balik hutan.Semua orang membeku.Seekor Mordrath muncul.Namun ukurannya membuat seluruh monster yang mereka hadapi sebelumnya terlihat sep
Pemuda itu berlari secepat mungkin menuju Kastel Blackwood.Namun ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun tentang dirinya.Ia merupakan keturunan Blackwood dari garis yang telah lama meninggalkan klan tersebut. Kakek buyutnya dahulu menikah dengan seorang rakyat biasa, melepaskan gelar bangsawannya, lalu meminta namanya dihapus dari catatan sejarah Blackwood agar keturunannya dapat hidup tanpa bayang-bayang politik keluarga besar itu.Karena itu, ia tetap memiliki darah Blackwood meskipun tidak lagi menyandang nama tersebut.Sesampainya di gerbang kastel, ia bahkan tidak mengalami hambatan berarti."Saya perlu bertemu dengan Duke Rowan Blackwood. Saya perlu tambahan tombak—"Ucapannya terhenti.Matanya membesar.Di halaman kastel, puluhan kereta kuda telah berjejer rapi. Masing-masing dipenuhi peti persenjataan dan tombak dalam jumlah besar, siap dikirim menuju wilayah utara.Dan di antara kereta-kereta itu berdiri Russle.Dengan penyamarannya sebagai Rowan yang masih sempurna, ia
Rombongan Rowan terus bergerak semakin jauh ke wilayah utara. Di balik penyamarannya sebagai Kapten Eddy, ia memimpin puluhan petarung melewati kawasan yang sudah porak-poranda.Kali ini mereka berhadapan dengan makhluk yang berbeda.Bukan Mordrath kelas rendah.Seekor Mordrath kelas menengah berdiri di tengah padang, ukurannya hampir sebesar rumah kecil milik penduduk. Tubuhnya diselimuti sisik tebal, sementara ekornya bergerak ke kanan dan kiri dengan ujung setajam bilah pisau. Raungannya membuat tanah seakan ikut bergetar.Beberapa pemuda langsung mengangkat senjata."Kapten! Kita harus menyerangnya sekarang!""Dia sedang memangsa ternak warga!"Namun Rowan mengangkat tangannya."Biarkan dulu.""Apa?!""Kapten, kalau kita membiarkannya—""Tenang."Tatapan Rowan tidak lepas dari monster tersebut."Kita cari titik lemahnya."Ia tidak sekadar memperhatikan ukuran atau bentuk tubuhnya. Ia mengamati setiap gerakan—bagaimana sisiknya bergeser ketika monster itu berjalan, bagian mana yang
Rowan akhirnya berangkat bersama puluhan petarung pilihan yang telah disiapkan untuk menghadapi Mordrath. Derap kaki kuda dan roda kereta perlahan menjauh dari halaman Kastel Blackwood.Russle berdiri di sana sampai rombongan itu menghilang di balik gerbang.Tatapannya terpaksa tetap tenang.Bagaimanapun, di mata semua orang, dialah Duke Rowan Blackwood."Duke..."Salah seorang asistennya yang bertugas memilah jadwal dan panggilan pertemuan berdiri tidak jauh darinya."Saya tahu masalah ini berat. Anda hanya perlu bersabar."Russle menoleh kepadanya.Ia hanya mengangguk kecil."Ya."Namun setelah asistennya kembali masuk ke kastel, ekspresi Russle perlahan berubah.Tentu saja ini berat.Ia menatap jalan yang baru saja dilewati rombongan Rowan.Bagaimana mungkin aku tenang ketika saudaraku pergi ke sana, sementara seluruh dunia bahkan tidak tahu bahwa orang yang mereka sebut Kapten Eddy sebenarnya adalah Rowan?Russle mengepalkan tangannya di balik jubah.Ia tidak boleh mengejarnya.Ia
Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.
Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip
Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan
Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har







