登入Aruna kembali memasuki galeri seninya saat malam semakin larut.Hanya sebuah lilin yang menemaninya.Langkahnya pelan menyusuri ruangan yang dipenuhi berbagai lukisan hingga akhirnya berhenti di depan lukisan wanita peramal itu.Rualyn.Anehnya, malam ini tidak ada bisikan.Tidak ada suara lembut yang memanggil namanya.Namun sesuatu yang lain terjadi.Aruna memicingkan mata.Lukisan itu bergerak.Bukan Rualyn.Melainkan latar belakang di belakangnya.Monster-monster yang sebelumnya hanya tampak seperti gambar kini bergerak hidup.Mereka berlari.Menerjang.Menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Sebuah desa terbakar.Pohon-pohon tumbang.Bayangan manusia berlarian menyelamatkan diri.Aruna tanpa sadar melangkah mendekat.Matanya lalu menangkap guratan-guratan kecil yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.Tulisan itu terukir samar di dekat setiap monster.Ravener.Monster bertubuh kurus dengan cakar panjang.Dreadfang.Monster berkaki empat dengan rahang besar penuh taring.
Lalu perlahan monster itu kembali memejamkan matanya.Seolah belum tertarik untuk bangun.Cintya tersenyum.Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya tampak sedikit dipaksakan.Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal.Mereka tidak sedang memelihara seekor monster.Mereka sedang memberi makan sebuah bencana.---Malam telah larut ketika Russle akhirnya meninggalkan ruang kerja Rowan.Untuk pertama kalinya sejak tiba di Nochtaryn, ia memiliki waktu untuk beristirahat.Atau setidaknya mencoba beristirahat.Russle berdiri di dekat salah satu jendela besar kamar tidur Rowan.Dari sana, ia dapat melihat sebagian wilayah kastel yang masih diterangi obor-obor penjaga.Angin malam berembus pelan, menggerakkan tirai berwarna gelap di sampingnya.Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.Ia teringat laporan yang dibawa Rowan sebelum berangkat.Ravener.Monster-monster tingkat rendah yang seharusnya hanya bergerak berdasarkan naluri lapar.Tetapi dari apa yang diceritakan Rowan, p
“Tubuh mereka jauh lebih kuat daripada Ravener biasa.”Ia menunjuk salah satu bangkai.“Lihat otot-ototnya.”Beberapa prajurit memperhatikan lebih saksama.Benar saja.Meski kurus, tubuh Ravener itu tampak lebih padat dan kuat daripada yang biasa mereka temui.“Mereka mendapatkan banyak makanan.”“Padahal tidak ada berita orang hilang, kan?” tanya salah seorang prajurit.“Itulah masalahnya.”Kening Rowan berkerut.Menurut laporan yang ia baca sebelum berangkat, tidak ada kasus hilangnya warga Nochtaryn dalam jumlah besar.Setidaknya tidak sebanyak yang dibutuhkan untuk membuat ratusan Ravener sekuat ini.“Kalau bukan rakyat Nochtaryn...” gumam salah seorang ksatria.“Lalu siapa yang mereka makan?”Tak ada yang menjawab.Angin dingin berembus di antara mereka.Rowan kembali menatap ke arah hutan yang gelap.Perasaannya semakin buruk.Rowan terdiam.Pikirannya tiba-tiba kembali ke beberapa minggu lalu saat ia masih berada di Kerajaan Elarion.Saat itu memang sempat beredar beberapa lapo
Rowan berjongkok di dekat jejak-jejak tersebut.Ia mengamati ukuran telapak kaki monster yang tertinggal di salju.Lalu mengamati arah pergerakannya.Semakin lama, alisnya semakin berkerut.“Aneh.”“Kapten?” tanya salah seorang pengawal.Biasanya monster-monster Utara bergerak liar.Mereka menyerang apa saja yang mereka lihat.Namun jejak yang ada di hadapan Rowan sekarang justru menunjukkan pola yang hampir menyerupai formasi.Seolah mereka menuju tempat yang sama.Seolah ada sesuatu yang memanggil mereka.“Dirikan perkemahan sementara.”“Di sini?” tanya seorang ksatria.“Ya.”“Tetapi musuh berada di depan kita.”“Itulah alasannya.”Rowan berdiri.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di kejauhan.Beberapa prajurit tampak terkejut.“Kapten?”“Kita akan berdiskusi terlebih dahulu.”Ia menunjuk jejak-jejak monster yang memenuhi tanah.“Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum kehilangan lebih banyak orang.”Tak ada yang membantah.Mereka semua tahu satu hal.Jika monster-m
Russle akhirnya berkutat di ruang kerja milik Rowan.Tumpukan dokumen memenuhi meja besar dari kayu hitam itu.Surat dari wilayah perbatasan.Laporan keuangan.Permohonan izin perdagangan.Dan berbagai hal lain yang menurut Russle jauh lebih menakutkan daripada monster Utara.Meski begitu, ia tetap menandatangani dokumen demi dokumen dengan wajah malas.Anehnya, tak seorang pun tampak curiga.Para sekretaris, akuntan, dan pejabat yang keluar masuk ruangan memperlakukannya seperti biasa.Tidak ada yang mempertanyakan sikapnya.Tidak ada yang menyadari bahwa orang yang duduk di kursi Duke saat ini sebenarnya adalah Russle.Setelah menandatangani sekitar setengah dari tumpukan dokumen, Russle akhirnya meletakkan pena bulunya.“James.”Seorang pria muda yang sedang menyusun buku keuangan menoleh.“Ya, Tuan Duke?”“Menurutmu aku aneh?”James berkedip.Pertanyaan itu terdengar cukup mendadak.Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.“Tidak, Yang Mulia.”“Benarkah?”“Menurut saya, Anda tetap sa
Jika Duke Rowan sendiri yang menguji kemampuan pria itu, maka tak ada alasan untuk mempertanyakannya.Russle melanjutkan,“Pengawal pilihan akan berangkat sebelum fajar.”“Dan selama operasi berlangsung, seluruh wilayah perbatasan Utara berada dalam status siaga.”Perintah itu segera diterima.Para ksatria membungkuk hormat.Para pejabat mulai mencatat instruksi.Sementara Rowan yang berdiri di antara mereka hanya bisa membatin,"Dari sekian banyak nama yang ada..."Lalu ia melirik Russle yang sedang memerankan dirinya."Kenapa harus Eddy?"Dan dari kejauhan, Russle yang menyadari tatapan itu hanya membalas dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan.Sebelum fajar menyingsing, halaman depan Kastel Blackwood sudah dipenuhi kesibukan.Puluhan ksatria dan pasukan terpilih memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kalinya.Kuda-kuda perang telah dipersiapkan.Bendera Blackwood berkibar pelan diterpa angin dingin dari Utara.Di tengah keramaian itu, Rowan yang masih menyamar sebagai Ed
“Kau mencintainya?” tanya Seraphine pada Kael.“Iya… aku mencintainya,” jawab Kael lirih, seolah takut ada orang lain yang mendengar selain mereka berdua.“Bukankah dulu Anda membencinya karena dia selalu mengejar Anda, Pangeran? Kenapa sekarang malah menyukainya?” Seraphine kembali menghujaninya d
“Yang Mulia tidak apa-apa?”Varian, yang awalnya hanya duduk di samping jendela terbuka sembari menikmati semilir angin, mendadak panik ketika Kael datang.Wajah yang tadinya datar seperti papan kayu kini kusut seperti sapu tangan. Rambut yang sebelumnya tersisir rapi ke belakang kini berantakan, l
Kael baru saja bangun ketika suara ketukan dari pintu membangunkannya. Ia ingin sekali membangunkan Varian yang sedang tertidur, namun diurungkan. Ia beranjak ke arah pintu dengan langkah gontai karena mengantuk.“Pangeran, Anda diminta secepatnya ikut perjamuan di ruang makan,” seorang pelayan laki
Pangeran Kael Draven baru saja melewati batas wilayah Kerajaan Valdrice saat langit sudah gelap gulita. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Perjalanan yang dimulai pukul delapan malam itu masih menyisakan tiga jam lagi menuju istana.Ia menatap pemandangan di luar jendela kereta kuda. Awalnya hany







