แชร์

Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!
Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!
ผู้แต่ง: Kichi Ang

Prolog

ผู้เขียน: Kichi Ang
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-29 16:41:26

#

Rumah keluarga Bramantya tempat jenazah Dipta Bramantya disemayamkan untuk terakhir kalinya tidak pernah terasa sesunyi ini sebelumnya.

Semua yang hadir seakan menahan napas saat melihat kondisi jenazah yang meninggal akibat kecelakaan tersebut. Beberapa luka tidak pernah benar-benar bisa ditutupi oleh perias jenazah terbaik sekalipun.

Putra Dipta Bramantya, yaitu Adhikara Bramantya, tampak berdiri mematung di samping peti matinya.

Sementara itu, Lyra hanya bisa menatap Adhikara dari kejauhan. Dia tidak memiliki keberanian untuk mendekat kakak tirinya tersebut, apalagi untuk mengucapkan salam perpisahan dari dekat kepada almarhum ayah tirinya.

"Kau tidak ke sana?" tanya Alesa, sahabat Lyra.

Lyra menggeleng pelan.

"Tidak," jawabnya pendek sebelum akhirnya melangkah menjauh.

Setahun yang lalu, ibu kandung Lyra menikahi Dipta Bramantya yang baru saja bercerai dari istri pertamanya, ibu kandung dari Adhikara Bramantya.

Sayangnya, perjalanan bulan madu yang sempat tertunda sebelumnya, malah menjadi bencana setelah kecelakaan merenggut nyawa Dipta Bramantya. Sementara itu, Ratna Puspita, ibu kandung Lyra, terbaring koma dalam kondisi kritis di Rumah Sakit.

"Kau yakin?" tanya Alesa. Dia tahu betapa Lyra menyayangi almarhum ayah tirinya tersebut.

Lyra mengangguk pelan.

"Ayo, aku antar kau keluar," ujarnya sambil menggandeng lengan sahabatnya itu.

Alesa hanya bisa menarik napas panjang dan menuruti Lyra. Sayang sekali dia tidak bisa lebih lama berada di tempat, kalau tidak, dia pasti akan memilih untuk tetap menemani Lyra.

Bau dupa bercampur hujan yang belum kering menempel di udara. Karangan bunga memenuhi ruang tamu, tapi tak satu pun bisa menghapus duka keluarga Bramantya.

Lyra berdiri kaku di dekat pintu setelah mengantar Alesa, jemarinya saling mengunci, gaun hitam yang dipinjamkan Alesa kepadanya terasa terlalu sempit.

“Jangan berdiri di situ.”

Suara itu dingin tanpa emosi.

Lyra menoleh. Kakak tirinya, Adhikara Bramantya berdiri beberapa langkah darinya, jas hitamnya rapi, rahangnya mengeras.

Tidak ada mata sembab, tidak ada suara bergetar. Hanya tatapan tajam yang seolah sedang menilai setiap kesalahannya.

“Aku hanya—”

“Pergi ke dalam. Jangan merusak acara ini dengan kehadiranmu yang tidak seharusnya!” potong Adhikara.

Dia kemudian mendekat dan berbisik pelan.

"Ini rumah keluargaku, bukan rumahmu. Dan yang meninggal adalah Papaku, bukan Papamu."

Lyra menelan ludah. Dia ingin bilang kalau ini juga rumahnya, tapi kalimat itu seakan tersangkut di tenggorokannya sebelum sempat keluar. Bagaimanapun dia tahu kalau baik dirinya maupun ibunya tidak pernah benar-benar diterima di rumah ini karena pernikahan ibunya yang tidak direstui oleh keluarga Bramantya, termasuk Adhikara sendiri.

"Lihat sekelilingmu. Tidak ada yang mengharapkanmu di sini, anak gundik." Adhikara kembali berbicara. Di matanya, ibu kandung Lyra adalah penyebab kedua orang tanya bercerai, meski kenyataannya ayahnya menikah dengan ibu kandung Lyra setelah bercerai beberapa bulan.

Di dalam, beberapa kerabat berbisik. Nama ayah Adhikara disebut dengan nada duka, lalu nama ibunya Lyra—Ratna Puspita—diseret pelan, seakan itu adalah noda yang menodai kesucian keluarga Bramantya yang terhormat.

“Istrinya masih koma?” seseorang bertanya lirih.

“Iya. Kasihan anaknya,” sahut yang lain, lalu suara mereka merendah saat menyadari Lyra ada di sana.

Lyra menunduk. Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu sejak menerima kabar kecelakaan ibunya bersama dengan ayah tirinya, ditambah kabar kematian ayah tirinya, Dipta Bramantya menyusul beberapa jam kemudian.

Adhikara mendorong bahu Lyra.

“Kau tuli? Kenapa masih di sini?” tanyanya. Dia masih menatap Lyra tajam.

Lyra mendongak. Adhikara berdiri tepat di depannya sekarang.

“Om Dipta baru meninggal,” ucap Lyra pelan. “Aku hanya ingin—” Kalimat itu kembali menggantung saat bertemu dengan tatapan Adhikara.

“Ingin apa? Berpura-pura berduka? Munafik.” Adhikara menyeringai tipis.

Kalimat itu menghantam lebih keras dibanding sebuah tamparan bagi Lyra.

“Aku juga menyayangi Om Dipta. Selama ini Om Dipta selalu baik padaku,” balas Lyra.

Suaranya bergetar meski ia berusaha menahannya. “Om Dipta juga Papaku karena beliau suami Mamaku.”

“Dan sejak Mamamu masuk ke hidup kami, keluargaku hancur! Begitu maksudmu?!” Nada suara Adhikara sedikit meninggi. Dia kehilangan kendali dirinya.

Beberapa kepala menoleh.

Neneknya, Sri Rukmini Bramantya, muncul di ambang pintu ruang tengah. Tatapannya tajam, penuh penilaian.

“Adhikara,” tegurnya singkat.

Adhikara tidak memalingkan wajah ke arah Neneknya.

“Nenek tahu kan kenapa aku membiarkan Lyra tinggal di sini? Meski begitu bukan berarti dia memiliki hak yang sama dengan anggota keluarga Bramantya. Bagiku dia tetap orang luar!” tegas Adhikara.

Hening.

Lyra merasa dadanya sesak.

“Kak—”

“Jangan panggil aku begitu! Aku bukan kakakmu dan tidak akan pernah sudi menjadi kakakmu.” Kalimat itu mematikan.

Tidak ada sisa remaja SMA yang dulu tersenyum kikuk saat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah pria asing dengan mata penuh kebencian.

"Sudah cukup! Kalau kau tidak ingin aku berada di rumah ini, aku akan keluar dari sini. Aku hanya ingin melihat Om Dipta untuk terakhir kalinya," balas Lyra. Dia tidak tahan lagi.

“Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai aku mengizinkannya” lanjut Adhikara, suaranya rendah.

“Apa maksudmu?” tanya Lyra, napasnya memburu.

Adhikara mendekat, cukup dekat hingga Lyra bisa mencium aroma hujan di jas yang Adhikara kenakan.

“Aku tahu apa yang terjadi di malam kecelakaan itu dan aku punya bukti yang bisa menyeret Tante Ratna ke penjara. Selain itu, kalau kau masih ingin biaya pengobatan Tante Ratna ditanggung oleh keluarga Bramantya, kau harus belajar mendengarkanku,” bisiknya.

Dunia Lyra seakan runtuh mendengar itu.

“Kau bohong,” ucapnya lemah.

“Satu langkah keluar dari rumah ini,” Adhikara menegakkan tubuhnya, suaranya kembali datar. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya.

“Dan ibumu tidak akan pernah bangun sebagai pasien koma—tapi sebagai tersangka. Atau, pilihan lainnya, aku bahkan bisa menghentikan semua alat pendukung hidupnya dan membiarkan dia mati sebelum sempat sadar. Kau yang memilih,” lanjut Adhikara, masih dengan suara pelan namun cukup untuk didengar oleh Lyra.

Lyra menggigil.

Di belakang mereka, Sri Rukmini memejamkan mata mengabaikan perlakuan kasar cucunya pada Lyra.

Lyra hanya anak bawaan dari wanita yang dinikahi oleh putranya tanpa persetujuannya. Sama seperti semua orang, Sri Rukmini percaya kalau ibu Lyralah yang membawa kesialan untuk putranya dan keluarga Bramantya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Siti Kulsum
baru bab pertama ,ceritanya lumayan kak :)
goodnovel comment avatar
Kichi Ang
Kalau kalian suka dengan cerita ini, komen dan likes ya. Dengan begitu aku lebih semangat untuk menyelesaikan cerita ini...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 146. Kau Segalanya Untukku 2

    #Dari balik kaca mobil yang gelap, Adhikara mengamati dari kejauhan bagaimana Lyra turun dari mobil yang dikemudikan Jati. "Itu dia," gumamnya pelan.Mobil hitam yang Adhikara tumpangi sengaja diparkir agak jauh di seberang jalan, bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan agar kehadirannya tidak disadari oleh siapa pun. Pandangannya tidak terlepas sedikit pun dari sosok Lyra."Bagaimana dia bisa seperti itu pada orang lain tapi tidak kepadaku?" Dia merasa iri.Saat Lyra tersenyum lembut membalas ucapan Alessa sebelum menutup pintu mobil, dada Adhikara terasa berdenyut nyeri."Ternyata... kau juga bisa terlihat sangat indah dan cantik saat tersenyum ceria seperti itu," gumam Adhikara lirih pada kesunyian di dalam mobilnya sendiri.Sudut bibirnya terangkat tipis, namun matanya memancarkan kepedihan yang teramat sangat. "Sudah sangat lama aku tidak melihat senyum itu. Sayang sekali, senyum itu tidak tertuju untukku." Dia seakan sedang menyesal tapi tidak sepenuhnya terlihat seperti

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 145. Kau Segalanya Untukku 1

    #Jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan semalam memantulkan cahaya matahari pagi saat mobil yang dikemudikan Jati membelah jalan raya yang mulai ramai."Aku tidak menyangka kalau kau masih akan kembali ke sana. Aku sudah memperingatkan Fandy dan Syila untuk tidak lagi membawa-bawa urusan pribadi ke kantor. Kalau ada yang mencoba mengganggumu nanti, kau bisa mengatakannya padaku," ujar Jati.Di kursi belakang, Lyra duduk dengan tenang sembari menatap map kertas cokelat di pangkuannya. Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri yang telah ia persiapkan sejak kemarin. Hari ini, ia harus menyelesaikan satu urusan terakhirnya di Batam sebelum benar-benar kembali ke Jakarta seperti keinginan Malika dan juga Sri Rukmini."Kak Jati sudah repot-repot membantuku dan bahkan mengantarku, terima kasih banyak," balas Lyra."Itu kewajibannya, dia kan bos di perusahaan itu. Padahal aku ingin dia memecat saja orang-orang yang mengganggumu saat kau bekerja di sana," ujar Alessa.Lyra mengernyitkan

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 144. Cahaya Dalam Hidupku

    #Adhikara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sembari menatap ibunya. "Mama datang hanya untuk menyampaikan hal itu? Terasa tidak seperti Mama sama sekali," ucapnya. Sebuah senyum tipis, yang lebih menyerupai guratan getir, terukir di sudut bibirnya yang pucat. "Kau hanya tidak mengenal mama dengan baik," ucap Malika."Memangnya Mama juga mengenalku dengan baik? Aku rasa tidak," balas Adhikara.Malika menarik napas panjang."Pokoknya, itulah yang Lyra inginkan. Apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanyanya. Dia merasa kalau perdebatan kecil mereka mungkin akan berubah menjadi panjang jadi dia dengan cepat mengembalikan pembahasan ke semula."Nama? Jadi, dia benar-benar ingin aku yang memberi nama karena aku pernah bilang tidak menginginkan anak itu?" gumam Adhikara, suaranya terdengar parau.Malika menatap putranya dengan tatapan datar seakan kekecewaan sudah tidak cukup lagi menggambarkan seberapa besar keterkejutannya atas sikap putranya sendiri.

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 143. Ini Yang Kuinginkan

    # Aroma cairan antiseptik yang tajam mengambang di udara, berbaur dengan kesunyian yang menggantung di dalam kamar rawat inap itu sementara Lyra membaca dengan seksama semua berkas di pangkuannya. Lembaran putih di hadapannya adalah berkas untuk mengurus akta nikah, sebuah dokumen legal yang harus ditandatanganinya agar bayi laki-laki yang baru saja dilahirkannya diakui dan memiliki hak yang jelas secara hukum. "Dia benar-benar menyetujui semuanya dan bahkan sudah menandatanganinya lebih dulu," ujarnya pelan memecah keheningan. Nyonya Malika yang duduk di sisi ranjang menghela napas pendek. "Adhikara menyetujui semua syarat yang kau ajukan, Lyra. Dia tidak akan pernah mengganggu atau menemuimu lagi. Dia tidak akan muncul di hadapanmu selama kau tidak menginginkannya," ucapnya menegaskan. Lyra menghentikan gerakan jemarinya di atas lembar kertas yang kaku itu. "Dia benar-benar menyetujuinya tanpa syarat?" "Ya, dia menandatanganinya tanpa membantah," jawab Malika dengan nada

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 142. Obsesi Yang Rumit

    #Deru angin malam di sekitar Jembatan Barelang bertiup kencang, membawa aroma garam yang pekat dari laut lepas yang terhampar gelap di bawahnya. Jati memperlambat laju kendaraannya, menepikan mobil tepat di bahu jalan saat lampu sorotnya menangkap siluet sebuah sedan mewah yang diparkir sembarangan. Di dekat bemper depan mobil tersebut, Adhikara duduk dengan sebelah kaki menekuk, bersandar lesu pada bodi mobilnya sendiri. "Aku sudah menemukannya, Tante. Tenang saja, aku akan membawanya kembali ke hotel nanti," ujar Jati di headset nirkabel yang tersambung ke ponselnya. Dia lalu mematikan panggilan yang sejak tadi terhubung ke ponselnya.Penampilan Adhikara saat itu berantakan, jauh dari kesan angkuh yang biasanya melekat erat pada dirinya."Adhikara," panggil Jati dari dalam mobil.Dia mematikan mesin, lalu melangkah keluar menemui sahabatnya itu."Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jati.Belum sempat pertanyaannya mendapat jawaban, indra penciuman Jati langsung menangkap aroma m

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 141. Cinta Dan Benci 8

    # Ucapan Neneknya membuat Adhikara terdiam seketika. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi hingga detak jarum jam di dinding terdengar jelas. "Apa yang kau lakukan pada Lyra seharusnya membuatmu dihukum di penjara, bahkan meski itu karena kau mencintainya. Hanya saja, Lyra terlalu baik dan Nenekmu ini lebih baik mati daripada harus melihatmu berada di balik jeruji besi. Kau tahu itu semua dengan jelas, bukan, Adhi?" Kali ini Sri Rukmini menatap cucunya dengan tatapan memerah. Adhikara menunduk semakin dalam. "Jadi ini hukuman?" tanya Adhikara pelan. Dia terdengar putus asa. Andai bisa memilih, dia tidak masalah dipenjara asal Lyra tidak pernah meninggalkannya lagi. Tapi masalahnya semua selalu berjalan tidak sesuai dengan keinginannya dan itu membuatnya merasa putus asa untuk pertama kalinya. Membayangkan kehilangan Lyra jauh lebih menakutkan untuknya dibandingkan dengan kehilangan segalanya. "Ini yang diinginkan oleh Lyra," ujar Sri Rukmini. Saat itu, Sri Rukmini sebenarnya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status