MasukKarena sudah terlanjur sampai di tahap ini, tak ada salahnya sekalian mencicipi kenikmatan Deny.Namun, kami memilih pindah ke kamarku. Entah apa yang ada di dalam pikiranku, yang jelas aku tak mau Leo melihat kami melakukannya.Deny jauh lebih brutal dibanding Leo. Sepertinya dia cemburu atau entah karena alasan lain, sampai-sampai diriku sudah hampir pingsan, dirinya pun masih tak mau melepaskanku.Begitulah, bermula dari malam itu, interaksi di antara kami pun jadi semakin intens.Setiap kali suamiku tak ada di rumah, Deny tanpa ragu bermesraan denganku. Setiap sudut rumah menjadi saksi bisu jejak percintaan kami.Setiap kali suasana semakin memanas, dia selalu memaksaku memanggilnya sayang dan menyatakan cinta padanya. Saat tidur pun, kami selalu berpelukan. Dia benar-benar sudah mendalami perannya sebagai suamiku.Malah terkadang di rumah, dia sama sekali tak mengizinkanku memakai baju dengan alasan demi kemudahan. Bahkan saat aku sedang masak di dapur pun, dia tetap menyelinap ma
Pintu yang tiba-tiba terbuka itu tak hanya membuatku kaget setengah mati, tapi juga mengejutkan dua orang yang sedang melakukan olahraga liar di dalam kamar.Di tengah kepanikan, aku reflek merapatkan pahaku dengan erat, sampai-sampai hampir menjepit benda Leo hingga putus. Dia mengerang kesakitan, lalu langsung mendorongku ikut masuk ke dalam kamar.Aku merasa malu dan tak punya muka lagi untuk menghadapi mereka. Parahnya, Leo di belakangku masih terus menghantamku tanpa kenal lelah.“Wah Hana, cepat sekali kamu datangnya. Kukira Leo bakal butuh waktu lebih lama. Kamu hebat juga, Leo.”Mina bertumpu pada Deny, lalu bangkit dan menatapku dengan senyuman nakal.Mendengar ucapannya, aku pun jadi bingung.Apa maksudnya? Jangan-jangan mereka tahu semua perbuatan Leo sejak awal?Sambil memikirkan hal itu, aku pun menanyakannya.“Tentu saja, sebenarnya aku yang mengusulkan hal ini. Lagipula, aku juga kasihan melihatmu begitu tersiksa setiap hari.”“Sekarang kita juga sudah tahu banyak tentan
Aku tak mau menurutinya, bagaimanapun juga diriku masih punya sedikit akal sehat. Aku tak sanggup melakukan tindakan senekat Mina.Jika sampai diketahui oleh dua orang di dalam kamar itu, rasanya bakal canggung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi mereka nantinya. Jadi, lebih baik berpura-pura tak tahu sama sekali.“Leo, hentikan! Kita nggak boleh begini. Aku selalu menganggapmu anaknya Mina, kita nggak pantas melakukan hal seperti ini.”Aku menurunkan nada suaraku untuk memperingatkannya sambil berusaha melepaskan pegangannya pelan-pelan.Di dalam hati, aku mulai merasa agak emosi. Kenapa diriku selalu dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini?Dulu dengan Deny dan sekarang malah dengan Leo. Kalau saja pria ini adalah orang asing yang sama sekali tak ada hubungannya denganku, aku mungkin sudah menyerah dan menuruti kemauannya. Bagaimanapun, aku tak perlu bertemu dengannya lagi setelah melakukan semuanya, sehingga beban mentalku jauh lebih ringan.Namun, mana mungkin Leo mau melepa
Kepalaku terasa berdengung hebat. Seketika, rasa panik melanda hatiku, membuatku bingung setengah mati harus menjelaskan apa.“Kamu asal bicara apa, sih? Aku pikir Deny mimpi buruk lagi. Waktu di rumah, dia suka mencariku untuk menenangkannya kalau sedang mimpi buruk.”“Kok kamu nggak tidur, malah datang ke kamarku? Di mana mereka?”Aku berdiri sambil mendorongnya, lalu menyalakan lampu tidur di samping ranjang.“Mereka masih asik main di luar. Aku ke sini hanya mau lihat kondisimu, kamu nggak kuat minum, ‘kan?”Aku menjawab diriku baik-baik saja dan menyuruhnya segera kembali tidur karena kepalaku masih terasa agak pusing.“Kak Hana, aku punya cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa pusing akibat alkohol, mau dicoba? Deny juga lagi pakai cara ini untuk membantu ibuku menghilangkan rasa pusingnya.”Leo mendekatiku dengan raut wajah penuh godaan, sementara satu tangannya sudah mendarat di atas pahaku.Mendengar Deny yang sedang membantu Mina menghilangkan rasa pusing, sebuah prasangka
Cuaca hari ini sangat panas. Tadinya berniat memakai rok pendek, tapi begitu teringat ada Deny dan Leo, aku menggantinya lagi dengan rok panjang sebelum keluar.Tubuhku ini tipe yang sangat tak tahan panas. Saat main mahjong, kukira Leo tak akan berani melakukan ulah nakal di depan mata Mina. Jadi, aku pun mengangkat ujung rokku untuk mencari angin.Siapa sangka, Leo malah memanfaatkan kesempatan dengan menjulurkan kakinya ke bawah, lalu pelan-pelan merambat naik menyusuri pahaku.Aku panik setengah mati takut ketahuan Mina. Sambil menepis kakinya, aku mendongak dan melotot tajam ke arahnya, menyuruhnya untuk menjaga sikap.Namun tak disangka, dia malah nekat merambat naik lagi, ujung kakinya bahkan langsung menyasar dan menempel tepat di titik paling sensitifku.Aku mencoba mundur sedikit, tapi malah takut terlihat oleh Deny dan Mina yang ada di dekatku. Jadi, aku pun terpaksa menahannya dulu.Saat aku mendongak dan menatap Leo, dia tersenyum licik sambil menggerakkan bibirnya, menyir
Sensasi basah dan hangat di punggung terasa banyak, membuktikan betapa melimpahnya stok yang dikeluarkan Deny.Tanpa memikirkan hal lain, aku buru-buru menarik pakaianku untuk menutupi tubuh seadanya, lalu berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Tak disangka, Deny malah ingin ikut masuk. Dia beralasan masih ada sisa yang belum keluar dan memintaku membantunya untuk membersihkannya.Mandi bersamanya? Memikirkannya saja aku tak berani. Aku takut diriku tak bisa menahan diri untuk melakukan hal yang lebih jauh. Apalagi tubuhku terasa sangat hampa saat ini dan tujuanku ke kamar mandi sebenarnya ingin memakai mainan untuk menenangkan diriku sendiri.Sebelumnya aku memang ingin mendapatkannya, demi merasakan sensasi cacing tanah yang hangat, tapi sekarang malah tak berani lagi. Aku takut permainan ini malah membakar diriku sendiri. Jadi, lebih baik menjaga jarak.Untungnya Deny tak pernah tahu isi pikiran nakalku. Jika tidak, diriku pasti sudah tak bisa lepas darinya sekarang.







