تسجيل الدخولSeorang pria berkacamata hitam dan wanita yang tengah mendorong kereta bayi menghampiri. "Loh, Dona, Chico?!" sapa Rania dengan senyum merekah. "Apa kabar?" sapa Kenan pada si pria. Rania mengernyit melihat Kenan dan pria bernama Chico saling peluk bertanya kabar. "Tunggu, tunggu! Kalian saling kenal?"Dona tersenyum. "Tentu saja. Kenan dan suamiku itu'kan sahabatan, Ran."Rania masih bengong. "Oh, seperti itu." Lalu ia tersenyum. "Apa kabar Chiko?" lanjut Rania. "Baik, Kak Ran.""Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa bareng?" tanya Dona, sambil menatap Rania dan Kenan bergantian. Kenan merangkul Rania. "Kami sudah menikah.""Aaaaaa ...," Dona histeris, "kok, gak undang-undang, sih, Ran?"Dalam hitungan detik Rania terdiam bingung untuk menjawab, lalu tersenyum kikuk. "Hehe ... belum resepsi. Lagipula, sejak kamu keluar negeri nomormu tidak bisa dihubungi.""Lu tega banget, Ken. Lu nikah gak kasih kabar gue," protes Chico. "Udah berapa lama kalian nikah?""Belum satu minggu," jawa
"Masih diselidiki," jawab Kenan santai. Rania mengangguk, lalu mengatakan jika semua bahan yang dikirim pagi itu berkualitas bagus. Kenan tersenyum tipis. "Pelakunya seperti tahu kalau kita sedang mengawasi.""Sepertinya begitu. Eh, Ken, aku mau tunjukin kamu sesuatu." Rania menarik tangan Kenan. *Rupanya Rania membawa Kenan ke area parkir belakang. "Taraaa!" Kenan mengerutkan dahi. "Beli baru?"Rania menggeleng. "Bukan punyaku.""Ini mobil punya Reza," lanjutnya sambil mengusap kap mobil dengan rasa bangga. Kenan tersenyum samar, lalu menghela napas berat. "Aku tidak punya urusan.""Jelas punya! Kamu jangan memandang rendah Reza lagi. Kamu seperti tidak suka kalau dia pinjam mobilku."Kenan tersenyum samar."Kamu di sini rupanya."Kenan dan Rania menoleh. Rupanya Reza datang. "Ada apa?" tanya Rania. Bukannya menjawab, Reza justru menatap Kenan. Pria itu melangkah mendekat. "Bukannya bocah ini sudah keluar, Ran? Kenapa ada di sini?"Rania nampak kikuk. "Emm ... itu, Za ...,
Kenan mengenyampingkan rasa kesalnya kepada Rania. Ia tancap gas menuju kantor pusat, sedangkan Rania memilih ke restoran. Masih di kawasan Sudirman, Kenan memarkirkan mobilnya di basement sebuah gedung tiga puluh dua lantai. Gedung ini merupakan aset keluarga Lim, dimana lima lantai digunakan oleh perusahaan milik Lim dan Kenan. Lantai delapan belas sampai dua puluh ditempati oleh PT. Arkana Food dan lantai dua puluh satu sampai dua puluh dua ditempati oleh Kenan --Arkana Fres Supply, sedangkan lantai lainnya disewakan ke perusahaan lain. Lift terbuka di lantai dua puluh dua. Logo Arkana Fres Supply terpampang jelas di tembok marmer ruang resepsionis. Kenan bergegas ke ruangannya. Pintu ruang kerja Kenan diketuk dua kali."Masuk."Pria yang menjadi tangan kanan Kenan melangkah masuk. Di tangannya terdapat sebuah map hitam tipis.Kenan mengangkat pandangan dari layar laptop yang baru saja ia nyalakan. "Benar sudah dapat?"Pria itu mengangguk. "Lebih dari yang kita cari." Ia meleta
Kenan tersenyum sarkas. Ia tahu betul siapa yang mengirim pesan, Ardi. Kenan sama sekali tidak gentar, karena Ardi tidak tahu jika ternyata ia mengancam orang yang salah. "Cieee ... senyum-senyum sendiri. Dapat chat dari pacarnya, ya?" goda Rania, "kenalin, dong!"Candaan Rania ternyata disikapi serius oleh Kenan. Pria itu mendekati Rania yang sedang duduk bersolek di depan cermin. Kenan memutar kursi sehingga Rania menghadapnya. Posisi Kenan yang membungkuk dengan kedua tangan yang ia topang di meja rias mengunci pergerakan Rania. Jemari Kenan perlahan menyentuh dagu, memaksa Rania agar menatapnya. "Kamu cemburu?" tanyanya setengah berbisik. "Tidak!" jawab Rania tegas. Kenan tersenyum miring sambil menyisir setiap jengkal wajah Rania. Rania menutup mulut dengan telapak tangannya saat menyadari Kenan menatap bibirnya. Kenan mengerutkan dahi. Cup! Kenan mengecup kening, membuat Rania membulatkan mata. "Ini hukuman karena kamu berpikir yang macam-macam!"Tangan Rania berpindah
Mendengar nama Ardi sontak saja membuat Kenan terduduk dengan rahang mengeras. "Dia bicara apa sama Bunda?" tanya Rania. "Dia bilang ... sudah melaporkan Vino ke kantor polisi."Vino menegang. Rania dan Kenan saling memandang. Rania menggenggam tangan Husna. "Iya, Bun. Kemarin Mas Ardi datang ke restoran." Rania menceritakan semua apa yang Ardi katakan. "A-aku akan masuk penjara? Iya?!" Vino kalut. Anak remaja itu menggelengkan kepala cepat. "Gak! Vino gak mau masuk penjara!""Dek, tenang dulu!" pinta Rania. Vino histeris. "Kenapa Mba gak balikan aja sama dia?! Vino gak mau masuk penjara, Mbak!""Vin, tenang dulu!" ucap Kenan pelan. Vino menatap tajam Kenan. Rahangnya mengetat, bahkan napasnya memburu. Sambil menunjuk Kenan ia berteriak, "Semua gara-gara elu! Kalo aja lu gak nikah sama Mbak, Mbak pasti balikan lagi sama Mas Ardi!"Rania menepis tangan Vino. "Yang sopan kamu, Dek!""Abangmu bela-belain pulang lagi dari Singapura buat bantuin Mbak, bantuin kamu beresin masalah i
Tepat jam satu malam, ponsel Kenan berbunyi. Kenan terusik. Ia bangkit dan melangkah pelan menuju nakas. Rupanya penggilan dari Lim. Kenan segera menerimanya. Namun, fokusnya terbelah menjadi dua, karena ia tidak menemukan Rania di tempat tidur. Setelah mengakhiri panggilan, Kenan ke luar kamar mencoba mencari keberadaan Rania. Tempat pertama yang ia datangi adalah kamar Vino. Nihil, Rania tidak ada di sana. Pencarian dilanjutkan ke ruang keluarga, sampai dapur. "Cari makanan?" tanya Husna. "Eh, Bunda." Kenan sedikit terkejut oleh kedatangan mertuanya. "Ken cari Rania, Bun. Bunda tahu kemana perginya?"Husna tersenyum melihat aura kepanikan dari raut wajah menantunya. "Rania tidak akan berani pergi malam-malam. Kalau pulang malam dari restoran, sering. Kamu jangan khawatir."Kenan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa greget karena ibu mertuanya terkesan berbelit-belit. "Jadi, Rania ke mana, Bun?"Lagi, Husna tersenyum. "Tempat favoritnya di balkon belakang







