Se connecterSetelah istirahat, tes dilanjutkan dengan kemampuan bahasa dan komputer.Untuk bahasa Inggris, peserta diminta menerjemahkan sebuah surat bisnis, menyusun balasan email formal, dan memperbaiki beberapa kalimat yang tidak sesuai konteks. Rania mengerjakannya perlahan. Ia tidak menguasai semua istilah bisnis, tetapi cukup memahami struktur kalimat dan maksud surat yang diberikan.Di bagian komputer, setiap kandidat mendapat perangkat masing-masing. Mereka harus membuat tabel jadwal rapat, mengolah data sederhana menggunakan spreadsheet, menyusun surat resmi, lalu menyimpan dokumen sesuai format yang ditentukan.Rania sempat menghela napas ketika melihat instruksi spreadsheet yang cukup panjang. Dia memang biasa mengurus catatan dan laporan restoran, tetapi tidak semua fitur yang diminta pernah digunakannya.Ia mencoba mengingat apa yang pernah dipelajari, lalu menyelesaikan tugas secara bertahap. Ketika satu rumus tidak menghasilkan angka yang tepat, dia memeriksa kembali sel yang digun
Reuni berlalu. Pagi itu Rania bersiap memenuhi janjinya kepada Lim untuk mengikuti tes. Walaupun rasa kesal masih menggerogoti karena kemarin di penghujung acara Reuni, Kenan benar-benar kehilangan kesabarannya karena perkara foto bersama. Rania berfoto bersama teman-teman sekelasnya. Tepat di samping Rania berdiri seorang pria sambil merangkul pundaknya. Kenan cemburu setengah mati sampai-sampai menyeret Rania pulang. Sikap Kenan tentu saja membuat Rania malu dan tak enak hati kepada teman-temannya. "Udah siap?" tanya Kenan. Rania yang sedang memasang anting menoleh. "Sebentar lagi.""Tidak usah diikat!" protes Kenan saat melihat rambut Rania yang di ikat bak ekor kuda. "Ini sudah gaya seorang pelamar. Rapi dan sopan.""Aku tidak suka kalau lehermu--""Jangan mulai!" potong Rania cepat. Rania memutar badannya di depan cermin memastikan kemeja putihnya terselip rapi pada celana hitamnya. "Aku berangkat sendiri saja," sambungnya sambil memakai sepatu high heel warna hitam. "Aku
"Biasa aja, dong, Ken!"Kenan mendelik. Sementara Rania terkekeh-kekeh.Pria itu ternyata Chico. Sedari tadi ia memperhatikan Kenan yang terlihat menahan cemburu. Oleh karena itu, Chico ingin mengerjai temannya itu. "Maaf, Kak Ran. Malah panggil nama. Aku hanya ingin buat Kenan kesal.""Tidak masalah. Oh, iya, mana baby?" "Aku titipin sama neneknya."Rania mengangguk. "He'em. Kasian kalau dibawa juga.""Bukan hanya kasihan, tapi aku yang tidak leluasa, Kak. Apalagi Dona jadi panitia."Rania terkekeh-kekeh. Chico akhirnya bergabung dengan mereka. Obrolan demi obrolan tercipta sampai akhirnya acara dimulai. Rangkaian demi rangkaian acara mereka saksikan sampai akhirnya dilanjutkan dengan pemutaran video dokumentasi sekolah.Foto-foto lama bermunculan. Lapangan sekolah, kelas, kegiatan olahraga, acara perpisahan dan toto-foto tiap angkatan.Rania yang awalnya hanya tersenyum perlahan terdiam ketika melihat foto kelasnya sendiri.Ada dirinya di sana, tentu saja dengan wajah jauh lebih
Hari yang ditunggu-tunggu Rania akhirnya datang juga. Reuni. Pagi-pagi sekali Rania sudah bagun menyiapkan sarapan. Tidak ada yang istimewa, hanya omelet saja. Baju tidur pun masih melekat, ditambah gulungan handuk di atas kepala yang menutupi rambutnya yang masih basah. Sesekali ia menguap. Maklum saja, malam itu Kenan benar-benar tidak membiarkannya tidur nyenyak. Omelet sudah ditata cantik di atas piring. Rania segera menyimpannya di meja makan. Sendok, garpu, serta dua gelas turut ia siapkan. Rania segera kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian Kenan dan mempercantik diri.Tiba di kamar, Rania tidak menemukan sosok Kenan. Aroma parfum yang menguar dari arah walk-in closet membuat Rania melangkah ke sana. Kenan di sana. "Wah, sudah siap ternyata.""Tentu saja. Seorang Kenan tidak akan ingkar."Rania tersenyum miring. Semalam, pria itu berjanji, jika saja Rania bisa melayaninya beberapa ronde, maka dirinya tidak akan sulit dibangunkan. Bahkan Kenan berkata, dirinya akan
Malam harinya, Kenan sudah menerima kabar jikalau test akan dilaksanakan senin depan. Lim tidak mengatakan bagaimana test akan diberikan karena ia yakin Rania bisa melaluinya."Ken, ayo, jawab!""Apa?""Yang tadi siang aku tanya."Kenan mengacak pucuk kepala Rania. "Sudah aku bilang, aku akan pertahanan kamu. Aku tidak peduli Arkana hancur, Sayang.""Arkana hancur, papimu juga hancur. Nah, kalau mami dan papi yang meminta. Kamu mau apa?"Tuk! Kenan menyentil dahi Rania. "Jangan pikirkan apa yang belum terjadi. Dan aku pastikan tidak akan pernah terjadi!""Aku hanya takut, Ay.""Sekali lagi, jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu takut!""Haaaah!" Rania mengembuskan napas kasar. "Baiklah"Hening sesaat. "Belum apa-apa aku sudah merasa stres, Ay," kata Rania memecah keheningan."Tentang?""Test nanti.""Jangan dipikirin, Sayang.""Ya wajar, dong. Ini baru pertama kali aku masuk dunia kerja kantoran.""Ya, wajar. Tapi, jangan dijadikan beban juga, Sayang."Rania terkekeh-kekeh."Ngomo
Lim mengajak putra dan menantunya duduk bersama. "Kebetulan kamu ke sini, Nak," kata Lim sambil menatap Rania. "Ada hal penting yang ingin Papi sampaikan."Rania menatap Kenan, lalu kembali menatap Lim. Wanita itu tersenyum canggung. "Kok, aku jadi deg-deg'an, ya, Pi." Ia lalu terkekeh-kekeh. Lim mengutarakan keinginannya. Ia benar-benar menginginkan Rania menjadi sekretaris Kenan. Bukan sekadar membantu pekerjaan Kenan, tetapi Lim juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap Reymond. Rania kembali menatap Kenan. "Maksud Papi, curiga bagaimana?" tanya Kenan. "Papi khawatir ada pihak yang yang mencoba memanfaatkan keadaan di Arkana untuk mendapatkan pengaruh lebih besar." Lim menarik napas dalam-dalam. Lim melanjutkan. "Sebetulnya, Papi tidak ingin berprasangka buruk kepada pamanmu. Tapi, Papi juga tidak mau mengabaikan kemungkinan bahwa suatu hari nanti dia mencari jalan untuk memperkuat posisinya di perusahaan. Apalagi ada Jiawen."Rania semakin tidak mengerti. "Memangnya kenapa







