เข้าสู่ระบบNamun beberapa detik berikutnya, raut wajahnya mendadak datar. Tak seharusnya ia menanyakan itu. Di dunia orang kaya, ‘memata-matai’ hal yang biasa, supaya tahu siapa lawan, siapa yang lebih menguntungkan atau hanya bikin buang-buang waktu.
Di kancah bisnis profesional, mengenali profil calon klien atau relasi kerja adalah sebuah keharusan mutlak sebelum meneken ikatan kerja sama. Tapi menyadari fakta bahwa dirinya sendiri kini sedang dimata-matai oleh suaminya tentu saja terasa beg“Kejujuran?” gumamnya. Anqi kembali terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Sanggupkah ia jujur pada Gu Chen? Setelah jujur apa yang akan terjadi? Pertimbangan baik buruk di dunia bisnis sebuah keharusan untuk menghindari kerugian fatal dan mengeruk keuntungan semaksimal mungkin. Tapi dalam asmara, ia bahkan tak ingin memikirkannya, meski ada bagian lain dari dirinya yang tak mau diam. “Apa untungnya bagiku?” tanyanya lirih seakan bertanya pada diri sendiri. Gu Chen tertawa kecil mendengarnya. Ia tahu betul, beginilah resiko jika seorang pria menikahi wanita yang murni hidup dan bernapas di dalam dunia korporasi. Segala hal di dunia ini selalu dihitung berdasarkan kalkulasi untung dan rugi.“Setidaknya kita sekarang tinggal di bawah satu atap yang sama. Hari-hari kita ke depan akan menjadi sangat melelahkan dan sulit dilalui jika tidak dilandasi kejujuran, kita akan mudah terjebak dalam salah paham yang tidak perlu,” jaw
Namun beberapa detik berikutnya, raut wajahnya mendadak datar. Tak seharusnya ia menanyakan itu. Di dunia orang kaya, ‘memata-matai’ hal yang biasa, supaya tahu siapa lawan, siapa yang lebih menguntungkan atau hanya bikin buang-buang waktu. Di kancah bisnis profesional, mengenali profil calon klien atau relasi kerja adalah sebuah keharusan mutlak sebelum meneken ikatan kerja sama. Tapi menyadari fakta bahwa dirinya sendiri kini sedang dimata-matai oleh suaminya tentu saja terasa begitu menyebalkan.Kembali ia tersentak dari lamunannya karena tiba-tiba Gu Chen mengulurkan tangan dan menyentil pelan hidungnya.“Suka banget ya hobi nyentil-nyentil hidung orang!” Sayangnya, protes kesal itu hanya bisa ia ungkapkan dengan bibir merengut sebal.“Harap bedakan antara memata-matai dengan inisiatif mencari tahu lebih banyak, Anqi,” ucapnya tenang. “Meski dari awal aku sudah tertarik padamu, aku bukan pria yang suka cinta buta. Aku ingin memastikan kecocok
Tanpa menunggu persetujuan, Gu Chen menarik tangan Anqi dengan lembut, tapi tegas. Membimbingnya keluar dari apartemen menuju keramaian malam, mencoba membawa gadis itu jauh dari jeratan bayang-bayang masa lalunya.“Kita kemana?” tanya Anqi keheranan, tetapi kakinya tetap melangkah bahkan bersedia masuk ke mobil. “Kau akan tahu nanti,” jawab Gu Chen singkat kemudian menutup pintu mobil. Di tengah perjalanan, mobil melambat dan berhenti di depan sebuah minimarket. “Tunggu sebentar,” Gu Chen turun dengan langkah cepat. Anqi hanya menatap punggung suaminya dengan bingung. Begitu Gu Chen menghilang di balik pintu kaca, ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Hari ini benar-benar melelahkan. Namun, ada sensasi aneh dan asing yang menyusup ke hatinya. Biasanya, setiap kali ia dimaki ibunya, rasa sakit itu akan tertahan lama di dadanya, berubah menjadi sesak yang berhari-hari tidak hilang. Tapi malam ini, rasa sakit di pipinya perlahan memudar, seolah-o
Wajah Anqi seketika berubah. Senyum tipis yang tadi sempat muncul menghilang, digantikan oleh ekspresi kosong yang menyakitkan. “Aku tak pernah merayakannya.”“Kenapa?” tanya Gu Chen spontan. Namun, detik berikutnya ia merutuki diri. Ia baru teringat laporan asistennya mengenai masa kecil Anqi yang kelam.Anqi tercenung. Pikirannya melayang jauh, kembali ke sebuah sore yang seharusnya menjadi kenangan terindah, tetapi berakhir menjadi luka yang membekas.Saat itu melompat-lompat girang di ruang tengah. “Ma, hari ini ulang tahunku! Boleh aku minta sesuatu?”Ibunya yang sedang menimang Lin Qin menoleh, menatap Anqi dengan tatapan yang saat itu masih terasa hangat. “Kamu minta apa, Sayang?”“Aku ingin kita, sama Papa, makan di luar. Kita pergi makan malam bersama!”Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Sebentar lagi Papa pulang. Kalian siap-siaplah, kenakan baju yang paling bagus. Kita akan langsung ajak Papa k
“Bu, apa Ibu tau kondisi rumah tangga Kak Yun?” tanyanya pelan. Ia mengepalkan tangan erat. Ia tak bisa membayangkan jika ibunya memang telah mengetahui rumah tangga kakaknya, tetapi diam saja. Di sisi lain, ia juga takut dengan jawaban itu. Bagaimana bisa ibunya yang pernah mengalami ketidakadilan dalam rumah tangga, tapi diam saja ketika melihat hal yang sama terjadi pada putrinya?“Ibu capek, Ibu ingin istirahat. Kau pulanglah. Pikirkan apa alasan yang kau berikan pada direksi,” sahut ibunya sambil berdiri, kemudian meninggalkan ruangan itu. Seketika ruang tengah yang mewah itu terasa asing baginya. Mengintimidasi, tak peduli telah berapa tahun ia juga pernah menghuni rumah itu. Ia masih terdiri di tengah dengan geraham yang menegang. Kedua matanya memanas. “Berarti ibu tau itu, tapi kenapa diam saja?” gumamnya.***Anqi melangkah masuk lesu, napasnya berat, tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Rumah pernikahan mereka tampak gelap, namun seketika lampu ruang tamu menyala,
Gu Chen menolehkan kepalanya sedikit, menyisakan separuh profil wajah sampingnya yang tampak begitu tegas dan misterius, lalu melontarkan satu kalimat pendek yang sukses membuat kening Anqi mengerut bingung seketika. “Aku tahu itu.”“Sekarang aku tahu mengapa pria ini sukses di dunia bisnis. Teguh pendirian, meski membuang rasa malu,” batin Anqi.***Suasana di ruang pelelangan terasa menyesakkan, didominasi aroma parfum mahal dan ketegangan yang merambat di antara para peserta. Anqi duduk dengan postur tegak, jemarinya mengetuk pelan dokumen strategi di atas meja.Tiba-tiba, seorang pria dengan setelan jas rapi mendekat, duduk di kursi kosong tepat di sampingnya.“Anda Nyonya Anqi?” pria itu tersenyum tipis.Anqi menoleh, matanya menyipit. “Ya?”“Aku Tian Kai, rekan bisnis sekaligus teman dekat Gu Chen. Dia yang mengutusku kemari.” Pria itu mencondongkan tubuh, hingga suaranya nyaris berbisik di telinga Anqi. “Katanya, tak elok jika suami istri terlihat bersaing sengit di depan







